"Selisih Satu Angka"

                         Selisih Satu Angka
         Sejak saya mengetahui ada olimpiade matematika,sains dan bahasa inggris di STIKIP PGRI Trenggalek, pun langsung memberitahukan ke anak saya. Namun, saya mencoba menata ekspektasi yang berlebih terhadapnya. Karena saya tidak ingin memaksa hal yang tak disukainya. Saya tahu info tersebut dari Instagram. Tentu, screenshoot adalah langkah awal saya. Dan anak saya mempertimbangkan akan ikut atau tidak setelah melihat brosur yang saya screenshot.
           Saya tidak memaksa tetapi lebih memberikan motivasi dan wawasan. Ajang ini adalah momen yang jarang terjadi. Dan di ajang ini ada level perlombannya. Setiap level mencakup materi yang berbeda. Ini peluang bagi anak saya untuk mengasah kemampuan di bidang akademiknya. Anak saya kelas 4 SD, sehingga dia masuk pada level 2. 
           Akhirnya selang 2 Minggu sebelum tanggal pelaksaan, anak saya tertarik mengikutinya. Dia memilih bidang matematika. Pun, hati ini bahagia bukan main. Suami juga menyambutnya dengan antusias. Dan memasang alarm bahwa beliau akan cuti di hari setelah mengantarkan anak lomba. Pun, saya mencoba merancang untuk membuatkan materi baginya. Tetapi, saya belum mengajarkan satu materi padanya. Karena dia masih konsentrasi akan perlombaan Pramuka. Di mana perlombaan itu berlangsung satu Minggu yang akan datang. Hmm...sebenarnya kasihan saya padanya. 
           Namun, 10 hari menjelang lomba olimpiade, saya mengalami musibah kecelakaan. Sungguh seperti ada petir di siang bolong. Musibah yang tak disangka-sangka akan kedatangannya. Alkhamdulillah saya masih selamat. Walaupun ada luka-luka di bagian kaki. Hal ini tetap saya syukuri. Andaikan hal yang lebih parah terjadi, entah bagaimana kondisi saya dan anak. Karena kecelakaan itu terjadi saat saya membonceng anak saya setelah menjemputnya pulang dari sekolah. Dan hal yang paling saya syukuri bahwa anak saya tidak apa-apa. 
           Sejak kejadian itu, saya lebih konsentrasi terhadap pemulihan kesehatan saya. Untuk lomba, saya tidak antusias lagi. Namun, di tengah upaya saya untuk sehat kembali, ternyata anak saya menanyakan kapan lombanya. Dia dengan hati yang mantap ingin mengikuti. Akhirnya, saya dan suami berdiskusi. Hasilnya adalah anak kami didaftarkan. Dan suami akan izin cuti satu hari.
           Seminggu menjelang lomba, keadaan saya lumayan membaik. Saya juga mulai beraktivitas memberikan bimbingan belajar kepada murid saya. Walaupun, kaki masih bengkak. Namun, saya bisa naik sepeda motor untuk sampai ke rumah murid-murid saya. Akhirnya, jam longgar saya dan anak tidak sama. Saya hanya sempat mengajari sebentar setelah pulang dari mengajar. Belum lagi anak saya berbenturan dengan tugas sekolah. Sungguh, mencari waktu untuk belajar persiapan olimpiade begitu sulit.
           Hari Minggu pagi, saya, suami dan anak berangkat ke STIKIP PGRI Trenggalek. Kami naik sepeda motor. Kala itu, hujan mengguyur perjalanan kami. Tampak aroma perjuangan. Perjalanan dari Watulimo ke lokasi begitu jauh. Butuh waktu 1 jam lebih 15 menit untuk sampai di lokasi. Kami juga belum tahu dimana lokasinya. Pun di tengah perjalanan, kami berhenti sejenak untuk membuka gawai. Google map adalah pemandu kami. Akhirnya, tibalah kami di lokasi.
           Sebelum perlombaan berlangsung, saya dan suami memberikan nasihat kepada anak kami. Bahwa jika sekiranya soal sulit dikerjakan, maka dikosongi saja. Karena soal yang dijawab salah akan dikalikan negatif satu. Jadi lebih aman tidak dikerjakan. Dia menganggukkan kepala dan masuk ke ruangan perlombaan.
           Pun, saya dan suami menunggunya di lantai bawah sembari minum kopi. Udara yang begitu dingin ini memang cocok ditemani dengan yang hangat-hangat. Ya, salah satunya kopi. Kami ngobrol dan memikirkan bagaimana dia mengerjakan soal olimpiade. Di tengah obrolan kami yang begitu asyik, tampak suara panitia memberikan informasi bahwa durasi pengerjaan soal sudah usai. Saya menyambutnya di bawah tangga. Anak saya tampak tersenyum ketika melihat saya di bawah tangga.
           Saya dan suami menanyakan bagaimana soal yang dikerjakan. Katanya sulit-sulit. Ada beberapa materi yang belum sempat dia pelajari. Seperti angka Romawi, volume bangun ruang, serta pecahan. Dalam lubuk hati saya yang terdalam hanya berucap maaf. Karena belum sempat mengajari materi tersebut. Salah satu faktornya adalah waktu longgar kami yang tak sama. Pun, kami langsung bergegas pulang. Karena pengumuman akan dishare melalui via grub WhatsApp.
           Setelah tiba di rumah, anak saya selalu mengingatkan untuk mengecek grub WhatsApp. Dia penasaran apakah bisa masuk 12 besar atau tidak. Dari 60 peserta akan diambil 12 besar sebagai nominasi grandfinal. Dan juara 1,2, dan 3 akan lolos ke babak penyisihan untuk bertanding lagi di tingkat provinsi. Kala itu, hati berdebar-debar saja. Namun, hati saya sudah semeleh. Mengingat persiapan anak saya kurang optimal. Kali ini, saya meniatkan sebagai pengalaman perdana dia mengikuti ajang olimpiade.
           Pukul 15.00 pantia memberikan pengumuman nama peserta yang lolos masuk 12 besar. Saya mencoba mencermati nama-nama yang tertera pada tabel. Dan nama Alifa tidak ada. Pun, saya langsung memberitahukan kepadanya. Dia juga tidak terlalu kecewa. Pun, saya lega melihatnya. Saya dan suami memberi motivasi kepadanya bahwa lomba itu tidak harus menang. Namun, mau mengikuti saja itu sudah hebat.
           Pada pukul 17.00 panitia mengeshare rekapitulasi perolehan nilai. Wah, hatiku begitu berdebar-debar bukan main. Hipotesis awal bahwa anak saya berada di peringkat 30an. Karena mendengar ceritanya bahwa soalnya sulit-sulit dan banyak yang tidak dikerjakan, membuat saya semakin semeleh. Ternyata anak saya diurutan 13. Nilainya hanya selisih satu angka saja. Sontak hati ini merasa girang bukan main. 
           Saya menunjukkan hasil rekapitulasi nilai kepada suami dan anak. Saya dan suami meyakini bahwa anak kami sebenarnya mampu jika dia belajar lebih tekun. Anak saya yang melihat nilainya, sontak menyalahkan saya. Karena saya tidak mengajari semua kisi-kisi materi olimpiade. Ya, dia merasa kecewa. Karena nilainya hanya selisih satu angka saja dengan peserta yang masuk 12 besar. Kami pun menghibur kekecewaannya dengan memberikan motivasi. Bahwa kamu bisa nduk, hanya kamu gak belajar semua materinya. Andaikan kamu belajar semua materi, kamu pasti masuk 12 besar. 
           Perbedaan nilai yang begitu tipis ini, memantik saya untuk membangkitkan motivasinya belajar. Ya, belajar matematika bersama ibunya. Walaupun, saya bukan suhunya matematika. Setidaknya, sedikit-sedikit tahu dan pernah belajar. Pun, ini juga menjadi motivasi bagi anak saya untuk tidak minder akan kemampuannya. Bahwa dia bisa jika diiringi dengan upaya tekun belajar. Tentu, ini juga memantiknya untuk mencoba lagi mengikuti ajang olimpiade berikutnya.


  

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bahagia dengan Menyibukkan Diri

Rindu

Rindu