Ku Digoda OlehNya
Ku Digoda OlehNya
Dunia yang penuh ketidakpastian. Seakan membuat jantung berdetak dag, dig, dug. Sebut saja nasib putriku yang telah mengikuti ajang bergengsi. Di akhir tahun, Dinas Pendidikan yang bekerjasama dengan Genza, telah mengadakan olimpiade Sains dan Matematika tingkat Nasional. Pun, penjaringannya begitu ketat. Dia harus mengikuti tahap seleksi dari tingkat Kecematan. Jika lolos, akan mengikuti tahap berikutnya. Tertiba namanya masuk peringkat empat. Betapa hingar bingarnya aku sebagai ibu. Senyum manis terlukis pada wajah mungilnya. Namun, tepat pukul 13.15, gurunya mengatakan bahwa putriku tergeser ke urutan 6. Dengan dalih, ada peserta yang salah input identitas diri. Seakan, aku merasa lemas. Tuhan telah merebut kebahagiaan dengan durasi begitu cepat. Namun, gurunya memberikan sedikit nafas lega. Bahwa peserta yang terlanjur diumumkan, tetap mengikuti tahap selanjutnya. Tetapi, ini juga masih menjadi bahan pertimbangan dari panitia.
Masa menunggu akan nasib yang tergantung. Sungguh rasanya tak enak. Seakan aku dihadapkan pada dua kemungkinan. Di mana, mataku harus tertutup. Tubuhku sebagai budak harus mengikuti Sang Tuan. Kemana Tuan menggiring tubuhku ini. Dan aku tak ada daya tuk memilih. Bahkan sekedar tahu bentuk kemungkinan itu. Akhirnya, tanggal 9 Desember, ada pengumuman bahwa anakku masuk sebagai peserta seleksi tingkat Kabupaten. Wah, sungguh ini diluar ekspektasiku. Anakku berjingkat dengan senyuman yang merebak. Bagaikan bunga mawar yang mekar dengan sempurna. Sontak, kami melakukan diskusi panjang. Bagaimana mempersiapkan lomba ini? Durasi yang terlalu singkat. Sebut saja hanya 6 hari persiapan. Karena tanggal 14 Desember jadwal lombanya. Akhirnya, solusinya adalah setiap hari belajar disela himpitan jam ngajarku yang kian padat.
Di tengah persiapanku memberikan bimbingan ke putriku. Dan berbagai agenda yang tampak di depan mata. Bahkan persiapan liburan semester yang begitu dinanti. Anakku jatuh sakit. Tuhan mereguk kembali kebahagiaan yang singkat ini. Runtuh sudah harapan-harapan yang tersusun rapi dalam memori otakku. Tak ada tersisa, walaupun secuil harapan. Badannya yang panas, tubuhnya yang lemas, dan hanya nyaman berbaring di atas kasur. Sungguh, ku buang segala anganku. Aku hanya ingin anakku sembuh. Berbagai cara kulakukan agar demamnya turun. Hari pertama tampak ada peningkatan kesehatannya. Aku sedikit lega. Namun, keesokan harinya badannya kembali panas. Hal yang begitu menyayat hati adalah panasnya yang tak kunjung turun. Sebagai seorang ibu, seakan nyawaku diujung tanduk saja. Ku rela memberikan nyawaku, asalkan anakku sembuh.
Dalam sujudku aku menangis pada Tuhan. Merengek bagaikan anak kecil yang meminta permen lolipop. Namun, Tuhan belum memberikan permen itu kepadaku. Tuhan masih menyimpannya dengan erat. Sontak, aku memutuskan tuk membanya ke dokter. Aku pasrah jika anakku harus menjalani perawatan medis. Aku sadar tubuhnya butuh transfusi obat yang dapat masuk ke pembuluh darahnya. Sialnya, dokter ada rapat dengan seprofesinya. Hingga asistennya tak dapat melakukan panggilan via telefon. Dengan hati yang pasrah, ku telusuri jalan berliku ini. Udara yang kian dingin. Namun, otakku seperti air mendidih. Bagaimana aku harus bertahan dalam situasi ini. Coba tanganku kutempelkan pada jemari anakku. Rasanya, begitu hangat. Perjalanan ini hanya membuang waktu dan harapan.
Rumah yang kudambakan jeritan putriku saat bermain riang dengan keponakan, pun begitu menggaung. Jantungku terasa bekerja dengan kerasnya. Gawai yang biasanya menarik perhatianku, rasanya ingin ku buang saja. Aku hanya ingin putriku sehat. Waktu yang diberikan Tuhan kepada kami tuk bersua dengan Bu Dokter masih lama. Kami harus melalui 12 jam dalam kondisi ketidakpastian. Segala upaya ku lakukan. Mulai dari memberikan madu yang dicampur air hangat. Memberikan dia makan yang ditutup dengan setengah gelas air hangat. Dan kuselimuti seluruh badannya. Agar keluar keringat. Ku tempel dengan kompres. Tak lupa ku memohon pada Tuhan. Agar memberikanku permen lollipop yang telah diambilNya. Aku tak segan meneteskan beribu air mata. Berkali-kali permohonan kesembuhan putriku.
Saat melihat putriku tertidur dengan balutan selimut tebal, rasanya hati ini takut untuk mendekat. Perlahan aku memaksakan diri tuk mengecek kondisnya. Ku lihat ada butiran keringat membasahi kepala dan lehernya. Sontak, tangan ini tak sabar meraba suhu tubuhnya. Ya, panasnya menurun. Lega rasanya. Tangisanku menembus langit ke tujuh. Ku dapatkan permen lollipop yang sebelumnya disimpan oleh Tuhan. Ntah perasaan ini begitu berkecamuk. Antara bahagia dan takut jika Tuhan mengambil kebahagiaanku lagi.
Menjelang sholat subuh, ku raba lagi kondisi putriku. Ya, kondisinya tetap sama seperti tadi malam. Badannya sudah tak panas lagi. Aku benar-benar lega dengan peningkatan kesehatannya. Namun, hari menjelang Dhuha, badanku mulai meriang. Ah! Aku digoda lagi oleh Tuhan. Sembari menyelonjorkan badan di atas sofa, aku mengajari putriku materi olimpiade. Sesekali, aku memejamkan mata. Namun, putriku tak memberikan jeda tuk sebentar saja berselancar di alam mimpi. Pertanyaan demi pertanyaan disodorkan kepadaku. Ya, aku harus kuat. Hari ini adalah terkahir kesempatan belajarnya. Ku paksa tubuh ini kuat bertahan dalam menangkap tendangan pertanyaan yang tak kunjung usai.
Perjuangan ini harus berakhir di tahap seleksi tingkat Kabupaten. Perjalanan ke tempat tujuan yang jauh jarak tempuhnya. Dengan tubuhku yang butuh istirahat. Dan putriku dalam fase penyembuhan dari sakitnya. Ya, harus mengalami pahitnya kegagalan. Namun, ku apresiasi semangatnya, proses belajarnya hingga bagaimana dia dapat menyelesaikan soal-soal olimpiade dalam kondisi yang tidak terlalu sehat. Bagiku dia sudah melakukan yang terbaik.
Akhirnya, musim liburan tampak di depan mata. Aku dan dirinya saling berdiskusi. Apa saja yang ingin dilakukan saat liburan di Tulungagung. Ya, liburan sekolah memang ku manfaatkan bersinggah di tanah kelahiran. Disamping berkunjung ke destinasi wisata, kuliner, ke tempat permainan anak, pun menyenangkan hati kedua orang tua tak luput dari niatanku. Jujur saja selama menjalani bahtera rumah tangga di Trenggalek, nyaris taka da waktu tuk bersua dengan orang tua. Liburan sekolah adalah momentumku tuk membayar hutang waktu bersama dengan orang tua.
Saat tiba di Tulungagung, terlihat raut wajah ibu yang tak sehat. Layu, dengan tubuh yang lunglai. Ibu mengatakan bahwa penyakit lambungnya kambuh. Segala apa yang ku diskusikan dengan putriku harus terkubur. Aku perlahan memberikan pengertian pada putriku bahwa waktu liburan ini digunakan untuk merawat Ibuku. Putriku mengangguk dengan raut wajah yang tak berseri. Aku harus membagi waktu antara pemberian perhatian kepada Ibu maupun anak. Untungnya keduanya bisa memahami keterbatasanku. Sesekali ku ajak putriku kuliner di Gacoan. Pun, itu menjadi pengganti seabrek ekspektasi yang telah dibangun. Aku juga menyempatkan waktu sore mengajak ke BRAVO. Ku lihat dia enjoy dengan permainan japit boneka.
Peristiwa demi peristiwa ini hanyalah bagian dari godaan Tuhan kepadaku. Tuhan tak benar-benar mengambil selamanya akan kebahagianku, harapanku, bahkan ekspektasiku. Tuhan hanya ingin menggodaku saja. Mungkin Tuhan rindu akan tangisku dalam sujud. Mungkin, Tuhan rindu akan rintihan doaku. Ketika ku berada di titik kepasrahan, Tuhan mengembalikan lagi apa yang telah diambil olehNya.
Komentar
Posting Komentar