Bus dan UMKM Berjalan
Bus dan UMKM Berjalan
Liburan sekolah adalah momentumku dan keluarga kecil, healing ke suatu tempat. Anakku memintaku bertandang ke Surabaya. Selain jalan-jalan, adalah sebuah agenda wajib bagi kami. Yaitu bermalam di kos suami. Agar merasakan bagaimana perjuangan Ayahnya melawan penat bahkan kerinduan. Dengan jarak tempuh dari tempat kerja ke Trenggalek yang luar biasa jauh. Belum lagi diterjang badai kepenatan. Di mana beliau selalu pulang setiap Jumat malam. Sungguh luar biasa perjuangan beliau sebagai seorang Ayah.
Perjalanan menuju ke kos suami via kereta api. Pun, ini juga agenda wajib bagiku dan anakku. Merasai dinginnya gerbong, bertemu dengan orang asing, serta rindu akan menikmati pop mie sambil melihat pemandangan luar. Ya, setahun sekali kami agendakan naik kereta api. Menjadi pengawet kerinduan yang tersimpan rapi dalam memori. Namun, liburan kali ini tak semulus tahun lalu. Pasalnya, aku tak mendapatkan tiket perjalanan pulang. Alhasil hanya perjalanan pergi yang menggunakan mobilitas kereta.
Kereta api begitu memberikan kenyamanan bagi penumpang. Dalam segala kondisi. Aku melihat seorang ibu menggendong anaknya. Dia tetap nyaman menyusui. Bahkan, ketika anaknya mulai rewel, dia berjalan menyusuri gerobong. Tak ada yang risau akan keriuhan tangisan bayi. Para penumpang memberikan jalan, saat dia mencoba menenangkan anaknya. Saking nyamannya, aku dapat melahap buku kecil yang kubawa. Tak ada suara pengamen atau pedagang asongan.
Namun, saat perjalanan pulang. Keadaan berbalik 180 derajat. Bukan keheningan atau riuhnya tangisan bayi maupun gegap gempita kerumunan bocah-bocah bermain game. Tapi, para pedagang asongan yang tak kenal tanda titik silih berganti menjajakan dagangannya. Inilah bus yang siap menerima mereka dengan tangan terbuka. Bahkan pengamen ikut memecah keheningan penumpang yang berjibaku dengan gawainya. Menyumbangkan beberapa lagu dengan instrumennya.
Dalam sekali perjalanan menuju kertosono, ada beberapa pedagang yang mengikuti perjalanan kami. Mulai dari permen yang dibungkus plastik, mainan anak-anak, bahkan tahu goreng. Di mana, produk tersebut sulit dijumpai di toko dekat rumah. Mereka mengundi nasibnya di bus yang berlalu lalang. Berganti bus sesuai rute penjualannya. Tak kenal gender. Bahkan wanita paruh baya masih bertenaga berdiri di dalam bus. Menggendong barang dagannya.
Barang-barang yang dijual memanglah jarang ditemui. Kalaupun ada, mungkin kemasannya tidak sekecil yang dijual mereka. Harga yang ditawarkan cukup ramah di kantong. Tak heran, saat aku turun di Kertosono untuk rolling bus, ada pedagang yang tersenyum lebar. Dengan menenteng keranjang kosongnya. Aku berpikir jika dagangan itu di taruh di toko, apakah laku? Atau jika laku apakah hasilnya seperti yang dijual di bus?
Tak dielakkan bahwa bus merupakan tulang punggung bagi UMKM. Dengan produk kelas kecil atau eceran. Bus adalah UMKM berjalan. Para pelaku usaha kecil berdagang mengikuti rute pemberhentian bus. Mereka berpindah-pindah tempat. Dari bus satu ke bus lain. Atau mereka berhenti mengikuti kemana para penumpang turun. Begitulah cara mereka mencari rezeki.
Baik pedagang maupun pihak bus sama-sama menguntungkan. Di mana, penumpang yang tak membawa makanan, bisa membeli di dalam bus. Tanpa repot harus menunggu bus berhenti di terminal dulu. Hal ini sebagai fasilitas dari pedagang yang masuk di bus. Pihak bus sendiri tak menaruh khawatir akan kebutuhan penumpang dari segi makanan maupun minuman. Walaupun, kadang keberadaannya tak dianggap oleh penumpang yang tak membutuhkan dagangannya.
Telaten adalah modal utama bagi pelaku UMKM berjalan ini. Jika mereka patas semangat pada bus pertama, maka tak akan mereka mencoba bus yang kedua bahkan ketiga kali. Mandek dan meratapi dagangannya yang berjejer memenuhi isi keranjangnya. Pulang ke rumah dengan tangan kosong. Padahal keluarga di rumah sedang menunggu uang yang dihasilkan.
Komentar
Posting Komentar