Azhimah, Istriku

                     Azhimah, Istriku


Gelapnya malam membaur dalam cahaya putih yang berjejer di sepanjang jalan. Langit menjadi saksi akan percikan warna pelangi. Udara menyebarkan aroma kembang api yang khas. Itulah pertanda ketupatan masal dimulai. Aku berdiri tegak di tengah kerumunan khalayak ramai. Mengapit anak bungsuku dengan tangan kanan yang ditarik kuat oleh Abid. Jarinya menunjuk pada wanita yang tampil dengan warna earth tone. Berbalut pashmina almond yang menutupi rambut terjuntainya. Dialah Azhimah, perempuan yang terpatri dihatiku.

Wajahnya tampak merona diantara cahaya lampu yang bergantung pada terop. Banyak ibu-ibu yang mengikuti live streemingnya. Tutur katanya yang lembut. Membuat orang didekatnya meleleh seperti lilin yang mencair saat dinyalakan. Walaupun, sikap manjanya sering menjadi buah bibir. Bahkan membencinya dalam sindiran. Namun, saat dia bersuara. Tak ada yang kokoh akan kebenciannya terhadap Azhimah. Lambat laun, hati mereka pun meleleh juga. 

Entah, sampai kapan dia sibuk akan dunianya. Aku sengaja membiarkannya bersenang di momen istimewa ini. Menunjukkan eksistensinya sebagai seorang pemuja like. Aku mennggiring Abid dan Atifa menjauh dari bayangan Ibunya. Walau Abid sering merengek untuk diantar ke Ibunya. Premisku mengatakan bahwa kami harus menjauh darinya. Akhirnya, kami dapat tempat duduk di depan panggung hiburan. Tetanggaku sangat paham keadaan ini. Tanpa antri, aku diberikan lontong soto dan minuman untuk mereka.

“Kakak nggak mau sayur.” Kata Abid sambil menyibak isi mangkuk berbahan styrofoam.

“Sini Kak! Ayah bantu.” Aku menarik mangkuknya pelan.

Di tengah sambutan Kepala Desa, dia mulai tantrum. Melihat mangkuknya masih menyisakan warna hijau yang dibencinya. Terlebih, perhatianku kepada Atifa yang berlebih. Membuatnya memutuskan untuk beranjak dari tempat duduknya. Menampik suapan yang terakhir ke bibir kecil Atifa. 

“Baju Adik kotor.” Kalimat paraunya yang berlinang air mata.

“Nggak boleh gitu, Kak.” Aku menyentaknya.

Puncaknya kedua anakku menangis bersama. Atifa terus mengibas kerah bajunya. Sedangkan Abid membuang lontong soto yang belum tersentuh di lidahnya. Dia juga menangis begitu keras. Hingga, banyak sepasang mata tertuju kepada kami. Suasana menjadi bercampur aduk. Antara simpati dan menghormati setiap kata yang diucapkan oleh Kepala Desa. Aku merasa jengkel dengan Imah. Panggilan sehari-hari ke istriku. Mengapa sikapnya tidak bermetamorfosis?. 

Aku memutuskan menepi dari keramain. Membawa kedua anakku dengan hati yang bercokol. Aku terpaksa menggendong mereka yang penuh dengan kudapan. Yang diberikan oleh orang-orang baik. Langkahku begitu berat. Perlahan, suara lengkingan tangis mereka sayup. Seiring musik dangdut yang membuat hati ikut berdendang. Kedua tangan anakku ikut bergoyang. 

Nafasku mulai terengah-engah. Tak ada satupun yang mau kuturankan. Terlebih, kerumunan orang semakin memadat saja. Musik dangdut telah menyedot perhatian lautan manusia. Aku harus menerjang padatnya arus orang yang mendekat ke panggung hiburan. Berkali-kali sikuku menyentuh tubuh orang. Bahkan, kakiku tak luput dari injakan para pemburu hiburan. 

Aku ingin menyerah melewati lautan manusia ini. Hal yang kubenci adalah bertabrakan dengan youtuber. Mereka tak peduli dengan sekitarnya. Hanya fokus dengan gawainya dan video yang diunggah. Tanganku hampir melepas dari dekapan tubuh kedua anakku. Entah apa jadinya jika mereka terjatuh dan tersandung oleh kaki-kaki orang. Ingatanku terkoneksi akan tingkah polah Imah. Dia pemuja like. Hingga tak peduli akan nasibku dan anak-anak.
 
                                   ***
“Tolong, kamu belajar gimana jadi Ibu, gimana jadi istri.” Kalimat terakhir sebelum aku beranjak dari teras. Aku meninggalkannya melayu dalam gelapnya malam. Namun, masih bising seiring alunan musik dangdut mengiringi Sang Penyanyi. Sedemikian hatiku masing berdenting. Berkali-kali Imah kunasehati untuk merubah sikapnya. Sedikit demi sedikit. Tapi, pernikahan ke-6 tahun ini, dia belum beranjak pergi dari zona nyamannya. Bahkan, kelahiran anak ke dua. Sikap manjanya semakin menjadi-jadi. Ujung-ujungnya akulah yang repot.

Aku duduk tersandar di ruang tamu. Kuselonjorkan kedua kaki ini di atas kursi. Kuatur nafas dan sisa hati yang bercokol. Sungguh, sulit diriku untuk memarahinya. Sebesar apapun gejolak hatiku. Namun diriku tak mampu menerobos batasan yang sudah tersistem. Kupandangi foto pernikahan kami. Dia memanglah perempuan yang memikat. Cantik dan lembut tutur katanya. Kedua tanganku merapal kuat. Kuayunkan kuat pada kayu sofa. Mungkin ini salah satu media untuk melebur jiwaku yang bercokol.

Kurasai belaian kedua tangan Imah meluncur di dadaku. Rambut panjangnya menjuntai ke tubuhku. “Mas, udahan ya marahnya.” Rayuannya.

Seketika  toxic yang masih tersisa melebur bersama aliran darah. Tanganku mulai melunak. Kuregangkan pelan satu persatu jari yang mengepal. Aku menggenggam tangannya. Dan kucium bau wangi yang masih melekat pada permukaan kulitnya. Dagunya menempel di kepalaku. Perlahan bibirnya melekat pada dahiku. Hilang sudah marahku padanya. Dia berotasi duduk berhimpitan denganku.

“Yuk, ke kamar!” Bisiknya sambil mencium pipiku.

Imah memanglah perempuan yang cerdik. Hingga aku lupa dengan kejadian di area panggung hiburan. Aku lupa sebelum Abid dan Atifa tertidur pulas, kusempatkan teriak lantang di kamar mandi. Aku lupa jumlah panggilan tak terjawabku kepadanya. Semuanya melebur jadi molekul. Menguap seiring energi panas dari tutur katanya maupun sikapnya. Marahku bergerak begitu cepat dan melepas dari jiwaku. Dan kini dia memberiku surga dunia untuk sekian kalinya. Tembok pembatasku semakin kokoh. Tak rela amarah sesaat ini keluar dari mulut dan sikapku.

                               ***
Kupikir kejadian malam ketupatan merubah sedikit akan sosok Imah. Nyatanya, saat tanggal efektif, aku harus belanja menjelang subuh. Sedang, Imah masih tertidur pulas di tengah dekapan kedua ankku. Inilah mengapa berkali-kali aku kehilangan pembatu. Antara kasihan dan jengkel. Bahkan, Mbak Ambar, Kakakku tak mau lagi singgah sebentar disini. Hanya sosok Ibuku yang bisa kuandalkan saat aku repot.

Aku tahu merubahnya begitu sulit. Terlebih, aku disini tak membawa barang berharga. Rumah dan seisinya dipenuhi oleh mertuaku. Hanya sepeda N-Max yang dibelikan oleh Mbak Ambar. Agar ada sedikit wibawa sebagai seorang suami. Yang kubawa hanyalah cinta yang luas bak samudera. Jika kuingat restu kedua mertuaku akan perbedaan status sosial, aku semakin tak berdaya sebagai seorang suami. Segala kekurangannya, kututup dengan cinta. Segala lelahku, terobati dengan cintaku padanya.

“Imah, itu tahu dan tempenya tinggal digoreng.” Kalimat tergesaku dengan mengenakan kaos kaki di kursi dapur. 

“Iya” kata pendeknya sambil mencermati layar gawai

Aku mengambil cepat selembar roti tawar sebagai penawar lapar. Tak sempat aku sarapan. “Oh ya, bajunya sudah tak keringkan. Jangan lupa dijemur.” Lanjutku sambil mengunyah cepat roti yang tak berselai.

Imah tak merespon pesanku. Hanya fokus menggeser layar gawainya. Aku keluar dari rumah seperti manusia asing. Padahal aku rela bangun sebelum subuh. Agar semua pekerjaan rumah tuntas. Dia bisa fokus mengurus anak-anak. Namun, responnya tak sebanding dengan perjuangku. Menjadi pembantu sekaligus menyokong kebutuhan keluarga. Lelah, tapi aku begitu mencintainya.

Pandangan pertamaku masih awet. Cintaku bermula dari itu. Hingga pada akhirnya kubawa sampai sekarang. Aku melamarnya hanya bermodal cinta. Aku pikir dia bisa melebur dengan kehidupanku. Anak seorang petani yang begitu tekun dan sederhana. Namun, dia sering meminta hal diluar kemampuanku. Dan sikap manjanya masih tak menepi. Harus kumulai dari mana. Satu hal, aku telah membuat tembok besar. Dan tersistem oleh distraksi cinta yang menggurita.

Segala tingkah polahnya telah menjalaku. Aku tak bisa berbuat apa-apa. Hanya pasrah dari jala-jala cinta yang kubuat sendiri. Aku sendiri tak berhak untuk memarahinya walau dia salah. Aku tak berhak berkata “tidak” jika dia ingin. Aku tak berhak menodai wajah cantiknya dengan air mata yang menganak sungai. Inikah cinta menggurita?

Saat bekerja, kusempatkan mengirim pesan akan tugas yang harus dikerjakan. Melanjutkan pekerjaan rumahku, sekaligus mengurus anak-anak. Dan seringkali dia mengeluh. Terkadang dia menangis dalam status Instagramnya. Memposting prestasi pekerjaan rumahnya. Walau hanya sekelumit dari segudang pekerjaan yang kuselesaikan. Pada akhirnya, banyak kolom komentar yang simpati dengannya.

Aku hanya diam akan semua ini. Mataku dan hatiku tertutup akan samudera cinta. Saat aku input barang produksi. Imah mengirim pesan. “Mas, aku ada acara hijabers jam 1 siang. Ibu suruh ke rumah nemenin anak-anak.”

Dia adalah seorang model. Melalui komunitas tersebut, banyak tawaran endorse yang dijalani. Tak ayal, hari-harinya bersentuhan dengan gawai. Selain itu, pemotretan yang terkadang tak kenal waktu. Kadang pulang hingga larut malam. Pun, Ibuku menjadi tumpuan kerumitan rumah tangga kami. Menjaga anak-anak dikala kami beraktivitas di luar rumah.

“Iya” jawab singkatku. Dengan sigap aku menelfon Ibu di tengah desakan permintaan laporan dari marketing. “Bu, Ais minta tolong sekarang datang ke rumah. Temani anak-anak di rumah ya?” Ucapku dengan tangan kanan mengetik keyboard komputer. “Hmmm…iyo Is.” Jawabnya dengan nada lelah. Mungkin, Ibu lelah dengan tingkah Imah. Sudah kunasehati untuk istirahat dulu dari acara komunitas. Namun, dia selalu memberontak. Dan aku luluh saat dia terdiam tak menyapaku. 

                                  ***
Perdebatan panjang ini menunjukkan sebuah pengakhiran. “Iya, aku usahain.” Ucapku dengan nada lirih dan membalikkan arah tidur bertolak dengannya. Pikiranku buntu akan permintaannya yang aneh. Siapa lagi yang kumintai bantuan? Gajiku hanya cukup untuk kebutuhan sehari-hari dan sebagian aksesoris kecantikannya. Hasil kerjanya tak tampak untuk apa. Jika aku menolak permintaanya. Entah, bagaimana dia menyiksa jiwaku yang telah melekat erat dengannya.

Malam itu, menyimpulkanku pada sebuah solusi. Minta bantuan ke Mbak Ambar. Rumahnya berdekatan dengan Ibu. Namun, dia enggan masuk di rumah ini. Hanya berhenti di luar pagar saat mengantar Ibu ke rumah. Tapi, apakah ini solusi yang tepat? Pikiranku sudah buntu. Aku bergegas cepat menyalakan mesin motor. Tanpa peduli dengan urusan rumah atau anak-anak.

Jalan yang kulewati adalah jalan provinsi. Bising dan penuh kesabaran. Empat kali aku berhenti di lampu lalu lintas. Seringkali pengendara bernafsu tinggi menyerobot jalur kananku. Jantungku sering berdetak tak karuan. Orang-orang lupa akan hak orang lain. Bahkan bis dari arah berlawanan tak segan mengambil jatahku hingga aku terseok menjaga keseimbangan. Pikiranku yang tegang membuat perjalananku penuh dengan kebencian. Tak segan aku berteriak pada pengendara yang tak taat aturan. 

Akhirnya jalan mulai menyempit. Permukaan aspal kutemui banyak yang berlubang. Pemandangan jalan tak lagi gedung bertingkat. Namun, hamparan sawah yang menguning. Padi siap dipanen. Belok kiri jalan hanya cukup dilewati dua pengendara motor. Bukan lagi beraspal. Tapi, tanah yang bergelombang penuh dengan bebatuan. Tibalah tujuanku di rumah Mbak Ambar dengan hamparan padi yang dijemur.

Namaku Uwais, panggilanku adalah Ais. Aku anak petani yang beristri model cantik. Langkah gegasku menuju ruang remang-remang yang beralas kasur dan televisi menyala. “Mbak.” Aku menyandingnya 

“Eh… mana anak-anakmu kok nggak diajak?” Sambil melihat kanan kiriku 

“Ndak Mbak, sama Imah ndek rumah.” Jawabku dengan kepala sedikit kubungkukkan

“Oalah, iki ada jagung kukus. Dimakan sik anget ini.” sambil menggeser baskom yang terisi jangung ke arahku.

“Mbak, Ais pinjam uang enek?” 

Sontak dia mematikan layar televisi yang menayangkan perkembangan perceraian Baim Wong dan Paula. “Buat apa maneh Is? Berapa kali Mbak bantu. Beli motor lah, beli treadmill lah, sepeda anak-anak lah. Belum yang lain-lain. Terus apa lagi Is? Sambil membanting remot di kasur

“Imah minta mobil Mbak.” Kataku dengan membungkuk

“Terus?.” Kata pendeknya, dan menatapku dengan kedua mata lebarnya.

“Ya…gimana lagi Mbak?” Aku bingung menjelaskannya. Kulanjutkan dengan mengambil jeda untuk bernafas dan merenung. “Ais usahain.” Keputusanku.

“Wis Is stop! Jangan lagi kau turuti Imah.” Ucap Ibu yang telah menguping dari ruang tamu yang tertutup korden. 

“Tapi…kalau nggak dituruti, aku makin hancur. Anak-anak terlantar, a…ku…” Mengmabil jeda sambil menarik ingus. “Nggak bisa jauh dari Imah.” Kataku dengan suara parau.

Ibu meringkuk dalam sandaran tembok yang mendingin. Tatapan yang tak lagi hangat namun, semakin dingin seperti bongkahan es. Hanya terdiam dan menggeleng pelan.

“Is, jangan manut atimu. Akalmu dipake Is.” Kalimat menggebu dari Mbak sambil memegang erat tanganku. Kurasai tangannya begitu kasar. Bagai permukaan parut. Tak seperti Imah, tangan yang lembut dan wangi.

Mbak melanjutkan. “Aku wis ngira Is, Imah nggak bakalan berubah. Makanya, Mbak sebenare nggak setuju kamu nikah sama Imah. Tapi kamu sulit tak nasehati.”

Aku tak mau kebingunganku berlanjut. Aku bergegas berangkat meninggalkan keluhku yang bertengger pada ingatan mereka. “Is, dengerin Mbak.” Dia menarikku keras. “Kamu laki-laki. Jangan mau diperbudak Imah”. Katanya sambil membalikkan arahku kepadanya. “Kamu ini suami. Punya harga diri. Jangan kayak  keset Is.” Kalimat lanjutannya sambil menggoyang badanku keras seperti membangunkan orang yang tak sadarkan diri.

                             ***
Hasil pertempuran batinku saat perjalanan pulang. Dan kusempatan menikmati secangkir kopi di Pinka. Mengantarkanku pada sebuah keputusan. “Maaf, kali ini aku nggak bisa ngusahain.” Kataku sebelum deretan nasihat mendahului kalimat ini. “Nda…nenen…” Ucap Atifa sambil berlari mengejar Imah. “Sama Ayah aja.” Katanya sambil menutup pintu kamar dan melepas jari-jari kecil Atifa dari genggaman daseternya.

Atifa sudah berumur 27 bulan. Sudah saatnya untuk disapih. Namun, timbul rasa khawatir. Kata temanku, anaknya saat disapih rewel berminggu-minggu. Sedangkan Abid yang perbedaan usianya 2 tahun masih butuh perhatian kami. Makanya, kami memutuskan belum menyapih Atifa. 

Aku menggendong lembut dan mendekap Atifa yang masih merengek kencang. “Yuk ke rumah Uti!” Kuusap air matanya. “Ndek sana kita nyari capung di sawah”. Kataku

“Kakak mau.” Suara keras Abid sambil berlari ke arahku.

Aku menyiapkan berbagai perlengkapan. Kutinggalkan Imah sendiri dalam kecewa. Aku juga ingin mencari ketenangan dari rumah yang penuh tuntutan. Tak ingin pertengkaran ini menjadi ingatan kelam bagi anak-anak. Jok montor yang besar cukup membantuku. Kugendong Atifa seperti bayi Kanguru. Dan kuikat Abid dengan jarit yang duduk dibelakang motor.

Perjalanan malam ini mendatangkan badai bagi Ibuku. “Nggak nyebut kamu, Is, bawa anak-anak sendiri.” Kata Ibu sambil menarik Atifa dari gendonganku. “Endi Imah?” Ibu melanjutkan dan menengok ke belekang.

“Nggak ikut Bu.” Aku membuka ikatan jarit yang melilit tubuhku dan Abid.

Ibu terdiam dan menggendong Atifa masuk ke dalam. Aku berharap akan ada benang merah. Entah sikap keras kepala Imah yang melunak. Atau bantuan dari langit yang memberikanku uang untuk Imah. Kubuka jaket Abid yang bercampur embun di malam hari. Suara jangkrik saling sahut menyahut. Aku menggenggam tangan Abid yang masih dingin. Abid berlari mengikuti Utinya dan melepaskan genggamanku. 

                                  ***
Semakin kuselami samudera cintanya, hidupku semakin tak berdaya. Satu minggu setelah kepergianku bersama anak-anak. Imah, tak pernah sekalipun menelfonku. Atau mengirim pesan singkat akan keadaan anak-anak. Sikapnya dari dulu tak pernah berubah. Namun, aku terlanjur mencintai. Aku juga terikat akan janjiku kepada orangtuanya. Mungkin, sebab inilah kedua orangtuanya merelakan Imah menikah denganku. Aku, Uwais anak petani.

Sikap diamnya membuat pekerjaanku berantakan. Hingga aku harus menelan pil pahit. Mendapat surat peringatan dari perusahaan. Sekorsing selama satu Minggu. Artinya aku harus merelakan ¼ gajian melayang bersama angin berhembus kencang. Padahal, aku membutuhkannya. Entah berapa besar pengaruh asap rokok yang kuhisap terhadap polusi di area sawah ini. Duduk jongkok di pinggir parit sambil merasai lengketnya tanah liat.

Saat aku memasuki rumah persinggahan, suara tangis anak-anak silih berganti. Hal yang sama aku rasakan. Rindu dengan Imah. Aku menyelinap ke kamar. Dan menguncinya pelan. Tidur berbaring namun mataku sulit kupadamkan. Berkali-kali aku mengganti posisi tidur. Rasanya aku ingin tidur saja. Berharap bangun tidur ada keajaiban muncul. Walau waktu masih menunjukkan pukul 9 pagi. Rasanya hatiku terpenjara dalam ruang berjeruji besi. Hatiku ingin mendekap Imah. Namun, sulit aku keluar dari penjara pengasinganku.

Sering kudengar pintu berdetak keras. Gawai berdenting, namun bukan dari Imah. Rengekan Ibu dan Kakak menyuruhku untuk makan. Ragaku bukan butuh makan. Aku butuh Imah disisiku. Berhari-hari lamanya aku mengurung diri. Tak peduli anak-anakku. Tak peduli keluargaku. Bahkan tak peduli kesehatanku. Hingga dua hari menjelang usai masa sekorsingku, Kakak menarikku keras saat aku keluar dari kamar.

“Wis cukup Is! Aku nggak kuat lihat kamu ngene”, Tandasnya sambil meringkuk di kedua kakiku.

Dia melanjutkan dengan nada paraunya. “Mbak, bantu Is. Tapi demi kamu, bukan perempuan itu,” berdiri sambil mengusap-usap wajah layuku dengan tangan yang basah akan air matanya.

Kalimat malaikatnya membuat ragaku ingin terbang ke udara. Merasai segarnya udara pembebasan. “Suwun Mbak,” aku menangis pilu dan memeluk tubuhnya.

“Makan Is,” Ibu menyodorkan makan sambil menggendong Atifa. Mungkin dari tadi Ibu sudah menyiapkan pembebasanku dari kamar yang terkunci.

“Abid,” aku mulai mencari satu persatu anakku. “Wis, maem dulu. Abid sama tetangga di ajak ndek sawah,” kata ibu dengan sesenggukan.

Aku mengusap air matanya. “Udah Bu, jangan nangis. Ais wis enakan.”

Pengurunganku hanyalah bentuk keeogisanku. Anak-anakku, keluargaku ikut menderita. Tapi Imah, apakah dia merasakan hal yang sama dengan mereka? Aku tak punya Bapak, Kakakku mengandalkan penghasilan suami di negeri orang. Dan menghidupi kedua anaknya yang mondok. Tapi, aku disini hanya sebagai parasit. Aku semakin kacau.

“Mbak, Ais tak pinjam uang ndek bank ae,” hasilku mengurung berhari-hari. “Rumah Imah biar jadi jaminan, jika dia rela,” lanjutku.

  Mbak Ambar bergegas pergi keluar dari percakapan ini. Aku melanjutkan makan sedikit demi sedikit. Tubuhku juga butuh makan, bukan hanya cinta. “Nih, buat DP!,” Mbak mengangsurkan berlembar-lembar uang yang diikat kuat oleh karet.

“Uang darimana?,” tanyaku keheranan.

“Perhiasanku tak jual,” jawabnya datar.

Aku tak kuasa menelan sisa nasiku. Tak sepantasnya Mbak berkorban seperti ini. Andaikan Imah bisa menirunya. Kepintarannya mengelola keuangan. Mungkin, segala yang diinginkan bisa diwujudkan. Tanpa aku bersimpuh pada sosok Mbak Ambar.  

Aku hanya terdiam, bingung harus bagaimana. “Is, iki nggak gratis kayak dulu. Kamu harus ganti uang Mbak. Kasihan Mas Dio kerja keras ndek Jepang,” Nada pilunya dengan mata yang melolong. Dia melanjutkan, “Ujung-ujungnya uange kamu pake,” kalimat sarkasmenya.

                                 ***
Aku memberanikan diri membuka pintu rumah. Tanpa kedua anakku. Tercium aroma tempe goreng semerbak seperti parfum menguap. Kudengar suara desisan minyak panas dan spatula ikut berdenting. Aku terkesiap kaget melihat ruangan yang rapi. Kuedarkan pandangan di suatu tempat. Imah konsentrasi menggoreng di dapur. Hampir dua minggu tak bersanding. Rasanya kikuk untuk menyapa. 

Aku masuk ke kamar perbatasan antara dapur tempatnya menggoreng tempe. Di kamar inilah biasanya kami merajut kasih. Bercanda, bahkan aku sering menasehatinya. Aku termangu melihat dokumen terhimpun rapi. Fotokopi sertifikat tanah. Mataku terbelalak, hatiku berkecamuk. Untuk apa ini?

“Mas, aku udah mikir panjang. Kita pinjam uang di bank,” kalimat yang kunantikan.

Dia melanjutkan dengan mengambil dokumen yang kupegang. “Aku udah izin Bapak pakai sertifikat rumah ini,” katanya dengan membuka lembaran demi lembaran.

“Kamu udah yakin?”, aku menanggapinya.

Dia mengangguk dengan kedua mata nanarnya. Aku melanjutkan kalimat yang masih bertengger di otakku. “Imah, aku dipinjami uang sama Mbak,” aku menggiringnya duduk dan menujukkan uang yang kubawa.

“Tapi, ini tidak gratis. Mbak memintaku mengembalikan jika udah punya uang,” penuturanku pelan.

“Kamu udah dewasa, andaikan tetap ingin beli mobil, kita pikirkan keputusan yang terbaik,” aku menasihatinya lagi sambil mengelus rambut panjangnya.

“Kamu tahu kan gajiku berapa?”, aku menatap gurat pilu di wajahnya.

“Mas, alasan Imah nggak nelfon, Imah mikir. Sebenarnya Imah kangen sama kamu, a…nak-a..nak,” katanya sambil sesenggukan.

“Job Imah makin luas Mas, andaikan pake jasa grab, gaji Imah hanya cukup untuk beli bensin.” Dia melanjutkan penjelasannya.

Aku mengusap air matanya yang jatuh menganak sungai. “Ok, terus apa keputusanmu? Mas, manut kamu.”

“Kita pinjam uang aja di bank, uang dari Mbak dikembalikan aja Mas. Mbak banyak bantu kita. Kasihan ….,” kalimat ajaibnya muncul begitu saja dari dua bibir tipisnya.

Inilah yang kutunggu jauh hari sebelum terkungkung dalam kesepian. Kudekap erat tubuh rampingnya. Kucium dahinya yang lebar. Besar harapanku padanya untuk bermetamorfosis sebagaimana sosok istri pada umumnya. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bahagia dengan Menyibukkan Diri

Rindu

Rindu