Mencari Sesuatu dalam Lembaran "Tanpa Rencana"
Mencari Sesuatu dalam Lembaran “Tanpa Rencana”
Sebenarnya aku masih penasaran dengan series “Supernova”. Namun, penasaran itu tertahan akan visiku. Ya, visi mengembangkan literasiku. Hari-hari kuwarnai dengan lamunan. Andai aku bisa menulis ini dan itu. Andai aku memiliki karya yang terpajang di rak toko buku. Ah, itu hanya lamunan. Anak kecil pun lebih piawai. Dan aku udah kepala tiga puluh an. Sungguh, tak ideal dengan umurku yang semakin menua. Lantas, aku mulai memanikan jemariku. Buka IG dan klik nama Dee Lestari. Ku lihat foto profilnya, lantas ku follow. Beberapa detik, aku bisa melihat aktivitas beliau. Dari “Supernova” ini aku menjadi tertantang meneguk pengalaman menulis Sang Mega Bintang Literasi.
Kebetulan, Dee tengah melaunchingkan buku terbarunya. Judulnya “Tanpa Rencana”. Sekilas, buku tersebut dibuat tanpa ada rencana yang pasti. Bahkan rancangan yang biasanya dilakukan oleh penulis. Ya, dari judul buku tersebut, ada gambaranku akan proses kreativnya. Awalnya bingung sih. Pilih series selanjutnya dari Supernova atau Tanpa Rencana. Akhirnya, hatiku memantapkan diri tuk membeli Tanpa Rencana. Dari caption para pembaca, kelihatannya menarik. Karena disampulnya tertulis “kumpulan cerita” otakku seakan terkoneksi. Muncul berbagai premis.
Kembali ke visi awalku. Mengembangkan literasiku yang semakin redup. Bak kompor yang sumbunya semakin pendek. Jika sumbunya habis, mati sudah cahayanya. Begitu juga dengan spirit literasiku. Perlu ada simpul yang diikat kuat dengan suatu gulungan tali. Sehingga akan menghasilkan nyala yang lama. Gulungan itu adalah himpunan dari benang-benang para tokoh literasi. Yang tak pernah mati akan karya-karyanya. Sebagaimana Dee Lestari. Karya-karya beliau senantiasa bermunculan. Walaupun pernah berhenti sejenak. Namun, ada upaya tuk menghasilkan karya lagi.
Buku yang memuat 207 halaman menyusupkan ide baru bagiku. Bahwa menulis itu luas. Tak hanya berkutat pada teoritis, novel, cerpen, atau puisi. Bahkan, cerita tentang keadaan kita. Apa yang kita rasakan dapat dikonkritkan dalam bentuk tulisan. Dan itu menyentuh bagi pembaca. Karena tulisan itu seakan hidup. Mengajak pembaca ikut merasakan apa yang ditulis oleh penulis. Interaksi yang terjalin menghasilkan senyum, bahkan air yang merembes di kedua mata. Itulah interaksi antara pembaca dan tulisan. Di dalam buku ini ada berbagai jenis tulisan yang terhimpun dalam satu buku. Seperti cerpen, catatan pribadi, puisi, bahkan cerita tanpa karakter. Lengkap sudah bagi pembaca amatiran sepertiku.
Aku yang masih bayi sebagai penulis, harus memperbanyak diri mengkonsumsi buku. Dan diimbangi aktivitas motorik dengan menulis. Itulah faktor yang mendukung tumbuh dan kembang literasiku. Sehingga dapat bermetamorfosis menjadi penulis dewasa. Salah satu buku yang kubaca adalah Tanpa Rencana. Jujur aku menaruh hati dengan sosok penulisnya. Misalnya, cerpen yang dituliskan. Saat membaca judulnya, pembaca dibuat bertanya-tanya. Apa isi ceritanya? Saat membaca awal cerita. Bagaimana kelanjutannya? Saat membaca ditengah-tengah. Oh…ini maksud judulnya. Saat membaca akhir cerita. Rasa kagum, bahkan terkecoh dengan asumsi kubangun sendiri.
Dee Lestari mampu membuat pembaca mendapatkan berbagai pengalaman menarik. Mulai dari sedih, greget, hingga terpingkal – terpingkal. Yang terangkum dalam sebuah buku. Ibarat kita makan seblak dengan paket komplit. Ada rendaman kerupuk, potongan bakso, aneka sosis, sayuran, dan telur. Yang tersaji pada mangkuk mewah. Sehingga, pembaca seakan menikmati hidangan mewah yang penuh rasa. Memang, Tanpa Rencana ditulis tanpa adanya rancangan. Secara spontan atau dapat inspirasi dari orang lain. Bahkan berupa catatan ringan yang mungkin diselesaikan sekali duduk. Tapi, pembaca dapat melahap isinya dengan beragam cita rasa.
Selain itu, aku menemukan banyak kosakata baru. Seperti, mereguk yang artinya meminum, menautkan dan lain sebagainya. Di mana salah satu kendalaku dalam mengkonkritkan apa yang ingin kutulis adalah kehabisan kosakata. Ini begitu mengganggu proses menulisku. Bahkan pernah aku menulis satu paragraph saja membutuhkan waktu hingga setengah jam lebih. Melelahkan, bahkan sebal sendiri dibuatnya. Jika tengkorak ini lunak. Bagaikan bahan balon. Mungkin bisa meledak saja. Tekanan menulis itu kadang memberikan rasa trauma. Ya, karena apa yang kita inginkan tak dapat dirangkai dalam sajak. Sehingga, butuh banyak perbendaharaan kata.
Dari buku ini aku belajar banyak. Bahwa menulis itu luas. Bahkan tulisan sederhana bisa terasa mewah. Jika dikemas dengan pemilihan diksi kata yang baik. Tulisan yang beralur. Dan dihidupkan oleh kecermatan lima indra penulis. Mulai dari peraba, pendengaran, penglihatan, rasa hingga penciuman. Tulisan yang hidup inilah, akan mampu mengajak pembaca berinteraksi. Hingga tak sadar sudah melahap berlembar-lembar di buku ini. Bahkan timbul rasa penasaran hingga ketagihan. Aku sebagai salah satu pembaca tak ingin melewatkan satu lembarpun. Karena sayang, jika cerita yang baca terpotong. Bagai sanad yang tak tersambung. Karena telah membuang bagian dari buku ini.
Komentar
Posting Komentar