Pencarian Semangkok Kolak
Pencarian Semangkok Kolak
Beberapa minggu yang lalu, aku dihadapkan pada keadaan pahit. Rasanya begitu pahit. Bagaikan meminum beberapa kapsul obat. Dengan ukuran yang lumayan besar. Seperti biji sirsak. Untuk memasukkan ke mulut butuh usaha ekstra. Begitu juga ku rasakan kala itu. Tuk ikhlas dengan keadaan yang mengejutkan. Di luar ekspektasiku sebagai pemuja liburan akhir tahun. Aku harus menerima keadaan bahwa ibu sakit. Penyakit lambungnya harus kambuh untuk sekian kalinya. Padahal, ekspektasiku pada liburan ini adalah meremajakan otak dengan berkunjung diberbagai tempat wisata. Nyatanya, nuraniku tak rela tuk memuaskan keinginanku.
Ibu terbujur lemas di atas kasur. Ya, kasur adalah tempat ternyaman baginya. Di celah pintu, ku lihat ibu terus berselimut kain tebal. Dengan memiringkan badan disebelah kanan. Jika lelah, ibu menggulingkan badan ke arah kiri. Dan suara batuknya membuat hati ini teriris saja. Ku memalingkan tubuh ini. Dalam hati memanjatkan doa tuk kesembuhannya. Bukan soal ingin memuaskan keinginan yang tertunda. Tapi, melihat ibu kembali sehat membuat jiwaku juga sehat.
Dalam situasi ini, aku berusaha menjadi pelayan ibu. Setiap pagi, ku tanya kepadanya, “Bu…ingin dimasakkan apa?”. Dengan mata layunya, dan tenaga yang pas-pasan hanya berucap, “terserah kamu saja”. Sontak, perkataan ini menambah kebingunganku. Aku berusaha masak dengan nuansa kuah dan tidak pedas. Kalaupun membeli masakan matang, ibu sering berkomentar tidak cocok. Dengan kemampuan koki pas-pasan ini, aku hanya berusaha meracik bumbu sesuai apa yang diajarkan oleh ibu. Ya, rasanya jauh dari racikan ibu. Tapi, ku perhatikan ibu menikmatinya walau hanya tiga atau empat suapan saja.
Sore harinya, aku bertanya kepada Ibu, “Bu…ingin makan apa?”. Aku sadar bahwa orang sakit pasti tidak selera makan. Terlebih, menu yang dimakan sama sejak pagi. Ibu meresponku dengan permintaan yang cukup menantang. “Aku kok pingin makan kolak.” Lantas, aku dengan gesitnya melihat jam dan mendongak ke langit. Penjual kolak yang biasanya lewat di depan rumah, tak nampak suara mangkok yang ditabuh dengan garpunya. Dan langit sedang mengeluarkan air mata cinta tuk menyuburkan bumi. Melihat keadaan yang tak memungkinkan keluar rumah, aku begitu ragu. Namun, memperhatikan ibu yang terus menutup diri di kamar, membuat jiwaku berkecamuk.
Aku meminta bantuan ke suami tuk menemaniku menelusuri jalan kota. Dengan bermodalkan jas hujan, kami berpetualang mencari semangkok kolak. Perjalanan di mulai ke arah Rumah Sakit Iskhaq. Alasannya adalah disana banyak kuliner yang berjejer di sepanjang jalan Rumah Sakit. Mungkin, akan ku temukan penjual kolak diantara kerumunan penjual yang menjajakan dagangannya. Satu per satu kulirik. Dengan mata yang begitu berat kubuka. Runtuhan air dari langit begitu deras. Rasanya pedas mata ini. Bagaikan ditetesi Insto berkali-kali. Namun, aku berusaha melirik dan mencermati apa yang dijual oleh pedagang. Mulai dari tulisan digerobak, hingga suami harus menghentikan mesin motor. Bertanya detail, apa saja yang dijual.
Ternyata pencarian di area Rumah Sakit tidak membuahkan hasil. Ada yang menjual kolak. Namun, isinya hanya roti dan bubur ketan. Padahal isian itu, memicu asam lambung ibu naik. Dengan menarik nafas, aku dan suami melanjutkan perjalanan ke arah Kepatihan. Mungkin disana kami menemukannya. Hujan terus mengguyur tubuh kami. Langit begitu menampakkan sisi gelapnya. Ku harap pencarian ini membuahkan hasil. Pun, waktu sudah mendekati waktu isya’. Pikirku saling tumpang tindih. Anakku belum makan malam. Sedangkan ibu terbujur lemas dengan penuh harap bisa melahap kehangatan kolak bercampur bubur sumsum. Tekanan penuh dengan tekanan. Bisa-bisa otak ini meledak jika disentil dengan perkataan yang menyayat.
Terlebih, suami sudah pasang vibes negatif. Soalnya, hingga perempatan masjid putih, pun tak ada yang namanya penjual kolak. Aku menarik nafas lagi. Mengeluarkan dengan penuh kerelaan. “Yah, kita runut lagi jalan ini”. Ku membisikkan suara di samping telinganya dengan nada yang cukup tinggi. Curah hujan ini melunturkan suaraku. Aku harus melawannya dengan notasi yang tinggi juga. Untungnya, suami mulai menyadari posisiku. Pun, dia juga pernah mengalami saat merawat Bapaknya yang sakit.
Sepanjang jalan hanya tampak penjual nasi goreng, aneka olahan mie, serta aneka olahan lauk yang digoreng. Memang, malam hari kebanyakan orang membutuhkan makanan berat. Ketimbang, kolak yang bercampur dengan bubur sumsum. Ya, andaikan pagi hari, aku tak susah mencarinya. Hanya mengucap “bismillah” doa yang terpanjat dalam diri. Aku menengok ke kanan maupun ke kiri. Sedangkan suami merendahkan kecepatan mesinnya. Raut mukaku telah terguyur air perjuangan. Hingga tangan ini begitu kaku. Saking dinginnya udara yang bercampur dengan guyuran air hujan.
Hingga di Sekolah Dasar Negeri Bago, kami terpaku pada suara mangkok yang ditabuh dengan garpu. Kami mengikuti gerobak yang di dorong oleh lelaki yang berbalut jas hujan. Mesin motor dimatikan seketika oleh suami. Aku turun dan memanggil , “Pak berhenti dulu”. Bapak itu, mendengar jeritanku dengan langkah kaki berat. Akhirnya, gerobak itu dihentikan yang diikuti dengan peletakan garpu di atas mangkok. Ku lihat nama gerobaknya adalah Angsle. Hampir mati kutu kudibuatnya. Ada rasa ragu antara membeli atau tidak. Karena namanya bukan kolak bubur sum-sum.
Sontak, aku melakukan wawancara bak seorang peneliti yang mengupas kandungan Angsle. Bapak dengan raut wajah yang tak muda lagi, memaparkan isian dari Anglse dengan penuh sabar dan senyum. Hingga, akhirnya aku memutuskan membeli satu porsi untuk Ibu. Isiannya bersahabat dengan lambung Ibu. Ada mutiara dan kacang hijau. Aku terpanah dengan kegigihan Bapak tua penjual Angsle. Di usia yang sudah lanjut, beliau tetap semangat mencari penghasilan sendiri. Walaupun anak-anaknya tak merestuinya berjualan keliling. Apalagi, kondisi saat ini, gelap yang bercampur dengan guyuran hujan. Ya, sembari melayani pembeli, beliau menjadi dalang dengan konteks cerita kehidupannya.
Akhirnya, aku mendapatkan semangkok kolak untuk ibu. Kolak yang masih panas, sekiranya tetap terjaga suhunya hingga sampai ke pemiliknya. Sudah terbayang wajah ibu saat menyeruput kolak hangat. Aku berharap beliau suka. Dan kebutuhan nutrisi dapat terjaga. Kolak dengan rasa manis dan gurih, mungkin dapat menghambat rasa mual yang menghantui ibuku. Di mana rasa mual itulah yang menyabotase pikiran ibu untuk tidak makan. Sungguh, perjuangan ini tak sia-sia. Aku tersenyum dan mengucap syukur pada Sang Khaliq.
Komentar
Posting Komentar