Sempurna?

                             Sempurna?

Setiap orang pasti memiliki bendahara keinginan. Jika dirunut, tak terhitung jumlahnya. Bagaikan deretan bilangan tak terbatas. Hanya, orang yang memiliki skill tertentu. Membuat batasan secara tegas akan keinginan itu. Namun, skill itu tak serta merta turun dari langit. Butuh latihan melalui pengendalian diri. Seperti menjalani puasa sepanjang masa. Lambat laun, porsi keinginan kita dapat terkontrol.

Muara dari keinginan-keinginan yang tak berujung adalah kesempurnaan. Kita menganggap dengan terpenuhinya keinginan itu, mempercantik kehidupan. Kehidupan kita akan nampak luar biasa menurut kita atau pandangan orang lain tentang kita. Artinya, kita hidup bukan proses pencarian hakikat. Melainkan budak dari persepsi itu sendiri. Sehingga, kita sering mengalami ketakutan luar biasa. Saat hidup kita berbeda dari yang lain. Atau hidup kita terlalu berantakan.

Coba kita menengok ke belakang. Nabi Muhammad yang merupakan manusia istimewa. Apakah hidupnya sempurna dalam aspek dunia? Mulai dari terlahir anak yatim. Saat memasuki usia 7 tahun ibunya meninggal. Hingga, kakek dan pamannya yang menjadi puing-puing keluarganya juga meninggalkannya. Jika kita diposisi beliau. Bukankah tiap hari kita menodai mulut ini, hati ini dengan menghujat Sang Pencipta? Dan satu hal lagi, beliau adalah keturunan suku besar, yaitu Quraisy. Tapi, hidupnya jauh dari kemewahan. 

Lantas bagaimana dengan kita? Kita itu siapa? Kita hanya manusia biasa. Tapi menuntut hidup ini untuk sempurna. Mulai dari fisiknya harus bagus, tempat tinggal yang bagus, pasangan ideal, keturunan yang bagus, dan lain sebagainya. Aksesoris itulah yang menurut kita sebagai bagian dari kesempurnaan hidup. Andaikan ada hal yang tak sesuai standar, kita banyak sekali mengeluhnya. Bahkan menghujat hidup ini.

Sekarang, coba melangkah ke depan. Andaikan Tuhan memberikan hidup kita sempurna. Apa yang terjadi pada hidup kita? Bahagia pasti. Tapi, bagaimana kita mengenal Pencipta kita? Sedangkan hidup selalu diwarnai kesempurnaan. Yang menyilaukan hati kita. Untuk meremang siapa di balik pemberi hidup ini. Tentu, akan sulit bagi kita mengenal Sang Pencipta. Selain itu, kita tak bisa mengenal hakikat hidup ini. 

Saya teringat pesan dari Pak Faiz bahwa kita harus bersyukur atas apa yang dimiliki saat ini. Artinya, walaupun itu belum sempurna menurut sistem dunia. Tetapi, setidaknya ada tembelan yang tertutup sedikit diantara rongga-rongga ketidaksempurnaan hidup. Kita dituntut untuk selalu bersyukur atas nikmat Allah. Itulah obat mujarab penghilang kegundahan hati. Karena kerumitan hidup berawal dari hati. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bahagia dengan Menyibukkan Diri

Rindu

Rindu