Oleh-Oleh Writing Tour: Buku "Anak Merdeka"

        Oleh-Oleh Writing Tour: Buku "Anak                                         Merdeka"
         Agenda SPK Tulungagung pada tanggal 18 Agustus adalah writing tour. Agenda ini sudah direncanakan jauh hari. Pun, saya sendiri belum memahami bagaimana acaranya. Namun, sekilas saya membaca dari pamflet yang telah dishare. Pun, hati ini merasa greget untuk mengikutinya. Dan tema yang menjadi pemantik para penulis pemula adalah proses kreatif menulis. Angan-angan saya bahwa acaranya seperti workshop yang dikemas dalam cangkrukan nyantai. Kenyataannya juga demikian.

          Rombongan SPK Tulungagung tiba di lokasi sekitar pukul 08.30. Perjalanan sedikit terlambat. Karena pemberangkatan tidak sesuai dengan jadwal yang ditentukan. Ya, begitulah situasi yang terjadi. Ada yang terlambat karena jalan macet dan lain sebagainya. Namun, kami tiba juga di lokasi dengan aman. Kami menggunakan elf dengan jumlah rombongan sebanyak 7 orang. Ini di luar perkiraan. Karena banyak anggota yang menggunggurkan diri akibat berbagai hal yang tak terduga.

          Saat tiba disana, kami disambut hangat oleh Mas Narno dan Mbak Ulya, serta pengajar Sekolah Alam Ramadhani dan kawan-kawan Mahanani. Kami dipersilakan duduk di tempat yang telah tersedia. Awal pertemuan dibuka dengan perkenalan diri. Baik dari kawan-kawan SPK maupun tuan rumah. Sehingga, obrolan semakin mengalir saja. Obrolan ini dimulai dari Mas Narno tentang Mahanani dan pentingnya kekuatan jaringan. Selanjutnya, Mbak Ulya yang bercerita tentang sejarah Sekolah Alam Ramadhani hingga Mahanani yang menjadi baground literasi. Di mana, pendekatan yang digunakan adalah bercerita untuk memantik anak-anak maupun khalayak gemar membaca.

           Di akhir obrolan penuh gizi ini, Mas Narno memberikan oleh-oleh berupa buku. Di mana buku tersebut adalah karya beliau dan istrinya yaitu Mbak Ulya. Sekilas saya melihat buku ini tentang catatan pengasuhan beliau terhadap anaknya yang bernama Majid. Dia berumur 10 tahun. Sama seperti anak saya. Hal yang spesial adalah Majid yang berumur 5 tahun sudah mampu menjadi dalang cilik. Pun, itu yang diungkapkan Mas Roni disela-sela obrolan yang bergizi tadi. Tentu, ini memantik saya untuk membaca buku ini.

           Setelah pulang dari writing tour, pun saya membuka lembar demi lembar buku ini. Karena saya tertarik untuk membacanya. Buku ini menyajikan suatu pengalaman orang tua dalam mendidik anak secara merdeka. Saya sebagai orang tua, pun mencari pengalaman dari Mas Narno dan Mbak Ulya adalah hal yang penting. Dari pengalaman beliau, memungkinkan saya dapat mengadopsi akan pola asuh kepada anak saya. Bagi saya menjadi orang tua harus banyak belajar dan berdiskusi akan perkembangan pola asuh yang memerdekakan anak. Melalui anak yang merdeka akan tumbuh menjadi sosok yang memiliki rasa ingin tahu dan percaya diri yang tinggi. Selain itu, proses kreativitasnya dapat berkembang ketika dia dalam situasi yang merdeka.

           Ada beberapa hal yang dapat saya tangkap dari catatan pengasuhan ini. Pertama, tugas pola asuh anak tidak hanya dibebankan pada satu orang saja, yaitu ibu. Kita sendiri tahu bahwa tugas domestik seorang ibu tidak sedikit. Jika semua tugas yang seabrek dibebankan pada satu orang, pun pola asuh anak tak bisa dilakukan secara optimal. Terlebih memerdekakan jiwa anak. Dalam buku ini terjadi kolaborasi antara Bapak dan Ibu. Bahkan sosok Bapak e Majid tak enggan untuk mengajarinya belajar. Tak hanya di lingkungan rumah, bahkan di warung kopi maupun warung war wer sebagai tempat favorit mereka dalam belajar, tak luput dari list tempat belajar. Pun, bukan hanya berorientasi belajar akademik. Belajar tentang lingkungan juga tak luput dari kajian Bapak dan Ibuk e Majid terhadap perkembangan anaknya.

          Kedua, penting bagi orang tua mengapresiasi anak. Apresiasi bukan sekedar pencapaian nilai akademik. Melainkan, perubahan sikap anak yang lebih baik, anak mampu membuat karya sendiri walaupun di mata orang lain adalah hal yang biasa saja, anak menunjukkan perkembangan dalam berpikir, dan lain sebagainya. Di buku ini Mas Narno dan Mbak Ulya begitu mengapresiasi Majid. Walaupun hanya sekedar memberikan senyuman dan acungan jempol. Namun ekspresi yang ditunjukkan oleh orang tuanya, memberikan efek kepada Majid untuk terus berani bereksplorasi terhadap dunianya. Yaitu dunia anak yang penuh dengan eksperimen dan bermain yang ditopang dengan rasa ingin tahu yang tinggi. 

           Ketiga, orang tua harus merdeka. Yaitu bebas dari belenggu aturan. Menjadi orang tua tak luput dari pengaruh budaya dari lingkungan rumah. Seperti, mertua, orang tua, saudara bahkan tetangga. Karena hidup berumah tangga sangat beriringan dengan nilai yang dianut oleh lingkungan sekitar. Jika apa yang kita lakukan berseberangan, akan memunculkan cuitan yang menjadi toxic bagi kita. Seperti halnya mendidik anak. Seringkali orang tua terkekang akan cara kreatifnya dalam mendidik anak. Bahkan memulainya pun sudah takut duluan. Seringkali juga terdengar suara negatif dari cara kita mendidik anak. Sehingga, untuk memerdekakan jiwa anak, orang tua harus merdeka dulu. Di buku ini Mas Narno mengajari Majid ngaji di warung kopi. Karena Majid merasa bosan belajar di rumah. Tentu sentimen orang yang berpikir dangkal, hal ini dianggap kurang baik. Namun, Mas Narno mampu memerdekakan diri dalam mendidik Majid. Dan pada akhirnya, Mas Narno mengarahkan Majid untuk tidak selalu belajar di warung kopi secara humanis. 

          Keempat, mendidik anak untuk mikir leres. Yaitu berpikir secara benar. Seringkali kita sebagai orang tua mengajarkan anak untuk berpikir ciut. Misal anak menangis, kalimat yang dikeluarkan oleh orang tua adalah kodoke mlayu. Anggapan orang tua, supaya sang anak segera berhenti menangis. Karena sang Kodok sudah pergi yang membuatnya menangis. Tentu, ini tidak dibenarkan. Sebagai orang tua kita perlu mencari tahu mengapa anak menangis dan berdiskusi dengannya untuk mencari solusi agar peristiwa ini tak berulang lagi. Sebagaimana catatan Mas Narno dan Mbak Ulya saat terjadi gerhan matahari. Jika menurut orang jaman dulu bahwa gerhana terjadi akibat matahari atau bulan dimakan oleh Bhatarakala. Namun, mereka mendidik Majid mikir leres dengan secara ilmiah. Melalui penjelasan dengan media gambar hingga diperkuat dengan pemutaran video. 

           Kelima, orang tua adalah fasilitator kemerdekaan anak. Untuk mewujudkan kemerdekaan anak, pun orang tua harus memfasilitasi. Yaitu fasilitas yang dapat dijangkau oleh orang tua. Agar anak merdeka dalam mengekspresikan bakatnya maupun kemampuan akademiknya. Di dalam buku ini banyak catatan dari Mas Narno dan Mbak Ulya dalam memberikan ruang gerak Sang Anak dalam mengembangkan bakatnya serta bentuk ekspresi lain dari diri anak. Sehingga, di umur 5 tahun Majid bisa membaca. Dalam catatan beliau mengatakan bahwa setiap malam beliau dan Mbak Ulya membacakan buku cerita dan dongeng melalui media wayang. Dana menjadikan apa pun yang sedang dilihat dijadikan media belajar mengenal huruf dan angka. Perjalanan ini memberikan sumbangsih pada perkembangan Majid tanpa dia merasa tertekan dalam belajar. 

           Keenam, orang tua adalah pembelajar sepanjang hayat. Dalam memfasilitasi anak agar jiwanya merdeka. Perlu diimbangi pengetahuan orang tua yang mumpuni. Walaupun mereka dengan gelar yang berjejer, belajar masih menjadi suatu keharusan. Dengan perkembangan zaman yang begitu pesat, pun pola pikir anak juga ikut berkembang. Untuk mengimbangi perkembangan zaman ini, orang tua perlu belajar agar anak tidak salah memutuskan suatu perbuatan yang dilakukan. Yaitu secara humanis agar anak tidak tertekan. Sehingga, orang tua dapat menjadi guru maupun kawan bagi anaknya yang asyik diajak ngobrol maupun diskusi. 

           Ketujuh, menumbuhkan kolaborasi antara orang tua dan anak. Kolaborasi artinya saling bekerja sama dalam mewujudkan sesuatu. Biasanya condong pada suatu produk. Pada ranah pengasuhan anak, tentu produk yang bisa dijadikan kolaborasi beraneka ragam. Bisa mainan, makanan maupun project edukasi lainnya. Majid yang memiliki imajinasi membuat barongsai dari sampah, pun ditanggapi oleh Bapaknya. Berawal dari dia pernah melihat pertunjukan barongsai saat hari besar Cina. Ini membekas dalam memorinya. Majid bersama Bapaknya membuat mainan barongsai tersebut berbentuk youtube. Agar memiliki gambaran dalam proses pembuatannya. Tentu, selama proses pembuatan barongsai dapat merekatkan hubungan emosional antara orang tua dan anak.

          Buku " Anak Merdeka" karya Mas Narno dan Mbak Ulya memberikan sumbangsih terhadap saya sendiri sebagai pembaca. Yaitu pola asuh yang memerdekakan jiwa anak. Di mana ada berbagai hal yang baru bagi saya sebagai orang tua. Sebagaimana yang sudah saya uraikan sebelumnya. Walaupun masing-masing orang tua memiliki cara tersendiri dalam mendidik anak. Yaitu berdasarkan kemampuan dan situasinya. Namun, mengadopsi cara pola asuh yang pas dengan kemampuan dan situasi adalah hal yang penting. Agar kita sebagai orang tua mampu memfasilitasi anak untuk memerdekakan jiwanya. Hal ini sebagai media anak untuk kesusksesan kelak di masa mendatang .

           

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bahagia dengan Menyibukkan Diri

Rindu

Rindu