Sisi Gelap Sebuah Perjalanan

               Sisi Gelap Sebuah Perjalanan


Pagi ini aku melakukan perjalanan seorang diri. Walaupun, sudah beberapa Minggu ada rencana menginap berasama Putriku. Di rumah masa kecilku yang penuh kenangan. Beginilah nasib dari rencana yang telah terundi. Pada akhirnya jatuh pada mata dadu berbeda. Yang menimbulkan rasa kecewa bagi Putriku. Ini adalah sebuah pengambilan keputusan dari berbagai asumsi yang terselubung dalam hatiku. Faktor cuaca adalah palu penghancur akan niatku yang sudah kokoh. Retak dan akhirnya roboh juga. “Hmmm… maafkan Ibu ya” ucapku kepadanya seraya memeluk erat tubuhnya yang mungil.

Perjalanan ini ternyata tidak mudah tuk dilalui. Jalan yang berkelok, pas hari Sabtu, pun intensitas kendaraan yang berlalu lalang semakin banyak. Apalagi bis dengan muatan penumpang yang hendak meinkmati suasana pantai. Membuat aku harus berhati-hati dalam menetapkan kecepatan berkendara. Saat aku hampir berada di rute akhir kota durian, pun harus menghentikan laju berkendara. Empat ekor angsa menyeberang jalan tanpa rasa berdosa. Menggoyangkan tubuhnya bak seorang penari. Dengan gemulai sambil berceloteh satu sama lain. Bukan aku saja yang toleransi. Sopir elf pun juga menyadari akan model penyeberang kali ini. Tanpa membunyikan klakson, keempat angsa bak seperti penguasa jalan.

Aku anggap peristiwa angsa adalah sisi gelap perjalananku. Ternyata ini masih bercabang. Bis dari arah timur menyalip kencang tanpa memperhatikan keberadaanku disisi barat. Akhirnya, aku harus mengalah. Membiarkan bis itu melahap jatah jalanku. Aku terseok di pinggir aspal. Tetapi, keseimbangan tetap ku jaga. Agar pengorbananku tidak berujung pada luka tergores hingga menjadi sebuah kenangan pahit dalam cerita hidupku. Aku meneruskan misi perjalanan yang masih seperempat bagian ini.

Ternyata, semakin ku telusuri rute perjalanan ini, semakin aku tertantang akan berbagai hantaman yang siap melempar ke arahku. Jalan tampak padat merayap. Lalu lalang kendaraan dari kecil hingga besar seakan menampakkan eksistensinya. Saling salip menyalip. Tak lihat seberapa banyak yang dia makan demi kesusksesan menyalip kendaraan di depannya. Aku yang bertubuh kecil dengan kendaraan yang kecil juga. Mungkin, seperti tak dianggap aja. Motor depan yang menyalakan lampu riting sebelah kiri, tiba-tiba belok menyeberang ke arah kanan. Jantung rasanya mau copot saja. Yang menyedot sebagian energiku. Hingga aku merasa lemas saja.

Senam jantung tidak berhenti pada satu peristiwa. Ada mobil putih mulai menurunkan kecepatan. Dan disusul memberikan isyarat belok kiri. Aku dengan refleksnya membelokkan motor ke arah kanan. Tiba-tiba dari arah utara ada pengendara motor dengan kecepatan tinggi melaju kencang ke arah selatan. Dia hendak menyalip mobil besar. Ku syukuri, masih diberikan keselamatan. Aku melaju bagaikan arah garis lurus yang tak berbelok walau sejengkalpun. Andaikan itu terjadi, nasib malang bisa menghantamku. Sungguh, etika berkendara begitu kering. Orang tak memperhatikan nasib pengendara lain. Yang dipikirkan adalah keegoisan dan eksistensi diri sebagai penguasa jalan.

Semakin ke utara, semakin ada rasa mawas diri. Trauma adalah sisi gelap perjalananku. Padahal, perjalanan dapat mengendorkan pikiran. Dengan menikmati perjalanan dan lalu lalang kendaraan maupun aktivitas orang. Namun, ini memberikan tegangan pada sel saraf otakku. Bahkan guncangan pada denyut jantungku yang sebelumnya normal. Ya, semakin ke utara jalan semakin lebar dan berimplikasi banyaknya kendaraan besar yang melintas. Aku mengurangi kecepatan berkendara. Sembari memperhatikan kendaraan yang melintas di depanku. 

Akhirnya, aku sampai di rumah masa kecilku. Walaupun harus berjalan merangkak. Yang terpenting adalah keselamatan. Kuatur napasku. Ku gerakkan tangan, leher dan pinggangku. ku taruh helm yang membungkus kepalaku. Ku geser kaki kananku ke bawah. Dan aku berjalan dengan sisa energi yang terkuras untuk menemui IBU. Melihat senyuman beliau, bagaikan alat elektronik yang terisi full baterai. Seketika, lelahku, traumaku runtuh. IBU adalah penangkis dari memori sisi gelap perjalananku

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bahagia dengan Menyibukkan Diri

Rindu

Rindu