Langit Tak Bersahabat

                 Langit Tak Bersahabat


Beberapa hari yang lalu, tampak penampakan kosmis yang begitu muram. Aku tak berani melirik. Apalagi sengaja mendongak. Wajahku yang belum tersentuh facial foam. Hanya bisa pasrah akan nasibku sebagai pengantar anak sekolah. Berkali-kali aku melangkah gegas ke teras. Berharap Sang Surya mengucap salam pagi kepada penduduk bumi. Nyatanya, Sang Surya masih tertidur lelap. Hanya ada pemandangan kelabu yang terukir di langit. Bahkan, suara gemuruh yang berpola tengah menunjukkan alam tak baik-baik saja. Tapi, aku tak merasakan sentuhan air hujan. Ku lihat, hujan juga belum turun ke bumi. 

Pukul 6 pagi, adrenalin ini terasa terusik saja. Apalagi anakku yang tengah dumel sembari menata buku. Sesekali menengok jam, bahkan mendongak langit. Energinya semakin kuat saja. Wajahnya tampak seperti benang kusut saja. Langkah gegasnya menunjukkan ia ingin menyudahi aktivitasnya. Sarapan bak seperti latihan militer. Padahal aku yang tengah melenggangkan kaki di atas kursi, tak menyarankannya mereguk rakus hidangan yang ku sajikan. Dengan ketusnya ia memerintahku tuk mengganti baju. Tubuhku spontan jumpalitan saja. 

Anakku tipikal yang tak ingin ribet. Apalagi kusuruh mengenakan jas hujan. Wajahnya yang manis seakan tertumpah air jeruk nipis. Kecut melihatnya. Apalagi melihat bibirnya menyor, membuatku harus mengambil nafas dalam-dalam. Agar tak memuntahkan emosi yang terpendam dalam relung hatiku. Pun, pukul 6 lebih 20 menit, kami bergegas melakukan perjalanan ke sekolah. Jarak yang cukup jauh, terasa diundi nasib kami. Guyuran air dari langit dapat datang dengan tiba-tiba. Kuucapkan bismillah sebelum mesin kunyalakan. 

Di sepertiga perjalanan, aku merasa kulitku ada yang meraba saja. Dingin dan cair. Langit mulai memuntahkan isinya. Kecepatan ini harus ku tambah. Antar pengendara motor saling berlomba-lomba. Aku yakin, sebagai komunitas pengendara motor tak ingin menghentikan mesin sejenak. Hanya sekedar menutupi tubuh dengan jas hujan. Ntah, rasa apa ini. Padahal itu penting. Namun, rasa malas tengah mengguyur para pengendara motor saja. Pun, jalan pintasnya adalah meningkatkan kecepatan mesin.

Akhirnya, kami tiba di sekolah. Hanya ada putriku dan seorang siswa TK. Aku dengan gegasnya membelokkan motor tuk meneruskan perjalanan. Ibu rumah tangga yang tak punya tanggal merah. Walau dihadapkan pada alam yang tak bersahabat. Harus masak untuk keluarga. Ke pasar adalah alternatifnya. Banyak bahan olahan yang tersedia. Namun, lagi-lagi aku harus bertarung melawan situasi alam. Betapa langit semakin muram saja. Gemuruh saling sahut menyahut. Bagaikan sepasang kucing yang sedang memadu kasih. 

Aku terengah-engah dalam situasi genting. Pasalnya, jalanan tak bersahabat. Masing-masing pengendara berpacu melawan alam. Ingin segera melabuhkan diri ke suatu tempat. Tempat yang menjadi tujuan para pengendara. Berkali-kali harus mengerem motor. Pengendara lain yang dipacu oleh situasi, sering bertindak sembrono. Jantungku seakan diuji. Inilah yang membuat nafasku terengah-engah dalam wajah tersumpal masker. Ditambah lagi kepala tertutup helm. Sesak rasanya.

Perjuangan ini berakhir pada belokan kanan dari arah tikungan warung mie ayam. Disanalah tempat pedagang mengais sebutir beras. Para pembeli berjubel. Memilih aneka sayur maupun lauk. Para pedagang tak henti mempromosikan dagangannya. Walau dagangannya sudah ada yang membeli. Semakin banyak pembeli, semakin cepat dia kembali ke rumah. Aku yang masih bingung memasak apa. Tiba-tiba ada seorang ibu yang menyerobot posisi tubuhku dihadapan penjual. Tubuhku terpental ke belakang. Aku dengan ikhlasnya melanjutkan ritual memilih olahan masakan.

Akhirnya, tumpahan air dari langit tak dapat terbendung. Seketika pasar semakin riuh saja. Pedagang dengan gesitnya menyelamatkan dagangannya dari ancaman air. Komunitas ibu-ibu semakin bekeluh. Pikirannya bercabang. Jika harus pulang, dia harus merelakan tubuhnya diguyur air hujan. Jika menunggu hujan reda, dia harus merelakan keluarganya kelaparan. Hanya berkeluh dan menunjukkan wajah cemas. Sembari membopong belanjaannya. Seperti anak yang dicintai. Karena belanjaan itulah sebagai pengisi perut seluruh keluarganya.

Aku yang berdiri tegap, melihat situasi luar. Ku lihat ada pedagang rempah yang tengah bersandar pada payung yang berdiri tegak. Ada besi yang menopang penahan dari guyuran hujan. Mata yang mengarah pada bumi sebagai wadah guyuran air. Seolah menandakan dia dalam kondisi tak baik-baik saja. Ntah apa yang dia pikirkan. Dagangannya masih banyak. Aku hanya bisa menatapnya penuh belas kasih.

Disituasi lain, kulihat ada seorang ibu rela bertarung melawan hujan. Agar keluarganya tak berlarut menahan perihnya perut. Sebagai kontraksi dari lambungnya. Basah kuyup tak jadi masalah besar. Kebutuhan perut bukan masalah remeh. Tak dapat dijeda. Walau hanya beberapa jam saja. Melihat langit yang semakin mengelabu. Sulit memprediksi kapan hujan reda. 

Akhirnya, hatiku terperenyak. Kakiku sulit kukendalikan. Mendorongku tuk ikut menikmati guyuran air hujan. Jarak yang lumayan jauh dari tempat berdiriku. Membuat pakainku tak dapat menahan rembesan air ke tubuhku. Aku yang tiba dikendaraan kecilku dengan sigap membuka jok montor. Kujumpai jas hujan. Tanpa bertele-tela, aku mengenakannya. Dan aku mulai membelokkan ke arah kiri. 

Inilah perjuanganku dipagi hari. Selayaknya seorang ibu pada umumnya. Rela basah kuyup demi mencukupi kebutuhan perut keluarga. Pagi ini langit tengah memuntahkan isinya. Lebat, hingga tanganku terasa sakit menahan guyuran hujan. Bahkan, berkali-kali aku harus mengelap helm. Kacanya begitu buram. Sulit ku melihat situasi di depan. Sialnya, berkali-kali aku harus terkena terjangan air dari suatu genangan. Akibat pengendara lain melaju kencang tanpa rasa bersalah. Menikmati nasib adalah pilihan utama. Dan fokus pada tujuannya. Yaitu sampai ke rumah dengan selamat.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bahagia dengan Menyibukkan Diri

Rindu

Rindu