Kesatria Pantofel

                       Kesatria Pantofel 

Bumi kelahiran dengan aneka kenangan. Bersama teman-teman kecilku yang sekarang bertengger di negeri orang. Namun, hanya aku yang bertahan menempuh gelar sarjana. Tinggal di kawasan lereng pegunungan, membangkitkan gairah setiap insan berlabuh kesana. Dengan iming-imingan bisa melipir di sepanjang jalan dengan mobil baru. Bukan berusaha keras hingga titik nadir. Demi mendapatkan gelar sarjana sepertiku.

Nasibku berbanding 180 derajat dari mereka. Berkendara cukup roda dua. Jarak 3.7 km dengan waktu 15 menit sampailah ke tujuan. SDN 2 Harapan Bangsa  menjadi tempat pengabdianku sekarang. Menumpahkan setiap energi, ilmu, dan ide pada penerus bangsa. Agar kelak nasibnya tak tergadaikan pada satu kanal. Menjadi TKI di negeri orang.

Aku berjalan dengan langkah gegas. Sepatu hitam yang disebut pantofel membungkus setiap lekat telapak kakiku. Suara khas menjadikan anak-anak jumpalitan masuk ke kelas. Hanya satu anak yang asyik dengan bolanya. “Elang, yuk ikut Bapak ke kelas!.” Mataku tersayup akan pancaran Sang Surya.

Elang seperti biasa hanya menggeleng cepat. Dan menghabiskan energinya untuk menendang bola. Orang tuanya memberi nama Elang Putra Sakti. Namanya persis dengan wataknya yang pemberani. Teguh pendirian dan berani melawan arus yang bertentangan dengan ideologinya. Dua minggu mengenalinya, memutuskanku masuk ruang kelas empat.

Hari ini aku membawa dua tas. Yang satu untuk keperluan mengajar. Sedangkan tas lain dipenuhi oleh buku dan laptop. Tak lupa botol minum menambah beratnya beban yang kupikul. 

“Anak-anak hari ini kita mencari tahu apa itu sudut dan unsur-unsur apa saja yang ada pada sudut.” Aku berdiri di depan kelas dan menjelaskan kepada mereka. Kulihat akan gestur dan tingkah polah mereka yang beragam.

Sesekali aku harus mengeluarkan tenaga dalamku untuk memantik mereka tenang. Tapi, kelas lumayan bisa kukondisikan. Sejak Elang terhibur akan bola yang menggelinding. Perlahan, kujelaskan tugas proyek yang harus dikerjakan mereka. Sembari kuumumkan nama kelompok. 

Seperti biasa, kelas gaduh dengan kejahilan anak-anak pada umumnya. Dan hari ini bertambah parah ketika mereka harus berkumpul dalam satu meja dengan teman yang tidak disukai. 

“Nak, kita semua adalah teman. Bapak juga teman kalian, lho.” Aku merapatkan kedua tanganku di dada. Dan berdiri di tengah posisi tempat duduk yang melingkar. 

“Bukan, Bapak itu guru kami.” Sahut murid perempuanku dengan keberaniannya menyuarakan pendapat.

“Iya, Bapak adalah guru. Tugasnya mengajarkanmu dan teman-teman lainnya tentang materi pelajaran. Tapi, hubungan kita sama. Teman.” Aku menjelaskan perlahan dengan mendekap kedua pundaknya.

“Nah, jadi sesama teman harus saling bekerja sama dan mendukung.” Aku melangkahkan kaki ke salah satu siswa yang pemilih.

“Jika kalian menganggap semua yang ada di ruangan ini teman. Yuk, saling support!.  Termasuk Bapak ini juga perlu di support lho. Caranya kalian ngikutin semua intruksi dari Bapak.”Aku menarik nafas panjang, dan menjelaskan perlahan dengan posisi jongkok.

Kulihat wajah-wajah lugu saling mentap teman sekelompoknya. Walaupun dengan raut wajah sedikit cemberut, bibir manyun dan mata melirik. Akhirnya, mereka perlahan mampu menurunkan egonya.

Aku menghela napas dari sisa energi yang terbuang. Meneguk rakus botol minum. Biasanya aku sudah menghabiskannya. Sejak Elang tertarik dengan bolanya, energiku masih tersisa setengah bagian.  

Seperti biasa, saat anak-anak sibuk dengan tugas yang kuberikan. Mata elangku dan pendengaranku bak gelombang ultrasonik. Menjadi pemandu jemariku mengisi jurnal perkembangan anak. Tentu, laptop tak pernah absen dari rutinitasku di kelas.

Jemariku terhenti ketika beberapa siswa mendongak ke kaca jendela. Melihat tingkah polah Elang berkali-kali memasukkan bola ke gawang. Mereka menggeleng pelan saat Elang melambaikan tangannya. Dan sejenak melihatku serta menunjukkan kertas yang tertempel batang korek api kepadanya. 
Tertiba, Elang menjatuhkan ideologinya. Saat Pak Siswanto memaksanya masuk ke kelas. Beliau adalah kepala sekolah di sini. Biasanya Elang melipir jika disuruh masuk ke kelas. Namun, kali ini ada secercah motivasi sehingga dia melenggangkan kakinya ke kelas empat.

“Cah, belajar apa kok kelihatane seru?” Katanya dengan keringat masih mengguyur kepala dan baju putihnya.

Beberapa teman kelompoknya melambaikan tangan. “Lang, kamu satu kelompok sama aku.”

Kelas kembali riuh ketika Elang menduduki singgasananya. Sedikit energi yang tersisa menjadikannya bisa lebih fokus. Dan antusias akan tugas proyek yang kuberikan. Walaupun, aku harus menyambut hangat akan beribu pertanyaan dari mereka. Akan kebingungan mengerjakannya. Ya, aku ini teman bagi mereka. Sudah sepantasnya memberikan support walau harus meneguk kembali sisa air dalam botol.  
                                    ***
Teka-teki akan Elang mulai kutemukan titik terang. Berminggu-minggu sosoknya menghadirkan hantu dikepalaku. Aku yang tengah pulang dari rumahnya mengumpulkan ragam data. Akan kuolah dan analisis. Treatmen apa yang pas untuknya. Agar dia termotivasi untuk belajar. Bukan hanya Elang, tapi semua muridku.

Masuk rumah, sudah disambut bau gurihnya kue yang dioven. Profesi istriku yang ditekuni setelah resign dari pabrik. Menjual kue kering dan donat yang dititipkan di kios terdekat bahkan kantin sekolah. Kulihat Kakung tengah duduk di kursi roda dan melihat TV.  Petualang adalah favoritnya. Jejak Si Gundul tak pernah absen. Bahkan sering berdebat kusir dengan anak bungsuku. Namun, tak terdengar keriuhan dari mereka. 

Langkah gegasku menuju meja 2x1,5 meter. Aku menaruh beban berat yang kupikul berjam-jam lamanya. Tampak barisan kue nastar mengguncang lambungku. Aku mengambil cepat, kue yang masih hangat. “Bun, Zidan kemana? Biasanya jam segini berantem sama Kakung.”Aku menghentikan sebentar, menggigit nastar yang sudah separuh. 

“Diajak temannya main ke lapangan.” Jawabnya yang masih meringkuk di dekat meja dengan menguleni adonan donat. 

“Zidan sudah makan? Sudah tidur siang kan? Terus…” pertanyaanku kepadanya seperti kalimat tak bertitik

“Permasalahan yang dijumpai di Sekolah kan? Tandasnya sembari menghentikan gerakan tangannya berbalut adonan yang mengental.

“Aku sudah hafal Yah, apa yang kau tanyakan tentang Zidan.” Dia melanjutkan bicaranya dan menggeleng pelan.

Aku tersenyum tipis dan menghabiskan nastar yang melekat di jemariku. Aku berjalan perlahan dan membelakanginya. Ada ikatan magnet yang perlahan, kedua tanganku melilit tubuhnya yang semampai. Dengan rambut yang diikat. Memudahkanku mengecup pipinya. Aku berbisik kepadanya. “Makasih untuk semua Bun. Maaf aku belum bisa membahagiakanmu.”

“Bicara apa kamu? Lha dua jagoan dari darah dagingmu itu bagian dari kebahagianku Yah.” Dia menatapku tanpa sadar tangannya memberikan noda adonan di atas lantai.

Kalimatnya bak surga dunia. Perlahan jantungku berdebar. Aku memutar posisi tubuhnya berhadapan denganku. Kubiarkan rasa cinta yang menggelora melumat bibirnya. Padahal beribu-ribu kali aku menciumnya. Namun, perasaan yang kurasakan tetap sama. Berdebar saat kedua bibir ini menyatu. Momen ini tak kubiarkan berlalu. Sulit menemukan waktu intens dengannya.

Tubuh kami tergerak hingga menatap pinggir meja. Gerakan kami reflex hingga menjatuhkan tumpukan loyang. Kami terbangun dari alam bawah sadar. Tiba-tiba suara Kakung sedang batuk-batuk. Adonan kue dari tangannya mengenai seragamku. Aku dan dia saling menunjuk. Siapa yang menghampiri Kakung akan pemberian pertanyaan yang penuh perhatian. 

Akhirnya istriku yang mengalah. Dengan tertawa renyah. Sambil membersihkan sisa adonan yang menempel lekat di jemarinya. Dia berjalan ke arah Kakung.
                                     ***
Malam yang kelam telah menggerus peranku sebagai guru PNS.  Lumat tak bertekstur seiring derasnya permintaan Kakung dan Zidan. Keduanya seperti permainan tangkap dan lempar bola. Tak ada jeda untukku membaca jurnal harian siswa. Bahkan merancang pembelajaran untuk besok. Kubiarkan istriku konsentrasi di dapur. Menjadi guru sekaligus anak dalam waktu bersamaan. Biarlah aku yang menggantikan peran istriku dikala tak di rumah.

Situasi mulai dititik didih. Saat Kakung minta didorong di kamar mandi. Zidan dengan jiwa kritisnya bertanya dunia hewan dan tumbuhan. Aku menarik napas panjang. “Sebentar ya, Ayah masih membantu Kakung dulu.” Sambil aku mendorong pelan kursi roda dengan beban begitu berat. Tubuh Kakung semakin berkembang. Pipinya menutupi hidungnya yang bulat.

Kakung berdiri dengan bertumpu di pinggir tembok pintu. Aku membantu menahan tubuhnya saat menapaki keramik menuju toilet duduk. Zidan terus merengek. Untungnya, istriku bisa mengimbangi situasi ini. Aku membatin. “Betapa beruntungnya aku dianugerahi istri sesempurna dia.”  

Semakin malam, semakin senyap. Tawa, terikan, bahkan rengekan Zidan yang duduk di bangku kelas 2 begitu senyap. Seiring dua mata kecilnya tertutup. Dan Kakung membujur di atas kasur depan TV. Keadaannya berbeda jauh saat dia menjadi prajurit negara. Tubuh kekar, lincah dan bermental kesatria. Sekarang harus beraktivitas dengan kursi rodanya. Namun, hal yang membekas dalam diriku adalah didikannya kepada anak-anaknya untuk bermental kesatria.  

Situasi senyap meluapkan energiku untuk bereksplorasi dengan buku-buku. Menurunkan satu demi satu buku yang tertata rapi di lemari. Buku yang kubeli saat kuliah hingga menjadi guru PNS di SDN 1 Manyar. Lokasinya di Kecamatan Gubeng, Surabaya. Lima belas tahun aku mengabdi disana. 

Aku rindu dengan iklim literasi yang mentradisi. Sarana dan prasarana begitu menunjang. Diskusi terbuka lebar sesama guru, bahkan kepala sekolah. Pengembangan potensi anak adalah prioritas kami. Dan kini situasi berbalik 180 derajat di tempat baruku. Ingin rasanya membuka lahan baru di tengah hutan rimba. Babad alas adalah visiku saat ini.

Lamunanku di meja belajar, seakan tersengat petir. Aku berbalik haluan ke satu sosok. Elang muridku yang istimewa. Dibalik pribadinya yang unik tersimpan dinamika kehidupan yang rumit.

 Bapaknya bekerja di luar kota. Namun, pulang sering dengan tangan kosong. Ibunya pontang- panting dengan pekerjaan yang tersedia. Buruh tani, bahkan membantu pekerjaan domestik di rumah Pak Lurah. Sambil membawa dua anaknya. Yang seharusnya sudah memasuki TK dan PAUD.

Inilah mengapa sikapnya pemberani dan teguh pendirian. Sebagaimana ibunya yang tetap berdiri tegak mempertahankan rumah tangganya. Mungkin bola menjadi media pelampiasannya untuk mengeluarkan energi negatif yang tersimpan.
                                   ***
Jejak pembelajaran hari ini menyisakan hipotesis. Bahwa Elang adalah anak yang cerdas. Namun, butuh sesuatu yang menarik. Dan ini berlaku pada semuanya. Terlihat pup up book yang kubawa memberikan magnet bagi mereka. Termasuk Elang. Banyak pertanyaan yang disampaikan. Bahkan, daya kritisnya mengantarkan dia bahwa sumber energi yang ada harus dijaga. Mungkin baru kali ini mereka bersentuhan dengan buku tiga dimenasi.

Aku merenung seorang diri pada kesunyian kelas yang berjejer kursi kosong. Hanya pergerakan dua jarum jam yang menjadi temanku. Sedikit kesunyian mulai meredup samar. Kulihat lapangan sudah kosong akan kendaraan yang berderet. Hanya Varioku dan mobil Daihatsu Ayla yang berdiri gagah.

Saat lamunanku mengarah pada dua kendaraan, mucul Pak Miswanto yang merangkul tasnya. “Pak Rudy, belum pulang?” tanyanya dengan berjalan ke arahku dan meletakkan beban berat di pundaknya.

“Belum Pak.” Aku menjawab dengan senyum samar dan menunduk untuk memulai satu kalimat unek-unek yang terbelenggu.

“Mohon maaf sebelumnya Pak, bukan maksud saya mengkritik sekolah ini. Tetapi sekedar memberikan masukan saja.” Aku masih duduk di bangku guru dan ragu untuk melanjutkan kalimat bertopik unek-unekku

“Oh…silahkan Pak Rudy. Saya terbuka dengan berbagai masukan.” Tanggapannya dengan raut wajah sumringah.

“Memang Pak Fachrudy, sekolah di desa itu jauh berbeda dibandingkan sekolah Bapak dulu. Ya, bagi saya yang penting anak-anak dapat belajar di kelas. Walaupun dengan sarana yang jauh dari kata sempurna”. Lanjutnya sambil memandang papan tulis yang retak. 

Aku memberanikan diri berjalan lambat dan mengatur ritme detak jantungku. Aku duduk disebelahnya. “Begini Pak, setelah dua minggu lebih mengajar disini. Saya menemukan hal yang menakjubkan pada anak-anak. Khusunya Elang.” Kataku dari reduksi data yang kuanalisis pada kesunyian.

“Elang?” Kata pertama yang membuat kedua matanya terbuka lebar

“Apa bagusnya dari Elang?” Lanjutnya dengan senyum samar dan mengedikkan kepala ke belekang. 

Dia menganalogikan dengan yang lain. “Oke lah kalau murid-murid lain. Kucinya satu Pak. Gurunya harus telaten menerangkan satu persatu. Ya, dimaklumi Pak, anak-anak desa.”

Dia masih belum percaya dengan keunikan Elang. “Tapi kalau anak satu itu. Elang…andaikan sekolah diberikan kebijakan untuk mengeluarkan murid. Saya tak segan mengeluarkannya. Ya, karena dia hanya pengganggu saja disini.” Sambil terkekeh renyah dan menggeleng lambat.

Aku menata kata agar tak salah arti. “Memang benar Pak, sekilas Elang itu dikategorikan murid nakal. Tapi, jika guru bahkan sekolah dapat memfasilitasi pengalaman belajar yang menarik. Ada peluang anak seperti Elang, bahkan anak-anak lain untuk berkembang. Dan bisa belajar tanpa tekanan, Pak” Aku menjelaskan bak guru kepada murid

“Ya, namanya belajar ya harus ditekan Pak Rudy.” Tanggapannya dengan terkekeh renyah

“Wis ta lah Pak Rudy, kita sebagai guru ya yang penting sudah ngajar. Sesuai KD yang ditetapkan. Kalau saya tidak menuntut guru-guru sini untuk berpikir ribet. Sing penting ngajar, wis cukup.” Kalimat terakhir sebelum masuk di mobil putihnya.
                                   ***
Percakapanku kemarin lusa tak menyisakan sari pati yang dapat kuolah. Hanya berupa sisa hasil pembuangan. Aku memberanikan diri akan posisiku sebagai guru. Memiliki otoritas terhadap pembelajaran. Kuajak mereka belajar di luar kelas. Menyusuri kekayaan alam yang terbungkus rapat akan gunung yang berderet. Atau membuat ruang eksperimen di halaman sekolah.

Aku tak ingin membuang waktu dan tenagaku hanya sekedar transfer knowledge. Sebagaimana pada umumnya guru di sekolah ini. Tak ada yang membekas abadi. Hanya puing-puing informasi yang saling melepaskan ikatan antara memori dalam otak. Yang tersisa adalah aku harus berkali-kali meneguk air hingga kering tak bersisa. Berteriak-teriak menerangkan satu persatu materi yang terstruktur.

Lima hari belajar out door menambah kekayaan dataku. Yang dapat kuolah kembali. Analisis dan menentukan kesimpulan. Aku tak sendiri. Teman-teman di SDN 1 Manyar masih welocome akan ambiguku yang terselubung. Perbedaan budaya inilah kesulitan terbesarku. 

Cara mengajar yang berbeda, menimbulkan polemik. Aku harus menelan pil pahit duduk berhadapan dengan Kepala Sekolah. Setelah kulihat beberapa wali murid keluar masuk silih berganti di kantor. Serta kasak-kusuk guru yang menampakkan kejelasan akan badai yang kuhadapi.

Sepatu pantofelku masih gagah menapaki celah jalan leter L. Aku dididik menjadi pribadi kesatria oleh Bapakku. Visiku adalah babad alas. Berani mengambil resiko demi sebuah perubahan. Lahan baru nan hijau. Melahirkan produk pendidikan yang berkualitas.

“Pak Rudy, mohon Anda mengikuti cara mengajar guru-guru lain disini.” Permintaannya dengan kepala bertumpu diatas kedua tangan mengepal.

“Mohon maaf Pak Mis, Saya sudah mengikuti prosedur. Sebelumnya saya minta izin ke Bapak. Dan Bapak mengizinkan.” Aku membalasnya dengan gerakan tangan terbuka

“Ya, betul. Tapi masalahnya walimurid tidak suka. Mereka merasa terbebani dengan tambahan uang saku, bahkan kebutuhan praktikum di halaman sekolah.” Tandasnya

Dia melanjutkan sarkasmenya. “Pak Rudy, ini sekolah desa. Bukan sekolah kota seperti SDN 1 Manyar.” Katanya sambil menyabet buku di meja.

“Bukan soal desa atau kota, Pak. Tetapi, pembelajaran hanya sebatas menghafal materi saja. Gimana mereka dapat menggali potensinya?.” Aku menjelaskan kepadanya secara rinci.

Sejenak kami saling terdiam. “Baik, sekarang saya sebagai Kepala Sekolah membatasi Anda untuk kegiatan pembelajaran di luar kelas. Dan hal utama Pak Rudy, jangan bebankan walimurid untuk beli ini dan itu.”

“Bagaimana bantuan Sekolah?” Tandasku

“Dana BOS maksudnya? Itu digunakan untuk perbaikan sarana dan prasarana. Dan guru honorer dari uang ini juga.” Katanya sambil menyorongkan rincian laporan dana BOS kepadaku

Aku membaca dengan seksama. Kusimpulkan, sekolah ini masih fokus pada kebtuhan fisik. Belum merambah pada fasilitas pengadaan media pembelajaran. Di rumah aku hanya memiliki sedikit buku menarik untuk anak-anak. Karena saat di SDN 1 Manyar, aku dinina bobokkan dengan fasilitas yang memadai di sekolah. Membuat aset media belajar yang kumiliki terbilang sedikit.

“Pak, mohon maaf sebelumnya. Bagaimana kalau guru PNS disini mengadakan diskusi kecil?”. Aku menutup buku yang tak terlalu tebal. “Ya, untuk pengadaan media pembelajaran anak-anak. Kita iuran bersama gitu Pak.” Lanjutku dengan sikap optimis.

“Pak Rudy, Pak Rudy….” Dia mendengkus geli dan menggeleng pelan. “Kita disini tugasnya hanya mengajar, bukan buat ini itu. Memang Anda mau uang gajian dihabiskan untuk kebutuhan Sekolah?” Dia melanjutkan dan mengedikkan kepala sambil menyorong mejanya. “Fasilitas anak-anak itu tanggung jawab dinas, bukan guru”. Telunjuk kanannya tepat berada di depan kedua bola mataku.

“Benar Pak, tapi kita sebagai guru. Apalagi PNS seperti kita wajib memberikan layanan pendidikan yang berkualitas.” Aku menarik tubuh hingga kursi mendoyong ke depan meja.
                                   ***
Visi babad alas tak semulus yang kurencanakan. Aku mengorbankan waktu hampir satu bulan tak menyambangi anak sulungku di Surabaya. Hijrahku disini bukan tanpa alasan. Kakung terserang stroke. Dari tiga bersaudara hanya aku seorang yang bisa diandalkan. Walau harus pindah Lembaga. Di tanah kelahiranku yang belum tergerak berangkat untuk bermetamorfase ke arah kemajuan.

Faktor budaya begitu sulit melarut ke arah peradaban maju. Alasan inilah kami harus berpisah. Biarlah Rafa tumbuh menjadi pribadi mandiri. Aku yakin pada kemampuan sponsnya menyerap pengetahuan. Kalaulah disini, dia hanya menjadi pisau tumpul. Cita-citanya menjadi seorang dokter begitu teguh. Aku sebagai Ayahnya totalitas mendukung dari jarak jauh.

Ternyata pengorbanan ini berakhir pada selembar kertas. Aku disodorkan surat peringatan. Menjadikan aku terkungkung pilu di rumah. Sekorsing satu minggu bukan waktu sebentar. Aku duduk termangu di meja belajarku yang mengarah jendela. Sayup-sayup angin mengibas wajahku yang layu. 

Terbayang akan keaktifan Elang saat menggambar matahari sebagai sumber energi. Dan anak-anak lain dengan rakusnya melahap buku-buku yang tercecer di atas tikar lipat. Buku-buku sengaja kusediakan sebagai bahan eksplorasinya akan sumber energi. Bahkan, kalimat-kalimat ajaib mereka saat di sungai. Kritis dengan penilaian 8.

Dadaku sesak saat memikirkan mereka. Tak sadar air mata merembes membasahi keyboard laptop yang membisu. Perlahan kuusap air mata kesedihan ini. Apakah Kesatria harus tumbang? Bagaimana nasib pantofelku yang mematung tak berharga?. Bertengger lungsuh di rak. 
                                  ***
Perkataan terakhirnya berupa kekecewaan kepadaku. “Apa? Kamu bilang aku nggak memahamimu?” Dia dengan tenaga dalamnya membalikkan tubuhku yang terlentang di atas kasur ke arahnya.

“Kamu ingatkan saat jadi guru honorer?” Tanyanya. “Aku nggak meminta sepeser uang darimu. Gajiku masih cukup sebagai karyawan di pabrik. Dan saat kamu sudah PNS, ketegasanmu menjadi-jadi kepadaku. Kamu suruh resign, aku manut Yah. Bahkan, kali ini kamu ngajak pindah, aku juga manut. Pagi hingga sore ngurusin Kakung. Harus berjauhan dengan Rafa. Aku manut Yah. Saat malam aku juga nggak ngeluh dengan aktivitasmu akan kertas-kertasmu”. Suara paraunya dengan mata yang membendung tangis.

“Tapi, nggak untuk tabungan kita. Ini untuk Rafa dan Zidan. Rafa sudah kelas 2 SMA. Bentar lagi mau kuliah. Cita-citanya konsisten hingga sekarang. Aku nggak mau mengecewakannya.” Perkataan penutupnya sebelum dia membelokkan arah posisi tidurnya berlawanan denganku. Dan meringkuk pilu dalam mendekap Zidan yang tertidur pulas.

 Aku terperenyak dari singgasanku. Terjerembab dalam hati yang bergemuruh. Entah bagaimana caraku melarutkan awan pekat atau petir yang siap menyambar. Aku bersimpuh dalam sujudku. Menangis tersedu-sedu dalam doa. Kesunyian malam begitu menyayat hati bagi setiap Hamba yang mengadu kepadaNya. 

Doaku kepadaNya agar dimampukan membuat laboratorium belajar untuk anak-anak. Sekolah tak lagi menjadi partner yang bisa kuandalkan. Pun, keluarga. Hanya bertumpu pada kekuatan kakiku. Maju atau mundur. Namun, aku dididik tidak mudah menyerah. Berkorban untuk kepentingan Bangsa. Merekalah aset Bangsa.

Hari-hariku tak terarah. Membuat list media pembelajaran. Disaat otoritas ini terbelenggu oleh ruang dan biaya. Alat peraga hingga buku-buku runut tertulis di lembaran kertas. Mencoba membuat proposal yang bisa kulayangkan pada pemerhati pendidikan. Komunitas Guru Belajar atau teman-teman seperjuangan di SDN 1 Manyar. Entahlah? Niatku tak sejalan dengan Pak Miswanto. 

Tingkah polahku membuat Kakung risau. Bahkan hubungan dingin dengan istriku memberikan kesimpulannya bahwa aku tak baik-baik saja. Hal inilah yang mengantarkanku pada pembicaraan cukup serius dengannya. Hingga aku harus meringkuk pada kedua kakinya yang bertengger di kursi roda. Dia mengeluskan tangan kanannya yang diangkat oleh tangan kiri pada kepalaku. 
Perasaan begitu kacau penuh bangga. Kakung yang bukan berprofesi sebagai guru. Kecintaannya kepada Bangsa begitu membara di tengah fisiknya yang rapuh. Dia mendonasikan tabungannya untuk pengadaan laboratorium pendidikan yang kurintis. Terpaksa kuambil sebagian. Tak ada kanal lain yang bisa kutempuh. 
                                      ***
Ilmu yang kuperoleh dari kota Pahlawan masih tersimpan rapi. Dengan donasi dari seorang prajurit negara. Aku memesan buku secara online. Dan mulai memainkan tanganku membuat media pembelajaran. Aku dibantu Zidan dan istriku yang tak awet marahnya.
Sebelum lampu hijau kembali menyala. Aku memantapkan hati bertemu dengan Pak Miswanto. Menenteng proposal yang kubuat berhari-hari. Aku tak peduli akan penolakannya kepadaku. Baik kehadiranku atau ideku. Sudah kupersiapkan ruang kosong untuk rasa kecewa yang mungkin datang.  

Kedatanganku menimbulkan dua muatan magnet. Muatan negatif yang belum memudar dalam hati guru-guru. Dan kerinduan teman yang membuat kelas riuh seketika. Aku hanya melambai dari depan pintu. Sebagai pembatas akan posisiku sekarang. Langkah gegasku penuh resiko. Tapi, jiwaku bukan pecundang. Melainkan seorang kesatria.

Dengan menarik napas yang dalam, aku melangkahkan kaki kananku ke suatu ruangan. Disnilah kuperoleh layang merah yang mematikan aktivitas mengajarku seminggu. Kedatanganku seperti sengatan listrik bagi Pak Miswanto. Pertama kuucapkan permohonan maaf akan sikapku yang bertentangan. Kedua penyampaian ide yang terabadikan dalam laporan proposal.

Penjelasanku mengalir seperti air yang menyusuri polanya. Tanpa risau keberadaan tebing yang siap menghentikan ideku. Mulai dari jenis-jenis media pembelajaran. Hingga bagaimana memperoleh bantuan perangakat pendidikan. Andaikan dia masih keras kepala. Biarlah bagasi Kakung menjadi tempat eksplorasi belajar anak-anak. Walau medianya hanya sebatas. Yaitu dari donasi Kakung.

Aku menyorongkan laporan proposal bercover biru. Tanpa sadar, sepatu pantofelku memecah kesunyian. Gerakan ambiguku menimbulkan bunyi berketuk. Perasaanku menggelegar saat dia mengernyitkan kedua alisanya yang tebal. 

 Seketika hatiku melolong. Kalimat malaikatnya keluar begitu indah. “Memang anak seorang prajurit tak bisa disepelekan.” Katanya sambil menutup laporan dan tersenyum lebar. Dan dia menganggukkan kepalanya. Simbol akan keberhasilan visiku.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bahagia dengan Menyibukkan Diri

Rindu

Rindu