Nabung Rindu

                          Nabung Rindu

Rindu itu ketika lama tak bersua. Sebab jarak dan waktu yang nyaris merenggut pertemuan ini. Aku hanya bisa melihat wajahnya melalui foto. Atau membuat ilusi bahwa dia ada di dekatku. Kadang berbaring dan memejamkan mata. Film pendekku dengannya menyedot waktu istirahatku. Semua itu nyatanya hanya pereda rindu. Bukan obat mujarab dari dokter spesialis. Ketika bayangannya hilang, rindu pun hadir dengan gagahnya.

Dialah sosok perempuan yang berusia 60 tahun. Aku dilahirkan dari rahimnya. Pada usiaku ke 35 tahun ini. Ada perubahan fisikku. Sehingga, aku memberikan batasan untuk mobilitas di luar kota. Aku merutinkan satu bulan sekali menjenguknya. Di sisi lain, aku juga direpotkan disini akan aktivitas sebagai guru bimbel. Sebagian besar energiku terkuras pada aktivitas itu. Jika tak lihai mengatur waktu dan energi, mungkin sulit menemukan waktu luang bertandang ke rumah Ibu.

Setiap hari, aku menghitung tanggal yang kulingkari. Itulah waktuku bersamanya. Semakin mendekati hari, rasanya semakin tak sabar. Ingin kupercepat waktu. Tapi, aku tak memiliki kesaktian seperti doraemon. Menerobos lorong waktu. Hanya menunggu penuh rindu. Sambil menghabiskan hari dengan aktvitas dan penuh harap. 

Nyatanya, takdir berkata lain. Jalan utama longsor. Setelah dua hari hujan turun dengan lebatnya. Hatiku menciut saat mendengar cerita itu dari suami yang baru tiba di rumah. Beliau menyarankanku lewat JLS. Terbayang rute yang kulalui. Akan semakin jauh. Satu hal yang membuatku patah harapan adalah. Aku perempuan yang sendirian melewati jalan sepi. Bayangan gelap itu menamparku keras. Seketika, aku mematahkan niatku yang sudah bulat untuk ke Tulungagung.

Pasca kehilangan kesempatan sesaat, batinku meronta. Terlalu lama aku tak melihat wajahnya langsung. Terlalu lama tak mendengar cerita yang mengendap lama darinya. Mungkin, jika nanti aku menemuinya. Cerita-cerita itu akan mengguyur kebersamaan kami. Pastinya dia menabungnya saat ini. 

Hal yang sama kulakukan adalah nabung rindu. Aku harus menahan rasa ini. Sambil melihat lekat tanggalan. Meraba pergeseran angka demi angka. Menghabiskan waktu untuk hal yang produktif. Teori relativitas itu mungkin dapat terasa saat aku sedang sibuk. Kesibukan itulah yang membuatku terlena sesaat. Walaupun rinduku padanya masih tersimpan rapat.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bahagia dengan Menyibukkan Diri

Rindu

Rindu