Sore
Sore
Langit mulai meredup. Seiring matahari menenggelamkan diri dalam keperkasaannya. Sebagai satu-satunya benda langit yang memancarkan cahaya. Seluruh benda langit bergantung padanya. Tak ayal matahari sebagai pusat tata surnya. Begitu gagahnya dia di jagat raya ini. Namun, tenggelamnya menjadi titik peralihan. Menuju kegelapan dalam malam yang sunyi. Peralihan ini, Tuhan melukiskan langit yang penuh warna. Itulah sore.
Angin berhembus dengan tenang. Pepohonan mematung namun, sesekali rantingnya begoyang pelan. Atau hanya daunnya yang sebatas mengibas. Tak sampai menjatuhkan dedaunan di atas bumi. Hanya daun yang berwarna coklat, pun rontok juga. Tak tersentuh angin pun rontok juga. Kita akan tenang saat melewati deretan pepohonan di waktu sore. Hanya beberapa daun yang mungkin menyambut kedatangan kita.
Aku menyusuri Jalan Raya Prigi. Lengkap dengan atribut sebagai guru les. Mulai dari tas, sepatu, hingga jaket. Tanganku terasa dingin. Angin membelai setiap lapisan kulitku. Walaupun, tubuh berlapi tiga pakaian, aku masih merasai dinginnya udara. Angin tampak tenang, tapi dia berontak saat aku melaju kencang. Dia menyerangku dari berbagai arah. Menembus sela-sela pakaianku yang terbuka sedikit. Hingga, dia berasil menjinakkanku. Aku mulai mengurangi kecepatan berkendara.
Kulihat pertandingan motor GP dimulai. Aku penonton yang kritis. Apa saja yang melekat pada motor mereka? Karung berwana putih. Lantas, apa isinya? Bukan bulatan besar atau kecil yang menonjol. Bukan pula daun padi yang melekat pada ujung karung. Keyakinanku menunjuk pada suatu tanaman. Di mana setiap bagiannya memiliki manfaat. Mulai dari bunga, daun, ranting, hingga kayunya. Cengkih jawabannya.
Sore adalah waktu pertemuan para petani cengkih. Mereka pulang dengan membawa karung dari berbagai ukuran dan kuantitas. Sambil membawa dompolan dedaunan yang lengkap dengan tangkainya. Ibarat pepatah sambil menyelam minum air. Sambil memanen, mereka mencari makanan untuk hewan ternak. Makanya, saat berpapasan dengan mereka, aku lebih berhati-hati. Kalau salah langkah, tubuhku bisa tertampar oleh dedaunan yang di bawa.
Maka, sering orang mengatakan saat musim cengkih tiba. Bak melihat pertandingan motor GP. Mereka saling menyalip. Berharap akan cepat tiba di rumah. Melepas penatnya tubuh dalam pertarungan hebatnya di atas pohon. Bertengger di ranting-ranting yang penuh resiko. Sambil menjulurkan salah satu tangan untuk mengambil cengking. Berbantuan batang bambu yang tak besar namun panjang. Dan salah satu tangannya melilit kuat pada batang pohon.
Aku menekuri bagaimana wajah sumringah mereka saat pulang. Membawa pundi-pundi rupiah yang tampak di depan mata. Walaupun tubuh lelah, namun jiwa terasa ayem. Kebutuhan keluarga taka da yang dikhawatirkan lagi. Dengan percaya dirinya mereka melaju dengan kecepatan tinggi. Mungkin, paradoks dengan pernyataan bahwa raja jalan ada kaum Ibu. Sore ini, paradoks teruntuhkan oleh pertandingan motor GP ini.
Sore yang terlintas adalah tenang. Namun, tidak saat musim cengkih. Suara motor brong begitu menggema. Dinding tembok pun tembus. Jika melihat secara langsung, memberikan hiburan dikala sore. Mereka lihai dalam mengadu keterampilan. Meliukkan ke kanan, ke kiri untuk mencari celah. Sambil membawa tumpukan karung. Bahkan, wanita ikut berpartisipasi dalam kesuksesan suaminya memanen cengkih.
Itulah sore disini. Aku begitu berhati-hati saat sore. Apalagi memotong jalan. Seperti mengundi nyawa. Berpuluh menit aku menunggu sepinya jalan. Kalau ingin selamat. Aku tahu diri akan batasan kemampuanku berkendara. Jalan yang begitu padat dan bising. Namun, indah dilihat.
Aktivitasku sebagai guru les dari rumah ke rumah, memaksaku untuk bergabung dalam pertandingan motor GP. Namun ambisiku bukan pemenang. Ambisiku adalah bagaimana aku terhindar dari jeratan nasib buruk di jalan. Aku lebih mengalah bagi mereka yang berambisi menjadi pemenang. Aku menghindar saat berhimpitan dengan mereka yang membawa dompolan dedaunan. Aku tak melakukan pemberontakan pada tenangnya angin.
Sore bagi mereka adalah akhir perjuangan. Sore bagiku adalah televisi berjalan. Alam dan keberadaan mereka bagai film layar lebar. Dan aku adalah penikmatnya. Langit semakin memudarkan warna orange. Membaur menjadi kelabu. Pandangan mulai tampak gelap. Inilah akhir dari sore yang begitu singkat. Dan jalan mulai tenang saat aku pulang ke rumah.
Komentar
Posting Komentar