Postingan

Nabung Rindu

                           Nabung Rindu Rindu itu ketika lama tak bersua. Sebab jarak dan waktu yang nyaris merenggut pertemuan ini. Aku hanya bisa melihat wajahnya melalui foto. Atau membuat ilusi bahwa dia ada di dekatku. Kadang berbaring dan memejamkan mata. Film pendekku dengannya menyedot waktu istirahatku. Semua itu nyatanya hanya pereda rindu. Bukan obat mujarab dari dokter spesialis. Ketika bayangannya hilang, rindu pun hadir dengan gagahnya. Dialah sosok perempuan yang berusia 60 tahun. Aku dilahirkan dari rahimnya. Pada usiaku ke 35 tahun ini. Ada perubahan fisikku. Sehingga, aku memberikan batasan untuk mobilitas di luar kota. Aku merutinkan satu bulan sekali menjenguknya. Di sisi lain, aku juga direpotkan disini akan aktivitas sebagai guru bimbel. Sebagian besar energiku terkuras pada aktivitas itu. Jika tak lihai mengatur waktu dan energi, mungkin sulit menemukan waktu luang bertandang ke rumah Ibu. Setia...

Rindu

                                Rindu Selang satu bulan penyelesaian karya ke tigaku. Ada hal yang kurang dalam hariku. Adalah aktivitas di depan layar laptop. Mencari waktu intim untukku dan laptop. Seperti janjian dengan kekasih. Hingga, hal-hal yang bersifat domestik. Kuselesaikan setelah subuh. Tiba di titik yang telah ditetapkan. Aku terbuai oleh waktu bersamanya. Mengurai pelan isi di otakku. Mengalihkan segala masalah sementara. Fokus pada apa yang kutulis. Hari-hari ini tanpa target. Tanpa mempersilakan ide mengobrol dengan otakku. Seakan aku berjalan tanpa tujuan yang jelas. Disisi lain, aku ingin merasakan hiatus. Tapi, ada desiran jiwa yang meronta. Seakan dia rindu dengan ide itu. Satu tahun penyelesaian karya ketigaku. Menjadi penebal relasi antara ide dan jiwa. Namun, otakku berkata lain. Dia menginginkan untuk istirahat sejenak.  Saat aku mencoba mengikuti kata Sang Otak. Sekiranya, ide i...

Menunggu

                          Menunggu   Hukum relativitas nyatanya sangat ampuh saat menunggu. Setelah subuh, tiba-tiba lampu mati. Mau apa-apa tidak bisa. Padahal, ada misi setelah subuh. Adalah masak nasi dan merampungkan membaca buku Rapijali. Aku menunggu lama dengan mata terbuka, kadang tertutup. Padahal keduanya sama-sama gelap. Aku masih menunggu dengan sesekali menggulingkan badan di atas kasur.  15 menit berlalu bagaikan terukurung dalam ruangan bersekat. Aku menghambur keluar bersama cahaya lampu yang kunanti lama. Segera mungkin mengambil beras di dalam gentong. Dua cangkir sudah cukup untuk makan seharian. Mengingat anakku sudah mendapatkan MBG di sekolah. Dan suami bekerja di luar kota. Urusan nasi, dana paling hemat di keluarga kecilku. Ketika aku merampungkan segala pernak-pernik persiapan menanak nasi di magic com. Terdengar ketukan yang nyaris tak terdengar di pintu samping. Namun, suara itu teralih...

Sempurna?

                              Sempurna? Setiap orang pasti memiliki bendahara keinginan. Jika dirunut, tak terhitung jumlahnya. Bagaikan deretan bilangan tak terbatas. Hanya, orang yang memiliki skill tertentu. Membuat batasan secara tegas akan keinginan itu. Namun, skill itu tak serta merta turun dari langit. Butuh latihan melalui pengendalian diri. Seperti menjalani puasa sepanjang masa. Lambat laun, porsi keinginan kita dapat terkontrol. Muara dari keinginan-keinginan yang tak berujung adalah kesempurnaan. Kita menganggap dengan terpenuhinya keinginan itu, mempercantik kehidupan. Kehidupan kita akan nampak luar biasa menurut kita atau pandangan orang lain tentang kita. Artinya, kita hidup bukan proses pencarian hakikat. Melainkan budak dari persepsi itu sendiri. Sehingga, kita sering mengalami ketakutan luar biasa. Saat hidup kita berbeda dari yang lain. Atau hidup kita terlalu berantakan. Coba kita menengok k...

Prasangka

                              Prasangka Satu hal sekiranya penyakit itu belum hilang sampai akarnya. Prasangka buruk akan sesuatu. Ibarat mesin kehidupan yang tersistem. Sulit tuk berpaling bahkan menghindar sekalipun. Hati ini mencoba untuk menutup diri dari sesuatu yang bertolak belakang. Tentang fakta dan opini yang menyesatkan. Namun, sinyal itu sepertinya terlalu kuat kutaklukan. Menyambar begitu mudahnya dalam pikiranku. Hingga aku tak bisa menampik akan untaian prosa yang menyesatkan. Sekalipun aku diam. Dengan mudahnya prasangka mengurai prosa demi prosa. Lambat laun, hati ini mengikuti irama yang dibangunnya. Kemanapun dia menggiring prosa itu, disitulah aku menemukan opini. Prasangka ibarat hantu yang bergentayangan dalam pikiran. Bagaimana aku menghentikannya? Dia mesin ketik yang canggih. Kalimat demi kalimat terus ditulis. Aku sendiri dituntut untuk membaca semua. Bahkan, permainan perasaan bercampur...

Bahagia dengan Menyibukkan Diri

          Bahagia dengan Menyibukkan Diri Saya mendapatkan hasrat untuk membeli buku IKIGAI. Karena melihat konten dari Mayudi Ayunda. Dari sekelebat, isi buku itu menarik. Pun hal pertama yang saya lakukan adalah searching di google. Kemudian meluncurlah ke tokopedia. Adalah alternatif yang efisien untuk keberadaan saya yang jauh dari Gramedia. Rumah yang diapit oleh pegunungan. Watulimo. Mau ke Trenggalek kota jauh, ke Tulungagung juga jauh. Beruntunglah teknologi berkembang begitu cepat, saat saya sudah menetap disini. Buku ini merupakan hasil riset dari penulis pada penduduk Jepang. Karena penghasil penduduk tertinggi akan angka harapan hidup. Yaitu di Okinawa. Penulis memaparkan konsep bahagia. Di mana, bahagia adalah kunci penting untuk setiap orang dapat hidup lebih lama. Walaupun dalam konsep agama, umur sudah ditetapkan. Namun, berusaha untuk mencegah sakit yang menjadi pemicu orang meninggal. Adalah bentuk ikhtiar sebagai manusia. Salah satunya adalah ...

Menggali Ide

                           Menggali Ide Salah satu kendala bagi penulis adalah menemukan ide. Karena tulisan berangkat dari ide yang dibangun. Saya sendiri sebagai penulis pemula, sering mengalami kemandekan karena soal ide. Bisa jadi, ide sudah muncul. Namun, masih bentuk mentah. Belum terperinci. Ini juga menyulitkan kita untuk menguraikan ide tersebut. Atau kehabisan ide. Padahal itu mindset yang menyesatkan. Sejatine ide terus berkembang. Seiring bertambahnya pengalaman. Baik menulis, membaca atau profesi yang kita jalani. Salah satu topik yang menarik saat mengikuti pelatihan menulis buku novel adalah menggali ide. Saya mengikuti kegiatan ini karena ingin mencari tahu bagaimana menulis novel itu? Mungkin, project saya kedepan adalah membuat novel. Sedangkan pengalaman saya masih nol untuk gendre ini. Makanya, saya tak ragu mengikuti kegiatan ini walau sekedar online. Berkaitan dengan ide, menurut Ahmad Fuadi bahw...