Hujan

                                  Hujan

Kenanganku akan hujan masih tersimpan rapi. Seperti file yang sudah terdefrag. Sehingga, jika aku memutar mesin waktu ke belakang, kenangan itu bisa kubuka kembali. Kenangan langit kelabu yang awet selama lima hari. Bahkan, tak ada awan putih bahkan biru. Andaikan sesekali muncul, pun diameternya semakin menciut. Dilahap rakus oleh kumpulan awan kelabu yang pekat.

Hujan berhari-hari adalah rezeki bagi tanaman padi. Yang sudah meninggi namun masih berdaun hijau. Dia masih membutuhkan banyak supplay air yang banyak. Adalah rezeki juga bagi para penjual makanan. Pasalanya, hawa dingin membangkitkan nafas makan setiap insan. Dan hujan, terkadang kendala bagi emak-emak untuk pergi ke pasar. Bahkan, ennggan memasak, akibat hawa dingin yang menggurita. Membeli sayur matang adalah pilihan terbaik untuk memenuhi kebutuhan lambung maupun nafsu untuk duduk diam di atas sofa berbalut selimut.

Adalah ladang rezeki pula bagi usaha laundry. Aku melihat sendiri dengan kedua mata yang sehat. Tumpukan baju di dalam kantong kresek besar. Seperti gunung yang muncul di dalam rumah. Saking banyaknya pelanggan, hingga mereka banting tenaga untuk melayani pelanggan. Bahkan baju yang terlipat rapi dengan aroma wewangian, menyebar sesisi ruangan. Artinya, baju-baju itu sudah siap diantar ke pelanggannya. Berkahnya hujan yang menambah penghasilan mereka. Dan memberikan ruang untuk bersantai sambil menikmati kopi pahit bagi pelanggan yang tak ingin repot mencuci baju di tengah hujan yang tak kunjung reda.

Namun, hujan tak memberiku ruang kosong untukku bersantai. Selayaknya, mereka yang memiliki kelonggaran kuasa akan dirinya. Aku tetap memasak. Karena faktor tuntutan bahwa setiap hari anakku membawa bekal di sekolah. Di tengah hujan yang datang tiba-tiba. Aku menyiapkan sandal bersih untuk kupakai di dalam rumah. Menggunakan jaket saat masak di pagi buta. Pun, cukup menjaga kehangatan tubuhku dikala hawa dingin menyelubungi isi ruangan. 

Hujan lima hari berturut-turut tanpa jeda, membuatku digenjot untuk disiplin. Setiap hari aku mencuci baju. Berharap, baju-baju yang telah dijemur berhari-hari ada yang kering. Namun, asumsiku tak sejalan dengan realita. Selang lima hari bertengger di bambu yang tergantung, tak ada tanda-tanda kering. Padahal, ketika menengok ke belakang usahaku seperti pekerja di pabrik. Setiap ada kemunculan mentari walau sebentar, aku mengeluarkan baju-baju basah. Aku rela naik dan turun tangga hingga berkali-kali banyaknya. Hasilnya hanya berkurang sedikit saja.

Jika aku teringat hujan waktu itu, aku tersenyum tipis. Di tengah stok pakaian yang menipis, aku bak petani yang menunggu padi menjelang panen. Berkali-kali mendongak langit. Ketika ada secercah cahaya menembus awan kelabu, aku bergegas mengeluarkan baju dari gantungan. Ternyata, cahaya itu hanya menggodaku saja. Selang lima menit kemudian, langit menurunkan tetesan air. Aku harus jumpalitan lagi mengambil baju-baju itu. Dan godaan itu tak cukup sekali atau dua kali. Berkali-kali cahaya putih keluar sebentar lalu disusul tetesan hujan. 

Hari kelima, aku memberanikan diri menjadi penunggu hujan. Sambil masak dan membersihkan rumah. Kuatur tenaga, tetapi emosi meledak sebagaimana balon udara. Ledakan itu hanya terdengar oleh penghuni rumah. Anakku lah yang menjadi korbannya. Dalam lubuk hati yang terdalam, aku merasa bersalah. Namun, emosiku tak bisa kutahan. Di tengah keadaan rumah yang belum rapi serta masakan yang masih meletup di atas kompor. 

Tindakanku sedikit membuahkan hasil. Kuhitung ada lima potong pakaian yang sudah kering. Walaupun kering karena tiupan angin saja. Aku kembali banting setir untuk menyeterika. Agar kering sempurna. Saat hujan kembali datang, aku memasukkan pakaian lagi. Bahkan, saat langit mulai cerah kembali, aku kembali mengeluarkan pakaian basah lagi, dan lagi. Hingga aku lelah dan merebahkan tubuh di atas sofa dengan berbalut selimut. Sekarang benteng pertahananku sudah kuat. Aku tak terkecoh jika langit kembali cerah, setelah baju kumasukkan kembali. Aku sudah lelah dan menikmati tidur sebentar.

Hujan yang tak kenal waktu, membuatku berspekulasi bahwa dia pemegang otoritas tertinggi pada sistem tata surya ini. Jika melihat bulan dan matahari, kemunculannya terikat oleh waktu. Tapi tidak untuk hujan. Dia bisa datang kapanpun yang dia mau. Bahkan, musim yang seharusnya kemaru, diserobot begitu ganasnya. Kita tak lagi mengenal musim. Jika hujan ingin turun, ya turunlah. Begitulah hujan berkuasa atas alam ini. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bahagia dengan Menyibukkan Diri

Rindu

Rindu