Memburu Sang Surya
Memburu Sang Surya
Seperti biasa panorama jalan yang berliku-liku ini padat akan aktivitas penduduk. Apalagi, saat pagi setelah matahari bersinar. Pun, riuhnya suara kendaraan bermotor tak kunjung reda. Dan yang paling jelas terdengar adalah motor knalpot brong. Padahal rumahku tak terlalu dekat dengan jalan. Namun, suaranya nampak melengking saja. Padahal aku yang bersibuk dengan pekerjaan domestik. Seakan suara itu juga mengikuti irama sepak terjangku dalam menyelesaikan pekerjaan domestik. Ya, tinggal di dataran tinggi ini mempengaruhi bidang pekerjaan masyarakat setempat. Mayoritas mereka bekerja di ladang atau sawah bahkan di sektor perikanan. Sehingga, saat pagi jalan ini dipenuhi oleh kendaraan bermotor yang lalu lalang.
Aku adalah seorang ibu yang memiliki anak tunggal. Dia sudah masuk di jenjang Sekolah Dasar. Tepatnya kelas 4 SD. Setiap pagi aku mengantarkannya ke sekolah. Maklum, sekolahnya lumayan jauh. Jarak tempuh kurang lebih 10 menit. Sebenarnya, sekolah di sekitar rumah juga banyak. Tetapi, dia tidak mau sekolah disekitar rumah. Ya, aku sebagai ibu hanya manut saja. Yang penting dia enjoy dengan lingkungan belajarnya. Tentu, suami yang kerja di luar kota. Menjadikan ku mandiri akan segala urusan. Termasuk antar dan jemput anak sekolah. Pun, terbayang akan kesibukanku di kala pagi. Namun, ku nikmati fase hidup saat ini.
Saat mengantar anak, terlihat para petani cengkih sudah siap menjemur hasil kebunnya. Padahal Sang Surya belum begitu tampak teriknya. Namun, siap sedia memburu Sang Surya adalah fokus utama saat ini. Mereka lebih memburu Sang Surya daripada menunggu. Pasalnya, gundukan cengkih basah harus segera disinari Sang Surya agar tidak busuk atau berjamur. Pun, ini mereka lakukan untuk mengurangi resiko anjloknya harga cengkih. Baik basah maupun kering. Biaya yang dikeluarkan untuk memanen cengkih, pun tak sedikit. Tentu, dengan mengeringkan cengkih sendiri dapat disimpan dan dijual ketika harga mulai stabil.
Aku dengan membawa anak dan bekal yang tergantung pada motor, pun penuh hati –hati dalam mengemudikannya. Pasalnya, kendaraan begitu padat merayap. Antar petanipun saling menyalip. Bak seperti melihat pertandingan motor GP saja. Pun, aku yang tak begitu piawai di medan yang berliku dan beregelombang ini hanya pasrah saja. Sikap kehati-hatian senantiasa tertancap di dalam relung hati. Yang penting adalah selamat sampai tujuan. Dengan knalpot brong, jalan ini begitu sangat bising. Ya, beginilah saat musim cengkih.
Aku melihat banyak petani yang membawa gundukan cengkih. Yang terlintas dalam pikiranku adalah mereka akan menjual cengkih basahnya ke pengepul. Namun, saat aku melihat dari arah belakang, pun mereka tak menghentikan kendaraanya di pengepul. Lokasinya di pinggir jalan. Rumah pengepul itu adalah bagian dari rute perjalananku mengantar anak sekolah. Pun, aku berpikir ulang. Mungkin ada pengepul lain selain disitu. Pikirku sambil mengemudikan motor dengan penuh kehati-hatian.
Musim cengkih ini mayoritas penduduk sibuk akan aktivitasnya di ladang maupun di rumah. Di ladang mereka sibuk memetik cengkih. Sedangkan di rumah, mereka sibuk menjemur cengkih. Begitulah aktivitas para petani cengkih. Aku yang bukan dari komunitas itu, sibuk dengan urusan domestik saja. “He…he…he…”Tak ayal waktu bagaikan emas. Sayang untuk dibuang pada hal yang tak penting.
Saat menengok peristiwa kemarin, pun kegelisahan para ibu-ibu terpancar pada raut wajahnya. Tampak saat ada pertemuan wali murid. Kala itu pihak sekolah mengundang para wali murid guna pembahasan PHBN. Pada awal waktu, tak tampak rasa cemas dari ibu-ibu. Saat itu, matahari masih tampak murung. Udara terasa dingin. Namun, sekitar pukul 10.00, matahari mulai menampakkan sinarnya. Dari arah jendela para ibu melihatnya. Pun, mulai timbul rasa gelisah. “Bu, ini rapatnya belum selesai ta?”Ujar beberapa wali dengan narasi yang sama. Bu guru tersenyum dan mengangguk bahwa rapat hampir selesai. Perasaan tersebut timbul ketika melihat perubahan Sang Surya. Ya, mereka ingin segera menjemur cengkihnya. Memburu Sang Surya di tengah cuaca yang tak menentu adalah strateginya. Agar cengkihnya segera kering dan dapat disimpan.
Misteri dari para petani membawa karung yang berisi cengkih pun terjawab. Saat aku takziah ke tetangga yang telah meninggal. Pun, aku ikut kumpulan ibu-ibu yang sedang membicarakan almarhum. Bahwa almarhum baru saja jatuh saat memetik cengkih. Dan mendapatkan perawatan pijat serta medis. Namun, Tuhan berkehendak lain. Beliau harus kembali ke sisi-Nya. Lambat laun, pembicaraan mulai bermuara pada hasil cengkihnya. Salah satu ibu-ibu mengatakan bahwa banyak orang yang menjemur cengkih di JLS. Karena terik Sang Surya yang begitu menyengat. Pun, misteri ini terjawab.
Banyak penduduk yang memburu Sang Surya daripada hanya sekedar menunggu nasib. Mereka tidak sempit dalam berpikir. Kalaupun, di daerahnya kurang panas. Pun mencari daerah yang intesitas panas matahari cukup tinggi. Hal ini dilakukan agar cengkihnya segera kering dan dapat disimpan. Memburu berarti mengejar. Saat Sang Surya mulai menampakkan sinarnya, pun cengkih segera di keluarkan dari karungnya. Terlebih, cuaca yang tak menentu. Mereka harus cekatan dalam memburu Sang Surya.
Komentar
Posting Komentar