Gado-Gado Lebaran

                   Gado-Gado Lebaran

Apa yang terlintas saat Anda mendengar kata “lebaran”? Mungkin mayoritas mendefinisikan sebagai jalan menuju fitrah. Atau manusia kembali seperti bayi yang baru saja lahir. Setelah menjalani puasa satu bulan lamanya. Besar kemungkinan Tuhan mengampuni dosa yang berlalu. Yaitu dosa yang berkaitan dengan Ilahiah. Dan dilanjutkan peleburan dosa kemanusian melalui lebaran itu sendiri. Sehingga, dua dimensi dosa terhadap Tuhan maupun hubungan sosial. Telah lebur pada titik akhir yaitu lebaran. Dan manusia kembali suci dari dosa sebagaimana bayi yang baru lahir.

Namun, apakah lebaran hanya didefinisikan pada satu aspek? Yaitu dari sisi peleburan dosa. Nyatanya, gerbang pertama menuju lebaran yaitu gema takbir. Tak sedikit orang meneteskan air mata. Antara bahagia dan kesedihan. Bahagia karena telah menyelesaikan ibadah puasa sebulan lamanya. Dengan menggiatkan diri beribadah lain serta meredam hawa nafsu. Dan akan berjumpa dengan lebaran itu sendiri. Sebagai hari kemenangan. Kesedihan begitu menggurita akan ketidakrelaan berpisah dengan bulan Ramadhan. 

Kesedihan di malam takbir bukan hanya karena berpisahnya dengan bulan Ramadhan. Mungkin, mereka yang kehilangan anggota keluarga. Begitu menyesakkan dada. Air mata yang terbendung tak bisa tertahan. Air mata jatuh menganak sungai seiring gema takbir berkumandang. Memenuhi malam gulita hingga Sang surya terbit. Bahkan, mereka yang masih bertahan di tanah perantauan. Terjerat dalam jala-jala kerinduan akan keluarga jauhnya. Tak heran, batin yang berkecamuk pilu. Menyegerakan untuk videocall. Walau harus memperlihatkan tangisnya.

Selain itu, lebaran menjadi sarana bagi kita untuk memperkuat hubungan persaudaraan. Momen lebaran, kita saling berkunjung ke sanak saudara bahkan tetangga. Hal ini menyambungkan komunikasi yang terputus. Bahkan, melunakkan hati yang bercokol akan rasa ketidaksenangan dengan orang lain. Saling memaafkan saat lebaran melebur rasa yang tak nyaman dalam hati. Melalui jabat tangan dan ketulusan dalam meminta maaf kepada orang lain. Pun, ini menjadi media kita untuk kembali memulai hubungan yang baru. 

Saat kita berkunjung ke rumah orang lain. Tampak kudapan berjejer rapi. Bahkan Tuan rumah sudah membersihkan ruangan dari kotoran. Sehingga kita yang bertandang merasa nyaman. Atau sungkan jika apa yang kita makan terjatuh di lantai. Seolah lebaran menjadikan setiap orang berkedudukan sama. Siapapun yang bertamu akan diperlakukan yang sama. Yaitu disajikan kudapan dengan tempat yang sudah dibersihkan. Tak heran sebelum lebaran. Orang disibukkan membersihkan rumah.

Untuk menyempurnakan momen lebaran. Mayoritas orang mengenakan pakaian terbaik. Sebagai wujud penghormatan diri dihari yang fitri. Bisa dilihat saat mereka berduyun-duyun ke lokasi sholat ied. Pakain rapi tersetrika melekat kuat. Dengan polesan di wajah sumringahnya. Saat bertandang ke rumah orang lain, atau menjadi Tuan Rumah. Pun, pakaian rapi dan baik tak luput dari perhatiannya. Bagi mereka yang memiliki kelonggaran rezeki. Toko baju menjadi media pemenuhan kebutuhan outfitnya. Walaupun, di era teknologi. Toko baju bukan sekedar bangunan yang menjulang tinggi. Melainkan gambar yang berjejer di layar gawai. Yang dapat dibayar secara virtual.

Momen lebaran, kita sebagai orang yang lebih muda bertandang ke lebih tua. Seringkali, kita mendapatkan nasihat gratis. Mereka yang lebih berpengalaman dalam mengarungi samudera kehidupan. Memberikan petuah bahwa hidup ini ada pasang surutnya. Bahkan harus berhadapan dengan gelombang besar atau kecil. Terkadang harus tersesat untuk mencapai tepi samudera. Sebagai tujuan dari penjelajahan samudera kehidupan. Bahkan, terbentur dengan karang besar. Orang yang lebih tua memberikan motivasi bahkan cara untuk menghadapinya. 

  Dan keberadaan ketupat atau lontong menjadi menu wajib lebaran. Biasanya kita menjumpai di hari lebaran ke-7. Walaupun, ada juga di hari lain orang sudah memasak kudapan tersebut. Ketupat sendiri sebagai perwujudan dari rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa. Di mana, ketupat sering disandingkan dengan opor ayam atau sayur lodeh. Nilai yang terkandung dalam ketupat tentu banyak sekali. Tak heran, berbagai daerah mengadakan ketupatan masal. Baik di tempat tertutup seperti mushola, atau di ruang terbuka. Tentu, demi terselenggaranya acara tersebut, membutuhkan sikap saling kerjasama antar masyarakat. 

Dari uraian di atas, tentu “lebaran” tidak hanya identik dengan kesucian diri saja. Melainkan ada banyak hal yang mewarnai “lebaran” itu sendiri. Walaupun inti dari lebaran adalah fitrah. Hal ini seperti makanan gado-gado. Di mana, gado-gado dihidangkan pada berbagai sayuran yang direbus, lauk, serta disiram dengan bumbu kacang. Sebagaimana lebaran, di dalamnya ada kerinduan, keceriaan, kebersamaan, nasihat, kebersihan lahir maupun batin. Yang muaranya adalah kembali menuju manusia Fitri.  

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bahagia dengan Menyibukkan Diri

Rindu

Rindu