Pisau Tumpul

                       Pisau Tumpul


Setiap rumah memiliki benda yang bernama pisau. Ada bagian yang berfungsi sebagai pegangan. Biasanya terbuat dari kayu atau bahan plastik. Dan bagian intinya adalah bilah piasu. Permukaan bawah tipis dan tajam. Menjadikan pengguna siap memainkannya sesuai kebutuhan. Ujungnya yang runcing begitu menakutkan. Pun, harus berhati-hati dan tidak lengah saat menggunakan. Karena dapat menyisakan luka pada kulit luar tubuh kita. Tumpahan darah yang merembes, membuat kita trauma saja. Tapi, keberadaannya begitu penting. Walaupun, tangan yang tak berdosa ini harus bekali-kali merasakan sayatan bilah pisau. Nyatanya, setiap rumah selalu menyediakan pisau.

Pisau baru memanglah masih tajam. Bahkan untuk memulai gerakan pada objek yang kita belah, pun penuh rasa kehati-hatian. Saking tajamnya, kita menaruhnya di tempat yang aman. Atau karena faktor baru beli bak merawat seperti bayi. Di cuci setelah memakai, bahkan di lap demi menjaga keterjagaan dari karatan. Begitu sayangnya Sang Tuan sayang kepada benda kesayangannya. Namun, lambat laun, kinerjanya tak setajam awalnya. Akan bertransformasi menjadi pisau tumpul. Jika tak di asah menggunakan batu asah. Bahkan ironisnya pisau dibiarkan oleh Sang Tuan hingga berkarat. Dan akhirnya di buah ke tempat pembuangan.

Transformasi pisau tumpul sering kali terlihat disekitar kita. Namun, kita mengganggap hal biasa. Atau jangan-jangan itu terjadi pada diri kita. Atau kita tidak tahu akan fenomena pisau tumpul. Sebut saja dunia kerja atau pelajar misalnya. Pastinya awal masuk menjadi pekerja maupun pelajar, semangatnya begitu membuncah. Bak pisau yang dengan nyentriknya mampu membelah kue dengan sangat halus. Tanpa ada sedikitpun lubang-lubang kecil yang memperlihatkan sayatan buruk. Lambat laun, energi penggerak pun memudar saja. Bisa dikatakan matahari mulai memposisikan diri di sebelah barat. Ironisnya menunjukkan perilaku baik saat waktu penting. Urusan adiministrasi misalanya. Tanpa disadari perilaku ini mengarahkan pada muara pisau tumpul. Mandek berinovasi.

Mungkin, bagi mereka yang tengah duduk pada singgasana nyaman atau pekerjaan tetap. Perihal pisau tumpul bukanlah suatu momok yang menakutkan. Berbeda dengan pekerja lepas, bahkan wirausahawan. Pun, tiap saat harus diasah akan skill maupun upgrade diri yang disesuaikan dengan perkembangan zaman. Agar daya kreativitasnya tetap terjaga tajam. Karena tumpuan hidupnya tergantung pada bagaimana dia mampu mengikuti perkembangan zaman. Namun, bertolak belakang pada mereka yang duduk di zona nyaman. Menunggu waktu pulang dengan aktivitas asal-asalan. Tanpa project yang jelas. Besoknya pergi kerja, dan duduk manis sembari menunggu jam pulang lagi. 

Fenomena tersebut bukan asing melainkan lumrah. Asing jika seseorang berdedikasi tinggi terhadap pekerjaan yang digelutinya. Padahal yang namanya pekerjaan pasti ada masa pensiunnya. Sedangkan, dunia terus berkembang hingga tak mampu memprediksi arahnya. Dan masa pensiun merupakan tantangan nyata ketika kita memiliki habit menolak berinovasi. Lantas setelah menjadi pisau tumpul akan diapakan? Diasah supaya tajam kembali? Padahal dimasa pensiun, pisau sudah mengalami karat. Kalaupun diasah, itu butuh waktu lama. Sedangkan, dunia tak pandang usia. Dunia akan meninggalkan kita. Ketika kita tak mampu mengimbangi tuntutannya. 

Lantas, bagaimanakah kita? Bukan soal menyiapkan masa pensiun. Melainkan, manusia dengan kedigdayaannya mampu memerintahkan otak kecil untuk terus belajar. Paling tidak bekerja dengan sungguh-sungguh. Jalan itulah yang mengantarkan pada aliran arus berinovasi. Melalui problem yang terjadi, setidaknya otak dipaksa untuk berpikir, tubuh untuk bergerak, sikap cekatan, intuisi akan munculnya masalah. Habit itulah lambat laun menjaga stabilitas skill kita. Dan menghindarkan diri yang namanya tumpul berpikir dan berinovasi. Tentu, kita tidak memiliki cita-cita menjadi pisau tumpul dimasa pensiun. Atau bahkan dimasa produktif sekalipun. Dunia dengan perkembangannya masih membersamai kita. Jika dunia meninggalkan kita, bagaimana kita bertahan?  

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bahagia dengan Menyibukkan Diri

Rindu

Rindu