Rindu
Rindu
Selang satu bulan penyelesaian karya ke tigaku. Ada hal yang kurang dalam hariku. Adalah aktivitas di depan layar laptop. Mencari waktu intim untukku dan laptop. Seperti janjian dengan kekasih. Hingga, hal-hal yang bersifat domestik. Kuselesaikan setelah subuh. Tiba di titik yang telah ditetapkan. Aku terbuai oleh waktu bersamanya. Mengurai pelan isi di otakku. Mengalihkan segala masalah sementara. Fokus pada apa yang kutulis.
Hari-hari ini tanpa target. Tanpa mempersilakan ide mengobrol dengan otakku. Seakan aku berjalan tanpa tujuan yang jelas. Disisi lain, aku ingin merasakan hiatus. Tapi, ada desiran jiwa yang meronta. Seakan dia rindu dengan ide itu. Satu tahun penyelesaian karya ketigaku. Menjadi penebal relasi antara ide dan jiwa. Namun, otakku berkata lain. Dia menginginkan untuk istirahat sejenak.
Saat aku mencoba mengikuti kata Sang Otak. Sekiranya, ide itu terus mendorong pintu yang kututup. Dia tak dangkal dalam memasuki rumahku. Menyelinap di sela-sela jendela yang kacanya terbuka sedikit. Dia itu tak berbentuk. Bisa membaur bersama angin yang masuk di sela-sela ventilasi rumahku. Pada akhirnya dia bisa menjumpai jiwaku. Dia berbisik pelan. Menyodorkan keinginannya. Kata yang kutangkap adalah “Grow”. Entah itu masakan apa?
Kemudian, dia menghilang entah kemana. Kedatangannya membuatku tertegun. Kerongkongan ini tersekat oleh kata yang kutangkap. Ternyata, ada relasi yang menjalar dengan sistem yang bertolak dari setelan sekarang. Otakku mulai berimajinasi. Saat diam, adalah nutrisi ampuh untuk memperjelas ide itu. Jiwaku ikut menyerang pertahananku. Entah bagaimana kumemulai lagi?
Kerinduan itu menjadi-jadi. Setelah kata “Grow” bertengger di otakku. Kerinduan untuk berkarya lagi. Aku mencoba mengontrol gejolak itu. Saat ini, aku masih mengambil jeda. Banyak hal yang ingin kupelajari. Waktu dekat akan ada persiapan TKA. Dan tahun ini adalah titik balikku untuk memulai bisnis. Mungkin, aku masih menyimpannya dulu. Menuangkan ide yang sekelebat pada catatan.
Aku memutuskan untuk tidak hanya fokus berkarya. Tapi, lini yang lain. Tidak seperti tahun kemarin. Bisa intim menyelesaikan karya ketigaku. Walaupun, itu membuatku rindu saat ini. Ibarat sambil menyelam minum air. Disamping aku mempersiapkan ketahanan ekonomi. Ada ruang bagiku untuk mengurai ide yang mungkin terlintas dalam otakku. Karena karya berikutnya, ada kenaikan level. Adalah novel.
Baiklah, kerinduan ini biarlah berjalan sesuai ritmenya. Jika kupaksakan ide itu tereksekusi saat ini. Mungkin hasilnya jauh dari standar. Masih banyak hal yang harus kupelajari. Terutama mempelajari struktur novel itu seperti apa. Saat ini buku Dee Lestari menjadi kitab suciku. Entah, jika suatu saat nanti aku membaca karya penulis lain. Akan ada benturan. Dari hasil benturan itu, aku bisa memilah hal-hal yang bisa kupedomani.
Komentar
Posting Komentar