Membangkitkan Spirit Menulis
Membangkitkan “Spirit” Menulis
Salah satu komunitas yang ku ikuti adalah Sahabat Pena Kita (SPK). Komunitas ini mengajarkanku untuk terus berlatih menulis. Hingga, ada aturan setoran wajib setiap bulannya. Bukan soal uang kas, melainkan setoran menulis. Ya, menulis apa saja yang kita mampu. Dari berbagai uanggahan tulisan oleh kawan-kawan yang dishare di blog, tentu aneka ada ragam konten tulisan yang dapat ku baca. Mulai dari pengalaman keseharian, ilmu bermanfaat, hingga cerpen bahkan puisi. Olah kata dan rasa begitu terasa saat membaca tulisan kawan-kawan. Rasanya, aku semakin tertinggal saja.
Namun, lambat laun seiring dinamika kehidupan para penulis di SPK, tulisan mulai redup saja. Antara ada dan tiada. Aku sendiri sebagai petugas piket, dengan berat hati memberikan pentol merah kepada mereka yang tak setor tulisan. Hanya orang itu saja yang rajin setor tulisan. Sebut saja mas Woko, Pak Susilo, mas Roni dan beberapa lainnya. Setiap hari ada saja konten yang bisa ditulis. Mungkin jika dirunut, setiap bulan mereka dapat menghasilkan sebuah buku. Dari data setor tulisan wajib, memang sepintas warna hijau begitu nampak. Namun, hal yang paling menyedihkan adalah dominasi warna merah yang enggan pergi dari singgasana.
Tak lupa motivasi senantiasa diberikan oleh Prof Naim. Beliau begitu telaten dalam menggugah kami sebagai anggota SPK untuk spirit menulis . Memang, untuk konsisten menulis sangat sulit. Apalagi terbentur dengan permasalahan kehidupan. Maupun aktivitas lain yang kita padat merayap. Belum lagi, motivasi diri yang tak tahu bagaimana kabarnya sekarang. Ntahlah tak ada spirit lagi untuk menulis. Seringkali, beliau memberikan buliran motivasi melalaui tulisan. Saat membaca, timbul gejolak untuk menulis. Namun, saat hati melupakan apa yang baru saja dibaca, pun rasa ingin menulis kembali meredup.
Memang, aku sendiri sering bertanya-tanya dalam diri. Mengapa harus menulis? Apa keuntungan yang kudapat dikemudian hari? Sampai kapan aku menulis? Dan arahnya kemana tulisan yang kubuat? Sungguh, pertanyaan demi pertanyaan memojokkan aktivitas yang hendak kujadikan suatu habit. Segudang pertanyaan itu, bagaikan kritikan pedas yang melunakkan mental bajaku. Namun, ketika ku merenung. Ada benarnya aku meneladeni pertanyaan itu. Iya, aku menulis dengan segala hal yang terbuang. Baik, waktu, tenaga maupun pikiran. Bahkan untuk mencari suatu ide, aku harus mengeluarkan uang bulananku untuk membeli buku. Lantas, mengapa semua ini ku korbankan?
Saat, aku dirundung pada situasi terombang-ambing. Bahkan pudar sudah spirit menulisku, pun aku benar-benar berhenti dari menulis. Bahkan, aku menutup diri akan ide yang mungkin bersliweran dalam bayang-bayang kehidupanku. Seketika, ide itu aku usir. Mungkin mereka menyesal telah mampir dalam pikiranku. Mulailah aku memikirkan bagaimana membangun sebuah fatamorgana lagi. Tak tahu arah hidup ini. Dengan gelar yang begitu berat ku sandang. Namun, belum ada kejelasan kemana gelar tersebut akan berkiprah? Pikiran negatif terus menyerbu. Bahkan, mulailah timbul benih-benih kedengkian akan kesuksesan orang lain. Sesak juga ku pikirkan.
Aku mulai mencari titik terang akan gelapnya kekuatan negatif yang telah mendominasi alam bawah sadarku. Titik terang itu mengajakku untuk menata hati. Tekad untuk berani melangkah. Dengan keberanian inilah kegelapan itu memudar menjadi cahaya terang. Aku mulai menulis lagi. Walaupun, hidup ini tak jelas akan bermuara seperti apa. Namun, menulis memberikanku energi positif. Minimal aku kehilangan waktu untuk memikirkan masa depan yang tak jelas arahnya. Atau membelokkan hati ku untuk tak peduli dengan kehidupan orang lain. Karena aku fokus pada apa yang bisa ku tulis.
Ternyata, setelah perlahan-lahan menulis, banyak manfaat yang ku rasakan. Dan komunitas SPK ini bagaikan tempat relaksasi yang seru. Mulai dari berkurangnya waktu untuk hal-hal remeh. Ada penataan keuangan keluarga yang ku sisihkan untuk membeli buku. Hingga pembenahan rutinitas sehari-hari yang rentan akan masuknya hal-hal negatif. Pasalnya, aku ada seorang ibu rumah tangga. Yang sore harinya ada kesibukan memberikan bimbingan belajar. Lantas, waktu pagi hingga siang yang tak disibukkan oleh keriuhan anak maupun manjanya suami, bisa dengan mudahnya kanal digital menodongku. Untuk mengikuti ritme perkembangan informasi dunia, negara, hingga kehidupan orang lain. Dan itu memberikanku toxic pada mentalku. Untungnya, aktivitas menulis dapat kuandalkan. Tuk menjadi benteng akan serangan yang begitu menggila.
Bagi peselancar kanal maya yang berwatak rakus. Dia akan melahap semua informasi yang diunggah oleh para penulis di grub SPK. Tapi, kerakusan itu juga tak menjamin energi baginya untuk menulis. Ya, sebut saja silent readers. Dengan tanda pentol merah yang berjejer dekat sekali dengan namanya. Nama yang terukir pada list anggota SPK. Mungkin malah memperjelas akan keadaannya sebagai silent readers. Atau bahkan memperparah imunitas literasinya. Hingga membiarkan pentol merah terus bertambah. Dan akhirnya, hanya sebatas nama yang terukir pada grub yang luar biasa ini. Bukan lagi karyanya yang nampak. Hanya sebatas nama saja.
Apapun pertanyaan yang berjejer dalam list memori kita. Mari, kita terus menulis. Karena pertanyaan-pertanyaan itu hanya menjadi racun akan spirit menulis kita. Apapun tulisan yang dihasilkan. Yang penting selesai. Itu adalah karya yang selesai. Tutup mata kita sejenak untuk melihat ragam kekurangan pada tulisan yang dihasilkan. Bukan maksud menutup diri dari pengembangan kepenulisan. Melainkan membangkitkan dulu spirit menulis kita. Sebab, spirit menulis adalah gerbang utama untuk kita masuk ke kanal genre karya yang diinginkan. Jika sudah memiliki spirit menulis, kan mudah bagi kita mengembangkan skill kepenulisan. Atau membelokkan arah tuk memasuki genre kepenulisan yang lain. Ibarat spirit itu adalah energinya makhluk untuk bernafas, bergerak, bahkan berkehendak akan sesuatu.
Komentar
Posting Komentar