Kembali

                             Kembali

Kalimat berderet itu menampakkan sebuah pengakhiran. “Buk, aku pingin kayak Mas. Bebas kerja dimana aja.” Kata Khayla yang berdiri tegak meninggalkan diskusi panjang kami. Hanya gawainya yang menyala. Menunjukkan pesan e-mail bahwa dia diterima sebagai Customer Service (CS) di bank BRI. Lokasinya di Kediri. Dan aku kembali melepas anakku yang kedua kali.

Jarum jam berdetak dengan pola teratur. Kedua tanganku mengepal dengan menyangga kepala yang terisi beban hidup. Perlahan gawainya padam seperti pikiranku yang buntu. Malam yang sunyi namun, hatiku bergemuruh. Anak-anakku memiliki cara pandang yang berbeda denganku. Ternyata kepulangan Fian menjadi magnet baginya untuk meninggalkan kota Marmer ini. Gelar sarjana baru saja tersemat. Entah, bagaimana caraku merelakan kebebasannya?

Aku berjalan pelan, kupandang anak bungsuku Tara. Dia masih berjimbaku dengan kertas-kertasnya. Rupanya dia mengikuti jejak kakak-kakaknya. Mengejar kelulusan tepat waktu. Dan cepat mencari pekerjaan. Walau Fian, anak sulungku harus menganggur tiga bulan. Dan melalang buana ke penjuru kota. Menyodorkan kertas berharga yang diperjuangkan selama 4 tahun. Bekerja diluar bidangnya. Pun, sudah digeluti lama. Dan kini dia menikmati hasil petualangannya. Bekerja di Kalimantan pada sektor pertambangan. 

Mungkin, rumah ini akan terisi dua orang. Andaikan Fian tidak keras kepala. Andaikan Khayla mengubah keputusannya. Mungkin, porsi masakku tak berkurang. Aku tak kesepian akan gelapnya malam dan terangnya pagi. Kupandang dua kamar tertutup rapat. Hanya kamar Tara yang terbuka sedikit. Di celah pintu itulah aku memperhatikan tingkah polahnya. 

Aku berdiri lalu berjalan tanpa tujuan. Jam sebelas malam lebih, namun aku tak mengantuk. Mencoba masuk kamar, namun hatiku terasa sesak. Mengingat, satu persatu anak-anakku berkembang begitu cepat. Tak rela rasanya melepas mereka jauh dari pandangan mataku. Namun ini sudah fase mereka. Menggali potensinya. Memanfaatkan ilmu yang diperoleh. Memperolah uang untuk masa depan. Dan satu hal. Aku tak ingin kelak mereka menyalahkanku akan nasibnya.

Duduk seorang diri di atas kasur. Memandang foto Mas Pras yang sudah lama meninggalkanku. Dia tak merasakan apa yang kurasakan saat ini. Andaikan masih hidup. Dia akan merasakan hal yang sama. Mungkin mencarikan pekerjaan disini. Dengan modal luasnya relasi kerjanya. Dia seorang pegawai negeri di Kemenag. Namun, relasinya banyak. Sifatnya menurun ke Fian dan Khayla. Temannya banyak. Tak seperti Tara yang pendiam sepertiku.
                                  ***

Semalam aku mencoba untuk kedua kalinya. Sebelum kepergian Fian ke Kalimantan. Bersama maskapai sajadah yang mulai menipis. Warnanya pudar. Saat sujud, dahiku terasa dingin. Suhu lantai menguap cepat ke pori-pori sajadah. Tanganku tak henti memutar tasbih. Entah hingga berapa kali berotasi. Lafadz “Laaillahaillallah” tak henti kuucap.

Impian Khayla dan aku sebagai orang tua. Aku butuh penyangga yang lebih kuat lagi. Agar aku berada di posisi pertengahan. Sebagaimana sikapku ke Fian dulu. Antara aku membuka kebebasan atau mendekap laju anak-anakku. Jika aku condong disatu sisi. Ada dua kemungkinan. Hubungan kami berjarak. Atau mereka akan menjadi beban hidupku hingga akhir hayat. 

Air mata bercucuran hingga membasahi mukena. Impianku sejak mereka kecil adalah hidup berdampingan dengan ketiga anakku. Mereka semua tinggal di tanah kelahirannya. Tanah yang berbentuk “L”. Rumah mereka saling berhimpitan. Dan aku bisa berganti tempat tidur. Di rumah Fian, Khayla atau Tara. 

Kusandarkan impianku pada lafadz “Laaillahaillallah”. Hanya Tuhan yang Maha Tahu akan hidup mereka. Maupun idealitas impianku. Jalan sunyi inilah, perlahan jiwaku tak begitu tantrum. Aku merasa beban pikiranku ada yang menyangga. Kesesakan mulai memudar pelan. Seiring awan hitam memudar menjadi warna putih bertabur biru dan orange. 

“Lia, Ibuk nggak nglarang kamu kerja ndek bank.” Kataku sambil duduk di kasurnya sambil memijat kakinya yang selonjoran. Kupanggil namanya Lia sebagai julukan di rumah.

Kedua matanya yang bengkak sontak membelalak. Terbangun dari kemelut awan hitam. Sisa air matanya disapu dengan kedua tangannya. Dan memelukku tanpa berkata apa-apa. Aku yang diguyur kesedihan, namun tertahan pada kuatnya tembok pembatas.

“Tapi La, tiap minggu pulang. Ibuk disambangi. Jangan lupa gajianmu disisakan buat Ibuk. Kayak Masmu tiap bulan ngirim uang” Aku mengucap pelan dan menatap wajah ovalnya yang mengernyit.

“Iya Buk.” Kalimat pendeknya yang diiringi gerakan manggut-manggut pada kepalanya.

Aku mencoba menahan akan strategi yang terlintas begitu saja. Kubungkam rapat kalimat yang membuatnya lari menjauh dariku. Biarlah waktu yang menjawab. Walaupun aku sulit melepasnya.
                                  ***

Hari-hariku berlalu begitu pilu. Di tengah lalu lalang kendaraan yang tak ada tanggal merahnya. Maklum, rumah yang kutempati berada di pinggir jalan kota. Namanya jalan Pahlawan. Ke barat satu kilometer terhampar pemakaman para pahlawan. Yang di depannya adalah jalan provinsi. Makanya, lokasi rumahku berada di pertengahan. Antara desa dan kota. Di mana, masih banyak penduduk disekitar rumah berprofesi sebagai petani. Namun, cukup banyak mereka bekerja di perkantoran.

Aku menyibukkan diri merawat pohon pisang yang berjejer rapi membentuk barisan. Letaknya di timurnya rumahku. Lahan dengan ukuran 10 meter x 14 meter. Bisa kutanami beberapa jenis pohon pisang dan ketela sebagai pagar pembatas. Rumahku berada disudut pertigaan. Dan di belakangnya masih ada lahan kosong. Waktu Mas Pras masih ada, lahan itu dimanfaatkan sebagai budidaya ikan. Sekarang, hanya puing-puing bekas kolam.

Apa keinginanku sama dengannya? Namun, saat masih hidup dia tak pernah berucap. Bahwa suatu saat nanti ingin anak-anaknya tetap berkumpul dan membangun rumah tangga disini. Dan tanah yang dibelinya menunjukkan hal itu. Dengan luas 30 ru. Rumah yang kutempati luasnya 10 ru. Mungkin saja dia sengaja membagi tiga berdasarkan jumlah anak kami.

Panas begitu menyengat kulitku yang tertutup kaos merah. Keringat bercucuran hingga berjatuhan. Kubawa jantung pisang yang getahnya masih menetes. Satu persatu kubawa dengan kedua tanganku. Dan kubawa hasil petikan daun ketela. Aktivitas ini membuatku perlahan lupa akan lukaku ditinggal dua orang anakku. Namun, terasa ngilu disaat malam yang sunyi. 

Kuletakkan jantung pisang dilantai yang beralas kardus. Dan memasukkan daun ketela ke kresek. Kubagi menjadi dua. Nanti, akan ada yang mengambil. Termasuk jantung pisang ini. Banyak penjual nasi pecel maupun sayur matang. Jadi, bisa sebagai pemasukan.

Pukul 10.15 ini kumanfaatkan membersihkan diri. Menderas Al-Qur’an sebagai penawar kesepianku. Hingga, adzan berkumandang. Dan kuakhiri ritual wirid. Sebagaimana ijazah yang diberikan oleh Kyai Hasan. Jujur, hatiku rapuh saat anak-anakku berpisah dari pandangan mataku. Walau hanya Tara yang bertahan disini. Di tengah kesibukannya menyelesaikan skripsi. Dia mendapatkan tempat pengabdian di MI Abdul Salim. Jarak tempuhnya 15 menit. Dia masih membersamaiku namun hanya fisiknya saja. Perhatiannya masih terfokus pada skripsi dan profesinya sebagai guru.
                                 ***

Sabtu adalah momen yang kutunggu. Selayaknya orang kasmaran. Aku yang tengah kasmaran dengan anak-anakku. Rasanya, ingin kuputar cepat hingga terhenti dihari Sabtu. Rasa ini tak pernah kubayangkan sebelumnya. Saat mereka kecil, aku meronta akan lelahnya tenagaku untuk mereka. Namun, sekarang aku meronta akan kehadirannya didepanku.

“Buk, jangan ngatur hidupku. Ibuk ndek sana wis ada Tara. Khayla yo pulang tiap Sabtu. Aku pingin bebas Buk.” Kalimat terakhir saat kami berkomunikasi lewat gawai.

Lidahku begitu geli jika tak menasehatinya. Aku tahu dia keras kepala. Namun, jiwaku tak bisa berbohong. Jika aku ingin suatu saat nanti dia kembali ke tanah kelahirannya. Hatiku kembali melolong hingga dia mengakhiri pembicaraan kami. 

“Wis ta Buk, Mas jangan dipaksa. Ibuk ngerti sendiri kan sifat Mas.” Kata Tara yang lembut dan mengelus pundakku. Dia pendiam tapi, hatinya setipis tisu. Bahkan, sejak Mas Pram meninggal. Dia begitu perhatian denganku. Tidak seperti kedua kakaknya. Mungkin, rumah ini biar dia yang menempati. Aku merasa nyaman tinggal bersamanya.

Disaat aku mencoba mengobati luka dengan lantunan wirid. Ada pemandangan yang tak biasa. Khayla diantar oleh seorang laki-laki. Bersepatu dan memakai jeans biru tua. Dia melepas jaket kulitnya. Tampak kulitnya yang putih. Badan yang kekar dengan langan yang berisi. Kemeja pendeknya begitu memukau mata yang melihat. Kulihat dengan detail di balik jendela kaca persegi.

Aku terperenyak dari kursi, beriringan langkah gegas Tara menuju kamarnya. Aku membenahi guratan wajahku yang membentuk aliran sungai. Air mata yang jatuh menganak telah kering. Aku memoles wajahku dan memberikan senutuhan lipstik tipis. Rambut uban yang terurai, kututup dengan kerudung. Kubiarkan Khayla melepas penat dan berdialog ringan dengan temannya.

Kuangsurkan dua cangkir teh hangat. “Ayo diminum! Mumpung masih anget.” Kataku sambil mengedarkan pandangan ke mereka.

Memandang mereka hatiku begitu luruh. Gadis kecil yang sering meminta gendong. Sekarang tumbuh dengan cepatnya. Laki-laki yang sering diceritakan kini berhadapan denganku. Ternyata, apa yang kunasehati mengakar kuat pada sikapnya. Sebelum dia yakin pada Ilham, belum pernah diajak kesini.  Sehingga, Khayla dan Ilham memberanikan diri masuk di rumah yang seteril dari hubungan tak jelas.

Dan kedatangannya membuka kelopak hatiku mekar pelan. Ilham mencium kedua tanganku. Aku menepuk bahunya yang bidang. Sebagai pertemuan perdana, dia membawakan bingkisan. Kubuka isinya empat box kue lapis tugu Kediri. Dengan empat varian berbeda. Ternyata, Ilham dengan gesitnya meriset tentang keluargaku. Chocopandan dan Nanas Kelud adalah varian favoritku. Sedangkan, blackforest adalah penantian Tia tiap mingguk. Dan Khayla tak pernah bosan dengan brownies keju. Ya, kami suka dengan kue lapis Tugu.

“Buk, kedatangan Ilham disini meminta izin untuk melamar Khayla.” Suaranya yang lirih dan pelan sembari mengedarkan pandangannya ke arah Khayla. 

Kulihat Khayla berkali-kali melipat-lipat kerudung yang terurai. Kalimat Ilham seketika mematikan keriuhan Khayla dalam mengenalkan sosok Ilham kepadaku. Profesi mereka sama. Bekerja di bank. Namun, Ilham sebagai karyawan Mandiri. Dan dari arahan Ilham lah Khayla bisa diterima di BRI yang bercabang Kediri. Khayla mengenal Ilham sejak semester tiga. Kala itu, Ilham sudah memasuki semester tujuh.  

Berkali-kali Ilham mengeluarkan suara batuknya. Entah apakah dia sedang sakit. Atau untuk mencairkan ketegangannya. Sesekali Ilham minum teh yang kusiapkan.

“Apa yang jadi keputusan kalian, Ibuk manut aja. Cuma Ham, Ibuk punya persyaratan.” Kataku yang menambah mereka melolong tegang.

“Suatu saat nanti, kalian buat rumah disini ya?” Kalimat yang sama kuucapkan pada Fian tadi. 

Kalimat pendek ini semakin menjadi duri saja. Menusuk hati yang tengah mengembang. Mengempis perlahan, seakan ada keraguan dari Ilham. Apakah niatnya akan diteruskan. Atau berhenti di tengah jalan. Kulihat wajah Khayla merah dengan mata nanarnya. Menunduk dan membuang muka dariku. Namun, mereka harus tahu kenyataan sekarang. Daripada hubungan terlampau jauh.
                                   ***

Kalimat pendekku ternyata pembawa racun. Biasanya hari Minggu, aku bersama kedua putriku menghabiskan waktu di dapur. Tapi, kini hanya terisi aku dan Tia. Bahkan, dia selalu melipir saat melihatku. Waktunya banyak dihabiskan di atas kasur yang terkunci pintu. Pun, Minggu siang dia bergegas berangkat ke Kediri. Padahal sebelumnya, hari Senin setelah sholat subuh dia memampatkan waktunya berangkat kerja.

Kini aku benar-benar berjarak dengan anak kandungku. Fian yang rutin bertelfon, sekarang hanya mengirim pesan singkat ke Tia. Memastikan keadaanku sehat. Lambat laun aku bisa tersungkur pilu. Terkikis sedikit demi sedikit. Hingga hanya tulang tak berotot. Yang tak mampu berjalan menapaki samudera kehidupan.

Hanya ada satu kanal yang bisa kutempuh. Mendekatkan diri kepada Yang Maha Pencipta. Aku teringat nasihat Gus Baha bahwa tirakat orang tua dengan shalat berpengaruh terhadap hati anaknya. Mungkin kosmis kan mendatangkan keajaiban yang menakjubkan. Dari kekuasaan Sang Pencipta Yang Maha Berkehendak.

Berminggu-minggu, aku banyak diam. Menepi dari keramain. Berdiam dalam gua beralas sajadah. Melantunkan ayat-ayat Ilahi. Memutar tasbih hingga aku lelah. Aku yang tak selera masak, Tia memberikanku perhatian. Dialah anakku yang pendiam namun hatinya perasa. Tahu perihnya rasa yang menyebar hingga ke relung hati terdalam. 

“Buk, udah tak masakin sayur sop sama ayam goreng.” Katanya sambil memijit kakiku yang terbujur di atas kasur.

“Suwun ya Nduk.” Aku menarik diri untuk duduk dan mengelus wajahnya yang berkerudung seragam guru. Untungnya dalam kondisi seperti ini, dia sudah menyelesaikan siding skripsinya.

“Tia cuma punya Ibuk. Tolong Buk, jangan sampai sakit. Ibuk harus makan banyak. I…buk gak oleh mikir berat.” Kalimat ajaibnya yang selalu kurindukan. Walau air mata menganak dengan dersanya.

Aku mengusap setiap alirannya. Menahan air yang tertampung di kedua kelopak mataku. Melebarkan hati agar tak tumpah ikut menangisi perhatiannya. Mencoba tegar seperti Ibu Ainun. Di tengah kesepiannya di tanah perantauan. Ketegarannya mendukung setiap mimpi suaminya. Menjadi superwoman di tengah kesibukannya menjadi ibu bagi dua anaknya yang masih kecil. Sekaligus merangkap menjadi motivator bagi suaminya. 

“Wis berangkat sana. Nanti telat.” Kutarik ingus yang meluncur cepat di bibir

Dia mengangguk dan menahan isaknya. Saat dia berjalan menjauh dariku. Pertahananku mulai jebol. Aku membiarkan diri sesenggukan di kamar yang terpajang foto Mas Pras. Tia yang kesepian dari perhatian kakaknya, membawa luka hatinya. Dia yang merindukan perhatian Ibunya. Dia yang merindukan kebersamaan bersama keluarga kecil. 
                                 ***

Nduk, Bapak sudah gak ada. Jika kamu dan Mas Fian gak mau tinggal disini. Ibuk gimana?” Kalimat yang kuucapkan begitu ringan tanpa beban.

“Kan ada Tia.” Balasnya sambil memusatkan scroll gawainya.

Aku mencoba memutar sudut pandang lain. “Nduk, rumah tangga iku yang dicari nyaman. Kalau Ilham ngajak kamu tinggal bersampingan sama keluarga sana gimana? Kamu siap?”

Dia menghentikan jemarinya. Pandangannya mengedar ke depan dengan tatapan kosong. “Terus kalau mau buat rumah sendiri. Kamu harus beli tanah baru bangun rumah. Atau kamu kredit perumahan misalnya. Butuh berapa tahun bisa lunas?”

Perlahan dia bergegas pergi meninggalkan diskusi kami. Namun kepergiannya tak membuat perih hatiku. Momen ini sudah lama kunantikan. Akhirnya hatinya melunak dan mengizinkanku menyentuh lapisan kehidupannya. Aku sudah berusaha berdamai akan mimpiku. Mengumpulkan ketiga anakku tinggal disini. Sekarang yang tersisa adalah ikhlas dengan segala ketidakpastian. Bagiku sekarang adalah kebahagiaan mereka. Seiring tirakat dan refleksi diri dalam kesunyian.

Kuperhatikan, dia tak jenak menikmati hari liburnya. Dari pinggiran pintu yang terbuka sedikit. Kulihat dia sering membolak-balikkan badan. Kadang duduk melihat gawainya. Menghubungi seseorang namun tak direspon. Alisnya yang mengernyit dan wajahnya yang datar. Menandakan dia tak baik-baik saja. Biarlah dia berperang akan nasihat yang kusematkan dengan ideologinya. Biarlah dia berkonflik dengan Ilham. Jika pada akhirnya kan menemukan benang merahnya.

Pemandangan ini tidak hanya sekali. Tapi berkali-kali setiap dia pulang ke rumah. Hingga Tia yang perasa merasa kasihan kepada Kakaknya. “Buk, kasihan ya Mbak. Aku nanti kalo cari suami pilih sing mau tinggal disini. Lha katanya temanku tinggal sama mertua menyeramkan. Ih…gak mau aku Buk.” Kalimat lugunya

Seketika, aku tersenyum dan mengoleskan adonan bakwan jagung di hidung mancungnya. “Bener Ti, apa-apa tu enak tinggal di rumah sendiri. Bebas…” Aku bersanding dengannya yang mengaduk sayur. Kunyalakan tungku sebelahnya dan siap menggoreng bakwan jagung.

“Buk, aku keluar dulu ya.” Suara Khayla drai sudut lain.
                                 ***

Kepergian Khayla saat perut belum terisi, membuka tabir mimpiku. “Bu, Ilham sudah mantap dengan Khayla. Ilham bersedia tinggal disini. Tapi gak bisa langsung. Ilham dan Khayla butuh waktu. Kami harus memikirkan karir dan kepindahan Khayla disini.” Katanya dengan nada tegas dan kalimat mengalir tanpa sekat.

“Alkhamdulillah, ya Ham gak apa-apa. Ya, yang namanya rumah tangga iku proses. Gak bisa diukur oleh waktu.” Aku menanggapinya dengan senyum dan kalimat ringanku.

Kosmis sungguh ajaib. Saat aku mulai ikhlas dengan ketidakpastian. Disitulah tangan Sang Pencipta memainkan kekuasaanNya. Betapa bahagianya aku sebagai Ibu. Khayla kembali ke tanah kelahirannya. Bayanganku mulai merayap. Tak sabar bisa membersamai cucu-cucuku. Tak sabar pindah tempat tidur setiap malamnya.

“Bu…kemungkinan keluarga Ilham mau main ke rumah. Ya, ingin kenal Ibu.” Tandasnya

“Oh iya Ham, gak papa. Kalau mau kesini Ilham kabar-kabar ya?” Jawabku dengan pikiran yang bernyawa.

Kabar baik Ilham membuka kanal kesibukan baruku. Membersihkan rumah dan memberi kabar Fian. “Kapan kamu pulang? Ini Lia mau lamaran.” Aku menelfon Fian di malam hari tanpa memperhatikan hari apa.

“Tanggal 5 Juli Buk. Fian dapat cuti tanggal 5 sampek 18 Buk.” Suara beratnya.

“Yo wis, lamarannya sekitar tanggal iku aja.” Kalimat terakhirku sebelum mengetahui bahwa Fian baru sakit.
                                       ***

Enam bulan keberangkatan Fian kembali ke Kalimantan, kini membawa atmosfer baru. Kali kedua kepulangannya ini menghidupkan rumah yang telah layu. Lenyap akan ingar bingar ketiga anakku yang saling bercanda. Diskusi panjang sebagai habit peninggalan Mas Pras. Kini, Fian menghidupkan lagi. Kedua adiknya selalu menantikan kepulangannya. Penasaran akan oleh-oleh yang dibawa. Pun, ini juga peninggalan Mas Pram yang membekas pada kebiasaan mereka. Dan juga kisah petualangannya di tanah rantau. Atau misteri asmara yang masih menjadi daya tarik adik-adiknya.

Aku membiarkan kebersamaan mereka saling terhubung satu sama lain. Terjerat dalam jala-jala kerinduan. Sayang jika kumasuki dimensi yang terbentuk. Melihat kebersamaan mereka, membuat mataku terasa panas. Yang siap mencurahkan air mata bahagia. Jatuh menganak sungai dengan derasnya. Membiarkan bajuku menjadi pengusap.

“Buk, Mas Fian dah punya pacar.” Suara lantang Tia dari kamar Fian.

Aku tersenyum lebar. “Ech, kalo acara nikahane dibarengkan apik ya?” Aku bergegas jalan menuju kamar Fian dan mengularkan kalimat canda.

“Apa sih Ti”. Kata Fian sambil membungkan mulut Tia dengan dekapan tangan yang mendekap kepalanya.

“Setuju Buk, biar efisien.” Khayla menanggapi dengan melekatkan kain Batik khas Balikpapan di depan kaca lemari.

Seketika Fian melemparinya dengan bantal yang dijadikan sandaran. Aku menggeleng pelan. Dan kembali memainkan pisauku pada sayur yang siap dimasukkan pada air mendidih. Dibalik keras kepalanya Fian, namun lembut pada adik-adiknya. Mengingat dialah anak sulungku. Pengganti peran Mas Pram yang sulit dilupakan kehangatannya bagi mereka.

Hidup di era modern memudahkanku menyiapkan pernak-pernik lamaran. Semua kupesankan via whatsapp. Untuk urusan dekor maupun make up, Khayla bisa diandalkan. Fian mencukupi kebutuhan dapurku. Sungguh, ini terasa ringan saja. Namun ada satu yang tak bisa digantikan dengan whatsapp. Bertandang ke saudara. Agar komunikasi tak berjalan satu arah saja. Selain itu, hubungan keluarga tidak tersekat dari kebutuhan saja. Namun, terus terhubung dan menjadi simpul.

Di tengah kesibukan persiapan lamaran, aku mencoba mencari waktu khusus dengan Fian. Kulihat Fian selonjoran di atas matras sambil melihat TV. Khayla dan Tia sedang tak di rumah. Hanya aku dan dia. Perlahan kumantapkan niatku. Mungkin waktu yang pas mengeluarkan unek-unekku.

“Fian, ini Lia akan tinggal disini. Kamu gimana?” Aku berkata pelan disampingnya.

“Sek Buk, aku belum mikir kesitu.” Katanya dengan melipat kedua tangannya sebagai bantal kepalanya.

“Yo gak papa Fi. Ibuk sekarang gak maksa. Ya, terserah kamu ae. Asal gak lupa sama Ibu dan adik-adikmu.” Kataku dalam kepasrahan.

“Buk, setelah ini kirimanku tak tambahi. Ya, kalo udah ngumpul banyak bisa beli sawah disini.” Dia membaringkan posisinya ke arahku.

“Ya, gak papa. Uang kirimanmu masih utuh Fi. Ibuk wis cukup dengan uang pensiunan Bapakmu.” Jawabku dengan penuh semangat.

“Soal ndek mana aku tinggal, belum pasti lo Buk. Fokus utamaku beli sawah dulu. Kalau gak kerja di tambang lagi. Aku wis gak bingung mau kerja apa.” Kalimat mutiaranya yang meluruhkan keraguanku padanya.

Akhirnya, tirakatku, kepalan doaku, ritual ijazah Kyai Hasan mengantarkanku pada suatu titik. Anak-anakku kembali ke tanah kelahirannya. Walau Fian tak pasti akan tinggal dimana. Namun, niatnya membeli sawah disini, mungkin perlahan memandunya menetap disini. Impianku akan terjuwud. Memang, kosmis itu sungguh ajaib pada orang-orang yang tak jemu akan usahanya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bahagia dengan Menyibukkan Diri

Rindu

Rindu