Rindu
Rindu
Menjadi ibu dari tiga anak begitu sulit. Seringkali mentalku terjajah oleh sikap tantrum mereka. Namun, aku harus waras. Kulihat banyak pesanan yang tertempel di papan memo. Walaupun, ada yang bantu. Namun, aku harus memastikan rasanya, tampilannya, serta ukuran potongannya sesuai dengan seleraku. Pelanggan lebih puas dengan seleraku dibandingkan asumsi mereka.
Belum lagi, urusan domestik yang kian bercabang. Entah, bagaimana aku membagi tubuhku menjadi tiga bagian yang sama. Namun, sejak ada Mbok Tun, aku seperti direlaksasi. Biasanya emosionalku bersumbu pendek. Kini, aku lebih santai menyikapi berbagai persoalan.
“Mbok, yang ini sudah ada namanya,” aku menunjuukannya pesanan yang sudah tertempel nama. “Oh iya, sebelum orang ngambil pesanan, ditanya dulu namanya ya?,” sambil aku membawa bingkisan nasi.
“Enggeh Bu,” jawabnya dan mengangguk cepat.
Kulihat di tangan, jarum jam menunjukkan pukul 09.50. Seakan menabuh genderang perang saja. Disudut lain, ada anomali yang bertolak belakang dengan keadaan ini. Si Bungsu tengah menikmati es krim. “Nduk, ikut Mama jemput Kakak nggak?”, tanyaku dengan suara keras tertutup helm.
“Ikut, tapi habisin es krim dulu,” jawabnya sambil melanjutkan suapan demi suapan.
Aku mendorong motor keluar dari himpitan mobil serta kendaraan lain. “Kalo ikut ayo!, kasihan Kakak nunggu lama,” kataku dengan lantang di luar pagar.
Hatiku semakin bergejolak mendengar tangisannya. Puncaknya, dia membuang sisa es krimnya ke lantai. Kesabaranku tak setipis selembar tisu. Aku menutup pagar dan menguncinya. Membiarkannya merengek sendiri. Hingga dia menggulingkan badannya berluang di lantai. Itulah, kebiasaannya yang menguji emosionalku.
Aku memasang alarm dalam setiap sel saraf otakku. Agar pikiranku tak lari kemana-mana. Namun, aku teringat akan pesanan yang belum diambil. Serta, rengekan Hafidzah. Pikiranku semakin kacau jika mengingat pintu pagar kukunci. Aku berhenti mendadak di pinggir jalan. Dan seorang pengendara laki-laki bertubuh kekar meneriaku dengan lantang, “Woi, gimana to Mbak?”.
Aku sadar letak salahku. Mencoba diam dan menarik nafas. Kuhubungi satu persatu orang yang memasak pesanan nasi kotak. Namun, panggilanku teralihkan oleh pekerjaan yang menumpuk. Mencoba kuhubungi Mbok Tun. Namun, hasilnya sama. Mungkin dia fokus menenangkan Hafidzah. Aku mencoba mengirim pesan singkat ke pelangganku. Agar dia tak terkecoh dengan pagar yang terkunci. Terlintas dibenakku untuk mengirim pesan singkat juga ke Mbok Tun maupun orang-orang yang di rumah.
Aku bergegas berangkat melihat jam sudah pukul 10.10. Adrenalinku semakin meningkat saja. Tapi, pikiranku tertata. Aku bisa fokus menyalip pengendara lain di depanku. Dengan kecepatan 70 km/jam. Lima menit dari arah Dinas Kesehatan, tibalah aku di TK Hidayatullah. Kulihat dia bermain ayunan seorang diri. Sekolah sudah sepi dari keriuhan anak dan gerombolan wali murid yang menjemput anaknya.
Kulambaikan tanganku ke arahnya. Dia tersenyum dengan gigi geripisnya. Menghentikan laju ayunan dan menyambar tas yang tak bertuan. Tergeletak seorang diri diatas dinginnya keramik putih. “Maaf ya Kak, Mamah telat lagi,” kuusap keringatnya yang menganak sungai.
Dia hanya tersenyum dan menaruh tasnya ke depan motor. Pandanganku beredar ke penjuru sekolah. Tak kutangkap bayangan Ibu masuk ke retinaku. Hanya barisan guru-guru yang silih berganti tersenyum kepadaku. Aku membuka gawai dan muncul berbagai pesan whatsapp. Aku menghiraukan dan fokus mengirim kalimat pendek dinomornya, “Buk, jangan lupa dahar.
Sudah sepuluh hari aku tak bertegur sapa dengannya. Hanya melihat story Ibu yang kelihatan sumringah. Entah akunya yang sering telat menjemput Intan. Atau aktivitas Ibu sebagai Kepala Sekolah yang tak berjeda. Bahkan sejak dia menyelami samudera organisasi, aku harus janjian dulu dengannya untuk bertemu. Kubelokkan sepeda motor Vario dengan tangan kosong. Begitupula nasib bingkisan nasi ini yang berulang kali tak bersua dengan Tuannya.
***
Melihat barisan anak sekolah bersepeda, ingatanku mengarah pada masa lalu. Walaupun ada mobil dan motor di rumah, Ibuku melarang Bapak memberikan fasilitas itu kepadaku dan Mbak Tutik. Kala itu kosmis tak bersahabat, Ibu tetap memaksa kami menggunakan sepeda ke sekolah. Berbalut jas hujan, aku mengayuh sepeda ke arah MTsN Tulungagung, sedangkan Mbak Tutik di SMAN Boyolangu. Kurang lebih 7 km jarak tempuh kami. Sekarang, aku terbiasa mandiri. Mulai antar jemput anak, hingga urusan bisnisku.
Tampak anak sulungku keluar dari pagar pembatas sekolah dengan jalan raya. Penjemputan di sesi kedua ini aku bisa on time. Karena sudah kukendalikan urusan bisnisku maupun domestik. “Mah, pingin rujak cingur,” kata Rara berbisik di telinga kananku. Aku mengangguk pelan dan tersenyum padanya. Permintaannya menunjukkan celah padaku. Yang mengantarkanku pada rumah masa kecil. Mungkin, alasan mengantarkan rujak cingur ke Ibu, akan bisa berjumpa dengannya.
Kuedarkan pandanganku ke salah satu warung makan di seberang jalan. Kulihat, pemandangan yang memantik ingatanku di masa lalu. Berkumpul dengan keluarga. Bapak, Ibu, dan Mbak Tutik. Aku mulai terjerat jala-jala kerinduan. Aku menarik menafas, dan meninggalkan potret kenangan masa lalu. Hanya tertinggal asap motorku disepanjang jalan. Menuju rumah masa kecilku yang penuh kenangan.
Rujak yang kubeli di depan Golden Swalayan, berakhir di atas meja depan pintu. Kukira Ibu sudah pulang. Kukira Bapak ada di rumah. Ternyata, pintu tertutup rapat. Mobil yang tak bernyawa, hilang dari persinggahannya. Mungkin, mereka ada acara di luar. Kubiarkan rujak favorit Ibu dan Bapak menjadi security sementara.
Jiwa Ibu dan Bapak tak ada kata tua. Walaupun Bapak sudah tak lagi ngajar. Dan Ibu tak lagi muda. Jiwa mereka tetap muda. Mengikuti organisasi demi kepentingan umat. Entah siapa yang akan mewarisi semangat mereka. Aku atau Mbak Tutik. Mungkin Mbak Tutik masih sedikit mengikuti jejak mereka. Menjadi guru SMA di daerah Tulungagung kota. Sedangkan aku hanyalah pelaku bisnis. Memang dari dulu aku sudah berniat tidak bekerja di luar rumah. Agar bisa fokus mendidik anak-anak.
Sebelum kunyalakan motor, kusempatkan membuka gawai. Dari story mereka, tampak masing-masing ada kesibukan. Ibu ada acara di pendopo. Sedangkan Bapak menghadiri Konferensi Cabang. Aku hanya tersenyum pilu. Dan kumasukkan kembali gawai ke dalam tas. Walaupun, perjalanan ini kembali dengan tangan kosong. Minimal aku sudah menaruh rinduku pada mereka. Membelikan mereka rujak cingur.
Diperempatan Masjid Putih, tampak pemandangan ajaib. Menyentuh relung hatiku yang terdalam. Hingga, aku terbuai dalam lamunan. Mungkin, suatu saat nanti aku ingin menjadi dia. Menyuapi Ibu saat renta, menyapu kedua bibirnya dari sisa makanan, serta menyisir rambut yang memutih. “Mah, ayo!,” Rara mengoyak pinggangku yang lebar. Aku menjadi tersadar, lampu sudah menyala orange. Dan mobil di belakang terus membunyikan klakson. Kubelokkan ke kiri dengan kecepatan tinggi.
***
“Aku wis capek sama Bapak dan Ibuk, Fit,” kalimat terakhirnya sebelum Mbak Tutik menutup pagar rumahku. Rujak yang kubelikan tadi siang, dibawa olehnya ke Tuannya. Seringkali dia membawa makanan untuk mereka. Tapi, mereka tak ada di rumah. Dan pulang sering membawa makanan tambahan. Makanan yang tergeletak di kursi depan pintu. Padahal Mbak Tutik sudah menyempatkan waktu. Bahkan, memasak kesukaan mereka.
Aku tak ingin larut dalam ambigu. Antara berpihak pada Mbak Tutik atau menuruti naluriku sebagai anak. Aku beranjak berdiri dari sofa cokelat. Kembali mengajari Rara belajar. Dan membantu Intan, anakku kedua belajar berhitung dan menulis. Sedangkan, Hafidzah bermain kuda-kudaan sama Ayahnya. Aku terlarut akan tingkah lugu mereka. Hingga perdebatanku dengan Mbak Tutik menguap seperti minyak wangi.
“Gini Dek Intan, angka paling banyak disimpan di otak,” penjelasanku ke Intan. “Mah, Ibu di IGD,” kata suami sebelum aku melanjutkan penjelasan ke Intan. Dia melanjutkan, “tadi kata Mbak Tutik, kamu di telfon berkali-kali nggak diangkat.”
Kebiasaanku setelah maghrib adalah meletakkan gawai ke meja rias kamar. Aku berlari menuju kamar. Kuperiksa panggilan Bapak dan Mbak Tutik sudah enam kali panggilan. Aku bergegas berangkat. Tanpa peduli wajah ini belum terpoles bedak. “Yah, jaga anak-anak ya!,” pintaku padanya sambil mengenakan jaket dan masker.
“Kak, bantu Ayah jaga adik-adik ya!,” aku mengusap pipi Rara yang masih berbalut mukena.
“Iya, Mah,” jawabnya dengan tenang.
Sebelum berangkat, kusempatkan berkirim pesan ke Mbok Tun untuk datang lebih awal. Dan sementara aku tak melayani pesanan nasi kotak dulu. Pesanan yang sudah masuk sebelumnya, kupasrahkan orang-orang yang membantuku. Entah jadinya seperti apa. Terakhir, aku mengirim pesan singkat ke Bapak maupun Mbak Tutik akan posisi mereka.
Sungguh, hidup ini bagaikan deretan undian. Tak pasti, dan tak tahu apa yang terjadi satu detik berikutnya. Gelapnya malam kubelah dalam kerinduan. Bertemu dengan Ibu dan Bapak walau bukan kondisi normal. Aku memisahkan diri dari koloni keluarga yang memberiku kebahagiaan. Mendekat erat dalam dekapan Ibu dan Bapak. Biarlah waktu ini untuk mereka. Kutinggalkan rumahku dalam kesunyian seorang Ibu.
“Pak, pripun Ibu?,” tanyaku dengan mencium kedua tangan Bapak yang dingin seperti es.
“Nggak ngerti, sek diperiksa,” jawabnya dengan tatapan kosong.
“Fit, tak telfon berkali-kali nggak diangkat,” suara Mbak Tutik dari sudut lain sambil berjalan cepat dengan membawa berlembar-lembar kertas.
“Iyo Mbak, soalnya klo habis maghrib telfon tak taruh kamar,” jawabku sambil melihat Ibu diperiksa dari kaca kecil di pintu yang tertutup.
“Pun, Pak! Sekarang nggak usah ikut organisasi maleh,” tandasnya.
Kalimatnya menambah hawa panas dan tekanan hidrostatis di dalam dada. Tak ada kalimat yang terucap dari bibir Bapak. Kami bertiga hanya diam. Dan sesekali menengok keadaan Ibu dari kaca di pintu yang tertutup.
***
Kamar bernuansa putih ini melabuhkanku pada rasa rindu yang tersimpan terlalu lama. Sepuluh hari lamanya aku tak melihat wajah Ibu yang bulat. Rambutnya yang memutih. Dan tubuhnya yang melebar sepertiku. Walaupun kenyataannya rinduku mendarat di kamar perawatan ini. Merawat Ibu yang berbaring lemas.
Ada rasa penyesalan akan lamunanku siang kemarin. Di perempatan Masjid Putih. Sambil menunggu lampu hijau. Pun, Tuhan telah menampakkan kuasaNya. Alam memihak ilusiku. Hatiku terasa dikerdilkan. Aku takut melamun. Lebih baik aku tersayat rindu daripada melihat yang kusayang berbaring lemas di kamar bersekat putih.
Aku memperhatikan dokter memeriksa Ibu. Dan, asumsiku dari awal memanglah tak salah. Asam lambung Ibu naik. Ibu drop akibat sering telat sarapan. Bahkan lupa tak sarapan. Perawat menulis detail keluhan Ibu serta penjelasan dokter. Mereka keluar ruangan dengan senyum sebagai pemberi semangat.
“Bu, sampun ngerti kan?,” aku membantunya mengangkat tubuhnya untuk bersandar di bantal. “Makanya, tiap hari Fitri WA Ibu,” aku melanjutkan dengan menata bantalnya yang masih tengkurap. “Dahar Buk,” aku mengambilkan air di atas loker. “Tapi Ibu mboten respon kan?,” aku mengangsurkan botol minum yang tertancap sedotan.
Ibu meminum pelan. “Yo wis, sekarang Ibu nurut kamu,” tandasnya pelan dengan meneguk air putih.
Ibu melanjutkan, “mana Bapak?”. Sambil menengok ke arah sofa.
“Bapak sama Mbak Tutik pulang Bu,” jawabku sambil menaruh botol minum. “Kasihan Bapak, kayak capek. Biar Bapak istirahat di rumah Mbak Tutik.” Aku membantu Ibu berbaring lagi. Dan Ibu perlahan tidur dalam perut yang sudah terisi bubur sebelum dokter berkunjung.
Kulihat kiriman foto dari suami bersama anak-anak. Ternyata dia bisa kuandalkan. Aku tersenyum lega. Pikiranku bisa fokus mengurus Ibu disini. Mbok Tun mengirim bahan masakan yang tersedia. Seketika aku menelfonnya. Aku tak ingin keluargaku tak terurus makanannya.
***
Kerinduanku terobati selama empat hari di ruangan bersekat putih. Namun, masih tersisa satu lagi. Rindu kebersamaan seperti dulu. Makan bersama Bapak, Ibu, dan Mbak Tutik. Bercanda, ngobrol dan mendengarkan petuah Bapak. Sebatas itu, tapi berarti bagiku. Mungkin, Mbak Tutik juga merasakan hal yang sama. Makanya, tiap ada kesempatan, dia sering datang ke rumah Ibu. Membawa makanan, namun kenyataannya selalu pulang dengan tangan kosong.
Kepulangan Ibu di rumah bukan mengembalikan masa itu. Tapi, menimbulkan serpihan kenangan yang berhamburan ke udara. “Pak, Buk, sampun, sekarang nggak usah ikut organisasi lagi.” Katanya di dalam kamar.
“Loh, kok?” kata Ibu yang bingung dengan kalimat Mbak Tutik.
“Tik, sini! Dengarkan Bapak,” suara Bapak yang keras namun pelan.
“Keadaan Ibu atau Bapak nggak ada hubungannya dengan organisasi,” kata Bapak dengan membenahi kacamata yang hampir jatuh.
“Lha Ibu dirawat ndek Rumah Sakit, Bapak kemarin ngeluh minta dipijitin Pak Gun,” tandasnya.
Ibu berjalan pelan menuju Mbak Tutik. “Nduk, iya Ibu tledor jaga badan.” Sambil menepuk bahu Mbak Tutik. Ibu menguatkan pernyataannya. “Andaikan Ibu dan Bapak nggak ikut organisasi, terus ndek rumah ngapain?. Lha Ibu masih ngajar ndek sekolah, lha Bapak?,”
“Tapi, gara-gara aktivitas Ibu dan Bapak sing padat, jadi lupa dahar, istirahat kurang,” sambil menjelaskan dengan badan berdiri. Dia kembali menegaskan. “Sampun to Bu, wis stop tumut organisasi.” Mendekat arah ke arah kursi dan memegang tangan Ibu.
“Tik, insyaallah Ibu sama Bapak semangat. Ya…Bapak ngerti, kami kurang perhatian sama badan. Tapi…” Perakataannya terhenti saat melihat gerak gerik Mbak Tutik menyela pembicaraan Bapak.
“Tapi pripun Pak?, kalau ada apa-apa sinten sing repot? Putri-putri Bapak.” Kalimat terakhirnya sebagai penutup perdebatan.
Dengan hati yang masih bergejolak, Mbak Tutik pergi meninggalkan kami. Dan menyambar tas yang tergeletak di atas meja kamar. Bapak hanya menggeleng pelan. Berjalan lunglai keluar dari hawa panas di kamar.
“Buk, manut Mbak nggih?” saranku ke Ibu dengan memegang kedua tangannya.
Ibu melepas tanganku, “Kamu ikut-ikutan Mbakmu?”
“Kalian nggak ngerti perasaan orang tua,” katanya sambil beranjak dari tempat duduknya.
“Saat pulang ngajar, ndek rumah sepi.” Suara parau Ibu menggema di kamar
“Apalagi Bapakmu, hiburane cuma televisi.”
Ibu menatapku dan memberikan sengatan listrik di jiwaku yang halus, “kamu mau tinggal sama Bapak dan Ibu? atau Mbak Tutik mau Fit?” sambil berderai air mata.
Kalimatnya memberikan aroma bawang. Entah mengapa mataku terasa panas. Air mata tak mampu kutahan lama. Kubiarkan mengalir menganak sungai hingga membasahi kerudung yang terurai. Aku menunduk dan sesenggukan. Mulut ini tak bisa bersuara walau satu kata saja. Kupikir Bapak dan Ibu baik-baik saja ketika aku dan Mbak Tutik memisahkan diri dari rumah ini. Fokus membangun rumah tangga. Tapi, setiap hari mereka harus berperang melawan kesepian.
Ibu berjalan di dekat kasur dan duduk mengambil berlembar-lembar tisu. Membilas air yang keluar dari mata maupun hidung. “Fitri, maaf Ibu dan Bapak nggak nurut sama kamu dan Mbakmu. Ibu pingin umur sing diparingi Allah iku barokah. Ikut organisasi iku ngabdi buat umat lho Fit. Kami seneng Fit, ternyata ilmu Bapak dan Ibu manfaat ternyata,” Ibu melolong dan tersenyum samar.
“Nambah pengalaman dan teman, kami nggak kesepian maneh Fit,” Kalimat terakhirnya sebelum dia berbaring di atas kasur.
Sejak perdebatan Mbak Tutik dengan mereka, aku hanya mematung. Bahkan hingga kalimat terakhir yang diucapkan Ibu, pun jiwaku masih bertahan untuk tak melawan seperti Mbak Fitri. Aku mencoba menyelami perasaan mereka dalam hubungan yang berjarak ini. Perlahan kutinggalkan kenangan manis di rumah masa kecil ini. Walaupun jiwaku masih bergemuruh akan perasaan mereka maupun keinginanku sebagai anak. Ingin mereka selalu ada untuk kami.
***
Di tengah perasaan yang tak pasti, aku bersandar pada tubuh kekar suamiku. Kurasai pelukannya serta belaian lembut tangannya di kepalaku. Berhari-hari aku merawat Ibu, dia tak mengeluh. Justru aku yang mengeluh akan sikap Ibu, Bapak dan Mbak Tutik yang tak mau mengalah. Dia memberikan kalimat ajaib di tengah situasi ambigu. “Mah, ayo ngajak Ibu, Bapak, dan Mbak Tutik makan-makan ndek angkringan JLS!”, tandasnya setelah deretan kalimat kuluapkan padanya.
Kucoba menyelami perkataan suami. Tapi, hubungan berjarak antara aku, Mbak Tutik, Ibu serta Bapak bukan soal waktu yang meleburkan. Mungkin pertemua seperti solusi ajaibnya. Aku menunggu kabar mereka, ternyata tak ada notifikasi akan salah satu nomor mereka di gawaiku. Mungkin, ini yang terbaik. Mengajak mereka pergi bersama di angkringan JLS.
Aku membuka gawai. Kulihat story Ibu dan Bapak sedang ada acara pengajian. Padahal baru tiga hari keluar Rumah Sakit. Aku hanya bisa menarik nafas. Dan memberikan pesan singkat. “Buk, kapan ada waktu senggang?, kok lama kita nggak makan di luar, hehehe….,” pesan yang kukirim di nomornya.
Dari arah kamar Rara terdengar tangisan Hafidzah yang memekik telinga. Kutaruh gawai di meja televisi. “Kak Chika nakal,” suara paraunya sambil menghentakkan kaki ke lantai. Aku menggendongnya, “Kak Rara udah besar, seharusnya bisa melerai,” kataku sambil menggendong Hafidzah.
Rara, seketika marah dan naik di atas kasurnya. Kalimatku membuatnya sedih. Suami mengajak Chika keluar kamar Rara. Aku menggendong Hafidzah yang semakin berat. Aku membiarkan Rara menangis seorang diri. Beberapa menit setelah jiwaku tenang, aku sadar kalimat yang terucap telah menyakiti hati Rara. Setelah Hafidzah mulai tenang, aku menghampiri Rara.
“Ra, maaf Mama ya,” aku mengapit tubuhnya yang tingginya hampir sama denganku.
Aku mengelus rambut pendeknya. Serta mencium kepalanya. Sudah lama aku tak memeluknya. “Iya, Mah,” jawabnya dengan posisi tubuh masih berbaring di kasur.
Pukul 20.15 Hafidzah dan Chika masih bertenaga untuk bermain. Dari celah pintu yang sedikit tertutup, aku melihat mereka sudah berdamai. Walaupun marahnya bersumbu pendek, tapi tak awet. Sambil menepuk pinggang Rara, beberapa menit kemudia dia tertidur. Padahal, ini malam Minggu, tapi dia tak kuat untuk menghabiskan malam yang panjang ini. Aku beranjak pelan dari kasurnya. Dan menutup rapat pintu kamarnya.
Ibu menjawab pesanku, “Minggu depan ya, Nduk. Bapak dan Ibu pas nggak ada acara,”
Aku memang berbeda dengan lainnya. Mungkin, mereka yang masih memiliki orang tua, mudah bertemu. Atau sebaliknya, orang tua yang rindu akan kehadiran mereka. Namun, kenyataannya aku yang rindu dengan mereka. Untuk bertemu saja harus janjian dulu. Kalaupun aku menghiraukan prosedurnya, sering dikecewakan akan penutupan kedua pintu rumah.
Aku tersenyum lebar saat membaca pesannya. Aku tersenyum ke arah suami. Dia tahu makna bahasa tubuhku. Hanya membalas dengan acungan jempol saja. Aku mencoba mengirim pesan ke Mbak Tutik, “Mbak, minggu depan keluar yuk!, kok wis lama kita nggak makan-makan ndek angkringan.”
“Iyo sih, tapi aku nggak janji ya? Klo bisa, tak kabari,” kiriman pesan pertamanya.
Dia mengirimkan pesan yang kedua, “udah lihat strory Ibu? aku wis nggak mau komen Fit.”
Kedua pesan itu kubalas dengan emote. Isyarat ini menandakan bahwa aku dalam zona ambigu. Berharap dia bisa mengusahakan ikut. Disisi lain, aku ingin dia sudah terlarut dari kekecewaannya dengan Ibu dan Bapak. Berdamai dengan keegoisannya sebagai anak. Dan memberikan kebebasan dalam jiwanya menerima kehidupan mereka. Bergelut dalam aktivitas yang tak berjeda.
***
Seminggu berlalu dengan ambigu yang menghantui. Hatiku berdetak tak karuan. Apakah ini karena keinginanku yang sudah mengkristal? Atau hanya sebatas rindu yang belum tersembuhkan total? Padahal aku sudah bersanding cukup lama dengan Ibu saat sakit. Puncak dari rasa ini, aku tak berselera untuk mengecek nasi kotak yang sudah terbungkus rapi. Aku hanya menjadi security gawai tak bernyawa.
Menunggu kabar dari Mbak Tutik. Berjalan tak bertujuan. Hingga Mbok Tun yang pendiam mengeluarkan sebuah kalimat, “wonten nopo Bu kadose kok gelisah?”
Aku hanya tersenyum dan meninggalkannya tanpa jawaban. Aku mengajak Hafidzah masuk ke dalam kamar. Kupasrahkan penjemputan anak-anak ke suami. Kebetulan dia libur dari profesinya sebagai dosen. Kami tiduran di kasur. Saat aku memasuki ketenangan, dia kubacakan buku cerita. Sifat kritisnya mengajakku berpikir mengalir. Melarutkan kecemasan tak berdasar. Hingga aku tertawa akan keluguannya.
Berkali-kali aku melihat gawai. Hanya pesan Ibu yang siap menunggu di rumah nanti malam. Rasanya ngilu untuk berkirim pesan ke Mbak Tutik. Menjelang maghrib ini pikiranku sudah dipuncak kekacauan. Aku sering memarahi anak-anak untuk hal remeh. Pada akhirnya mereka terlarut dalam dekapan Ayahnya. Ingin aku membatalkan acara ini. Tapi, kelihatannya Ayah dan Ibu bersemangat. Bahkan, anak-anak juga.
“Mah, ditenangin,” kalimat mutiara suamiku sambil menggendong Hafidzah.
“Tapi, Yah. Mbak Tutik belum berkabar. Padahal kita buat acara ini untuk dia,” aku mengeluarkan unek-unek yang terpendam.
Aku melanjutkan, “aku ingin kayak dulu. Hubunganku, Bapak, Ibu dan Mbak Tutik baik-baik saja.”
“Wis, sholat maghrib dulu udah adzan,” katanya sambil menepuk bahuku.
Dia mengajak anak-anak untuk wudlu. Kami sholat berjamaah seperti biasanya. Tapi, kali ini kami tidak menutup sholat dengan ngaji bersama. Kami harus bergegas berangkat ke rumah Ibu. Sekali lagi aku melihat gawai. Hasilnya tetap sama. Aku menghela nafas panjang sebelum masuk ke mobil. Mungkin, pertemuan kali ini belum diamini oleh alam. Walaupun untuk mencuri waktu bersama sangat sulit.
Mobil avanza putih membelah gelapnya malam. Dalam sinar lampu yang memancar terang. Aku duduk di depan. Sedangkan anak-anak bersenda gurau di barisan tengah. Kulihat Ibu dan Bapak sudah bersiap di depan rumah. Aku beralih tempat duduk ke belakang bersama Ibu. Bapak mendampingi suami. Anak-anak saling berebut berkat cium tangan ke Kakek dan Neneknya.
“Cuma ini sing ikut?,” tanya Ibu di dalam mobil sambil menoleh ke kanan dan kiri.
Aku sudah membatin ibu akan bertanya keberadaan Mbak Tutik. “Kadose enggeh Bu,” aku menjawabnya dengan tersenyum samar.
Ibu hanya terdiam dan membuka gawai yang sudah dipenuhi notifikasi. Seperti biasa, Bapak memberikan nasihat dalam bentuk cerita. Rara duduk mendekat Bapak. Walau dia harus tersungkur saat suami ngerem mendadak. Jiwanya adalah pembelajar. Momen seperti ini sangat dirindukan Rara. Begitupula Bapak yang senang dengan tumbuh kembang cucu-cucunya.
Kami menginjakkan kaki diperbukitan pantai Sine. Memilih tempat makan yang nyaman. Walau hati merana tak karuan. “Aku otw, kirim sharelock,” pesan ajaib Mbak Tutik yang kunanti. Aku membalasnya dengan emoji senyum dan mengirimkan sharelock. Saking bersemangatnya aku, suami mengernyitkan kedua alis, “Mbak Tutik jadi ikut?,”Aku membalasnya dengan senyuman dan mengangguk pelan.
“Pak, Mbak Tuti nyusul katanya,” kataku saat Bapak menikmati secangkir kopi panas.
“Bagus, lek nggak ada Tutik kurang lengkap. Lha Bapak sama Ibu sering repot. Ya…acara ngene iki bisa ngumpul bareng,” kalimatnya menggambarkan harapan kedatangan Mbak Tutik.
Kami memesan makanan dan aneka camilan. Sembari menikmati pemandangan alam yang nampak kerlipan sinar lampu. Mempertegas peralihan waktu malam. Angin berhembus dengan lembutnya. Walaupun menggunakan pakaian serba panjang, nampaknya masih menembus pori-pori kulit.
“Assalamua’laikum, lho Bapak dan Ibu tumut?,” kalimat kedatangan Mbak tutik yang dinantikan sejak lama.
“Ya ikut no Tik, lek nggak melu, marahmu sama Ibu awet wis,” jawab ibu sambil menggodanya.
Sontak Mbak Tutik merangkul Ibu dan Bapak. Diikuti dua anaknya yang sudah besar. Dan suami setianya sebagaimana suamiku yang setia mengantarku kemana aku pergi. Rasa kala itu terlarut dalam gelapnya, hangatnya kebersamaan. Datangnya angin menghilangkan pelan luka di hati kami. Kekecewaan akan keadaan yang tak memungkinkan kami berkumpul. Kini larut bagai gula bercampur dengan air.
Tak lupa kami selfie di momen langka ini. Walaupun terkesan sederhana. Namun, kami merasa ini sebuah kemewahan. Bapak tak menyiakan waktu bersama kelima cucunya. Menggiring mereka ke tempat lain. Dan mendongeng penuh makna hidup. Ibu tak henti-hentinya memijit Mbak Tutik dan tubuhku yang mengembang. Dengan candanya, kami tak henti tertawa. Inilah rindu yang terobati.
Komentar
Posting Komentar