Menunggu

                          Menunggu 

Hukum relativitas nyatanya sangat ampuh saat menunggu. Setelah subuh, tiba-tiba lampu mati. Mau apa-apa tidak bisa. Padahal, ada misi setelah subuh. Adalah masak nasi dan merampungkan membaca buku Rapijali. Aku menunggu lama dengan mata terbuka, kadang tertutup. Padahal keduanya sama-sama gelap. Aku masih menunggu dengan sesekali menggulingkan badan di atas kasur. 

15 menit berlalu bagaikan terukurung dalam ruangan bersekat. Aku menghambur keluar bersama cahaya lampu yang kunanti lama. Segera mungkin mengambil beras di dalam gentong. Dua cangkir sudah cukup untuk makan seharian. Mengingat anakku sudah mendapatkan MBG di sekolah. Dan suami bekerja di luar kota. Urusan nasi, dana paling hemat di keluarga kecilku.

Ketika aku merampungkan segala pernak-pernik persiapan menanak nasi di magic com. Terdengar ketukan yang nyaris tak terdengar di pintu samping. Namun, suara itu teralihkan oleh otakku yang sudah disetel rutinitas harian. Aku segera mungkin menyalakan kompor untuk membakar ikatan daun kelapa kering. Untuk keperluan memasak air di tungku kayu. Maklum orang desa harus tahu cara berhemat. Walaupun hanya sebatas pengurangan penggunaan kompor gas.

Rutinitas selanjutnya adalah mencuci piring dan peralatan dapur. Ada ampas yang selalu ditunggu oleh tamu pagiku. Ketika kubuka pintu samping, sudah ada gerombolan ayam yang mematukkan paruh pada pintu berkayu. Itulah suara pelan tadi. Gerombolan itu bagaikan antri sembako. Pasti sudah lama mereka menungguku.

Di tengah yang kutunggu sudah datang. Adalah listrik menyala. Ternyata, masih ada hal yang kutunggu. Sudah lama aku menantikan. Hanya bisa berkata lewat pikiran. Adalah terbitnya buku ke tigaku. Hampir satu bulan lamanya aku berharap. Mau bertanya, tapi aku tahu diri. Penerbit pasti sudah mengantongi berbagai informasi terkait ISBN bukuku. Tanpa aku mengingatkan. Kalau sudah terbit, pasti akan berkabar.

Hukum relativitas ini mengunci jiwaku. Aku disudutkan pada penantian. Yang tak pasti kapan waktunya. Hingga aku memutuskan. Akhir bulan Januari akan bertanya ke penerbit. Namun, belum genap batasan waktu yang kutautkan. Pagi ini penerbit memberikan kabar yang melepasku dari jeratan jiwa yang terkunci. Aku tersenyum lebar saat membaca pesan dari mereka. ISBN sudah turun. Untuk merayakannya, kubuatlah status di whatsapp, fb, bahkan IG. 

Aku bersyukur untuk hari ini. Menunggu yang lama. Dan sering menjatuhkanku pada prasangka buruk. Ternyata, beginilah rasanya menulis dan menerbitkan sendiri. Harus sabar menunggu. Dari menunggu selesainya karya, menunggu pembuatan cover hingga menunggu turunnya ISBN. Intinya adalah sabar menunggu.  

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bahagia dengan Menyibukkan Diri

Rindu

Rindu