Sorban Bapak

                           Sorban Bapak


Langit yang indah akan mahakraya Sang Pencipta. Guratan orange bercampur abu-abu dan putih. Seakan, mata tak ingin menutup walau sebentar. Namun, aku harus fokus ke arah depan. Lengah sedikit, nyawa adalah taruhan. Bukan soal diriku, melainkan perempuan yang dua puluh tahun lebih tua dariku. Duduk bersandar disampingku. Menyelami hiruk pikuk kendaraan yang berlalu lalang diakhir Ramadhan ini. Sudah tentu kendaraan saling menyalip tak kenal etika. Hingga Mak Yah sering menutup mata, bahkan mengoyak tubuhku untuk mengurangi kecepatan berkendara.

Dia sedikit bernafas lega. Palang pintu perlintasan kereta mulai menunjukkan keberadaannya. Menangkis bagi setiap kendaraan yang berani menyerobot. Perlahan aku mengikuti barisan para pemudik lainnya. Menunggu hingga palang itu terbuka kembali. Dari arah  kiri, terdengar peluit kereta menyentuh telingaku yang tertutup kaca mobil. 

Ingatanku tersentil saat melihat kereta melaju begitu cepatnya. Tiga minggu sekali aku pulang ke rumah tanpa Mak Yah. Memilih mobilitas kereta api Penataran Dhoho. Tiket          eko-3/7D menjadi favoritku. Sebagai penyeimbang akan keadaanku sekarang. Di dalam gerbong, sering aku mendengar kalimat malaikat dari orang asing. Menambah koleksi pemikiran agar aku bisa lebih bijaksana. Seringkali pembicaraan ini terhenti saat mereka berkata, “suami kerja dimana Mbak?”. Aku menanggapi dengan senyuman dan memalingkan wajah lelahku ke jendela.

Palang pintu kembali terbuka. Pengemudi yang tak beretika pun mencari celah. Tak peduli menggunakan jalur mana. Tak peduli dengan rasa was-was dari pengemudi lain. Itulah jalan raya menjelang babak akhir Ramdhan. Aku menambah kecepatan dengan bertengger pada malaikat penjagaku. Kalaupun memilih mengalah dengan pengandara lain, sudah pasti akan terhimpit pada kemacetan. Mencari peluang menyalip kendaraan lain dengan terus patuh aturan. Dan lagi-lagi Mak Yah menutup mata.

Bangunan yang menjulang tinggi membuatku menoleh sejenak. Aku memelankan kecepatan. Darul Ulum menjadi kawah candradimuka bagi Cayra. Aku tak mengarahkannya. Namun, pesona akhlak dan pengetahuan guru lesnya yang luas, membuat dia memantapkan mondok disana. Kebetulan aku memilih guru tersebut dengan memperhatikan CV yang dikirimkan oleh Bimbel. Selain mengajar di SD Negeri, dia juga lulusan terbaik di kampus Surabaya. Hal yang tak kuduga adalah dia alumni Darul Ulum. Makanya, dengan tekadnya dia memantapkan meneruskan ke pondok tersebut. 

Sekejap suasana kota santri berubah 180 derajat. Belum tamat aku mengagumi Faizza, adzan berkumandang. Sambil menyetir, Mak Yah mengangsurkan botol mineral yang telah di buka. “Ayo Non minum!,” sambil mengarahkan lubang botol ke bibir tipisku. Aku meneguk cepat. “Sudah Mak,” aku menyorongkan botol mineral. Hatiku tersengat kerinduan. Saat, gema takbir mulai berkumandang. Sorban putih yang membaur dengan peralatan make up dan alat sholat di tas. Mataku mulai panas. Namun bulir mata tak mengalir. 

Aku mengedarkan pandangan untuk menahan tetesan air mata yang siap jatuh menganak sungai. Mencari masjid terdekat. Akhirnya Masjid Moeldoko menjadi pilihanku. Setiap aliran air yang membasahi wajahku sedikit mendinginkan perasaanku. Doa terus kupanjat dalam dua tangan menengadah. Di tengah jelasnya gema takbir yang menyayat hatiku. Tercabik-cabik di kandang singa yang lapar. Jiwaku rasanya mati dan tubuhku telah dimakan oleh kenangan indah bersama Bapak.
 
“Non, Mak tunggu di serambi masjid,” suara lirihnya disampingku.

Aku hanya mengangguk dengan mata tertutup. Meresapi setiap kalimat doaku. Agar minta dikuatkan dalam mengemban amanah. Tuhan menurunkan nikmat berupa ketenangan. Saat aku sudah pulih, kulepas mukena yang melekat. Dan mencari posisi Mak Yah. Terlihat dia menyandar di tembok. Dari luar tampak kuat. Namun ,saat sepertiga malam sering kudengar isak tangisnya. Dan kulihat dari celah pintu, dia merapal doa. 

“Mak, yuk masuk mobil!,” kataku dengan menepuk pundaknya.

Kami berbuka di mobil. Dengan menu sederhana yang dibuat olehnya. Aku memakan cepat. Gawai sengaja tetap mode pesawat. Agar tak memecah konsentrasiku melintasi jalan yang begitu padat. Aku bersamanya membelah gelapnya malam. Duduk dengan orang yang nasibnya hampir sama. Memberikan ketenangan dalam batinku. 

“Mak, mampir ya ndek soto ayam Mbok Ijo?, tanyaku saat sampai di area Kediri.

“Ndak usah Non, wis kenyang ini,” kalimat penolakannya.

Padahal aku ingin mengulang kenangan lagi disana. Dulu setiap turun di stasiun Kediri, Bapak mengajakku makan disana. Sekarang aku hanya menikmati kenangan itu. Dan kutinggalkan kenangan itu bersama malam yang kian gelap. Pun, hatiku mulai dilahap awan kelabu. Saat aku sudah memasuki Desa Pesantren. Kedua tanganku terasa ngilu menyetir. Bahuku tergoncang begitu saja. Mak Yah terus mengelus pundakku. Dan kuturunkan dia di pinggir jalan.

Aku berhenti sejenak. Kubiarkan air mata jatuh menganak sungai. Kudengar pintu mobil dibuka oleh saudaranya. Mengeluarkan barang-barangnya. Dari arah kanan, dia mengetuk kaca mobil. “Non, diminum,” katanya dengan mengangsurkan segelas teh hangat. 

Perlahan kuteguk pemberiannya. Tenggorokanku menjadi tak kering. “Makasih Mak,” aku memberikan gelas kosong kepadanya.

Aku mencium aroma lodho di kursi tengah. Ternyata, keluarganya sudah menyiapkan sebelumnya. “Mak, nggak usah repot-repot,” aku meresponnya.

Dia hanya menggeleng pelan dan tersenyum. “Mak, maaf nggak bisa mampir,” kalimat perpisahan kami. 

Ke timur 100 meter, itulah titik akhir perjalananku. Terparkir mobil inova yang kubeli sebagai mobilitas di rumah. Tangisku berada di titik didih. Aku membenamkan kepala setelah melihat kursi rotan di teras. Biasanya malam takbir Bapak minum kopi bersama tetangga di teras. Bahuku naik turun, batinku berkecamuk. Kudekap erat sorban bapak. Dan kupencet klakson mobil.

Pintu yang terbuka lebar memudahkan Danish keluar dan membuka pintu mobil. Menurunkan semua barang-barangku. Disusul Faizza yang keluar dengan membenahi kerudungnya. Aku masih menekuri kerinduan ini di dalam mobil. Diiringi gema takbir yang menggerogoti relung hatiku. Sejuk, namun menyentuh batinku terdalam. Mengingatkan orang yang telah lama meninggalkanku di alam ini.
                                      ***

Cermin tak pernah khianat akan penilaiannya kepadaku. Dia menampakkanku apa adanya. Gamis dan kerudung pashmina putih membalut kulitku. Namun, ada bercak air yang terlukis. Air mataku yang terjatuh begitu deras. Wajahku tampak sembab. Bedak yang menempel pun ikut luntur. Tradisi sungkem begitu menyayat hatiku yang belum sembuh. Kenangan akan sosok Bapak. 

“A udah ditunggu Ibu di luar,” kata Danish sambil mengetuk pintu dengan keras

“Ok, 5 menit lagi,” kataku dengan nada parau

A adalah panggilan dari ketiga adikku. Sedangkan B adalah sebutannya. C inisal Faizza, dan D adalah isial Cayra. Kami membuat grub khusus untuk jalinan keakraban antar saudara. Danish menjadi mahasiswa akhir di UGM. Sedangkan Faizza menetap sekolah disini. Dan Cayra mondok.  Tentu, perlu ada media komunikasi agar kami tetap terhubung. Ya, salah satu jalannya adalah membuat grub khusus. Bapak memberikanku amanah untuk menjaga mereka.

Aku menutup mata dan mengatur ulang jiwaku. Harus kusudahi kesedihan ini. Masih butuh tenaga ekstra untuk berperang. Menanggapi pernyataan Budhe Nining yang ketus. Aku bergegas membenahi wajah sembabku. Mengganti pakaian lain. Dan memberanikan diri berjalan ke arah Ibu. Walau hati berkecamuk, perang batin ini harus kulalui.  

Ketiga adikku saling bergurau. Ekspresi Ibu tampak biasa saja. Mereka tak memahami apa yang kurasakan saat ini. Sambil menyetir, pikiranku melayang ke angkasa. Menebak premis mana yang keluar dari bibirnya. Posisiku sebagai General Manager Pemasaran, bisa saja mematikan premisnya. Hanya dengan berlembar-lembar uang. Namun, aku masih memegang ajaran Bapak. Orang muda harus hormat dengan orang yang lebih tua. Terlebih, dia adalah kakak dari Bapakku.

  Halaman rumahnya yang luas, mampu menampung berbagai jenis kendaraan. Bapak adalah anak ke dua dari enam bersaudara. Tentu, rumah Budhe yang luas masih terasa sesak. Hingga, banyak saudara memilih duduk menyila di teras. Aku memasuki sebuah sidang bernuansa Lebaran. Di mana, banyak penguji yang siap menangkis ideologi yang keluar dari bibirku. 

Aku hanya berandai. Jika kerjaanku di rumah sakit, mungkin ada alasan untuk menghindar. Namun, pekerjaanku sebagai karyawan BUMN, aneh rasanya jika izin. Dan mereka tahu akan posisiku. Mustahil untuk beralasan tidak pulang. Aku mencoba menyelami khidmatnya berkumpul dengan keluarga besar Bapak. Walaupun satu tahun sekali, tapi terasa istimewa. 

“Umurmu wis tua, kapan nikah?”, sarkasmenya meredupkan jiwaku yang mulai pulih dari kenangan Bapak. 

Hal ini membuka unek-unek saudara Bapak yang lain. Mereka menguatkan dalil yang dikeluarkan oleh Budhe Nining. Aku hanya terdiam. Tak seperti saat rapat bersama tim dalam menyusun strategi pemasaran. Seperti patung yang siap dirobohkan akan premis mereka yang berderet. 

Tertiba gawai berdenting, aku mengangkat panggilan suara Danish yang tak bersuara. Sebagai alibinya untuk melindungiku. Menjadi tradisi setiap tahun. Aku menepi dan berpura-pura memberikan saran kepada tim produksi. Sebagai hasil risetku dari keluhan customer. Khususnya customer luar negeri. Terlebih, ada pesaing baru yang siap merebut pasar perusahaanku. Dan anehnya, mereka tak menaruh curiga. 

Saat aku melirik ibu, tampak dia menjadi pemangsa baru Budhe Nining. Tanpa kusadari, dia menjadi tumbalku. Saat perjalanan ke rumah Budhe, hati ibu tenang. Namun, saat perjalanan pulang, begitu murung. Bagai lilin yang meredup. Tingkah polah ketiga adikku menampakkan paradoks. Memang, sudah kuiltimatum bahwa saat ini, hanya fokus satu arah. Yaitu belajar dengan tekun. 

Kupikir dia sudah melupakan kejadian tadi. Saat aku mengirim balasan dari teman kerja, dia mendekat. “Ri, gimana punya pacar?,” tanyanya di waktu malam yang sunyi dari keramaian tamu yang datang.

“Belum Bu, Ria masih fokus sama karir” jawabku sambil menjawab chat teman.

Aku melanjutkan dan menaruh gawai di meja, “Bulan ini Zahria bersama Mr. Lee mengadakan kerjasama dengan perusahaan di Cina. Doakan berhasil ya Bu. Lumayan klo berhasil bisa nambah pemasukan untuk adik-adik”

Ibu berbalik arah tak menanggapi kalimatku. Biasanya dia merespon dengan doa yang berderet. Tapi, kali ini dia acuh dengan pernyataanku yang penuh optimis. Aku bersandar di sofa dan bergerak pergi ke kamar. Ternyata, setiap tahun dosis kepahitan ini semakin bertambah. Di dalam kamar aku berbaring seorang diri. Dan menekuri setiap kalimat paradoks yang kudengar. Apakah usia 37 tahun terlalu tua untuk seorang perempuan lajang?

Gelapnya malam terurai menjadi langit orange bercampur putih dan biru. Mentari masih malu memunculkan wajahnya. Aku mensyukuri hari ini dengan melantunkan ayat-ayat Ilahi. Sudah kebiasaan setelah subuh, aku tutup dengan membaca Al-Qur’an. Bapak yang mencontohkan ini. Dia adalah guru bagi anak-anaknya di rumah maupun di sekolah. Tak heran jika dia begitu getol dengan pendidikan anak. Hingga aku menempuh S1 dengan dua jurusan yang berbeda.

“A masih punya tabungan?,” kata Faizza yang masuk ke kamarku tanpa permisi.

Aku menjawabnya dengan melipat mukena. “Punya, emang kenapa?” , tandasku 

Dia menyodorkan gawainya kepadaku. Jantungku berdetak begitu cepat. Tak biasanya dia berperilaku aneh. “Hey, Nona selamat,” aku memeluk erat-erat.

“A seneng banget lihat kabar ini,” responku dengan mata nanar.

Kami berjalan ke luar kamar. Membuat pengumuman di ruang tamu. “Hallo penghuni rumah, ayo keluar dari kamar!”, kalimatku yang terdengar lantang. Aku meneruskan, “A mau kasih kabar nih.”

Suara lantang ini terdengar jelas ke telinga kedua adikku dan Ibu yang mulai masak. “C diterima di fakultas kedokteran UNAIR,” kalimatku yang membuat kedua mata adikku melebar.

Kedua adikku merangkul Faizza dengan erat. Sungguh jiwaku seperti terbang bebas. Seakan usahaku tak sia-sia. Janjiku kepada Bapak, lambat laun mulai terpenuhi. Janji ini telah mengikat begitu kuat. Hingga tak ada ruang untuk membebaskan diri. Sebagaimana perempuan lajang umunya. 

Kalimatku memberikan nutrisi tambahan pagi ini, “Untuk merayakan kabar besar ini, A kasih kalian semua gift.”    

Senyum mereka kian melebar dan memikirkan apa yang diinginkan. Aku menambahkan, “Tapi, bukan barang fashion ya?”

Ibu mendekat dan meredupkan suasana indah ini. “Klo Mbakmu terus biayai sekolahmu, kapan nikahnya?”, kalimat ketusnya.
                                   ***

Lebaran tahun ini begitu berbeda. Sebelumnya, Ibu ibarat langit bagiku. Sekarang menjadi musuh dalam selimut. Bukan hanya aku yang dimusuhi. Tapi ketiga adikku ikut menjadi korban. Perjalanan Dinasku menjadi berantakan. Hingga Mr. Lee menaruh rasa kecewa kepadaku. Aku tak bisa fokus. Pikiranku terpecah menjadi bentuk per sepuluh. Belum lagi masalah keuangan. Sudah terkuras banyak untuk biaya masuk kedokteran Faizza. Rasanya aku lelah.

Aku membawa sorban Bapak di teras rumah. Duduk bersandar diantara bunga mawar yang mekar. Angin malam menyentuh pipiku. Tembok yang dingin ini mengingatkanku pada ruang ber AC. Tempat Bapak terbaring lemas di ruang ACCU akibat serangan jantung. Sambil merapal tangannya yang dingin, aku bersumpah. Aku akan menggantikan posisinya sebagai Bapak untuk ketiga adikku. Sumpah yang disaksikan oleh sorban hitam putih ini yang membalut kepalanya. Hingga Bapak menutup kedua matanya untuk terakhir kali.

Sebelumya aku selalu semangat dan optimis. Akan tugasku di perusahaan maupun sebagai Bapak untuk adik-adikku. Namun, kalimat Ibu masih terngiang dimemoriku. Bahkan ekspresi ketiga adikku terekam jelas. Keduanya menggerogoti energi hidupku. Sepertinya, mereka adalah bagian dari IKIGAIku. Terlebih, saat melihat prestasi olimpiade SAINS Faizza. Dan Danish yang berusaha keras lulus tepat waktu. Seolah aku mendapatkan supply energi dari semesta. Hingga aku mencapai kedudukan ini dengan berdarah-darah.

Rutinitas sebagai general manager begitu lelah. Sering pulang malam bahkan harus meninggalkan rumah dinas beberapa waktu. Kutinggalkan Mak Yah seorang diri. Aku memilihnya, sebab memilki frekuensi yang sama. Yaitu sama-sama kehilangan dengan orang tersayang. Kebetulan dia tetanggaku di Kediri. Dan mau menemaniku di Gresik. Dia memanggilku Nona sebagai bentuk penghormatan. 

Lelahku membaur saat aku pulang ke Kediri. Seperti biasa setiap 3 minggu sekali aku pulang ke rumah. Mobilitas kereta api Penataran Dhoho. Walaupun aku harus menempuh waktu 1 jam dari rumah Dinas ke Stasiun Gubeng. Seakan perjalanan kereta api menawarkan sensasi luar biasa. Untuk mengobati lelahku, dan melupakan ingatan akan kalimat Ibu. Dan seperti biasanya, perjalananku tanpa dia. Entah apa alasannya dia menolak ajakanku. Mungkin dia lebih nyaman di Gresik. Padahal di Kediri masih punya saudara yang rumahnya berdekatan. 

 Aku pikir waktu tiga minggu mengubah iklim rumah. Tapi rumah yang sebelumnya teduh terasa sesak. Ibu semakin membanjiri kalimat penjabaran. Ternyata, kalimat itu masih menganak. Hingga terjadi global warming di rumah yang dikelilingi pepohonan. “Nduk, tak kenalin sama anaknya Kyai Soleh ya?,” kalimat terkahirnya setelah melihatkan foto laki-laki itu.

Keadaan berubah, aku yang dulunya selalu hormat kepada Ibu. Setelah kalimat itu terucap, aku hanya menggeser gawai. Tak merespon tawarannya. Setelah kalimat itu, dia melanjutkan misinya. Menjodohkanku dengan orang yang tak kukenal. Jiwaku seperti dibunuh perlahan. “Sekarang Ria masih fokus sama Izza. Tolong Bu, jangan nambah fikiran Ria,” aku menyudahi kalimat rayuannya.

Aku bergegas meninggalkannya di dapur. Kuatur nafas dan beralih ke kamar Izza. Kulihat dia semangat mempersiapkan perlengkapan untuk nanti. Alasanku yang kedua pulang adalah mengantarkan dia ke UNAIR. Sambil nostalgia menyapa pengajarku yang mungkin masih ingat wajahku. Tiga kali wisuda telah berlalu dengan perjuangan berdarah-darah. 

Setelah Bapak meninggal, aku harus wisuda tanpanya. Dan melanjutkan studi S1 Pemasaran yang kurintis sejak menjadi mahasiswa akhir fakultas ilmu budaya UNAIR. Ini berkat dorongan Bapak yang cermat melihat bakatku berdagang saat menjadi mahasiwa Sastra Inggris. Hingga pada akhirnya aku berjuang sendiri untuk bisa mendapat gelar S1 Pemasaran. Dengan segala resiko yang menghadang. 

Episode hidupku berlanjut ketika diterima menjadi karyawan di perusahaan ini. Saat ada peluang karir yang jelas, aku memberanikan diri mengambil Magister di kampus yang sama. Saat itu, aku merasa hidupku berada di titik terendah. Tapi, ketika aku membalikkan keadaan sekarang. Justru diusiaku sekarang inilah titik terendah itu. Hidup penuh tekanan. Baik biaya pendidikan ketiga adikku maupun desakan Ibu yang menggurita.

Kami berangkat dari Stasiun Kediri pukul 11.25. Sebenarnya fisikku lelah. Karena baru kemarin malam sampai rumah, sekarang harus melakukan perjalanan lagi. Memilih waktu siang bukan tanpa alasan. Agar nanti bisa mencari tempat penginapan yang nyaman. Besok bisa mempersiapkan berkas-berkas sambil menikmati mall Surabaya. Lusanya melakukan berbagai macam tes sebagai syarat adiministrasi pembayaran daftar ulang. Semua ini sudah kupersiapkan dengan melampirkan izin cuti di perusahaan.

 Waktu berlalu begitu singkat. Faizza memilih tinggal bersamaku. Rutinitasku kembali menyerbu. Banyak laporan yang harus kuanalisis. Di tengah kesibukanku dengan berkas yang bertumpuk, Danish mengirim pesan singkat. Aku membalasnya dengan pesan suara, “Iya nggak pa-pa, untuk masalah makan jangan repotin Ibu. Pesan grabfood aja, biar A yang bayar.”
                                     ***

Aku mengantarkan Faizza pulang. Menggunakan mobilitas perusahaan. Ada hal aneh, mengapa dia meronta kepadaku untuk mengantarkan pulang. Katanya harus cepat. Ya, satu-satunya jalan menggunakan kendaraan pribadi. Dia belum terbiasa perjalanan jauh. Walaupun ada sepeda motor di Gresik. Saat sampai di depan rumah, ada mobil pajero putih. Mungkinkah itu Danish dan teman-temannya? 

Aku membiarkan dia turun lebih dulu. Aku mengaktifkan kembali gawaiku. Ada barisan  notifikasi. Terlebih dulu aku mengirim pesan buat Danish. “Ini A udah nyampe depan rumah. Gimana makanan udah aman?”, pesanku padanya.

Aku turun dari mobil dan sibuk membalas pesan dari divisi produksi. Menekuri setiap notif yang ada di grub kantor. Hingga aku lupa mengucapkan salam pada penghuni rumah. “Niki lho putri kulo Zahria,” kata Ibu sambil memegang erat kedua pundakku. 

Aku melolong ketika Danish belum sampai rumah. Melainkan dua laki-laki beratribut layaknya Kyai. Memakai sarung dan kopyah hitam. Namun, yang lebih muda lebih gemuk dan berkacamata. Dan dua orang perempuan. Salah satunya Budhe Nining. Aku meratap nanar dan mengangguk di depan mereka. Sebagai penghormatanku sebagai tuan rumah. Sial, firasat aneh itu sekarang siap menerkamku.

Aku duduk dan terseok lemas. Pertanda apa ini?. Nafasku naik turun. Hanya bisa menunduk saat Ibu dan Budhe menguliti kehidupanku. Aku melirik, mereka begitu antusias menanyakan perihal pekerjaanku. Sepertinya kuantitas umur manusia bukan masalah bagi mereka. Batinku semakin berguncang. Siap menumpahkan isinya. Sebagaimana air di dalam gelas yang mudah tumpah. Tak seperti air di samudera. Tenang dan hanya meninggalkan riak air semata. Tak pernah tumpah walaupun dihantam ombak berkali-kali.

Sofa ini menimbulkan energi negatif. Aku terus melihat pergerakan jarum jam. Kapan pertemuan ini berakhir? Apakah durasi satu setengah jam, belum cukup mensabotase data kehidupanku? Rasanya seperti satu tahun duduk di atas bara yang menyala. Satu detik pun rasanya aku tak berkenan duduk disini. Akhirnya, aku mulai bernafas lega. Mereka menyudahi pertemuan awal ini denganku. Aku menghormati mereka dengan menebar senyum samar.

Aku meluapkan isi hatiku kepada Ibu dan Budhe. Aku menangis sebagaimana anak kecil yang tak ingin disuruh mandi. Faizza pergi dan bersembunyi di balik tembok pembatas ruangan ini. Sedikit menyondongkan kepala dan bersandar. Baru kali ini aku marah kepada orang tua. Ruangan ini bagaikan neraka. Rasanya panas, dan ingin setiap orang yang masuk meninggalkan cepat. “Nduk…cah ayu, manut ya sama Budhe. Dia dari keluarga baik. Pasti, nanti bisalah mimpin kamu sama adik-adikmu,” kalimat terakhirnya sebelum dia meninggalkan ruangan ini.

Ibu bergegas pergi ke ruangan lain. Hubungan ini renggang. Sepertinya aku ini orang asing. Apakah aku salah mempertahankan pendirianku? Bukankah mereka telah melangkahi kuasaku? Aku mendengkur pada sandaran sofa. Tak kusangka mereka sudah bergerak sejauh ini. Tanpa persetujuan dariku. Suara adzan berkumandang. Udara di ruangan ini semakin panas. Aku melangkahkan kaki ke kamar. Mencoba mencari kesejukan dari doa dan ruang ber AC.

 Faizza kembali membisikkanku kalimat, “A ada teman-teman B di rumah.”

Aku kembali menatap cermin yang tak pernah mengkhianatiku. Wajah lebam, hidung merah dan mata nanar. Kulepas mukena dan merapikan wajahku. Aku harus menahan diri demi menghormati tamu. Lagi-lagi aku harus menghormati tamu. Di tengah jiwaku yang berkecamuk. Aku berjalan beriringan dengan Ibu. Kedamaian yang berjarak ini membuat kami membisu sementara.

“B, sini mau dipesenin apa?,”kataku pada Danish setelah menyapa teman-temannya.

Aku tak ingin masuk di dunia mereka. Penuh optimis dan bebas dari pernyataan bersyarat. Rasanya ingin kuulang masa itu. Sebagaimana mereka saat ini. Tertawa lepas, tak peduli setelah lulus akan kemana. Mencoba mencari ketenangan di kamar. Biarlah Faizza dan Ibu yang melayani mereka. Tak sanggup aku duduk lama diantara Ibu dan teman-teman Danish. Lukaku belum sembuh. Aku ingin sendiri.

Langit menggeser ke warna abu-abu. Matahari menenggelamkan cahayanya. Hanya ada dua cahaya di langit. Bulan dan bintang. Pun, ruangan yang tadinya riuh, kini senyap. Sebagaimana hatiku yang belum sembuh. Rasanya aku malas untuk makan. Hanya meneguk air yang terisi di botol.  

Aku mencoba melipur hatiku dengan melihat televisi. Melihat on the spot yang mengajakku berkelana ke negeri sakura. Kebetulan pernah kesana untuk urusan perusahaan bersama Mr. Lee. Saat jiwaku sehat, segala tuntutan kerjaan bisa kuselesaikan. Namun, akhir-akhir ini aku mengalami kemunduran. 

Danish menghampiriku dengan memperlihatkan gawainya. “A, ini B mau ujian tesis,” tandasnya sambil mengangsurkan gawainya kepadaku.

Belum selesai aku mencari jalan keluar dari perjodohan ini. Tapi dia menambah percikan api. Aku teriak dengan lantangnya, “B, sekarang belajar nggak ngrepotin A ya.” Kataku dengan nada tinggi. Aku melanjutkan dengan mematikan televisi. “Jika A nikah, kamu harus berusaha cari uang sendiri. Kayak A dulu. Jualan apalah, nglamar kerja dimanalah. Jangan terus minta dan minta,” aku menasehatinya. 

Aku menyudahi argumennya, “jangan lupa, jika kamu udah lulus dan dapat kerja bagus, bantu ibu biayai adik-adik.” 

Aku meninggalkannya bersama Faizza dan ibu. Aku tahu yang salah tetaplah diri ini. Adik-adikku telah kuperintahkan untuk hanya fokus belajar. Tidak memberikan peluang kepada mereka mengeksplorasi keterampilannya. Aku tak ingin mereka susah sepertiku dulu. Sebagaimana janjiku pada Bapak. 

 Di rumah ini tidak ada celah udara. Rasanya pengap. Ingin diriku keluar dari sini. Dengan hati bercokol, aku menghidupkan mesin. Pergi tanpa pamit. Kembali ke rumah dinas. Mungkin disana aku bisa menghirup udara segara. Tak mendengar desakan ibu, tak melihat adik-adikku. Aku ingin meresert jiwaku. Bukankah hidupku masih berlanjut? Pikirku dalam membelah gelapnya malam.

Tengah malam aku mengetuk pintu. Aku menangis sambil bersandar di tembok yang dingin. Segala unek-unekku keluar dengan bebasnya. Sebagaimana gelembung yang tak kenal medan disekitarnya. Aku membiarkan air mata jatuh menganak sungai. Rasa asin ingus mulai masuk ke mulutku. Suaraku serak, dan tubuhku semakin lemas. Akibat perutku belum terisi makan.

Merasai tubuhku yang butuh enregi, aku berjalan ke dapur. Aku tak ingin egois dengan tubuhku. Sambil menyiapkan minuman hangat dan makanan, Mak Yah mengeluarkan kalimat rahasia. “Non, alasan Mamak nggak ikut pulang, ya ngerasa nyaman aja disni. Mamak nggak pingin dipaksa nikah sama saudara-saudara,” dia sambil mengangsurkan the hangat. Dia melanjutkan kalimatnya, “Mamak ngerti, masa tua nggak ada yang nemeni.” Sambil meneteskan air mata dia masih berenergi melanjtkan kalimatnya, “Suami dan anak sudah dulu pergi. Tapi dengan keadaan Mamak saat ini, Mamak udah terbiasa. Mamak merasa nyaman. Tapi, saudara Mamak nggak ada yang negrti.”

Firasatku benar bahwa ada frekuensi yang sama diantara kita. Sejak dia masuk di rumah ini, aku merasa ada energi positif darinya. Dia mengkhiri percakapan ini, “Nona yang lebih paham mana yang terbaik.”

Kalimatnya mengalir diseluruh peredaran darahku. Seakan, aku terus memikirkan perkataannya. Mencoba merfleksikan diri dengan doa dan mengakhiri membaca al-qur’an. Berharap akan ada kejelasan kedepannya. Aku mencoba mengeluarkan energi negatif yang tertinggal. Dengan berolahraga ringan bersama para karyawan lainnya. Bersenda gurau, bahkan aku membantu Mak Yah di dapur. Mencoba mengaktifkan diri. Membiarkan hidup menjadi lebih flow.  

Sebelum berangkat kerja, aku menenangkan diri. Mengambil jeda di depan cermin. Membalutkan tubuhku dengan sorban Bapak. Aku merasai Bapak menyentuh kepalaku dari alam lain. Aku tak ingin menangis lagi. Sudah banyak air mata yang kukeluarkan. Sudah sering aku merindukannya. Kini aku harus kembali ke realitasku. Menjadi Kakak bagi ketiga adikku. Menjadi general manager dengan segudang tanggung jawab. Aku harus yakin bisa melalui.

Aku harus berusaha bangkit. Menyetel ulang agar pikiran kembali flow.  Tidak gampang terguncang akan tekanan luar. Sebagaimana samudera yang hanya menampakkan riak air. Aku tak ingin mengecewakan Mr. Lee lagi. Dia pertama kali yang melihat bakatku. Dan memotivasiku untuk kuliah lagi. Hingga aku mencapai titik karir ini.

Berhari-hari aku berusaha menyelesaikan diriku. Aku membatasi hubungan virtual dengan orang lain. Termasuk kedua adikku dan Ibu. Aku tahu ini tak mudah. Mereka masih membutuhkanku. Dan aku masih bertanggung jawab atas kehidupan mereka. 

“Hidupku bukan mata rantai dari pernyataan mereka yang bersyarat. Melainkan hasil dari episode kehidupanku yang berlinang air mata. Apakah keputusanku adalah sebuah aib jika tak sesuai pernyataan mereka?,” aku bergumam di depan layar laptop yang menampilkan data penjualan.

Dalam tidur, aku menunggu waktu Subuh. Berharap Tuhan kembali menunjukkan kuasaNya. Melalui kemantapan hati yang terdalam. Aku merapalkan doa dan menyelimuti tubuhku dengan sorban Bapak. Kesunyian ini jauh dari tekanan Ibu yang bersyarat. Kesunyian ini jauh dari permintaan uang sekolah adikku. Aku membiarkan mata tertutup. Dan kembali membuka saat ada suara adzan Subuh berkumandang.

Tuhan menjawab barisan doaku. Ada rasa kemantapan untuk menelfon Ibu. Aku menaruh mukena di atas lemari kecil. Dan mencari nomor Ibu di gawai. Awal pembicaraan, kami basa-basi. Lalu aku menyudutkan kalimatku pada suatu tujuan. “Bu, maaf Ria belum bisa nuruti Ibu dan Budhe. Ria ngerasa, hidup Riau udah bahagia ngeliat adik-adik semangat sekolah. Andai nikah, gimana adik-adik? Ria malah tersiksa Bu? Kasihan mereka dan suami yang menikahiku.”

Ibu merespon isi hatiku, “Yak lo iku keputusanmu terserah. Kamu nggak ngerti gimana perasaan Ibu. Apalagi saat berkumpul dengan saudara Bapak. Ibu dianggap nggak berhasil ndidik kamu.”

Aku hanya mengucap kata “maaf”. Walau hatiku kembali terluka. Namun aku sudah lega sudah memberi keputusan akan hidupku. Aku mengikuti apa kata hatiku. Bukan pernyataan orang lain, termasuk Ibu yang aku hormati.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bahagia dengan Menyibukkan Diri

Rindu

Rindu