Prasangka
Prasangka
Satu hal sekiranya penyakit itu belum hilang sampai akarnya. Prasangka buruk akan sesuatu. Ibarat mesin kehidupan yang tersistem. Sulit tuk berpaling bahkan menghindar sekalipun. Hati ini mencoba untuk menutup diri dari sesuatu yang bertolak belakang. Tentang fakta dan opini yang menyesatkan. Namun, sinyal itu sepertinya terlalu kuat kutaklukan. Menyambar begitu mudahnya dalam pikiranku. Hingga aku tak bisa menampik akan untaian prosa yang menyesatkan.
Sekalipun aku diam. Dengan mudahnya prasangka mengurai prosa demi prosa. Lambat laun, hati ini mengikuti irama yang dibangunnya. Kemanapun dia menggiring prosa itu, disitulah aku menemukan opini. Prasangka ibarat hantu yang bergentayangan dalam pikiran. Bagaimana aku menghentikannya? Dia mesin ketik yang canggih. Kalimat demi kalimat terus ditulis. Aku sendiri dituntut untuk membaca semua. Bahkan, permainan perasaan bercampur aduk tak karuan.
Aku lupa syariat yang melarang berprasangka buruk. Keberadaan Tuhan lenyap begitu saja. Hanya keberadaan prosa yang diciptakan pada mesin ketiknya. Ku akui dia punya kekuatan super. Sekejap mata, hatiku luluh olehnya. Atau sebaliknya. Aku yang terlalu lemah oleh kata-kata yang dibangunnya. Atau perasaanku yang terlalu rapuh oleh masa kini dan masa lalu. Kedua masa itulah yang menjadi pemanis olah rasa yang kualami.
Pernah aku membaca buku Filosofi Teras. Bahwa orang lain bukanlah prioritas kita. Keadaan yang terjadi bukan pula kekuasaan kita. Ada tiga aspek yang bisa kita kuasai adalah reaksi apa yang terjadi, ide dan tujuan. Mungkin, merujuk pada tiga aspek itu menjadi antibiotik terhadap serangan prasangka.
Ingatlah wahai diri ini bahwa orang lain bukanlah prioritasmu. Melainkan sekedar relasi penyeimbang dirimu sebagai manusia. Bahwa manusia tersistem oleh aspek makhluk sosial. Kamu tak bisa hidup sendiri. Kamu butuh orang lain. Sehingga membangun interaksi sosial adalah alatnya. Tapi, jangan dijadikan orang lain adalah tujuan hidupmu atau sumber kebahagiaanmu. Melainkan alat penyeimbang saja.
Dan masa lalu maupun saat ini adalah dua dimensi yang saling tumpang tindih. Bahkan terintregrasi. Saling keterhubungan. Namun, jangan pula dijadikan patokan akan sesuatu hal. Hingga kamu salah menafsirkan kejadian yang terjadi. Yang membuat kamu berkali-kali masuk pada lubang hitam yang sama. Adalah prasangka buruk. Fokus saja dengan masa kini. Andaikan prasangka itu benar adanya. Bukanlah pengurang kebahagiaanmu. Bukan pula perusak tujuan yang kau bangun. Tujuanmu lebih besar dibandingkan ilusi prasangka yang hanya menyentuh ranah pikiranmu saja.
Yap! Ini tak mudah membalikkan telapak tangan. Tapi latihan yang berulang kali gagal. Lebih baik tahu kita gagal. Daripada merasa benar pada sebuah ilusi prasangka itu sendiri. Tahu gagal akan timbul menyesal. Sebaliknya, merasa prasangka itu benar adalah kemenyan pemanggil arwah bergentayangan.
Komentar
Posting Komentar