Pilihan

                              Pilihan

Semesta menyediakan ragam variabel. Mungkin itu adalah sunatullah. Telah ditetapkan sebelum manusia terlahir di bumi. Atau sebagai bentuk jati diriNya bahwa hanya Dialah Yang Maha Esa. Tak ada yang sama dengaNya. Namun, dengan ragamnya variabel, dunia ini penuh warna. Tidak hanya diisi oleh satu spesies saja. Melainkan banyak spesies dari kerajaan yang berbeda. Di mana ragam spesies itu berkumpul membentuk ragam eksositem. Yang membentuk harmoni kehidupan.

Beragamnya variabel yang membaur dalam semesta ini, mengkristal pada sebuah kata. Adalah pilihan yang acap kali menyelinap dalam kehidupan kita sehari-hari. Sejak kedua mata terbuka lebar setiap pagi, kita sudah dihadapkan oleh pilihan. Tidur lagi atau cepat bangun. Kali pertama pilihan yang membuka kehidupan hari ini. Sepele, namun itu juga pilihan.

Pertanyaannya adalah apakah masalah ini sudah tuntas? Belum, pilihan adalah kemenyan yang mengundang hantu dalam diri. Setelah memilih, kebiasaan kita adalah membandingkan dengan keadaan yang lain. Hingga kita menyesal telah melakukan pilihan itu. Lantas, kita melakukan lompatan. Menuju sebuah pilihan baru. Yang menurut kita lebih baik. 

Anehnya lompatan itu bukan titik akhir. Masih ada aktivitas gerliya dalam pikiran yang terselubung. Mampu menembus tiga pembulah darah. Hingga menjadi penggerak roda kehidupan. Tapi, adakalanya kita lelah dengan pilihan yang tak berpola. Rumit dan penuh liku. Tak cukup hanya memihak pada satu pilihan. Namun, ragam pilihan yang terfilter hingga diperoleh sari pati terbaik.  

   Mungkin ragamnya pilihan berkorelasi dengan banyaknya variabel yang disediakan Tuhan kepada makhlukNya. Seolah Tuhan memberikan kemerdekaan untuk setiap makhlukNya dalam menjalani kehidupan. Sehingga, kita dapat melihat pola kehidupan manusia yang beragam. Mewujud pada ragamnya profesi, keyakinan, jalan hidup dan lain sebagainya. Menjadi warna kehidupan yang penuh harmoni.

Berkaitan dengan pilihan, seringkali kita menunjukkan kepalsuan. Kita sering goyah dari titik yang diambil. Ada pembanding yang lebih baik. Pun, itu hal yang lumrah terjadi. Namun, adakalanya seseorang menunjukkan kesetiaan pada pilihan. Bukan soal tak ada pembanding, tetapi dia sudah melewati benturan kehidupan yang keras. Hingga dia memutuskan bersemedi pada pilihan tersebut. 

Memilih di tengah ragamnya variabel itu memang sulit. Tetapi, melakukan pilihan yang sesuai dengan keadaan kita adalah sebuah jalan menuju penyerdehanaan hidup. Hidup ini semakin rumit ketika kita memilih dengan membandingkan dengan yang lain. Padahal itu tak berkorelasi denan keadaan yang kita hadapi. Maka, pilihan adalah wujud dari penyerdehanaan hidup itu sendiri.

Ketika kita sudah memutuskan sebuah pilihan yang diberangi dengan sikap penyadaran keadaan diri adalah menata mental. Ini jauh lebih sulit daripada melakukan pilihan. Ibarat merajut hubungan adalah lebih mudah menyatakan cinta daripada mempertahankan makna cinta itu sendiri. 

Mental yang kuat bukan tumbuh dengan sendirinya. Namun, beriringan dengan benturan kehidupan yang sering terjadi. Menyakitkan, tapi memberikan kekebalan dalam diri. Untuk tidak mudah terserang penyakit tidak puas, mengeluh, iri hati, dan lainnya. Memang tak mudah berpegang teguh pada sebuh keputusan yang diambil. Namun, jika ini adalah jalan yang terbaik bagi kita, maka harus dipertahankan dengan hati semeleh. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bahagia dengan Menyibukkan Diri

Rindu

Rindu