Menikmati Setiap Lembaran Supernova

     Menikmati Setiap Lembaran Supernova

Sejak aku melihat prodcast dari chanel youtube Pak Gita, pun mulai tertarik dengan sosok Dee Lestari. Dalam prodcast tersebut disebutkan bahwa beliau memiliki kebiasaan melamun sebelum tidur. Pun, diriku mulai berpikir kritis saat kata itu muncul dari pembicaraan mereka. Dan aku mulai mengangguk ketika beliau menjelaskan bahwa melalui lamunan tersebut muncul ide menulis. Selain itu, beliau mengatakan bahwa kebiasaan menulis sudah dimulai sejak remaja. Beliau setiap hari menulis tentang diary. Dan tulisannya ditunjukkan kepada kakaknya untuk dibaca dan dikoreksi. Selain itu, sejak dini beliau juga hobi membaca. Pun, itu juga hasil dari energy positif yang ditularkan oleh Papahnya. Sehingga, aku yang masih awam dengan dunia baca dan tulis, ada rasa greget untuk menulusuri karya-karya beliau di kanal digital.

Saat aku mengetik nama Dee Lestari di google, muncul jejeran karya beliau. Mulai dari perahu kertas, aroma karsa, filosofi kopi, hingga supernova yang berjilid-jilid. Hal yang aku kagumi adalah beliau yang seorang musisi, tetapi produktif dalam menghasilkan karya sastra. Lantas, bagaimana kedua dimenasi yang berbeda itu dapat berjalan beriringan? Tentu, seorang musisi dalam menciptakan suatu karya juga butuh waktu dan perenungan mendalam. Begitu pula karya sastra. Tetapi, Dee Lestari nyatanya mampu melakukan keduanya. 

Waktu yang berlalu lama, sejak aku nonton prodcast Pak Gita dengan Dee Lestari, tiba-tiba ingin rasanya membeli karya beliau. Ya, masih berupa angan-angan yang terus menghantui hati ini. Sore harinya, ada kawan yang uploud story. Isinya adalah menawarkan buku. Pun, aku mencermati buku apa saja yang dijual. Mata ini langsung tertuju pada sebuah buku dari  beberapa tumpukan yang menggunung. Pun, aku langsung memilih Supernova. Walaupun, aku tidak tahu bagaimana isinya. Terus, aku akan tertarik apa tidak. Tapi, angan-angan itu kembali memperjelas eksistensinya dalam diriku. Akhirnya, aku membelinya. Agar hati ini tak lagi dihantui dengan rasa penasaran terhadap karya Dee Lestari.

Sejak buku yang aku impikan tiba dipangkuan kedua tangan ini, pun memulai lembaran pertama. Karena buku ini berjilid. Halaman pertama adalah potongan dari cerita buku sebelumnya. Sehingga, aku tidak begitu paham akan alurnya. Namun, aku menikmati diksi yang dipilih Dee Lestari. Peristiwa demi peristiwa terasa mengalir. Pembaca seolah terbawa dengan emosi dari tokoh yang diceritakan. Dan akhirnya tibalah aku mulai membaca judul baru yaitu Gelombang. Di mana judul ini terpajang pada cover buku Supernova. Stratnya halaman 22. Dan kunikmati halaman demi halaman.

Buku Supernova seolah menghantuiku untuk mendesak terus membacanya. Biasanya menjelang tidur aku menyandarkan lelahku di atas kasur, namun hati ini terpental untuk menagakkan raga. Dan sejenak membaca buku. Setiap aku berhenti membaca, hati ini terusik dengan kelanjutan cerita Alfa yang berpetualang mencari jati dirinya dan solusi insomnianya. Artinya, penulis berhasil memberikan pengalaman luar biasa bagi pembaca. Ya, setiap selesai membaca, aku selalu dihadapkan pada hipotesis. Mungkin yang selama ini berniat jahat pada Alfa adalah Ompu Ronggur. Karena dia adalah tokoh yang tiba-tiba muncul dan ingin dekat dengan Alfa. Nyatanya, orang yang sejak lama kenal Alfa yaitu Ompu Togu Uratlah yang jahat dan mencoba membunuh Alfa di tengah danau. Nah, alur cerita itu membuat hipotesis pembaca diuji akan kebenarannya.

Selain itu, diksi yang dipilih juga ada beberapa yang aku kenal. Hal ini menambah kenimatan sendiri dalam mengarungi ceita gelombang. Dee Lestari juga mampu mengaktualisasikan setting dalam tulisan yang mampu membangkitkan imajinasi pembaca. Seolah pembaca dapat melihat lokasi kejadian tersebut. Terlebih dalam meramu inti dari masalah yang diangkat yaitu alam mimpi, seakan sarat akan kajian literatur. Bagaimana beliau membuat tokoh Dr. Colin serta Dr. Kalden yang membantu penyembuhan insomnia Alfa. Di mana sosok Alfa juga sebagai pribadi yang kritis dan cerdas yang dapat ditepis oleh analisis kedua dokter tersebut dalam merobohkan rasa keputusasaan Alfa. Pun, aku semakin tertantang dalam menghabiskan buku ini.

Dari pengalaman membaca karya Dee Lestari, tentu ini tidak mudah untuk membuat karya seperti ini. Menengok dari pengalaman menulis beliau yang tidak singkat, pun menulis merupakan hasil manifestasi dari kebiasaan panjang yang dilakukan. Sehingga pengalamannya mendanau menjadi suatu sajak yang syarat akan identitas penulis. Di mana, dari pengalamanku membaca Supernova, cerita yang diangkat merupakan hasil dari riset yang tidak mudah. Butuh kajian literatur yang banyak serta diskusi dengan para ahli yang membidani tentang mimpi. 

Pada catatan Dee Lestari mengatakan bahwa menulis adalah proses belajar yang tak pernah usai. Dari proses belajar yang berkelanjutan inilah yang membuat penulis semakin terampil. Bagaikan pisau yang tajam jika sering diasah pada lempengan batu yang kasar. Pun, menulis juga demikian. Semakin sering melatih apa yang kita lihat, rasa dan ingat dalam struktur tulisan. Pun, tanpa disadari tulisan akan bermetamorfosa ke bentuk yang indah. Ya, indah dibaca dan dirasakan oleh pembaca. Dan bermuara pada keunikan tulisan yang syarat akan identitas diri. Sehingga, karya yang dihasilkan mudah ditebak siapa pengarangnya oleh pembaca. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bahagia dengan Menyibukkan Diri

Rindu

Rindu