Warisan Mbah Putri
Warisan Mbah Putri
Ngrenggo bisa dikatakan sebagai daerah gemah ripah loh jinawi. Menjadi spektrum bagi penduduknya untuk berkiprah di sektor pertanian. Pagi buta, jalan dipadati rombongan pejalan yang lengkap dengan alat tempurnya. Pakaian panjang dengan corak non putih dan bertopi. Menempel lekat pada tubuh yang siap bertempur di medan lumpur.
Hamparan lahan hijau inilah pertemuanku dengan rupiah. Keluh peluhnya emak-emak yang dikeluarkan hingga titik nadir. Bahkan guyonan mereka yang sering membuatku terpingkal-pingkal. Seakan ini menjadi rumah keduaku. Rumah pertamaku dari warisan Mbah Putri. Pun kutemukan hidup selayaknya di hamparan sawah nan hijau.
Tanah berlumpur adalah rutintas yang tak pernah absen di Minggu ini. Satu persatu bakal nasi ini kutanam. Badan membungkuk dan disinari matahari yang mulai memanas. Mengharuskanku beralaskan sepatu boot. Untuk melewati hamparan adonan tanah yang lumat. Butuh energi penuh untuk melanjutkan barisan padi yang hampir tiba di ujung. Terkadang kakiku lecet.
Para laki-laki siap memainkan tangannya tuk menggerakkan traktor tanpa beralas kaki. Tanah yang tergenang air dan keras, kini melumpur dan lunak . Di sudut lain, pekerja laki-laki membungkukkan badannya sama sepertiku. Namun, dia mengeluarkan tenaga dalamnya untuk mencangkul tanah. Disanalah esok lusa aku berpindah lokasi.
Dari arah selatan, terdengar lengkingan yang berhasil membobol gendang telingaku. “Monggo sarapan dulu! Leren lek nyambut gawe.” Kata Mak Yam sebagai bosku.
Aku berjalan menepi di area perbatasan wilayah antar pemilik sawah. Di sini terdiri dari banyak petak sawah dengan pemilik yang berbeda. Salah satunya milik Bu Maryam yang dipanggil Mak Yam. Langkah gegasku sebagai respon dari jeritan lambung yang meronta.
Kaum hawa membuat grub tersendiri. Membentuk barisan di pinggir parit. Kaki tak beralas, makan dengan rakusnya. Sanitasi seadanya, meninggalkan jejak lumpur di jemari sebagai sendok. Piring dari pelepah pisang. Begitu jauh dari kehidupanku saat pertemuan Dharma Wanita esok.
“Las, piye besok jadi nggak kerja ta?” Tanya Duwi disampingku dan menoyor bahuku.
“Gek piye lek kerja? Bisa-bisa aku nggak dinafkahi karo bojoku.” Candaku untuk menambah kehangatan pertemanan.
Duwi melanjutkan sisa makan dan kembali bertanya dengan mulut yang masih penuh “Kamu jangan sregep-sregep! Bojomu pegawai, anakmu wis mentas kabeh. Sapa sing arep kok golekne?.”
Aku ternganga perkataannya. Kutelan makanan yang sudah lunak. Dan meneguk air sebagai pembasmi pedasnya sayur kacang Mak Yam. “Ya, namanya hidup Wi. Mesti butuh duwit”. Kubalas jawabannya dengan menoyor badannya yang gemuk.
“Butuh ya butuh Las, cuma kerjamu nggak enek jeda lho. Kecuali lek enek acara kantore bojomu. Atau enek kepentingan lain. Iku awakmu mrei ”Kata Duwi.
Perkatannya semakin membungkus misteri hidupku. Banyak orang yang tak tahu akan beban yang kupikul saat ini. Begitu berat. Aku tak ingin mengobral beban ini. Biarlah warisan Mbah Putri langgeng.
***
Visi Duwi bersanding denganku terwujud. Dia mengikuti perjalananku ke rumah. Rumah warisan Mbah Putri yang banyak kurenovasi. Tampil selayaknya rumah modern tapi minimalis dengan garasi mobil disamping kanan. Jauh dari penampakanku sebagai buruh tani.
Ternyata Fitri sudah tiba dengan motor varionya. Kusandarkan sepeda di tembok yang menjadi pembatas rumahku. Aku membilas sisa perjuanganku begelut di tanah berlumpur. Aku masuk ke dalam dan membiarkan Duwi selonjoran di teras rumah. Kulihat Fitri tengah memasukkan makanan yang sudah kusiapkan.
“Fit, ini bawa sekalian.”Aku memberikan barang kepadanya.
“Iya, Buk. Wah banyak ini yang tak bawa.”Kata Fitri sambil mencangking barang-barang
Melihat perutnya yang membesar, jiwaku semakin menggebu-gebu untuk terus bekerja. Aku membelokkan langkah gegasku ke kamar. Menarik beberapa rupiah. Dan kususul dia hingga ke teras.
“Fit, dah pulang lek ngajar?” Tanya Duwi yang terheran kepadanya
“Belum Bu, ini masih jam istirahat.” Jawab Fitri dengan membungkukkan badan untuk mengaitkan barangnya di cantolan montor.
“Opo ae iku Fit?” Tandas Duwi semakin penasaran.
Fitri hanya tersenyum dengan kedua pipi tembemnya. “Fit, dah jam segini, nanti telat lagi.”Tandasku sebagai jurus ampuh memangkas pertanyaan Duwi yang kian bercabang.
Fitri seperti biasa, meminta berkat dengan mengecup tanganku yang masih ada sisa tanah. Dan dia beranjak permisi dengan kepala manggut-manggut saat melewati Duwi. Dia kembali ke tempat kerjanya lagi.
Aku yang baru saja gajian, harus menyerahkan seluruhnya ke Duwi. Bahkan sebagian uang yang ada di lemari, pun kurelakan untuknya. “Wi, seminggu dikemabilkan ya.”
“Iyo, Las. Suwun ya.”Jawabnya dengan menghitung ulang lembar demi lembar.
Duwi melontarkan ulang pertanyaan yang belum terjawab. “Las, apa ae sing dibawa Fitri?”
“Sayur sama gawan untuk jagong bayi nanti, Wi.” Jawabku sambil selonjoran dengan mengibaskan kaos yang sedikit terbuka di area perut.
“Lha, Fitri kan bisa sendiri to Las. Masak sek ngrepoti orang tuane?.”Tanyanya yang sudah mencapai titik temu dari misteri yang terselubung.
Aku memberikan penjelasan agar dia tak salah menafsirkan. “Aku ndidik, dia gemi, Wi. Uang sing dikasih bojone tak suruh memasukkan semua di tabungan. Dulu, aku yo dididik ngene sama Mbah Putri”. Penjelasanku yang membuatnya sejenak terdiam.
Duwi tersenyum tipis. “Oh…jadi iki sing gawe semangatmu nyambut gawe.” Ujar Duwi dengan menggeleng pelan.
Aku menunduk akan pilihan hidup yang kujalani. Rasanya berat jika melepaskan anak melalang buana. Dengan bekal seadanya. Membangun rumah tangga yang tak mudah. Sepertiku dulu sebagai anak yatim piatu. Untungnya masih ada Mbah Putri. Yang menyokong segala kebutuhan rumah tanggaku. Dan ajarannya memanglah benar. Kini aku bisa merenovasi rumah tua dan membeli mobil. Penghasilan suami yang kutabung berpuluh tahun hingga Mbah Putri tiada. Kini aku merasa berhasil sebagai perempuan. Menampakkan penghasilan suami sebagai peningkatan status sosial. Sebagaimana kulakukan pada Fitri.
Sepertinya Duwi masih bertenaga merobohkan keyakinanku. “Ndidik anak gemi ki u-apik Las. Tapi ya enek batasane. Fitri wis omah-omah. Lek ngene carane kapan kamu urip seneng?”
Sarakasmenya membuatku ingin mengusirnya dari rumah. “Iyo…hidupmu enak Wi. Anak-anakmu pada ngasih duwit. Lha, aku sik mbutuhi anak.” Kataku yang memancing perdebatan.
“Las, sebenere hidupmu lebih enak dari aku. Fitri, suaminya PNS, kamu sendiri yo ngunu. Anak lanangmu, ya wis nyambut gawe. Terus nggak enaknya dimana? Kata Duwi yang tak tertahan menjelaskan posisi hidupku. “Lha, aku Las. Suamiku tukang, kadang kerja kadang enggak. Aku lek capek, yo prei lek kerja. Tapi kamu lo Las, kerja gak enek preine.” Analoginya yang semakin membuatku lari dari percakapan ini.
“Nah kan, hidupmu lebih enak dari aku.” Aku tertawa lepas sebagai bentuk pengalihan beban hidupku.
“Kamu lek ngene terus Las, anak-anakmu gak bisa mandiri. Kelak anakmu susah hidup berdampingan sama tetangga, bahkan keluarga bojone.”Kata Duwi dengan nada yang meluap-luap. Tak ada keraguan akan posisi rumahku di pinggir jalan.
Memang, aku tak memberikan ruang sedikitpun bagi Fitri untuk memutuskan sesuatu. Hidupnya dibatasi oleh apa yang dihasilkan dari guru honorer. Hanya kanal itulah dia bebas mengambil pilihan hidupnya. Diluar itu, dia tak berani mengambil keputusan akan hidupnya.
***
Hingar bingarnya menjadi Ibu Dharma Wanita berbanding 180 derajat akan kondisiku saat ini. Kucopot semua perhiasan yang melekat pada jemari dan pergelanganku. Baju orange beralih dengan seragam petualangan. Alas kaki bersepatu hitam, beralih sandal jepit biasa. Bahkan kendaraan mobil yang mengantarkanku ke tujuan. Kini aku harus mengayuh sepeda sendiri ke sawah. Untungnya suami tak terganggu akan profesi yang kulakoni sebagaimana keumuman penduduk sini.
Peralihan dari petak sawah satu ke petak lainnya seringkali membuatku lelah. Jika ada tanah lapang tak berpenghuni. Inginku letupkan segala beban. Lelahku urusan domestik, lelahku akan misi tak berujung, lelahku mengemban warisan Mbah Putri. Badan ini sepertinya mulai roboh yang siap diterbangkan oleh angin kencang ini. Mungkin, yang dikatakan Duwi benar. Tapi, tidak! Anak-anakku belum punya apa-apa.
Kupotong bakal bibit tebu dengan menyeleksi bagian yang tidak ada mata tunas. Sambil meregangkan beban pikiran, aku bersama para buruh lainnya bersenda gurau. Tapi tak lengkap dengan ketiadaan Duwi di tengah-tengah kami. Dia yang piawai membual. Entah alasan apa ketidakhadirannya disini.
Tangan yang sudah mulai linu. Kedua pipiku yang memerah. Kini, pekerjaanku telah kurampungkan. Aku mengambil sepeda yang kusandarkan di pohon randu. Saat kukayuh sepeda di depan rumah Duwi. Tampak dia selonjoran sambil menikmati kukusan ubi jalar.
“Lha lek ngene iki sing uripe penak sapa?” Kuhentikan sejenak di depan rumahnya.
Duwi membalasku dengan wajah sumringah. “Yo ngene lo Las, lek capek yo leren nyambut gawe.” Katanya dengan mulut masih mengunyah satu gigitan ubi.
Aku tak ingin berlarut akan analogi kehidupanku dengannya. Batinku mendongkol. Dia yang punya hutang kepadaku. Namun, hidupnya tak memperlihatkan beban hutangnya. Sedangkan aku yang tak punya hutang satu rupiah pun. Energiku terpecut untuk terus bekerja. Walaupun raga ini sudah mulai mengeluarkan keluhan.
Lambungku akhir-akhir ini kambuh lagi. Kuobati mandiri yang kubeli di apotek. Saat minum obat, rasa perih dan panas mulai membaik. Namun, jangka dua atau tiga hari kambuh lagi. Perut rasanya sebah dan tak nyaman. Namun, masih bisa kutahan.
Pikiranku mulai merambat ke berbagai kanal. Aku mengayuh kembali sepeda Polygon berwarna biru ini. Kutambah kecepatan ini. Mungkin Fitri sudah di dapur. Aku lupa belum menggoreng lele untuknya.
***
Perjalanan petak demi petak. Tanpa ada tanggal merah. Mengalirkanku pada sebuah hilir. Tempat sempit yang dibatasi pada selambu putih. Cairan infus menetes perlahan. Sebagaimana aku yang terbaring lemas meneteskan derita yang tersimpan rapi di hati. Aku ditunggu bergantian oleh keluarga kecilku. Aku tak bertenaga untuk berdebat dengan suamiku. Kali ini dia memberikan tembok pembatas akan aktivitasku. Penyakit lambung ini mengharuskanku berhenti total sebagai buruh tani.
Berhari-hari Sang Surya enggan menyentuh kulitku. Mungkin karena sekat gedung bertingkat ini. Aku merindukannya, di balik jendela putih. Berharap ada kabar kepulanganku. “Bu, hari ini boleh pulang, tapi dilengkapi administrasinya ya?” Kata perawat berbaju putih sambil melepaskan jarum infus yang menempel tiga hari.
Kabar yang menggemberikan ini membawaku ke suatu kendaraan. Yang kubeli dari hasil tabunganku. Rasanya begitu lega dapat menghirup udara bebas yang dihasilkan dari fotosintesis tumbuhan. Bukan udara yang bercampur dengan dinginnya AC.
Satu persatu kerabat maupun tetangga memenuhi ruangan setiap sekat rumahku. Beginilah suasana di desa. Guyup rukun dengan jalur sesrawungan. Terlebih, dengan keadaanku yang masih terbujur lemas di atas kasur. Tentu, menjadi pemantik bagi mereka untuk menjengukku.
***
Setiap pagi biasanya aku disibukkan memasak untuk keluargaku, termasuk Fitri. Sekarang, aku dimanjakan oleh suami dan anak laki-lakiku. Aku tak diizinkan melakukan aktivitas rumah. Aku selayaknya putri raja. Berhari-hari makan lembek dengan kuah hambar yang dibeli oleh Fitri setelah pulang mengajar. Seperti tidak ada energi yang terbentuk di dalam tubuhku. Rasanya aneh, namun inilah jalur yang harus aku tempuh.
Sekarang setiap pulang dari sawah, Duwi meluangkan waktu ke rumahku. Membawa ubi kukus. “Las, sik anget. Cepat dimakan. Nggak enak lek wis dingin.” Pinta Duwi yang sudah mandi dan bersih dari tanah yang menempel.
“Suwun ya Wi. Wah, jangan setiap hari ngasihnya. Merepotkan kamu.” Kataku dengan mata berbinar akan perlakuannya kepadaku.
“Wis, nggak pa-pa Lastri. Sekalian aku masak ubi buat keluargaku. Kebetulan pekaranganku panen sedikit Las. Daripada awakmu tak kasih mentahnya, mending tak kasih matangnya.” Jawab Dewi yang duduk di kursi dekatku.
Aku mulai makan satu gigitan yang membuatku ketagihan. Dimakan selagi hangat. Dengan tekstur yang lembut dan ada rasa gurih sedikit manis. Namun, jika teringat perkataan Fitri, tenggorokanku menciut. Rasanya tersedak saat memasukkan makanan ke lambung. Sulit membedakan antara kebutuhanku akan pemulihan kesehatan atau memulihkan ekonominya.
“Wi, kira-kira kamu punya kenalan orang sing kerja ndek konveksi?” Tanyaku perlahan, dengan raut wajah kosongku.
“Las, awakmu sebenare pingin sehat apa ora? Sek seminggu mulih ko Rumah Sakit wis bingung panggawean. Tandasnya dengan menggeleng pelan sembari membenarkan posisi kacamatanya.
“Lha gimana to Wi, Fitri sewulan maneh babaran. Butuh dana okeh.” Jawabku dengan membiarkan air mata jatuh ke pipi.
“Las, wis tak bilangin to. Fitri wis omah-omah. Biarkan dia menyelesaikan masalahnya sendiri. Lek ngene carane, kapan Fitri bisa mandiri? Terus kapan kamu bisa menikmati hidup?.” Duwi meluapkan kedongkolannya kepadaku. Dan dia pergi ke luar rumah tanpa permisi. Mungkin perkataanku menyinggung niat baiknya, yang selama satu minggu ini tak pernah telat menjengukku.
Satu kresek ubi hangat menjadi temanku. Aku duduk terdiam dan membisu. Antara menghancurkan perlahan warisan Mbah Putri atau melanggengkannya. Hatiku begitu berat melepaskan ideologi yang sudah menyatu dalam diriku. Namun, mendengar keluhan Fitri. Hatiku begitu tersayat.
Uang tabungan Fitri sudah habis untuk membeli perhiasan. Hanya ada uang bulanan ini. Pun dirancangnya untuk membeli keperluan bayi. Aku memang mendidiknya untuk menginvestasikan uangnya di perhiasan. Selain bisa menunjukkan keberhasilannya sebagai perempuan. Kelak dia bisa menjualnya ketika membutuhkan.
Bahkan, pengeluarannya untukku, aku menghitungnya secara rinci. Dan aku kembalikan tanpa satu rupiah pun darinya aku makan. Dan berbagai pemberian dari orang-orang yang menjengukku, sebagian besar kuberikan kepadanya. Agar dia tak kekurangan.
Ubi disampingku mulai mendingin. Air mataku bercucuran tak tertahan. Namun, aku masih termangu akan ketidakjelasan jalan hidupku.
***
Ketidakjelasan ini menggiringku pada sebuah titik. Seiring pulihnya kesehatanku. Titik ini menautkanku akan ideologi yang sudah menyatu. Aku mulai bekerja di suatu usaha UMKM di daerahku. Ada banyak jumlahnya. Tak heran jika desaku disebut sebagai kampung keren. Sektor pertaniannya berkembang bahkan usaha kecil pun tak sedikit jumlahnya. Mungkin hampir tidak ada orang yang menjadi pengangguran.
Walaupun aku harus berdebat kusir dengan suami dan anak lelakiku. Namun, akhirnya mereka merelakan ekspektasinya bertengger di atas awan. Aku berdalih bahwa penyakitku semakin parah jika aku terkurung di rumah sendirian. Walaupun, sebenarnya aku membuai putriku. Hanya Duwi yang tahu akan maksudku.
Mungkin, mencari penghasilan di usaha kecil tak begitu memberatkan. Duwi yang mencarikanku pekerjaan di Kerajinan Tas Mamitha. Kenalan Duwi begitu banyak. Walaupun dia sempat marah kepadaku. Tapi, dia selalu membutuhkan bantuanku. Terutama soal meminjam uang. Makanya, marahnya tidak pernah awet.
Rasanya bahagia. Bisa menjalani kehidupan dengan normal. Bedanya adalah waktu kepulangan kerjaku. Beberapa bulan ini aku tak menyiapkan lagi makanan untuk Fitri. Dia baru saja menjalani persalinan. Dan aku sebagai ibu dapat membantu meringankan akan himpitan kebutuhannya. Gaji yang kuperoleh, kubelikan berbagai kebutuhan cucu pertamaku. Ya, bahagia ini tak dapat kurangkai dalam kata yang berjejer.
Rekan kerjaku tak seperti dulu. Penampilannya rapi. Bau wewangian semerbak. Hidungku harus berdaptasi dari peralihan tanah basah yang menguap ke aneka wewangian. Belum lagi plastik yang menjadi peganganku, baunya begitu menyengat. Aku mencoba menahan bau yang merangsang cairan dari dalam perut naik ke kerongkongan.
Aku memutuskan memakai masker saat bekerja. Ya, terlihat aneh diantara lainnya. “Njenengan sakit ta Bu?” Kata Retno teman Duwi yang mengajakku bekerja disini. “Enggak Ret, aku nggak tahan aja sama bau plastik.” Aku terus menganyam plastik.
Entah mengapa aku sering batuk-batuk. Apa faktor seringnya menengok cucu? Atau karena pekerjaan yang kugeluti. Tenggorokan terasa gatal dan ada lendir yang ingin kumuntahkan. Mungkin terus menggunakan masker saat bekerja dapat meredam suara batukku. Aku lebih nyaman menganyam sendiri di sudut ruangan. Menghindar dari wewangian para gadis.
Muncullah Bu Mitha disampingku. Parfumnya begitu menyengat. Hingga menembus tiga lapisan dan masuk ke saraf penciumanku. “Pripun Bu, njenengan sehat nggih?” Tangan kanannya menyandarkan ke bahuku.
“Sehat Bu.” Aku menjawabnya dengan manggut-manggut. Mungkin dia melihatku aneh yang menyendiri di pojok dan bermasker.
Aroma yang ditinggalkannya membekas dikerongkonganku. Merangsang aliran lendir yang mau muncrat saja. Aku bergegas ke kamar mandi. Namun, diujung lorang ada yang membakar sampah plastik. Baunya begitu menyengat. Aku membuka cepat pintu dan memuntahkan lendir dari kerongkonganku.
***
Tiga hari tiga malam menjadi keputusan final akan masa pensiunku. Hidup bermetamorfosis menjadi Nyonya di rumah. Kamar kecil yang dibatasi selambu putih, kembali menjadi tempat persinggahanku. Seiring darah segar yang keluar dari mulut. Kata dokter disebabkan tukak lambung setelah pemeriksaan endoskopi. Dokter menyarankanku untuk istirahat total di rumah. Dan tidak berkumpul dengan banyak orang. Karena indra penciumanku mulai sensitif. Yang menjadi pemicu pendaharan di lambungku.
Raga ini terasa lunglai. Pikiranku kembali bercabang di atas kasur favoritku. Melihat anak lelakiku mengepulkan rokok dengan tangan kirinya menggeser layar gawai. Dia tak begitu risau dengan keadaan yang kualami. Tak pernah aku ditanya ingin makan apa. Kecuali aku memberikan uang kepadanya untuk membelikan sesuatu. Mungkin sikapku yang tak pernah berkeluh kepadanya. Bahkan kebutuhan bensin dan rokoknya kupenuhi asalkan penghasilannya ditabung.
Beberapa hari kepulanganku dari Rumah Sakit, Fitri tidur di rumah kecilnya. Dia izin tidak mengajar dengan alasan merawat ibunya. Aku mendapat hiburan dari celotehan cucuku. Melipur kedongkolanku pada anak lelakiku. Dan menantuku sebagai prajurit yang siap kumintai bantuan. Namun, rumah kembali sepi saat mereka mengemas pakaiannya.
Mungkin, benar kata Duwi. Aku harus tekad membongkar satu per satu beton yang berdiri kokoh. Aku harus fokus dengan hidupku. Membiarkan anak-anakku memutuskan sendiri akan jalan hidupnya. Walaupun ini tak mudah memangkas warisan Mbah Putri yang terhenti kepadaku.
Aku juga ingin merasakan orang tua pada umumnya. Seperti Duwi yang tak telat diberi penghasilan anaknya walau hanya dua lembar seratus ribuan. Atau setidaknya diberi perhatian selayaknya seorang anak menangis minta digendong ibunya. Dan Fitri selama di rumah, dia hanya menyibukkan diri dengan bayinya dan urusan domestik. Belum kudengar dari mulutnya bertanya akan perkembangan keadaanku.
***
Perlahan tapi pasti. Begitulah visi yang kubangun saat ini. Rutinitas baru yang mulai kuadaptasi. Pagi jalan santai sambil berbelanja dan memakai masker. Walaupun, sering aku mengusap air mata saat melihat teman-teman seperjuangan menyapaku dengan atribut sawahnya. Saat suami berangkat ke kantor, aku kembali menyapu air mata. Melihat barisan sepeda berbaju “Mamitha” tengah siap bertempur mengais rupiah. Namun, perlahan hatiku bisa menerima. Akan ketidakberdayaanku saat ini.
Namanya Ibu tetaplah ibu. Aku tidak bisa sepenuhnya menelantarkan anak-anakku. Anak lelakiku tetap kuberi uang bensin. Namun, untuk kebutuhan rokonya, aku tak lagi membantu. Dan Fitri setiap hari ke rumah. Mengambil masakan dariku. Sedangkan, kebutuhan lain aku mulai berani tidak ikut campur.
Aku memakai masker saat Fitri masuk ke rumah. Anaknya tidak ikut karena sudah dititipkan di sekolah. Parfumnya tidak menyengat. Tetapi, aku mengambil langkah preventif. “Buk…kenapa ya? Saudara suami kok jarang ke rumahku? Tetanggku banyak sing menghindar jika anakku ngajak dolan ke mereka?” Fitri menyandarkan badannya yang gemuk di rak piring.
“Paling mereka pas repot Fit.” Kataku sambil duduk dan menyiapkan makanan yang dibawanya.
“Apa aku nggak pernah ikut rewang ya Buk?, lek rewang kan aku harus ngeluarne uang.” Fitri berjalan perlahan mendekatiku dan duduk disampingku.
“Nggak ngerti Ibu, Fit. Yo mungkin iso wae ngunu” Jawabku dengan lirih dan seperti ambigu
“Lha kata Ibu, dadi wong wadon kudu gemi. Iki wae Buk, penghasilan Mas sing bisa tak tabung kari sewu. Biasane iso rongewu”. Fitri berdumel dengan melipat-lipat kerudung yang terurai di dadanya.
Aku semakin terperanyak. Mungkin visiku menjadi orang tua pada umumnya belum terwujud. Di tengah pemulihan kesehatanku, dia hanya berkeluh akan kehidupan pribadinya. Aku mencoba menarik nafas yang rasanya pengap. Dan mengelurakannya di lapisan masker yang menutup mulut dan hidungku.
Aku terperanyak dan merasakan ada energi kuat mendorong langkah gegasku ke sudut ruangan. Perlahan kuambil kotak perhisanku. Sebagai mahkota keberhasilan seorang perempuan atas rumah tangganya.
“Fit, lek waktune rewang ya rewang. Yo iku salah sijine dalan dingge ngraketne hubungan. Rewang iku, awakmu iso sesrawungan karo dulur lan tonggo. Bene, duwitmu kalong Fit nggak pa-pa.” Aku kembali ke posisi awal dan bersanding dengan Fitri.
“Fit, iki perhiasane Ibuk. Sebagian kamu bawa.” Kurelakan jerih payahku menabung selembar demi selembar untuknya
“Sepurane Ibuk gak iso bantu-bantu kamu kayak dulu. Mungkin iki cukup dingge nambeli kekuranganmu. Kamu tetap iso nabung tiap bulan. Saiki, awakmu kudu iso memilah mana kebutuhan penting dan tak penting.” Kuserakan sebagian perhiasan kepadanya.
Aku melanjutkan nasihat kepadanya. “Fit, kayak rewang, jenguk orang sakit, babaran, sunatan, iku kebutuhan penting. Iki wis keumuman dadi wong desa.”
“Buk, lek aku gak iso piye?” Tandasnya
Kata-katanya membuat jantungku terjerembab ke lantai. “Wis, Fit saiki awakmu kudu iso ngatur duwit. Nggak kudu tiap bulan nabung banyak. Andaikan bisane nabung 200 ribu ya nggak pa-pa.”Hatiku mulai tak tertahan akan keluguannya.
Fitri memicingkan mata ke arah makanan yang sudah siap. Perlahan dia melihat genggaman kalung dan gelang di tangannya. Pandangannya kosong. Dan dia membisu. Dia bergegas pergi saat aku memberikan pernyataan. Bahwa aku tidak bisa terus menerus membantunya masak. Ragaku tergadaikan akan penyakit yang menghantuiku.
***
Mengayuh sepeda biru dalam visi pencarian sandaran. Aku mengantongi berkilogram beban yang siap kucairkan pada pelupuk mata. Rasanya berat dan sesak didada jika kupikul sendiri. Rumah Duwi sudah terbuka lebar seiring aku memberi kabar kepadanya. Kami teman bak simbiosis mutualisme. Walaupun sering terjadi perbedaan pendapat, pertemanan kami tetap terjaga.
Dari luar pintu tercium semerbak aroma gurih yang berkolaborasi daun pandan. Pintu yang terbuka lebar, memberanikanku masuk tanpa permisi. Langkah pelanku dikomando oleh suara riuhnya sendok yang dicuci. Duwi mencuci peralatan dapur sembari menengok kolak yang meletup-letup.
“Las, wis nyampe.” Senyum sumringahnya melegakanku berkunjung ke rumahnya.
“Ambune Wi, kelihatane u-enak.” Aku mengaduk dan mematikan kompor saat mencicipi ubi yang sudah empuk.
Duwi yang selesai, mengambil dua mangkok kolak. Menggiringku ke suatu ruangan. Hanya ada aku, televisi mati dan matras. Kami duduk sembari menunggu udara alami mendinginkan kolak ini.
“Keadaanmu wis sehat ta?” Tanya Duwi sambil mengibaskan sisa nasi yang menempel di dasternya.
Pertanyaannya bagaikan pembuka tanggul. Dari derasnya air mata yang siap meluap hingga menggenangi hilir. Sedu sedanku begitu pecah tak tertahan. Perlahan masker yang masih melekat didagu, kulepas. Membiarkan air mata jatuh ke baju, bahkan membasahi matras sebagai alas tubuhku.
“Wis Las, sekarang jangan mikir anak-anakmu. Atimu kudu dijembarne. Awakmu ben terus sehat.” Nasihat Duwi sambil memijit pundakku.
“Tapi, namanya anak Wi.” Tandasku
Aku melanjutkan dengan mengontrol ritme tangis yang tersesak-sesak. “Tadi aku memberikan sebagian perhiasan ke Fitri. Ya, mungkin sebatas iku sing bisa kubantu.” Kuusap air mata dan lendir yang keluar dari hidungku dengan kerudung.
Duwi mengambilkanku berlembar-lembar tisu. “Caramu wis pener Las. Nggak pa-pa merelakan sebagian perhiasanmu. Dengan cara iki, anakmu nggak bakalan bergantung maneh. Soale ngerti awakmu wis nggak punya daya.”
Duwi mengusap air mata yang membasahi kacamatanya. “Lastri, wis ta selama kita dadi orang tua. Jika masih nduwe daya. Awake dewe nggak bakalan iso ngeculne anak. Mungkin awakmu dicoba sakit, iki jalan sing terbaik gawe anak-anakmu.”
Mencoba mencerna perkataan Duwi dalam relung hati. Sambil refleksi diri akan 13 tahun pasca meninggalnya Mbah Putri. Aku bisa hidup mandiri walau harus terseok-seok mengatur keuangan. Aku bisa membeli perhiasan bahkan berbagai perabot rumah tangga. Mungkin, Fitri lambat laun akan bisa sepertiku.
“Suwun ya Wi, iso ngerteni aku.” Kataku kepadanya.
Duwi mengangguk pelan dan tersenyum. Kami menikmati semangkok kolak yang bersahabat dengan lidah. Ini adalah awalku memulai kehidupan baru. Membuang puing-puing bangunan ideologi yang kubongkar perlahan-lahan.
Komentar
Posting Komentar