Ideologi
Ideologi
"Tenagaku sik kuat Nduk, nyari sebutir nasi,” ketusku kepada Lilis yang siap melahap semua argumenku. Tapi, kali ini dia berbeda. Dia cenderung diam. Tak merespon kalimat lajutanku. Hanya menggeser layar gawai. Padahal sudah kusiapkan sambal teri sebagai alibi perdebatan ini. Sikapnya menyentuh dinding pertahananku.
Aku mengambil ikan segar di Cooler Box. Golok yang tergeletak di atas talenan kayu besar, menyedot perhatianku. Kulampiaskan energi negatifku pada kepala tuna. Kubelah menjadi dua bagian, hingga golok menancap dalam di pinggir talenan. Tak kusangka suara golok dan talenan mengusir Lilis dari rumah kayu ini.
Jantungku berdetak tidak karuan. Masih ada tujuh ikan tuna yang siap kupotong. Cukup untuk membuang energi negatif yang masih tersisa. Kutarik golok sekuat tenaga dari talenan. Kumulai lagi berjibaku dengan pundi-pundi rupiahku.
Asap mengepung pernapasanku. Menutup pelan kedua mataku. Aku bergegas membenahi nyala api. Mungkin, alasan kedua kepergiannya adalah asap ini. Sambil batuk-batuk aku mengipas bara api. Perlahan emosiku mereda. Aku menggeleng pelan akan ketidakpahamannya tentangku.
Kubersihkan ikan yang terpotong. Dinginnya ikan masih melekat pada kedua tanganku. Bau amis menjadi temanku menjelang sore. Kumasukkan ikan segar pada kuali besar yang terisi larutan garam. Sembari aku membilah bambu dan menyayatnya.
Suara adzan berkumandang. Menambah keramain dalam kesendirian. Hidup seorang diri, di rumah kayu yang gagah pada zamannya. Sekarang, dinyatakan tak layak huni oleh kedua anakku. Tapi, jeleknya rumah adalah milikku. Inilah yang membuatku nyaman hidup seorang diri. Walaupun Lilis tak henti-hentinya mengajakku tinggal bersamanya.
Kubiarkan bilah bambu berserak di lantai. Aku membersihkan diri dan menghadap Sang Khaliq. Air pegunungan memanglah segar. Menembus aliran darahku yang sempat memanas. Air adalah peredamnya. Dan menunduk di atas sajadah adalah penghancurnya. Menyelami kalimat kauniyah yang berserak di kosmis. Membuat jiwaku mulai melembut.
Aku tersenyum di depan pintu. Melambai tangan hingga berteriak, “Oe, mampir sini!.” Menanggapi para pengendara yang lihai membawa karung berisi cengkih. Hingga dompolan daun sebagai kudapan kambing mereka. “Dhe Jum,” kata yang silih berganti bertengger di telingaku. Aku tak merasa sepi. Walaupun, mereka sekedar menyapa. Namun, sudah cukup menghilangkan kesepianku.
Aku membalikkan arah dan meniriskan ikan. Menjelang maghrib, aku menyelesaikan bilahan bambu yang berserak ini. Kulanjutkan proses pengasapan setelah sholat maghrib di mushola. Inikah yang dimaksud tua? Lantas, menjadi tua idealnya seperti apa? Duduk manis bak Ratu? Ah, bukan itu impianku. Mungkin jika aku menjadi Ratu, itulah tua yang kumaksud.
***
Setiap pagi, Tuhan mendatangkan rezeki. Orang-orang silih berganti masuk ke rumah kayuku. Mereka adalah juru masak di rumahnya. Terlebih musim cengkih ini, mengharuskan masak setelah subuh. “Dhe Jum dua berapa?,” kata salah satu pelanggan.
“Dua puluh ribu Nduk sing iku,” jawabku sambil menghitung kembalian ke salah satu pelanggan.
“Dhe, dikorting to. Tiap hari lo beli,” katanya sambil nyengir dan mencium pangganganku.
Aku semakin dongkol dengan celotehnya. “Klo nggak mau segitu ya nggak usah dibeli Nduk,” ketusku sambil membenahi tatanan ikan panggang yang berserak.
“Yo wis Dhe, dua ini,” dia mengeluarkan uang hijaunya dan bergegas pergi dengan wajah cemberut.
Walaupun aku tak menggunakan sistem diskon, mereka masih setia. Pasalnya, ikan yang kupilih di pelelangan adalah ikan segar. Dan lokasi rumahku juga strategis. Di tengah perkampungan. Mau tak mau mereka mesti membeli ikanku. Berapapun harga yang kutawarkan. Namun, aku tak mencari untung besar. Yang penting cukup untuk kebutuhan sehari-hari.
Kerumunan ibu-ibu berangsur pergi. Meninggalkan uang mereka di dompetku. Dan jejak kaki mereka menempel jelas di lantai tak berkeramik. Maklum jalan belum beraspal. Ah! biarlah lantai ini kotor sebentar. Aku mendongak ke luar, mentari sudah tak malu tuk bertengger.
Aku berjalan ke timur. Jalan setapak yang muat dilewati satu sepeda motor. Aku berjalan dengan membawa kuali berbahan aluminium di atas kepala. Melewati tanah liat yang melahap warna sandalku. Seratus meter kemudian, aku mulai bernapas lega. Jalan berlapis semen memudahkanku berjalan. Namun, aku masih terus berjalan seratus lima puluh meter untuk sampai ke jalan Raya Prigi. Disanalah sisa daganganku diserbu oleh para pecinta ikan panggang.
Namun, aku harus membelah jalan Raya Prigi untuk sampai ke pasar Winong. Menoleh ke kanan, ke kiri. Berjalan pelan dan berhenti sejenak. Kubiarkan pengendara motor melaju kencang. Dengan atribut lengkap. Kedua kalinya aku memaklumi keadaan. Musim cengkih, memburu waktu. Bak melihat laga motor GP di Mandalika. Aku tersenyum tipis dan melanjutkan perjalanan.
“Yu sarapan sompil,” Kata Yanah sambil mengangsurkan sepincuk sompil kepadaku.
“Suwun lo Nah, tiap hari kok diwenehi sompil,” aku tersenyum lebar dan memakan pelan.
“Halah, nggak pa-pa Yu, sampean nggak ada sing masakne,” sarkasmenya secara halus.
Aku dipanggil “Yu” karena umurnya dibawahku. Sambil sarapan, aku berdagang. Disinilah aku merasa muda. Seperti perempuan muda pada umumnya. Bekerja sesuai keahlian. Walaupun usia mendekati kepala tujuh. Namun, jiwaku tetap semangat untuk bekerja. Bukan soal penghasilan. Melainkan memanfaatkan waktu pada hal yang produktif. Dan satu hal lagi, aku tidak ingin merepotkan kedua ankku.
Pasar mulai sepi. Pasar ini disebut pasar templek. Lokasinya di pinggir jalan Raya. Tak memiliki lokasi khusus yang dibatasi oleh tembok. Hanya memanfaatkan lahan yang memanjang disekitar jalan Raya. Bangunan tak berpenghuni menjadi sasaran para pedagang. Tak ayal jika pasar ini hanya aktif di pagi hari dalam durasi 2 hingga 3 jam.
Terik matahari kurasai menembus bajuku. Aku bergeser ke arah Yanah. Tempatnya beratap genteng. Kuberikan satu ikan panggang yang tersisa. “Ki Nah dimasak santan enak,” aku memberikannya. Dia menanggapinya dengan senyum lebar, “suwun Yu, alkhamdulillah.”
Seperti biasa, sambil menunggu angkutan lewat, aku ngobrol bersamanya. Pasar yang berada di pinggir Jalan Raya Prigi ini memudahkanku mengatur jadwal. Kapan aku meninggalkan pasar. Dan sampai kapan aku duduk manis di bawah pohon jati. Jika daunnya gugur dapat kujadikan bungkus ikan panggang.
Namun, angkutan ke arah pantai Prigi belum memunculkan kepalanya. Aku masih asyik mengobrol bersamanya. Sesekali, angin menggelitik kulitku yang keriput. Rambut ikal yang selalu kuikat, tak pernah goyah oleh hembusan angin yang meliuk. Kaos oblong dan celana di bawah lutut memudahkanku bergerak. Karena, setelah ini aku harus ke TPI. Yaitu Tempat Pelangan Ikan.
“Dhe, disini to. Tak cari ke rumah Dhe Jum. Tapi kok nggak ada. Ech ternyata, sik ndek pasar,” kata perempuan berbaju seragam kantor.
“Ana apa Nduk?, lha ikan e wis habis,” aku bingung sambil melihat ember besar dan perempuan itu.
“Dhe, panjenengan dapat sembako dari desa,” dia mengangsurkan selembar kertas putih.
Dia melanjutkan kalimatnya, “Niki, besok dibawa nggih waktu ambil.” Dia membuka buku folio yang bertuliskan namaku. “Dhe, tanda tangan disini,” dia mengangurkan lagi benda kepadaku. Pulpen dan buku yang kulihat seperti benda aneh.
“Enggak Nduk, aku sik mampu kerja,” aku menolaknya terang-terangan.
“Ngapunten Dhe, bukan masalah mampu atau tidak. Ini sampun terdaftar saking desa,” tanggapannya sambil mendekatkan pulpen dan buku ke tubuhku.
“Sak durung e suwun lo Nduk, tapi aku nggak mau. Sampean berikan ndek lainnya,” aku mengembalikan kertas undangan serta buku dan pulpen.
Kalimat terakhirnya sebelum beranjak pergi, “Panjenengan kok nggak bersyukur, padahal sing ndak terdaftar iku sik banyak.”
Aku menarik napas dalam. Aku menggeleng pelan dan melolong kalimat terakhirnya. Andai dia bukan perangkat desa, mungkin sudah kulahap semua argumennya. “Orang tu lihat aku gimana? Miskin? Lha hidupku wis cukup. Aku bisa kerja,” aku bergumam sambil membersihkan ember.
“Hoalah Yu, aku wae nggak dapat ki yo pingin kayak sampean,” kalimat kedua sarkasmenya.
Aku semakin dongkol dengan sarkasmenya. “Nah, lek aku lo ya. Selama mampu nyari uang, aku nggak pingin disebut miskin. Klo bisa aku ngasih orang. Walaupun ya, rumahku nggak layak huni.” Kalimat terakhirku sebelum masuk angkutan.
Aku duduk berhimpitan dengan orang-orang seprofesiku. Apakah mereka disebut miskin juga? Bersandar pada kaca jendela yang hangat. Kututup lututku dengan kuali. Hatiku masih bercokol. Aku harus berpura-pura senyum saat mereka mengajakku bicara. Sekedar menghormati mereka. Sepanjang perjalanan aku menekuri penilaian orang lain terhadapku. Ternyata, umumnya orang menilaiku sama. Wanita lansia miskin. Padahal rambut ubanku tertutup oleh penghasilanku yang terbilang cukup Aku semakin tak memahami prinsip sosiologi mereka.
***
“Buk! Sampean tinggal nerima undangan dari desa apa salahnya ta?”, tandas Lilis sebelum aku naik motor beatnya. Ikan yang kudapat dimasukkan ke dalam box cooler berbahan sterofoam. Kuali yang kubawa dimiringkan di depan kakinya. Sedangkan aku duduk sejajar dengannya. Kedua kakiku menapak lekat pada footstep. Aku menopang box cooler. Namun, hatiku semakin bercokol.
Ternyata kejadian tadi sampai di telinganya. Lukaku belum sembuh, tapi dosisnya ditambah lagi. Faktor usia ini membuat emosiku bersumbu pendek. Gampang sensitif oleh perkataan orang. Terutama Lilis yang kupercaya sebagai menteriku. Ternyata, sikapnya menampakkan keluar dari ideologi yang kubangun.
Aku menahan diri saat dia terus berbicara dengan nada keras di jalan. Aku sadar diri, ini di jalan. Penuh resiko saat aku bergerak sedikit saja. Tapi, dadaku sudah naik turun. Aku hanya bisa meremas sterofoam saja. Bibir manyunku nampak dari kaca spion.
“Nah, ngunu kan klo dinasehati anak?,” Lilis menutup kalimat yang berderet. Sontak dia menambah kecepatan. Tak peduli dengan siapa yang diboncengnya. Rambut ikalku hingga terangkat ke atas. Wajahku dihantam oleh kerudungnya yang meliuk. Bau keringatnya begitu tajam. Maklum, dia belum sempat mandi setelah membantu suaminya tanam padi.
Jalan yang berliku ini mengarahkan pada sebuah gang. Arah menuju Masjid Ar-Rahman. Dia membelokkan setir ke kiri. Jalan bersemen yang muat dilewati satu mobil. Seratus lima puluh meter, dia membolakkan lagi ke kanan. Dengan hati-hati dia mengatur kecepatan. Dan menghentikan mesin di depan rumahku. Dia mengangkat cooler box dengan hati-hati. Hingga aku bisa turun dari motor.
“Lis, coba namane Darto sing endi?,” kataku sambil mengangsurkan gawai kepadanya
“Iki Buk,” dia menjawab dengan melihatkan urutan nomor kontak.
Aku yang sudah sepuh hanya ingat urutan nomor kontak. Di gawai ini hanya ada lima nomor kontak. Dua diantaranya adalah Lilis dan Darto. Kelima nomor kontak itu penting. Terlebih kedua anakku yang sering aku minta bantuan kepadanya. Khususnya soal penjemputanku di TPI. Memang, akhir-akhir ini aku jarang menelfon Darto. Aku tahu dia lagi sibuk. Musim cengkih membuatnya lupa Ibunya. Dan aku juga terlena oleh rutinitas sehari-hari. Hingga aku lupa dia urutan ke berapa di nomor kontakku.
Lilis memasukkan cooler box. Aku masih sibuk memencet tombol segitiga ke bawah. Aku membaca Darto sambil mengeja. “Buk, besok tak anterne,” sambil mengangsurkan surat undangan. Dia melanjutkan, “Besok aku nggak bantu-bantu Mas Ratno ndek sawah. Nanti tak ngomong kalo mau antar Ibuk ndek Balai Desa.”
Pembicaraan di jalan masih belum cukup memahami ideologiku. Ternyata, Bu Yuyun yang tadi menghampiriku di pasar, tak patah semangat. Lilis yang rumahnya masih satu desa denganku, memdudahkannya mencari jalan lain. Mempengaruhinya merobohkan ideologiku. Tak ayal, berkali-kali pula aku menolak undangan dari Desa. Mungkin, ini salah satu triknya. Lewat jalur Lilis.
“Klo Ibuk nggak mau yo nggak mau, jangan dipaksa!,” aku mengeluarkan tenaga dalamku dan melempar undangan itu.
“Sampean ki jan sulit diatur Buk. Padahal, aku yo mau klo boleh jatahmu tak gantikan,” suara paraunya.
“Lis, tak bilangin yo. Klo masih dikasih badan sehat, bisa kerja. Aja seneng di nilai wong miskin. Aja seneng tanganmu ndek bawah. Lek bisa Lis, tangane kita ndek atas. Wenehi ndek wong sing bener butuh,” aku duduk di kursi dan membanting dompetku di meja.
Dia menunduk dan melanjutkan argumennya, “Sampean ki diwenehi Buk, nggak njaluk kayak laine. Artine sampean ki memang dianggap…”
Aku menghentikan kalimatnya, “Dianggap apa Lis? Miskin?. Aku beranjak dari kursi dan membelah bambu dengan posisi tegak.
Kedua alisnya mengernyit dan bibirnya manyun. Dia membalikkan arah pintu. “Saiki Lis, nggak usah jemput Ibuk ndek TPI. Wis Darto ae sing jemput,” ketusku.
Tanpa sepatah kata, dia berjalan cepat ke motor. Suara mesinnya begitu nyaring di telingaku. Mungkin kecepatannya setara saat dia memboncengku tadi. Entah ada apa dengan hari ini? Hatiku terus disakiti oleh orang-orang disekitarku. Mereka hanya melihatku dari hal yang tampak. Bukan ideologi yang kupegang erat. Bagiku pantang menerima bantuan selama aku masih mampu berdiri di kedua kakiku.
***
Perdebatan ini mengarahkan pada benang merah. “Yo wis To, lek nggak bisa. Tak nywun tulung Haikal ae. Pas libur sekolah ta?,” kataku. Sebelum menutup telfon, aku berpesan kepadanya, “Nanti bilangno Haikal, suruh telfon Mbah lek mau jemput”. Haikal adalah anak pertama dari Darto. Dia sudah kelas dua SMA. Kalau Darto dan Lilis pas repot, dialah yang sering kumintai tolong untuk menjemput di TPI.
Seperti biasa, pukul 05.45, aku menyangga tumpukan ikan asap. Di atas kepala dengan media ember besar. Aku sering berhenti saat orang tertarik dengan daganganku. Membuat perjalanan ini berangsur ringan. Pasar adalah akhir dari perjalanan dagangku. Disanalah orang beramai-ramai membeli ikan. Lidahnya orang sini, kalau tak makan ikan rasanya aneh. Tak heran berapapun pedagang sepertiku, tak ada rasa khawatir akan kerugian.
Kali ini aku berotasi ke tempat lain. Menjaga jarak dengan Yanah. Kalimatnya masih tersimpan rapi di memoriku. Aku belum tuntas akan diriku. Antara ideologi dan paradoks orang lain. Keduanya sulit untuk aku cerna. Namun, aku semakin tersiksa oleh gemericik lambungku. Biasanya dia memberiku sompil tanpa aku memintanya.
Untungnya posisi dudukku di dekat penjual sayur keliling. “Piro Pak?”, aku menunjukkan nasi bungkus dan aneka jajanan pasar, serta jamu. “ Lima belas ribu Dhe,” sambil menghitung, dia memutuskan nominal belanjaanku.
Aku menggeser posisi berdiriku ke lokasi dagangku. Sambil makan, aku melayani para pembeli. Lagi-lagi ikanku masih tersisa. Kali ini masih tersisa dua. Aku mencoba memeluk jiwaku dalam diam. Merelakan kedongkolanku demi dua ikan ini. “ Ini tak kasih, sik sisa soale,” aku memberikan ke Yanah, dua tusuk ikan.
“Suwun Yu, aja repot-repot lo,” dia menanggapi dengan senyum tipisnya.
“Nggak pa-pa, aku seneng wenehi lek sisa,” kataku sebelum meninggalkan pembicaraan.
Memang, kali ini hubunganku sedikit berjarak. Aku sadar dengan usiaku. Aku harus lebih mengalah daripada menuruti emosi sesaat. Tapi, namanya manusia biasa, masih menyimpan sedikit kedongkolan. Tetapi, aku mencoba melarutkan itu. Agar hatiku perlahan teang. Aku berdiri di pinggir jalan. Menoleh ke kanan dan kiri. Berharap angkutan segera berhenti di depanku.
Yanah biasanya kerasan berlama-lama di bawah genteng. Dia juga menunjukkan hal berbeda. Menyunggi tampah dan membawa panci yang berbalut taplak. Dia bergegas pergi ke arah selatan. Bertolak belakang dari posisiku. Rumahnya 100 meter dari pasar. Dia tak berniat menoleh ke arahku. Sialnya aku yang terus menekuri perjalanannya. Sambil melihat tanda-tanda kemunculan angkutan berwarna abu-abu.
Akhirnya, angkutan berhenti tepat di depanku. Kali ini jiwaku tak seperti kemarin. Aku duduk dengan lebih rileks. Menanggapi para penumpang dengan bibir lebar. Senyum merekah bagai bunga mawar. Walaupun, bibir tak tersentuh oleh warna merah dari lipstik.
Aku dihimpit oleh wanita lansia sepertiku. Alasan mereka masih berjualan adalah memanfaatkan waktu untuk hal yang lebih produktif. Dan satu hal lagi, fisik kami terlalu bertenaga untuk menjadi ratu di rumah. Akhir dari perjalanan ini adalah pintu utama yang dijaga petugas. Kami turun dengan membawa aneka peralatan. Seperti, ember, timba, bahkan cooler box. Kami harus berjalan menuju TPI.
Akhirnya kami berpencar. Mencari jenis ikan yang ingin dijual. Bau amis menyebar hingga seisi ruangan. Bahkan setiap sekat tubuh para pendatang, nyaris tersentuh. Aku memilih ikan yang matanya masih bening dan insang masih merah merona. Itulah salah satu ciri bahwa ikan itu masih segar.
Aku memilih dan memasukkan satu per satu ke dalam kuali lebar namun tidak terlalu tinggi. Kutimbang dan mengulurkan uang yang harus kubayar. Aku mengambil gawai di saku. Namun, masih belum ada tanda-tanda panggilan dari Haikal. Mau menelfonnya, mataku tak begitu jelas. Aku lupa dia urutan ke berapa di kontak nomorku.
Aku duduk dan berpasrah pada alam. Berkali-kali aku menelfon Darto. Tapi, hasilnya nihil. Mungkin, saat ini dia tengah bertengger di ranting pepohonan. Mengambil kuncup bunga cengkih berbantu bambu kecil. Kuharap dia baik-baik saja. Aku juga melamun bagaimana memperbaiki hubunganku dengan Lilis.
Tertiba, gawaiku berdenting. Kuangkat cepat, “Hallo,” kata pertamaku. Aku mengenal suaranya. Bukan Darto, melainkan Haikal. Ternyata dia sudah di kawasan TPI. Aku memberitahukan posisiku sekarang.
Tombol merah kutekan. Aku bersiap untuk menunggu kedatangannya. “Lho mana cooler box nya Kal?” sambil menekuri tubuhnya yang tinggi dan kecil.
“Nggak bilang tadi,” dia menjawab.
Tanganku rileks menyentuh kepala yang bergeleng pelan. “Lha tadi Mbah wis bilang ndek Bapakmu. Klo mau berangkat, kamu telfon dulu,” aku mengoyak tubuh rampingnya.
“Oh iya Mbah, Haikal lupa,” dia tersenyum samar dengan topi yang dilepas.
“Wis…wis,” aku menimpalinya dengan hati yang bercokol.
Entah bagaimana ikan-ikan ini di bawa. Aku meminjam cooler box di TPI. Sebagai gantinya, kutaruh kuali disana. Dan kupindahkan untuk kedua kalinya di cooler box. Haikal membantuku mengangkat hingga dekat motornya. Aku mulai bernapas lega. Bayangan gelap sekejap lari.
Seperti biasa, aku duduk searah dengan pengemudi. Motor dijagang dua, dan aku duduk terlebih dahulu. Dia mengangkat cooler box sedikit kasar. “Hati-hati Kal,” aku berkeluh padanya.
Dia tak menggubris kalimatku. Topi dimiringkan ke kiri. Mesin dinyalakan. Aku menasehati pelan. “Kal, jangan banter-banter ya!” pintaku padanya. Dia, hanya mengangguk saja. Andaikan tanganku masih kuasa, sudah kujewer telinganya.
Arah keluar perumahan dinas, aku masih bernapas lega. Dia masih taat nasehatku. Hatiku mulai bergejolak. Dia membelokkan motor hampir 45 derajat di gapura ikan. “Kal, jangan banter-banter!,” aku berkata keras. Hingga, penjual bakso keluar dari warungnya.
Anak ini memanglah tidak stabil. Apakah niat bercanda? Atau memang ini wataknya. Seketika dia mengurangi kecepatan. Denyut jantungku perlahan ikut stabil. Saat lampu merah, dia selayaknya orang yang taat rambu lalu lintas. Batinku semakin tenang. Hingga kami melewati Desa Tawang dan Prigi dalam kecepatan standar.
Kami mulai melewati jalan berbelok. Selayaknya ular yang meliuk. Sebelah kiri jalan terdapat toko grosir berderet. Ada truk yang berhenti dan memakan sebagian jalan. Dia dengan percaya dirinya melewati truk dari arah kanan. Tiba-tiba ada seorang ibu menyeberang menuju toko. Haikal kaget akan kemunculannya yang begitu mendadak.
Setirnya berbenturan dengan motor Ibu. Motornya meliuk tak kenal arah. Box yang kubawa terpental dari genggaman. Aku terjatuh dan kendaraan motor dari arah berlawanan ikut menubruk motornya. Hingga kakiku sebelah kiri tertindih oleh sepeda motornya yang begitu berat. Belum lagi ditambah hantaman dari pengendara lain.
Haikal berguling di aspal. “Tolong…tolong…” aku masih tersadar dan menjerit. Kejadian ini menyedot kerumanan orang yang hendak membantu. Motornya di pindahkan dari tubuhku. Aku dibantu berdiri. Namun, rasanya sulit dan begitu sakit. Bahkan hampir mata rasa.
“Pak, tolong cucuku,” aku meronta melihat dia bersandar di bawah pohon.
Ikan-ikan berceceran. Korban masih dalam perawatan seadanya. Motor-motor dipinggirkan oleh warga. Aku melolong dalam ambigu. Raut wajah yang menakutkan bertebaran kemana-mana. Hanya ada rasa takut dan menahan sakit. Ideologiku, kebahagiaanku, dan harapanku seakan dilahap oleh awan hitam. Tak ada yang tersisa. Berdiripun aku tak bisa. Harus dibopong dua orang. Bagaimana aku tegak dengan pendirianku?
Satu persatu kami di bawa ke puskesmas terdekat. Agar mendapatkan perawatan intensif. Sebelum aku dimasukkan ke mobil salah satu warga, aku meminta tolong. “Pak, tolong kabari anakku, namane Lilis,” aku mengangsurkan gawaiku.
***
Hidupku dalam sebuah pengakhiran. Sejak, dokter puskesmas menyatakan bahwa lututku patah. Aku seperti mati rasa. Mati rasa untuk berjalan. Mati rasa untuk bangkit seperti sebelumnya. Aku hanya bisa terbujur pada kasur yang menopang tubuhku. Kakiku berbalut perban. Ada banyak luka memar yang kudapatkan. Tubuhkan masih sakit untuk digerakkan. Hingga aku tak memikirkan bagaimana keadaan Haikal sekarang. Aku hanya memikirkan diriku. Bak Ratu di rumah asing.
Lusa, aku menjalani operasi pemasangan pen di kakiku. Entahlah bagaimana hidupku selanjutnya? Aku tak menerima kenyataan pahit ini. Kurasai pahitnya begitu kuat. Hingga aku ingin muntah. Aku hanya menolaknya dengan membisu. Air mata terus mengalir. Hingga mengalir ke telinga dan bermuara di bantal. Aku memuntahkan isi hatiku melalui air mata yang menganak sungai.
Aku memilih kamar sebagai privasi. Orang desa memiliki jiwa sosial tinggi. Sudah puluhan orang menjengukku. Aku tak ingin tangisku diketahui mereka. Kamar bertembok ini bukan rumahku. Aku dipaksa Lilis tinggal disini. Rupanya, dia mencapai keberhasilannya. Dari dulu dia mengingankanku tinggal bersamanya. Dan tak berjualan ikan asap lagi.
Antara tersenyum samar dan menutup mata rapat. Senyum samar melambangkan kebahagiaan seorang Ibu dirawat anaknya. Walaupun aku merasa canggung dibuatnya. Mata tertutup melambangkan runtuhnya ideologiku. Aku adalah Juminah. Perempuan lansia yang bisa mandiri dari segi finansial. Namun, kenyataan berkata lain. Bayangan kemandirian ini, kututup rapat.
“Yu piye sekarang?”, kata Yanah masuk kamarku tanpa permisi.
“Ya beginilah, Nah,” aku menatap tembok putih.
Lilis menunjukkan buah tangan Yanah, “Lek Nah, jangan repot-repot!.
Lek adalah sebutan orang yang lebih muda kepada yang lebih tua. Sebagai bentuk penghormatan. Dia melakukan translasi duduk di atas kasur bersamaku. “Heleh Nduk, nggak repot,” katanya sambil mengelus kakiku yang diperban.
“Ibuk klo nggak gini, mana mau tinggal ndek sini Lek?,” Lilis menatap wajahku nanar.
Aku tak bisa menahan gejolak jiwaku yang belum tuntas. Aku menangis menderu. Teringat nasihat mereka. Teringat sarkasme Yanah. Teringat tegaknya ideologiku. Kini hidupku melarut bersama nasib yang telah menjadi bubur.
“Wis Yu, aja ditangisi. Semua wis kehendak Allah,” kalimat yang berasa obat pereda kepedihan.
“Tapi Nah, aku jadi beban anak,” suara parauku yang diiringi mengalirnya air mata.
Lilis memelukku hangat dengan menjulurkan badannya dari kursi di samping kasur. “Ibuk ki bilang apa lo? Yo wis kewajibanku ini Buk,” dia meronta dengan bahu naik turun.
Yanah mengambil tisu yang tersedia di atas meja. Mengelap setiap aliran air yang masih menempel di pipinya, serta hidungnya. Sambil tertawa kecil dia menunjukkanku sebuah logika sederhana. “Yu, klo udah gini baru namanya miskin ya?”katanya sambil tertawa dan menangis.
Kalimatnya membukaku pada sebuah tabir. Logikanya masuk di setiap sel sarafku. Kali ini aku menerima argumennya tentangku. Seketika aku tertawa geli. Mungkin benar apa yang dikatakan. “Lha iyo Lek, klo wis nggak mampu kerja, wis nggak bakalan nolak pemberian orang ya?,” Lilis menanggapinya dan mengambil tisu untuk mengelap air mataku.
Dia melanjutkan, “Setelah ini Lek, aku wis nggak debat sama Ibuk soal jatah sembako.”
Yanah menatapku dan kami tertawa lepas. “Lis lek nggak mau dikasih sembako, ambilen ae. Bilang ndek desa klo diwakilkan. Soale Ibuk nggak bisa jalan,” katanya dengan mendorong tubuh Lilis.
Dia menambahkan, "Hayo Yu, mau gimana lagi? Aja diterima Lis!, " dia terkekeh-kekeh
Komentar
Posting Komentar