Menggali Ide
Menggali Ide
Salah satu kendala bagi penulis adalah menemukan ide. Karena tulisan berangkat dari ide yang dibangun. Saya sendiri sebagai penulis pemula, sering mengalami kemandekan karena soal ide. Bisa jadi, ide sudah muncul. Namun, masih bentuk mentah. Belum terperinci. Ini juga menyulitkan kita untuk menguraikan ide tersebut. Atau kehabisan ide. Padahal itu mindset yang menyesatkan. Sejatine ide terus berkembang. Seiring bertambahnya pengalaman. Baik menulis, membaca atau profesi yang kita jalani.
Salah satu topik yang menarik saat mengikuti pelatihan menulis buku novel adalah menggali ide. Saya mengikuti kegiatan ini karena ingin mencari tahu bagaimana menulis novel itu? Mungkin, project saya kedepan adalah membuat novel. Sedangkan pengalaman saya masih nol untuk gendre ini. Makanya, saya tak ragu mengikuti kegiatan ini walau sekedar online.
Berkaitan dengan ide, menurut Ahmad Fuadi bahwa ide dapat digali melalui lingkup lokal. Seperti dari yang terdekat dengan kehidupan kita, apa yang kita kenal, bagaimana budaya di lingkungan kita, serta pengalaman kita yang tak nyaman. Menurut beliau itu adalah obat mustajab dalam membuat tulisan. Karena penulis mengalami sendiri pengalaman itu. Sehingga memunculkan rasa yang dibalut dengan emosi. Pun, tulisan yang dihasilkan lebih bernyawa. Karena ada sentuhan rasa.
Ahmad Fuadi menambahkan bahwa untuk menggali ide dapat dilakukan dengan mengumpulkan memori masa lalu. Dari kenangan terlucu hingga tersedih. Beliau menuturkan bahwa novel negeri lima menara berangkat dari kenangan masa lalunya. Tentang keinginan untuk melanjutkan ke SMA favorit. Tetapi, oleh ibunya disuruh mondok. Tentu, ada rasa tak nyaman yang diljalani saat menjadi santri. Begitu pula tokoh yang dimunculkan pada novel yang ditulisnya.
Saya menyimpulkan bahwa pengalaman hidup adalah harta karun yang perlu digali. Untuk kita manfaatkan sebagai bahan membuat karya. Baik gendre fiksi atau non fiksi, pengalaman adalah obat mustajab untuk membuat karya. Namun, perlu diimbangi dengan banyak membaca. Bahkan, sekedar menulis novel juga butuh riset yang kuat. Bukan saja observasi langsung pada setting yang diinginkan. Melainkan menggali lagi teori-teori yang berceceran di buku. Agar tulisan lebih berbobot. Tidak hanya bermodal imajinasi penulis.
Jadi, jika kawan-kawan mengalami macet menulis. Perlu direnungkan kembali. Apa yang membuat macet menulis? Apakah memang tidak ada ide? Atau niat masih lemah? Tiga pertanyaan itu hanya kawan-kawan yang tahu. Mungkin selain merenung, kawan-kawan bisa refleksi diri. Ide itu sebenarnya selalu bersliweran di otak kita. Saking banyaknya kita bingung memilih mana yang ditulis duluan. Belum lagi, ada serangan minder yang menghentikan langkah kita menulis.
Mari menulis dari hal sederhana! Sebagai mata rantai menuju tulisan yang baik. Yang suatu saat nanti kita sendiri akan berkata, “Nah tulisan ini lo yang ku harapkan.” Dari hal sederhana akan merembat pada hal yang kompleks. Menulis seperti olahraga. Butuh pemenasan yang dilakukan sesering mungkin. Agar otot tidak kaku. Sebagaimana menulis yang butuh ide. Dengan sering menulis, ide akan mudah didapat.
Komentar
Posting Komentar