Titik Nol

                             Titik Nol

Memang nikmat menyeruput secangkir kopi. Dibuat sendiri dengan takaran yang pas. Sembari mengepulkan asap rokok. Dengan aneka bentuk kepulan yang membumbung. Tangan kiri kumanfaatkan melihat perkembangan kawan-kawan. Kugeser ke atas, ke samping kiri. Ternyata, banyak yang sudah bekerja mapan. Aku masih stagnan menjadi seorang pesuruh para pemegang kekuasaan. Entah sampai kapan nasibku diundi dengan ketidakpastian ini.

Suara ibu begitu melengking. Hampir saja merusak gendang telingaku. “Sampai kapan kamu duduk, main hp, rokokan, ngopi?” Ibu menghampiriku dengan daster basahnya. “Tu, bajumu dah tak cuci, sarapanmu dah tak siapin. Sana bajunya dijemur, terus sarapan!.”Ibu berdecak sembari menunjukkan titik tuju yang harus kueksekusi. 

Kumatikan puntung rokok, dan menyeruput kembali kopi yang mendekati ampasnya. Dengan jalan lunglai, masih memakai sarung tak berbaju. Tampak cekungan pada persekutuan tulang selangka yang melekat pada tulang hulu. Bahkan ruas-ruas tulang rusukku begitu tampak. Membuat Ibu prihatin akan nasibku di perantauan.

Kuturuti semua kemauan ibu. Walaupun, aku tak biasa sarapan di jam 8 ini. Biasanya jam 11 aku baru bisa menyeruput secangkir kopi dan melahap roti bakar dengan rakusnya. Bahkan tragisnya lagi, terkadang aku disisakan gorengan saja. Ya, ada puluhan orang sepertiku yang tinggal dalam satu atap. Kebiasaanku bangun siang ini, menjeritkan lambungku yang hanya bisa makan dari sisa mereka. 

Hidup di tanah perantaun begitu kejam dan keras. Aku ingin lari saja. Rasanya aku lebih nyaman tinggal di desa. Membantu Bapak di sawah. Tapi harga diriku sebagai seorang sarjana akan terjerembap hingga tak tahu arah. Terlebih, desakan Pak Qomar begitu membabi buta. Seakan aku tak diperkenankan melanjutkan hidup di kota marmer.

 Saat kulihat gawai yang bermandikan ampas kopi, ada pesan whatsapp yang tertumpuk. “15 menit lagi aku sampai di rumahmu, ini masih selonjoran di Alfamart”. Pesan dari kawan yang membuatku jumpalitan. Aku yang masih sarungan, harus secepat kilat untuk mandi dan menyiapkan baju yang cocok. Seakan tingkah polahku dikendalikan oleh bom waktu. Kubuka isi lemariku. Kukeluarkan semua koleksi bajuku. Disaat genting ini otakku tak bisa diajak berpikir.

 Ibu yang tengah selonjoran dan berhadapan kipas angin, kumintai tolong. “Bu, mana ya yang pas dengan celana ini?” Kutunjukkan lima baju dengan corak yang berbeda. “Kaos abu-abu ini lho cocok sama celana hitammu.”Ibu menimpaliku dengan mendengkus geli. Baru kali ini aku konsultasi masalah kostum. Pasti pikiran Ibu dipenuhi dengan premis yang aneh-aneh.

“Memang mau kemana? Dolan aja kok harus pilih-pilih kaos?” Tandas Ibu yang merasa penasaran akan premis yang telah dibangun. Ibu mematikan kipas angin sambil beranjak dari singgasananya. Minimal aku memberikan satu kalimat. Agar tak berlarut pertanyaan lanjutan. “Ya, kan sah-sah saja dolan pakai kaos sing cocok”. Celetukku sambil melanjutkan mencukur rambut yang sudah panjang di area dagu. 

Sial suara seseorang tengah mematikan motornya. Sudah kuduga jika dia selalu menghargai waktu. Masih seperempat perjalanan aku membenahi wajahku yang turus bermata panda ini. Dengan sigapnya, aku meminta tolong Ibu untuk menutup pintu yang terhubung antara ruang tamu dengan tempatku berias diri. “Bu tutup pintunya!”Desakku kepada Ibu dengan gerak tubuh yang tak terkendali dan gugup. 

Sebelum dia di depan pintu, kupersilahkan masuk ke rumah.  “Masuk  Ce, duduk-duduk aja dulu”. Pintaku dengan suara lantang sambil mencukur seperempat bagian lagi. “Oh iya, Ka”. Jawabnya dari depan pintu. Dia duduk dan ditemani Ibu dengan tampilan kumel tak berdandan. Bau wewangian Ibu yang khas, serta wajah belum berlumuran bedak. Begitulah orang desa. Tak peduli akan penampakannya di layar kaca. Yang penting urusan rumah dan perut sudah teratasi.

Ibu ternganga melihatku dari ujung kaki sampai ujung kepala. Jadinya kupilih celana cargo dengan kaos putih dan berjaket trucker yang simpel. Mungkin perpaduan ini membuat senyuman Ibu agak lain. Aku dengan sigapnya mengajak kawanku meninggalkan ruangan. “Ayo Ce berangkat sekarang!” Pintaku kepadanya dengan aksesoris perjalanan lengkap. “Bu, aku sama Cece dolan dulu”. Kataku dengan mulut tersumpal masker, serta kepala terlindung dari benturan. Ibu mengangguk sembari merespon juluran tanganku.

 Dia di belakangku melakukan hal yang sama. Dia mengangguk dengan senyum malunya. Dia berjalan sedikit dibungkukkan dan pelan melewati Ibuku. Akhirnya, aku bernapas lega bisa meninggalkan ruang ujian. Pastinya, banyak hal yang ingin Ibu tahu akan hubunganku dengannya. Aku memboncengnya dengan motor beat yang dibelinya setahun lalu.

                                    ***
Perjalanan ini berlabuh di pantai biru yang tersembunyi, diantara deretan gunung. Menjadi pelestari kenangan kami dua setengah tahun lalu. Masa bersama kawan-kawan membangun bumi durian. Mengaktualisasikan ide cemerlang. Guna membangkitkan perekonomian di sudut desa terpencil, Karanggongso. Itulah masa indah yang terabadikan di Pantai Mutiara ini. 

Aku masih menyimpan rapi akan perkataan kawan-kawan KKN. Bahwa Pantai Mutiara sebagai simbol “cinta”. Kedua individu dengan suatu visi berlabuh pada titik yang sama. Yaitu titik nol. Di titik nol, perjalanan cinta kan dimulai. Menuju perjalanan cinta yang abadi. Namun, aku tak percaya dengan bualan mereka. Anehnya, mereka yang merajut cinta dan disaksikan oleh birunya air menggenang, berakhir pada pelaminan. 

Sudah sepuluh pasang berakhir di pelaminan. Entah sesama kelompok ataupun berbeda. Lainnya, aku tak tahu kabar. Hanya Radit yang selalu upgrade hubungannya dengan Lyla. Sama-sama teman KKN, hanya berbeda kelompok. Sepertinya, akan berakhir ke pelaminan. Lantas, aku dan Cece?. Masih melalang buana tanpa arah. Fokus membangun stabilitas keuangan. 

“Arka, ayo duduk di karang-karang sana!” Kata Cece sambil menyambar tangan kananku dan menariknya. Teringat nama Cece adalah julukan semasa KKN. Nama aslinya Claudia Cynthia. Namanya modern. Padahal dia tinggal di desa yang jauh dari gedung pencakar langit.  

“Ka, gimana Jakarta? Menarikkah atau ngeri?” kata Cece sambil memandangku dengan kening mengkerut di atas kursi batu karang.

 “Lebih mengarah ke ngeri Ce”. Aku menjawab sambil menikmati relaksasi deburan air yang menggelitik kakiku. 

“Bayangkan Ce, aku orang eksak harus bertindak di luar rumus”. Sambil mendongak langit biru yang sedikit tertutup ranting pohon. 

 “Aku harus berani memberikan jawaban 3 disaat soal yang kukerjakan 1+1.”Ku tarik kepalaku sambil mentap birunya air. “Jika aku kaku dengan sebuah prinsip, aku tersingkir dari lingkaran nasibku.” Ucapku dengan suara berat.

“Ka, coba jelaskan ke intinya, aku tak paham apa yang kau maksud”. Tandas Cece dengan gerik bingungnya.

“Aku bekerja saat ada proyek.”

“Ok”

“Misal proyek yang kukerjakan adalah pengadaan seminar di suatu instansi. Aku harus memastikan instansi tersebut bisa diajak kerjasama di bidang lain. Misalnya, pengadaan ATK atau hal-hal lain.” Kataku kepada Cece dengan penjelasan yang runut. 

 “Andaikan, kamu gak bisa. Lantas apa resikonya?” Kata Cece dengan penuh keingintahuan dan menggeser posisi duduknya lebih dekat denganku.

“Ya, bisa-bisa bosku gak percaya lagi sama aku. Terus aku gak dikasih proyek lagi. Sedangkan pemasukanku bergantung pada proyek itu Ce.” Sambil kubuang botol minum yang sudah kuteguk rakus.

“Tak cukup itu Ce, seolah disana aku hidup sendiri. Di tengah puluhan orang sepertiku” Kupandang wajah Cece yang penuh perhatian

“Tak ada yang kupercaya. Semua sama saja. Mencari rupiah walau harus berkhianat atau menusuk mentalku secara halus.” Kataku dengan membuang wajahku dari tatapannya.

“Bahkan orang yang kuanggap saudara, bisa-bisanya mereguk kepercayaan bosku yang telah kubangun dengan susahnya. Gila nggak?” Aku menggelengkan kepala dengan sandaran telapak tanganku.

“Hei, aku yakin kamu mampu melewati ini Ka.”

Tutur katanya seperti guyuran air es di tengah teriknya matahari yang menyengat. Hatiku yang membara, perlahan redup akan tuturnya. Kucoba tak berontak, tak berpaling akan keyakinannya. Bahwa aku dianggap bisa melewati ujian yang bercabang.

“Pak Qomar memilihmu diantara puluhan mahasiswa yang dekat dengan beliau, karena kamu berbeda dari mereka. Dan kamu punya skill untuk menyelesaikan masalah ini, Ka.” Ucap Cece sembari menjulurkan tangan kirinya di atas pundakku dan sedikit menarik badanku.

Entah perasaan apa ini? Bagaikan benda langit yang saling bergulat. Namun, ada yang menahannya. Agar tak ada tubrukan, bahkan terjatuh ke permukaan bumi. Seolah aku dibingungkan dengan persaan ini.

Sontak aku merelaksasikan perasaanku. Mencoba mencari celah dari jerembab perasaan yang membingungkan. “Ka-Kalau kamu gimana Ce di kantor?”. Tanyaku dengan nada berat dan terbata-bata. Kugeser perlahan jarak dudukku lebih jauh darinya.

“Hampir sama sepertimu Ka, cuma sistem kerjaku jelas. Yang sama, toxic lingkungan kerja. Tapi ya…dijalani aja. Sebenarnya, ibu melarangku mengambil perpanjangan kontrak kerja.” Sambil menarik nafas panjang dan menghembuskannya bersama angin  laut. 

“Sama Ce, aku juga dilarang kembali ke Jakarta besok lusa. Tapi, dari apa yang kau katakan tadi, sepertinya aku perlu mempertimbangkan lagi.” Ucapku dengan perasaan terombang-ambing.

Langit cerah membaur menjadi awan kelabu. Begitulah suasana hatiku saat gawai bergetar di saku celanaku. Sial Radit menelfon. Cece melihatnya saat kukeluarkan gawai dari saku. “Ka, itu Radit nelfon”. 

Dia meninggalkanku sendiri dalam mengarungi badai besar. Jika aku mengangkat telfon, pasti Radit berkesimpulan bahwa aku serius dengan Cece. Masa KKN melahirkan film dokumenter. Hubunganku dengan Cece. Padahal kami hanya kawan dekat, seorganisasi. Dan kebetulan dia sekretarisku, aku ketua KKN. Seringnya kami berdiskusi dan bersama, menjadikan itu adalah fakta bahwa aku dan Cece punya hubungan spesial. 

Dalam hati yang bergejolak, kulihat Cece menyibak riak air yang menepi di pesisir pasir putih. Senyumnya begitu indah. Kadang berteriak riang saat celananya terkena hempasan ombak ringan. Angin bertiup sayup-sayup mengenai pashmina kaosnya. Namun tak merubah tatanan kerudungnya. Dia yang kukenal adalah perempuan sederhana dengan tampilan simpel. Hingga sekarang menjadi teller sebuah bank, juga sama. Bedanya kalau dulu dia sering mengenakan kerudung instan, sekarang lebih modis.

Terpaksa kubalas telfon ini dengan mengirim pesan ke whatsapp. Aku tak ingin melewatkan sedetikpun akan tingkah polahnya. Entah perasaan apalagi ini? Mata ini tak tuntas mempelajari bahasa tubuhnya. Jika kucoba menutup mata, jantungku rasanya seperti terhenti. Aku tak pernah merasakan ini sebelumnya. Sesekali dia menolehku. Memastikanku sudah menerima telfon dari Radit. Walau aku hanya berpura-pura belaka. 

Namun, gejolak hatiku mengatakan bahwa aku harus mendekatinya. Aku beranjak dari singgasanku. Mengikuti kata hatiku. Kami bermain bersama selayaknya anak kecil bermain di tepi pantai. Tertiba aku memegang tangannya. Detak jantungku tak bisa kukendalikan kecepatannya. Bibir rasanya tertahan akan perasaan yang menggelora. Sial, apakah bualan kawan-kawan akan terjadi dalam hidupku?
                                 ***
Keyakinan yang dibangun oleh Cece menjadi imunitasku. Bahwa aku bisa melalui berbagai kesulitan yang menghadang. Gedung besar berlantai tiga bagaikan kawah candradimuka. Puluhan pesuruh sepertiku dididik menjadi orang besar. Salah satunya aku yang tengah menikmati pekerjaan sebagai Staff Kementerian. Pemilik gedung atau kusebut sebagai Bos melakukan diskusi panjang dengan Pak Qomar. Pastinya secara virtual. Sebelum aku ditugaskan, beliau menuturkan kepadaku bahwa sudah ada persetujuan dari Pak Qomar. Kuanggap beliau bertanggung jawab akan nasibku walaupun yang dilakukan tak manusiawi.

Pekerjaan baru ini tak begitu sulit. Justru lebih mengerikan ketika aku tinggal di gedung besar itu. Jam tidurku teratur. Bahkan project pekerjaanku juga jelas dan terencana. Aku bisa menerka kapan bisa pulang ke kota marmer. Melihat perkembangan gurita bisnis yang kubangun. Selain itu, aku tengah dimabuk penasaran akan perasaan yang mengikat kuat ini.

 Saking penasarannya, aku selalu menyisihkan waktu untuk berkabar dengannya. Bahkan bertemu secara fisik. Dan perasaan ini semakin menjadi-jadi saja. Ketika Bapaknya sakit, aku terhanyut akan kesedihannya. Di tengah jadwalku yang padat, kusempatkan naik pesawat terbang dari Bandara Soekarno Hatta ke Bandara Dhoho. Sesulit apapun situasi pekerjaan, kusempatkan melihat keadaannya secara langsung.

Satu tahun berlalu dengan perjuangan yang tak sia-sia. Satu tahun pula berlalu akan perasaanku yang penuh misteri. Kini aku tengah berdiri di hamparan kolam yang dihuni oleh puluh ribuan ikan gurami. Suara kambing saling sahut menyahut. Saat musim hujan seperti ini, bau kotoran begitu menyengat. Senang rasanya kambing yang berawal dari dua ekor. Kubeli saat menjadi seorang pesuruh, kini beranak pinak menjadi sepuluh ekor. Rasa penat yang kubawa dari Ibukota , seakan terobati di bumi kelahiranku.

Namun, gumaman Ibu yang tak kunjung reda. Menusuk perasaanku yang membatu. Aku masih ingin menikmati kesendirian. Mengembangkan gurita bisnis. Meluaskan relasi kerja. Dan menikmati hasil kerjaku. Aku lelah sebagai anak pertama. Sebagai tumpuan mereka. Jika aku harus segera menikah. Kapan aku hidup senang?

 Sudah cukup enam tahun berjuang mati-matian sebagai mahasiswa jalur besiswa, abdi Pak Qomar, bahkan sebagai pesuruh yang hanya manut. Target hidupku saat ini adalah melebarkan sayap ke bisnis kebutuhan bayi. Mungkin itu bisa menjadi gurita bisnisku suatu saat nanti. Tiga tahun lagi pemerintahan akan berganti. Nasibku pun diundi lagi.

Ibu memandangku dengan sayup kesedihan dan penuh harap. Sembari menjulurkan kedua tangannya mengoyak ampas tahu di bak besar. Pun, kesepuluh kambing saling mengembik. Tak sabar melahap ampas tahu sebagai camilan.

Nuraniku bertolak dari apa yang kulakukan tadi. Tapi, rasa yang terpendam bertahun-tahun meletus seperti bom waktu. Mungkin pertemuanku dengan Radit yang tinggal 30 menit dapat ku ACC. Dia sahabat dekatku sekaligus saudara bagiku. Dia mengajak ke Café Dendy Sky View. Tempatnya instgramable serta view Waduk Wonorejo membuat pengunjung merasa betah. Ini cocok bagiku untuk penyegaran pikiran maupun fisik. Mengingat besok waktuku kembali ke tanah perantauan.
                                  ***
Aku memilih rumah kaca sebagai singgahan sementara. Menikmati seruputan demi seruputan cappuccino panas. Mata ini tertuju pada gunung yang berderet dan air yang mendanau di tengah. Udara yang begitu dingin memberikan sensasi akan kegelisahanku. Teringat perkataanku yang menyakiti Ibu. 

Makanan yang kupesan berangsur-angsur sampai ke singgasanaku. Hati yang bercokol akan ketidakpastian kabar dari Radit. Waktu terus bergerak dengan lambatnya. Hingga makanan di depan meja habis tak bersisa. Aku berdiri dan langkah gegasku menuju ke suatu tempat. Aku harus turun menapaki puluhan anak tangga. Kubuka pintu toilet dengan cepatnya. Sial keadaan ini harus terulang hingga tiga kali. Mungkin, faktor cuaca menekan sistem ekskresi pada ginjalku. 

Hingga kini, belum tampak wajah Radit yang ingin kusiram dengan cappuccino panas yang mendingin ini. Kutelfon berkali-kali hingga wajahku seperti benang kusut. Ternyata wajah tak berdosa itu tengah santai memesan mie nyemek. Dia melambai tangan dengan membawa cup coffe ditangan kanannya. Aku tak bertenaga tuk meresponnya.

“Hai Ka, udah lama?” Menghampiriku sambil membawa kopi dan aneka jajanan yang dibelinya di tenant-tenant. 

“Menurutmu?” tandasku sambil melengos

“Ayolah Ka!, santai OK” Jawabnya dengan terkekeh renyah.

Radit menggiringku ke suatu tempat. Letaknya di dekat spot foto dengan baground roda yang mengapit disebelah kanan dan kirinya. Ini salah satu spot favorit. Karena berlatar belakang bendungan yang dikelilingi pegunangan. Tempat yang dipilihnya selayaknya sebuah privasi. Dibatasi tembok berkayu bak seperti rumah. Namun temboknya hanya sisi depan dan belakang. Ketika menghadap ke kiri, kami bisa melihat pemandangan bendungan atau orang yang berlalu lalang. Atau melihat orang yang tengah berselfie. Entah misi apa yang tengah dia bangun. Bisanya dia memilih tempat indoor.

“Dit, coba lihat handphonmu! Sudah berapa panggilan dariku? Gila kamu ya, aku nunggu satu jam lebih.” Aku belum beranjak duduk di kursi besi hitam yang tersedia.
Radit menaruh barang bawaannya dan menoyorku dengan mendengkus geli. “Sorry Ka, maklum aku gak biasa tepat waktu.”

Radit melanjutkan dengan memicingkan mata akan perubahanku. “ Eh…tunggu, biasanya dirimu yang telat. Kok tumben sekarang aku yang molor? Eits… sekarang kamu benar-benar berubah ya? Badanmu gempal…” Sembari menabok bahuku yang terisi daging.

“Kamu emang jago ya ngalihkan suasana. Benar, Dit. Sekarang aku ada perubahan. Pekerjaanku lah yang menuntutku untuk menghargai waktu. Jika molor sedikit, bisa-bisa aku ditinggal oleh rekan kerjaku” Aku beranjak duduk dan mulai tersenyum dengan bualannya.

“Ok, sekarang kamu jadi staff. Hmmm… aku jadi sungkan nih duduk sama orang penting.” Radit melanjutkan bualannya lagi sambil mereguk kopi yang masih awet panasnya.
“Udah Dit, jangan membual lagi!” Kataku sambil terkekeh

“Oh, ya Ka. Besok lusa aku mau tunangan sama Lyla. Kamu belum ke Jakarta kan?” Tandas Radit sambil menyantap mie nyemek yang sudah diantar oleh pelayan.

Kalimat yang mengejutkan membuatku tersedak saat mencicipi kentang goreng yang dibelinya. “Apa secepat itu? Sorry, aku besok sudah perjalanan ke Jakarta.” Aku mereguk air mineral yang tersisa.

Radit terheran dengan keraguanku. “Cepat? Hubunganku dengan Lyla sudah lama Ka. Dari masa KKN sampai sekarang. Tiga setengah tahun.” Radit menjulurkan tiga jari tangan kirinya. 

“Lha kamu sama Cece gimana?” Radit melanjutkan makannya

Untuk menjawab pertanyaan yang tak masuk akal, kuhabiskan air mineral yang tersisa. “Dit, aku sama Cece itu hanya sebatas kawan.”

Radit terkekeh dengan jawabanku. “Gak mungkin Arka. Kalau memang cuma sebatas kawan, kenapa kau ajak dia ke Pantai Mutiara? Terus, kau sering pulang dari Jakarta ke Tulungagung. Untuk apa Arka?” Ucapnya sambil melongok ke wajahku dengan teliti.

“Cece pernah keluar sama kamu kan? Hai bro…Cece itu friendly dengan siapa saja. Ya kamu, aku atau kawan-kawan lainnya.” Aku menggeleng cepat akan keraguannya.

“Ok, aku setuju dia friendly ke siapa saja termasuk aku. Tapi, perubahan sikapmu Ka. Begitu jelas”. Tandas Radit yang bersedekap dengan tatapan mata bak penyidik yang mengumpulkan bukti bahwa persaanku dengan Cece bukan biasa.

Sial perasaan yang kusimpan rapi, sekarang terbongkar. Aku menyesal akan keterbukaan hubunganku dengan Cece berakhir pada rumah kayu ini. Radit adalah orang kedua setelah ibu yang tahu perjuanganku bolak-balik dari Jakarta ke Tulungagung. Kupikir, mereka menganggap sikapku kepada Cece hanyalah sebatas kawan biasa. Ternyata mereka menganggap aku ada hubungan spesial dengannya. Padahal aku belum memantapkan hatiku untuknya. 

Aku terdiam dan melengos melihat lalu lalang para pengunjung. Terlihat pasangan saling berselfie di spot foto. Teringat, kala itu aku dan Cece mengabadikan kebersamaan di Pantai Mutiara.

Radit melanjutkan penyidikan. “Ka, kau anggap aku apa? Teman?” Dia menggeleng lambat. “Aku ini lebih dari temanmu. Kau ini kuanggap saudaraku.” Lanjutnya sambil menyandarkan bahu di kursi besi.

“Ok, Dit. Aku gak ngerti perasaan apa yang memupuk dalam hatiku. Setiap tahu kabar kalau dia gak baik-baik saja, hatiku goyah, Dit. Rasanya aku ingin disampingnya.” Unek-unekku yang tertimbun berbulan-bulan.

“Ini lho Ka yang dimaksud jatuh cinta.” Katanya sambil bersorak bak merayakan pesta.

Aku terdiam dengan tebakan Radit. Benarkah ini cinta? Tapi masih paradoks dengan prinsip hidup yang kubangun. Aku membungkukkan kepala dan merapatkan ke kursi hitam.

“Gimana kamu sudah ngomong ke Cece kalau ada rasa dengannya?” Radit menyeruput kopi yang mulai hangat.

Kalimatnya seperti petir yang menyambar. “Kamu tahun kan kalau aku inginnya langsung nikah. Aku gak telaten jika harus ada seremonial inilah itulah. Lagian aku belum ingin menikah Dit.” Umpan balikku ke Radit

Aku melanjutkan narasiku. “Aku ingin seneng dulu Dit.”

“Ok gak pa-pa. Tapi menjalin hubungan tu gak kayak gini. Kamu harus menyatakan ke dia kalau kamu suka padanya. Dari situlah Ka, awal perjalanan cinta.” Radit menjelaskanku dengan pelan-pelan selayaknya seorang kakak.

Radit melanjutkan materinya. “Ka, sebaiknya ucapkan cinta yang tersimpan, sebelum terlambat. Karena itu syarat utama memluai sebuah hubungan”

Aku sedikit tersinggung akan diksi yang dia bangun. Aku mencoba merseponnya dengan senyuman. Bagiku cinta itu memberi, bukan pernyataan. Aku masih membatu dengan prinsip hidup yang kubangun. Namun, Radit terus mendesakku untuk menyatakan cinta ke Cece. Aku tidak bisa melakukannya. Rasanya ada sekat yang menutupi jalanku. Keraguan dan cinta yang menggurita saling bertarung.

Hingga aku memutuskan untuk menjalani hubungan ini dengan santai. Yang terpenting aku sudah memberikan perhatian kepadanya. “Dit, yang dibutuhkan wanita adalah perhatian. Dan aku akan memberikannya.” Tandasku dengan mantap

Radit tersenyum samar. “Satu hal Ka yang belum kamu tahu. Wanita itu butuh status.”Katanya dengan menjulurkan jari manisnya dihadapanku.

Aku terdiam dan hilang nafsuku untuk menatap wajahnya. Kali ini dia tak sejalan dengan prinsipku. Seakan pertemuan ini kelanjutan episode sebelumnya dengan Ibu. Rasanya aku ingin bergegas kembali ke Jakarta. Bertemu dengan rekan kerja yang tak peduli dengan urusanku. 

Rumah kayu ini seakan senyap. Tak ada lagi tawa. Tak ada lagi kata yang terucap antara aku dan dia. Kami saling berpaling. Seperti orang asing. Hanya kepulan asap yang menyatu dari puntung rokok. Rasanya lebih dingin dibandingkan udara yang mulai menembus pori-pori kulit. 
                                   ***
Hari berganti hari, bulan berganti bulan. Aku atau dia yang tak tahan untuk berkabar. Anehnya, aku yang mengucpkan kata “hai” dulu. Radit membalasku dan komunikasi mengalir tanpa membahas Cece lagi.

Aku menikmati hidup yang sesungguhnya. Penghasilan yang kuperoleh tak keluar untuk keperluan keluarga. Kambing dan ikanku mampu mampu mencukupi kebutuhan kedua adikku. Aku mulai mengenal banyak perempuan. Seiring melebarnya relasi rekan kerjaku. Namun, pada akhirnya mereka hanya mencari keuntungan dariku. Uang atau link pekerjaan.

Cece memang perempuan unik. Modern tapi tahu unggah-ungguh. Sederhana ditengah gaya hedon lingkungan kerjanya. Dan satu hal darinya. Sikapnya sama padaku. Dari aku yang tak jelas akan nasibku. Hingga sekarang di titik kejelasan. 

Anehnya, situasi ini malah menjeratkanku pada kondisi ambigu. Saat aku mulai yakin kepadanya. Dia bak seperti angin yang berlalu. Bersinggah dihatiku sebentar. Dan meninggalkanku begitu saja.

Entah mengapa dia mulai menjauh dariku. Aku mencoba mengajaknya ke suatu tempat. Ingin kuucapkan bahwa aku mencintainya dan ingin menjalin hubungan abadi. Dia selalu beralasan ada urusan kantor. Dia tahu celahku untuk berhenti bertanya.

Dan Radit tak seperti dulu. Susah diajak keluar. Kalaupun ngobrol, mesti aku duluan yang menelfonnya.  Mungkin, dia repot akan persiapan pernikahannya. Atau dia masih memendam kecewa akan sikap keras kepalaku. Hidup sungguh terasa sepi. Dua sosok yang memberi warna hidupku. 

Aku merasa pening memulai bisnisku. Sudah menjajaki toko grosir di kawasan kota. Namun, belum cukup memenuhi list apa yang akan kujual. Aku menggulingkan posisi tidurku. Dan membuka gawai yang dialiri angin sepoi-sepoi dari kipas. Muncul foto Cece bersama pasangan hidup. Bak raja dan ratu di status facebook kawanku. Foto itu diunggahnya satu bulan yang lalu. Saat aku disibukkan rapat evaluasi dan laporan pembangunan desa. 

Aku menelfon Radit sebagai sesama kawan dekat Cece. Sialnya, dia membenarkan berita itu. Walaupun dengan suara terbata-bata. Tak mudah kumenerima kenyataan ini. Rasanya dada terasa sesak. Aku tak punya nyali untuk hidup. Rasanya ingin menjeburkan diri di laut lepas. Tenggelam dan tercabik-cabik oleh ganasnya pemangsa laut.

Aku terperanjat dari empuknya kasur. Berjalan tanpa tujuan. Duduk berlutut di pinggir kolam. Membuat awan kepulan rokok. Entah sudah berapa banyak yang kuhisap? Masih satu pack. Aku ingin lagi dan lagi. Namun, rasa sakit ini belum reda. “Mengapa aku gak dikasih tahu?” Aku membatin dengan mata buram, berlinang air mata yang kutahan.
                                 ***
Saat aku terbangun dari lelapnya tidur di kos kawanku. Aku mulai gusar. Ingatanku akan kenangan manis dan pahitnya ditinggalkan bercampur jadi satu. Kepalaku pening. Aku ingin berteriak, mengeluarkan unek-unekku tentangnya. Hanya satu jalan. Kembali meneguk wiski. Pahit namun memberikan efek tenang, bahkan ngefly.

Di tengah kesepian dan libur panjangku.  Masih ada banyak kawan yang peduli padaku. Merekalah yang mengenalkanku pada wiski. Hingga keempat kalinya, terlalu banyak yang kuminum. Akibat terlalu berat beban yang menumpuk dihati dan pikiranku.

Mereka mengantarkanku ke rumah kedua kalinya. Terlihat bayangan remang-remang akan dua sosok yang saling berdiskusi. Radit dan Ibu yang masih tertutup mukena. Meja terhidang aneka makanan dan selembar kertas. Jalanku terseok-seok.

“Dit, setelah ini Cece tak beli. Uangku bu-uanyak.” Aku mengoyak tubuhnya dengan mata separuh tertutup dan berbau alkohol.

Radit mengelusku pelan dan menggiring ke suatu tempat. Di sudut lain ibu mendampingi Bapak yang ingin menampar anak sulungnya. Tempat itu ada genangan airnya. Tertiba rasa dingin mengguyur kepalaku. Hingga tubuhku yang lain ikut basah. Aku mencoba berontak tapi dia memberikan relaksasi pijatan.

Aku ingin memejamkan mata. Aku tersungkur pada suatu ruang kecil. Ada foto kenanganku bersama kawan-kawan KKN. Radit membiarkanku sendiri seperti mayat di atas kasur. “Ce, kamu tega ninggalin aku” Kalimat terakhirku.
                                       ***
Pagi ini aku disuruh Ibu menyegerakan mandi dan sarapan. Entah apa maksud dari Ibu. Di balik jendela besar, tampak Radit keluar dari mobilnya. Dan mengajakku keluar dari rasa bersalahku menjadi anak sulung.

“Dit, kita kemana?” Tanyaku yang dihantui rasa penasaran.

“Sudahlah, masuk saja di mobil! Jawabnya penuh misteri.

Sebenarnya, aku tak mendambakan keberadaannya. Dia yang kuanggap sebagai saudara. Menutupi pernikahan Cece kepadaku. Aku yang masih ngantuk tak selera berbicara kepadanya. Radit menyetel AC begitu pas. Sambil mendengar dangdut koplo, aku tertidur pulas.

Sesekali aku merasa tubuhku terlempar ke kiri, ke kanan, bahkan ke depan saat Radit mengerem. Telingaku mulai berdengung. Terasa jalan menanjak. Aku membuka mata perlahan. Tanpa meminta izin, dia mengajakku ke titik nol. Di titik itulah aku mulai merasakan jatuh cinta.

 “Dit, kamu tega ya mengajakku kesini?” Teriakku di mobil

“Kamu harus kembali ke titik nol, Dit.” Jawabnya sambil konsentrasi menyetir.

Aku tak terima dengan sikapnya. Aku mencoba mendobrak mobil yang tengah berjalan.

 “Keluarkanku dari sini. Aku gak mau ikut. Atau matikan aku sekalian, Dit.”

“Dit, kalau kamu bereaksi jangan sekarang. Tunggu sampai di tujuan. Seminggu lagi aku akan menikah.” Radit memohon dengan mata memerah.

Aku tak berdaya dan menelonjorkan badanku di alas mobil. “Kamu jahat Dit.” Rintihku

Radit mematikan mesin, dan membuka pintu untukku. “Ayo keluar! Kamu harus menyelesaikannya disini.”

“Biarakan aku disini Dit. Jika kamu ingin bermain air, silahkan. Aku di dalam mobil saja.” Tandasku

Radit menggeretku paksa. Bak seperti seorang penjahat yang akan diadili. Aku berontak, tapi tubuhnya lebih kekar dan kuat. Aku dalam masa antara sadar atau tak sadar, akhirnya mengikuti kemana dia memiting tubuhku. 

Perlahan Radit mengajak ke arah karang. Aku ingin menghapus ingatanku pada Cece. Di tempat itulah kami saling menguatkan. Dia menarik tubuhku. Aku yang masih belum berani menatap dia seutuhnya. Dan ditempat inilah titik nol kumemulai jatuh cinta padanya.

Radit tahu segalanya akan diriku. Dia mulai mengeluarkan ajian pamungkasnya. “Ka, cinta itu seperti ombak. Datang dan pergi semaunya.” Sambil membuang ranting pohon. “Lihatlah karang ini Ka, walaupun dia sering dihantam ombak lalu ditinggalkan, dan kembali lagi. Karang ini tetap kokoh.” Kata Radit kepadaku.

Radit melanjutkan lagi. “Sebagaimana cinta, Ka. Dia datang dan pergi tanpa permisi. Jadikan cintamu ke Cece sebagai pembelajaran.” Radit memandangku yang tengah membatu.

“Ntahlah Dit, gimana aku melupakannya. Terlalu indah dan sakit” Kataku dengan menggeleng pelan

“Ka, mencintai itu bukanlah bagaimana kamu melupakan, tapi bagaimana kamu memaafkan.” Tandasnya sambil menyodorkan gawainya kepadaku.

Radit membukakan isi chatnya dengan Cece. Aku ingin berteriak, menangis dan mengulang masa lalu. Aku menyesal mengabaikan nasihatnya dan ibuku. Kalaulah aku memiliki kekuatan. Aku akan memutar waktu saat mulai jatuh cinta kepada di laut biru ini.

“Ka, kita sebagai cowok, inginnya hubungan ini simpel. Tapi tidak bagi perempuan.” Radit merangkulku.

“Maafkan aku Dit, aku menyesal.” Kataku

Rasanya mucul awan hitam yang siap meluapkan isinya di atas bumi. Mataku memanas dan tampak merah. Tapi, aku masih cukup bisa menahannya. Namun, dadaku begitu sakit.

“Ka, lebih baik kamu menangis tersedu-sedu daripada menangis di dalam hati.” Sarannya sebagai seorang saudara. 

Aku membiarkan tetes demi tetes jatuh dihamparan asinnya air yang membiru. Sebagaimana asinnya air yang kukeluarkan. Radit merangkulku. “Ka, kamu pasti bisa melaluinya.”

Aku harus memaafkan cinta ini. Agar aku bisa kembali ke titik nol. Di titik aku tak membencinya dan mencintainya. Walaupun ini tak mudah kujalani. Biarlah laut biru menjadi pengawet kenanganku bersama Cece. Terasa kejam tuk dilupakan.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bahagia dengan Menyibukkan Diri

Rindu

Rindu