Rewang dan Nilai Sosial
Rewang dan Nilai Sosial
Satu Minggu yang lalu, saya berjibaku dengan aneka makanan yang harus diolah. Mulai dari rengginang, emping, tape, hingga lemper yang matang tengah malam. Semua itu adalah persiapan pesta pernikahan keponakan saya. Dan pengerjaannya dilakukan dengan gotong royong. Tak heran, rumahnya dipadati oleh orang-orang yang bertandang. Baik laki-laki maupun perempuan.
Orang-orang yang bertandang tidak sekedar jagongan, namun membantu yang punya hajat. Umumnya, laki-laki bergelut dengan pekerjaan kasar. Seperti, menutup selokan dengan anyaman bambu, menata kursi dan meja tamu, hingga membantu para perempuan mengangkat masakan yang sudah jadi. Sehingga, dari luar yang terlihat adalah kerumunan laki-laki. Sedangkan, perempuan berada di dalam, mempersiapakan berbagai aneka kudapan.
Aktivitas berpartisipasi untuk membantu orang yang punya hajat disebut sebagai rewang. Biasanya yang punya hajat telah meminta bantuan terlebih dahulu. Jauh-jauh hari dia bertandang ke tetangga maupun saudara untuk bersilaturahmi. Tujuannya adalah meminta bantuan. Baik waktu, pikiran maupun tenaga. Dan dengan senang hati mereka datang ke tempat yang punya hajat. Bahkan, rela pulang hingga larut malam. Demi suksesnya acara.
Saat acara inti, baik tetangga maupun keluarga berkumpul. Padahal pas hari efektif. Yaitu hari Senin. Namun, mereka rela cuti dari pekerjaan formal. Ini suatu kewajaran. Andaikan mencoba absen dari rewang, bisa dipastikan ada sanksi sosial dari masyarakat. Apalagi di desa yang begitu kental dengan budaya gotong royong. Pengucilan dari masyarakat yang dianggap perilakunya kurang pantes.
Ada beberapa nilai sosial yang dapat kita petik dari rewang. Pertama, tolong-menolong. Tak mungkin satu pekerjaan hanya dikerjakan satu orang saja. Misalnya bagian menulis pemberian sukarela dari tamu. Harus ada bantuan orang yang membacakan. Agar pekerjaan cepat selesai. Karena yang ditulis jumlahnya begitu banyak. Sedangkan tamu yang datang silih berganti. Itu, pemisalan pekerjaan yang kelihatan ringan. Apalagi, pekerjaan yang kompleks, tentu butuh yang namanya sikap saling tolong-menolong antar sesama.
Kedua, kerja keras. Bukankah salah satu faktor terselesaikan pekerjaan adalah adanya sikap kerja keras. Pun, yang saya rasakan saat rewang. Melihat ibu-ibu dengan semangatnya menyelesaikan pekerjaan demi pekerjaan. Bahkan, merasa kikuk saat duduk manis di tengah orang-orang bercucuran keringat. Tangan tak berhenti memainkan pisaunya atau alat yang digunakan lainnya.
Ketiga, tolong-menolong. Salah satu ruh dari rewang adalah tolong-menolong. Karena pekerjaan yang harus diselesaikan lumayan kompleks dan banyak. Katakanlah satu pekerjaan membutuhkan beberapa orang. Jika masing-masing egois dengan urusannya sendiri, mungkin hasilnya tak sempurna. Sehingga, dari rewang kita diajarkan untuk saling tolong menolong. Tentu, ada orang yang tak piawai untuk melakukan aktivitas tertentu. Untuk menyempurnakan, diperlukan uluran tangan orang lain untuk membantu.
Keempat, menghormati. Saya memperhatikan bagaimana orang muda menghormati yang lebih tua. Walaupun pendapatnyalah yang mengarah pada kebenaran. Namun, mereka memilih mengalah dan mengikuti apa yang dikatakan oleh yang lebih tua. Terbesit perasaan bahwa pengalaman di dunia rewang masih seumur jagung. Namun, adakalanya orang yang lebih tua berhati lebar. Menerima saran dari yang lebih muda.
Kelima, kebersamaan. Sangat terasa saat acara inti tiba. Acara resepsi. Bagaimana masing-masing direpotkan akan jenis pekerjaan yang dipegang. Namun, semangat kebersamaan inilah yang membuat kerumitan menjadi simpel. Katakanlah menjamu 300 orang saat resepsi. Membuat es buah dengan aneka isi, belum lagi makanan untuk tamu. Tentu, membutuhkan semangat kebersamaan. Masing-masing kelompok, kompak menyelesaikan tugasnya. Sehingga, tak ada orang pulang dengan perut kosong.
Keenam, tanggungjawab. Pekerjaan yang komplek dan banyak membutuhkan jiwa tanggungjawab. Biasanya, yang punya hajat memberikan amanah kepada beberapa orang akan suatu pekerjaan. Misalnya, bagian masak nasi, atau yang mengurusi isi tas untuk para tamu yang datang. Dan masing-masing pekerjaan berpengaruh terhadap citra Sang Pemilik Hajat. Maka, orang yang dimanahi begitu tanggungjawab akan jenis pekerjaan yang dijalani. Sedangkan yang lainnya, mengikuti apa yang diarahkan olehnya. Namun, juga dengan sikap tanggungjawab.
Berdasarkan nilai sosial yang dapat diambil dari rewang itu sendiri. Tak sedikit para ibu-ibu mengajak anak perempuannya. Hal ini menjadi media bagi anak-anak belajar hidup berdampingan dengan tetangga maupun saudara. Anak perempuan diajari pekerjaan domestic maupun unggah-ungguh dengan orang yang lebih tua. Bahkan, anak laki-laki pun juga dapat memperhatikan bagaimana Bapak-Bapak mengangkat kumpulan makanan. Untuk dihidangkan ke tamu-tamu. Bahkan orang-orang yang rewang.
Nilai sosial dari rewang begitu luas. Maka, jika ada kesempatan waktu jangan sampai kita lewatkan. Kita harus mengambil sela akan kesibukan yang menghadang. Sebagai wujud eksistensi keberadaan kita di tengah masyarakat. Selain itu, sebagai wujud kepantasan. Rewang juga menjadi media belajar bagi kita untuk mengenal tetangga maupun sauadara. Di tengah kesibukan yang membatasi hubungan kita dengan mereka.
Komentar
Posting Komentar