Bukit di Pojok Kamar
Bukit di Pojok Kamar
Apakah perempuan punya tanggal merah? Jika ada kapan? Kalimat yang memantik perempuan untuk mencerna dan berharap itu bukan pertanyaan. Melainkan suatu aksioma. Mungkin bahagia bukan kepalang jika memang kenyataan perempuan punya tanggal merah. Hari yang ditunggu untuk menyelonjorkan kepenatan yang mengendap berhari-hari. Namun, tanggal merah hanya bersapa saat perempuan sedang sakit. Atau ada urusan pekerjaan di luar rumah. Ya, perempuan dengan segudang pekerjaan domestik tak kenal tanggal efektif maupun merah. Apalagi cuti, sungguh itu suatu keajaiban yang turun dari langit.
Satu pekan ini aku digempur dengan project. Sebenarnya project itu bukan tuntutan dari luar. Namun, dari diri yang ingin segera menyelsaikan buku solo. Jika aku tidak menyetel sistem selayaknya panci presto, mungkin buku yang ku garap tak kunjung usai. Hanya khayalan yang ingin menerbitkan buku belaka. Sistem panci presto ini seolah menjadi energi besar bagiku. Pagi buta, aku disibukkan oleh urusan domestik. Hingga ku stop sampai mengantar anak sekolah. Dalam satu hari aku hanya memasak, cuci baju dan piring, serta menyapu. Sedangkan, pekerjaan lain ku tanggalkan. Agar ada banyak waktu untuk menulis.
Proses kepenulisan bagian isi buku telah kuselesaikan sesuai target maksimal. Andaikan ku ulur lagi, bisa satu tahun lebih aku bergelut pada topik yang sama. Ini terlalu menyiksa bagi pikiran dan jiwaku. Akhirnya, selesai sudah. Aku tersenyum lega. Tak lupa swasunting sebagai ritual selayaknya penulis. Padahal aku hanyalah seorang penulis musiman. Menulis jika dirasuki energi positif yang terpatri dalam diri. Baru, aku dengan lincahnya mengetik pada mesin ketik ini. Ntah menghasilkan tulisan bagus atau sebaliknya. Pun, tak peduli dengan penilaian itu. Yang terpenting dapat menyalurkan ide yang sudah membendung dalam otak ini.
Ternyata, dampak dari lemburan bersama mesin ketik menimbulkan permasalahan baru. Pakaian kering dikerajang telah membentuk sebuah bukit. Letaknya di pojok kamarku. Tingginya hampir mendekati atap. Anakku tertawa dengan menutup bibir mungilnya. Dan aku hanya melebarkan bibir ini. Batinku mengatakan “gimana cara menghancurkan bukit nan indah dipandang ini?”. Ada berbagai warna pakaian hingga ukuran yang berbeda. Seakan bukit yang terbentuk memiliki nilai estetika yang unik. Baiklah, target berikutnya adalah menyetrika baju.
Saat melihat gundukan pakaian, seakan hati kian memancarkan rasa malas saja. Butuh waktu ber jam-jam lamanya. Bisa setengah hari penuh untuk mengeksekusinya. Namun, aku juga ada aktivitas lain di luar. Setiap hari senin hingga jumat aku menjadi seorang guru les. Ups! Itu sulit ku lakukan jika memaksakan diri menyelesaikan gundukan itu. Perlahan, otak ini mulai rileks. Aku berpikir untuk mencicil. Selayaknya seseorang membayar hutang. Sedikit-sedikit, maka lama-lama hutang kian berkurang. Tapi, yang namanya pakaian tidak ada kurangnya. Tiap hari selalu ada tambahan pakaian kering untuk disetrika. Inilah mengapa pekerjaan ini membuatku resah.
Setelah sholah subuh, aku mengambil beberapa timbunan di bukit pakaian. Ku perhatikan bukit ini kian menyusut. Oke lah, ini masih pemanasan. Sembari memasak nasi untuk sarapan anak. Walaupun hanya satu jam, aku sudah memperolah lima stel baju yang tersetrika. Lumayanlah, daripada waktu subuh ku buang untuk lihat gawai. Dan berlanjut setelah mengantar anak ke sekolah. Aku juga mematok waktu. Yaitu pukul 10.00 harus sudah selesai. Masih ada pekerjaan domestik lainnya yang sudah melambai-lambai. Ya, beginilah perempuan pada umumnya. Yang tak punya tanggal merah.
Hari kedua, aku memutuskan mengeruk semua timbunan yang tersisa. Hingga keranjang tampak sebuah cekungan lebar dan tak terisi. Sepertinya kali ini aku harus lembur. Esok ada hal-hal lain yang harus diselesaikan. Ber jam-jam lamanya aku dituntut untuk fokus menyeterika. Walaupun ini pekerjaan yang menjenuhkan. Duduk pada lokasi yang sama. Tangan terus aktif menggosokkan setrika ke permukaan baju. Menata posisi baju sebelum disetrika. Agar mendapatkan hasil yang rapi. Menyemprotkan haruman, sebagai parfum. Aroma rapika begitu menyegarkan.
Tepat pukul 11.00 aku menyelesaikannya. Hati terasa lega. Dua project dapat kuselesaikan. Saatnya ku berbaring di kasur yang empuk. Sembari menyalakan kipas angin. Sebagai pasukan yang menyerang keringat mengguyur di tubuh.
Komentar
Posting Komentar