Menelusuri Lorong Subuh
Menelusuri Lorong Subuh
Sebelum adzan berkumandang, hati seolah tersengat listrik. Hingga tubuh yang lunglai ini bangkit dari mimpi indah. Walaupun, kenyataannya malam itu tak bersanding dengan orang tersayang. Sebut saja anak dan suami. Aku yang dilema antara pulang atau bermalam di rumah orang tua, memberikan suatu ketidakpastian dalam diriku. Jika aku menuruti orang tua, hampir dipastikan aku akan terbebas dari ancaman nyawa yang tengah memburu. Pasalnya, sore itu hujan turun dengan lebatnya yang disusul dpetir yang tak henti-hentinya menyambar. Jika aku menuruti hatiku tuk berkumpul dengan keluargak, entah bagaimana nasibku diundi pada perhelatan hujan yang mengguyur dengan alunan petir yang kian mencekam. Tentu, pagi buta ini energiku seolah terisi penuh. Walau belum ada sebutir nasi masuk dalam kerongkonganku.
Akhirnya, aku bersiap untuk meluapkan rasa rindu yang kian membara. Rindu akan tawa Sang Anak, rindu akan sikap manja suami, rindu tuk merangkul tubuh mungil Sang Anak, dan rindu lain yang tak dapat kudefinisikan. Namun, abstraksi ini memenuhi jiwaku. Hingga aku tekad “menelusuri lorong subuh” sendirian. Hanya bermodalkan jaket tuk menghangatkan tubuh, penutup area hidung dan bibir, dan kututup dengan helm. Tak lupa, kedua tanganku memohon restu akan keselamatan. Orang tua adalah jimat kehidupanku. Tutur kata, ridhonya, dan doa yang terucap menembus langit ketujuh. Makanya, kemarin aku lebih memilih saran orang tuaku daripada egoku tuk berkumpul dengan suami dan anak.
Berawal dari perjalanan menuju jalan raya. Sepi, gelap, dan tenang. Pintu rumah pada terkunci. Hanya melihat orang yang keluar dari masjid. Dengan mengenakan atribut ibadah yang nampak adem saat melihat. Angin terasa malu saja melihat perempuan mungil ini melaju dengan kencangnya. Yang kurasa adalah dinginnya embun pagi. Seolah awan jatuh didasar bumi. Pandangan jalan ini bagaikan lorong saja. Dan nampak terang saat berhadapan dengan lalu lalang kendaraan besar di jalan raya. Artinya, aku mulai tertantang pada situasi yang lebih rumit. Ya, menelusuri lorong yang kian melebar.
Aku pikir, kala subuh semua penghuni jalan menunjukkan sikap humanis. Nyatanya itu hanyalah bualan belaka. Antar pengendara saling salip menyalip. Bagaikan pertandingan motor GP saja. Masing-masing memiliki visi yang ingin cepat dikejar. Meraup rezeki kah atau visi lain sepertiku. Ingin segera melihat wajah orang tersayang. Di gelapnya subuh, tampak sepasang suami istri sedang jalan pagi. Saling berpegangan tangan dan bercanda. Aduh, membuat iri mata memandang.
Saat berada diperempatan lampu merah RSUD Dr. Iskhaq, aku terperangah. Lampu lalu lintas mati. Aku harus menyeberang dari tiga jalur kendaraan yang melaju. Hidup dan mati seakan diundi. Ditambah lagi lampu jauh dari kendaraan yang kunaiki tidak begitu optimal sinarnya. Hanya mengucap “bismillah” sembari menengok kanan dan kiri, depan dan belakang. “Ya Rabb…aku hanya ingin pulang ke rumah” rintihku dalam hati. Aku bernapas lega setelah melewati bencana besar yang bisa saja menyambarku dengan brutalnya.
Ku telusuri lorong subuh ini dengan sikap hati-hati. Namun, dengan kecepatan 60 km/jam. Bagiku itu ukuran yang melebihi batas kebiasaanku. Saat jalan ini hampir menuju perempatan Bank Jatim, hati mulai dag-dig-dug saja. Tapi, cahaya merah meluruhkan takutku. “Hamdalah lampu traffic light berfungsi” gumamku. Tekanan adrenalinku menyusut. Jantungku berdebar normal. Aku berhenti dikala lampu menyala merah merona. Sembari kutata tubuhku yang sempat melemas. Akibat rasa takut yang timbul begitu saja. Akhirnya, ku belokkan beat putih ini ke arah kanan. Kelihatannya jalur kanan lebih aman bagi kemampuan berkendaraku yang minim.
Seperti melihat kota mati saja. Jalur arah PEMDA ini sepi akan aktivitas orang. Jikalau pagi hari, banyak rentetan penjual makanan yang dijajakan. Palagi siang hari yang tak pernah sepi dari gerombolan para penikmat kuliner. Ya, kala subuh ini begitu sepi. Aku menikmati perjalananku. Hingga aku berbelok kiri ke arah para gedung-gedung yang memberikan sumbangsih akan perputaran ekonomi. Sayang, semua toko pada tutup. Dan gelap menyelubunginya. Hanya ada aktivitas orang pejalan yang hendak menyehatkan badannya.
Lagi-lagi aku dihadapkan pada situasi yang mencekam lagi. Bahkan ini lebih gila lagi. Jalur perempatan yang dihimpit pada gedung bertingkat dan melebar, seakan aku tak bisa memprediksi kapan ada kendaraan yang melaju kencang atau kosong. Nyaliku tertantang lagi. Hanya keyakinan akan doa yang terpanjat dari orang tua. Sembari menengok ke segala arah, akhirnya aku terbabas lagi dari cengkeraman kecelakaan yang menghadang. Aku heran, “mengapa kala subuh lampu traffic light banyak yang mati?”. Padahal subuh adalah waktu sengit bagi para pencari rezeki. Pun, jika tak berhati-hati, nyawa menjadi korbannya.
Aku benar-benar bernapas lega. Pasalnya, jalur hitam sudah terlewati. Kini aku tinggal menikmati perjalananku dikala subuh. Aku menuju arah selatan dengan menambah kecepatan lagi. Karena jalan benar-benar sepi. Namun, konsentrasi harus tetap ku jaga. Seringkali aku melihat kaca spion. Melihat bagaimana keadaan belakang. Namun, konsentrasi utama adalah pandangan depan. Hanya bermodalkan lampu yang tak begitu terang. Sikap kehati-hatian adalah kunci keselamatanku.
Jalur selatan ini semakin ramai saja. Banyak pasar yang berjejer di sepanjang jalur selatan. Kecepatan berkendara mulai ku kurangi. Terdengar suara orang yang asyik berdialog. Walau terdengar samar-samar. Suaranya melengking seakan memakan kendaraan yang berlalu lalang di lorong lebar ini. Berkumpulnya ibu-ibu memanglah bukan hal yang aneh. Suara melengking itu bagaikan perempuan adalah penguasa subuh. Walaupun keadaan masih gelap, namun dunia terasa hidup dengan aktivitas para pencari rezeki.
Akhirnya, tak terasa aku sampai di pom bensin bandung. Tampak jarum berada di step ke dua dari bawah. Mengisi bensin adalah keputusan yang benar. Disamping masih sepi pelanggan, pun sebagai stok bahan bakar sepekan. Seringkali di tempat tinggalku, pertalite habis terjual. Hingga aku menaikkan level mengisi pertamax dengan hati yang berat. Maklum, perempuan harus perhitungan akan segala yang dibelanjakan.
Aku mulai menelusuri lorong pegunungan. Tampak matahari tidak percaya diri bersua dengan penduduk bumi. Dia muncul hanya sinarnya yang tertutup oleh awan. Tampak, jalan begitu basah. Artinya, kemarin sedang turun hujan. Untungnya aku menuruti orang tuaku. Jika menuruti hatiku, sepanjang jalan aku diguyur aliran air yang tak pernah henti menghujani. Mungkin sekarang sudah jam lima lebih. Aku sudah terbebas dari perasaan takut yang mencekam. Kini aku mulai melebarkan senyum. Pintu rumahku sudah terbuka. Dengan disambut kedua mertuaku yang tengah bergelut dengan aktivitas paginya. Dan hal yang ku nantikan adalah sepasang mata dari kedua orang tersayang. Kami berdesak-desakan pada kasur sembari bercengkerama. Hilang sudah lelahku, hilang sudah rinduku.
Komentar
Posting Komentar