Pesan Bapak Tirto: Ruhnya SPK adalah Menulis
Pesan Bapak Tirto: Ruhnya SPK adalah Menulis
Kedua kalinya saya mengikuti KOPDAR SPK di Bondowoso. Di mana yang pertama merupakan KOPDAR SPK ke 9. Tempatnya di Pondok Pesantren Al-Ishlah, Bondowoso. Sedangkan KOPDAR kali ini yaitu ke 11 dilaksanakan di Pondok Pesantren Darul Istiqomah (Daris), Bondowoso. Walaupun demikian, pada akhirnya acara inti yaitu KOPDAR tetap dilaksanakan di Pondok Pesantren Darul Istiqomah. Karena, dulu setelah acara seminar, KH Masruri menawarkan untuk singgah di Daris. Sehingga berdasarkan kesepakatan bersama, acara inti yaitu KOPDAR dilaksanakan di Daris. Pun KOPDAR kali ini seakan menjadi bagian nostalgia bagi saya.
Selang dua tahun, perkembangan pembangunan di Daris begitu pesat. Mulai dari Wisma bak seperti hotel. Hingga gedung olahraga yang begitu mewah. Disanalah kegiatan KOPDAR dilaksanakan. Bahkan ada beberapa gedung yang hampir selesai dari proses pembangunan. Pun, menjadikan saya semakin takjub. Terlebih, ketika saya dan rombongan singgah ke rumah Kyai Masruri untuk sarapan. Sungguh, saya semakin takjub dengan kesederhanaan beliau. Rumah beliau begitu sederhana. Padahal, dibandingkan kemewahan gedung-gedung di kawasan Pondok, tak setara dengan rumah sederhana dari Sang Kyai pendiri pondok. Bahkan, dua tahun yang lalu saya berkunjung disana. Keadaan tidak berubah. Tetapi, yang berubah adalah perkembangan pembangunan pondok pesantren yang begitu pesat.
Rangkaian acara KOPDAR diawali dengan pelatihan kepenulisan dengan narasumber Bu Amie. Saya duduk bersama Mbak Eka, Bu Luluk dan Bu Sita pada satu tempat duduk yang melingkar. Kebetulan Bu Luluk membawa laptop. Jadi, saya bisa praktik secara langsung tentang pelatihan kepenulisan saat ini. Dalam lubuk hati saya berkata, kok tidak membawa laptop dari rumah? Padahal tema seminar kali ini berkaitan dengan AI (Artifical Intelegent). Sembari pemaparan pemateri, pun saya mencatat di buku kecil. Yaitu berkaitan hal-hal penting sebagai khasanah pengetahuan saya tentang AI dan literasi. Cara ini tidak semua orang lakukan. Banyak peserta KOPDAR yang lebih nyaman mencatat di gawainya. Namun, saya lebih nyaman dengan menuliskan di buku. Ya, sekali lagi setiap orang memiliki cara berbeda dalam mencatat.
Selesai pelatihan, pun panitia mempersilakan untuk makan siang. Berbagai menu telah tersaji di meja. Sungguh, saya sangat kagum akan pelayanan dari keluarga besar Pondok Pesantren Daris. Dari kami tiba di Daris hingga menjelang puncak kegiatan KOPDAR. Saya dan rombongan merasa dijamu bak Raja. Istilah itu bukan hanya sekedar slogan yang biasa terucap. Melainkan, kenyataan yang kami rasakan. Pun, menu makan siang begitu mewah bagi kami. Ada kepiting yang dimasak asam manis. Kelihatan enak, namun saya menghindarinya. Karena akan kesulitan saat memakannya. Saya lihat banyak kawan yang mencoba menikmati menu tersebut. Mungkin mereka dapat mengatasi tantangan makan kepiting,.
Akhirnya, rangkaian acara KOPDAR berada di titik puncaknya. Para pengurus SPK pusat merapat pada kursi yang tersedia. Saya dan kawan-kawan SPK Tulungagung ikut nimbrung. Pada awal sambutan ini, dibuka dengan petuah para penasehat SPK pusat. Seperti KH. Masruri dan Dr. Tirto, M.Pd. Nasihat tersebut begitu menyayat hati. Seoalah diri ini merasa terdorong untuk bangkit lagi menulis. Ibarat tubuh ini membutuhkan nutrisi agar bisa beraktivitas. Ya, nasihat para guru literasi sangat berarti. Bagaikan asupan gizi yang sangat dibutuhkan pada jiwa yang meredup. Ya, saya merasa bahwa spirit menulis ini semakin meredup saja. Inilah alasan saya berusaha untuk mengikuti KOPDAR agar mendapatkan asupan gizi dari para guru.
Di tengah nasihat yang disampaikan oleh Bapak Tirto, beliau memberikan pesan bahwa ruhnya SPK adalah menulis. SPK bisa hidup karena kucuran karya dari anggotanya. Karya tersebut berupa tulisan. Karena grub ini adalah sarana untuk mewadahi bagi orang yang ingin belajar menulis dan mengembangkan diri di dunia literasi. Di mana grub ini memberikan kewajiban bagi anggotanya untuk setor tulisan wajib yang diuploud di blog pribadi. Dan di share di grub SPK. Melalui setor tulisan wajib inilah para anggota dapat belajar menulis secara langsung. Sedangkan anggota lain dapat membaca dan memberikan motivasi maupun kritik yang mendukung pengembangan kepenulisannya.
Pun, problematika dari SPK pusat maupun cabang hampir sama. Yaitu menurunnya spirit menulis para anggotanya. Sehingga, grub yang tadinya ramai akan karya anggota-anggotanya, lambat laun sepi. Karena tidak ada yang dibicarakan maupun didiskusikan. Jika ini dibiarkan, komunitas ini hanya tinggal nama saja. Tentu sangat disayangkan jika harus mati di tengah jalan. Padahal, bagi saya maupun para anggota lain yang tergabung pada komunitas ini pasti ada keinginan untuk menjadi penulis. Hanya saja, problem dalam diri yang belum tuntas teratasi. Yaitu motivasi diri untuk semangat menulis. Perlu adanya upaya dari diri untuk membangkitkan semangat menulis. Walaupun, para guru atau senior memberikan berbagai petuah yang tak pernah padam. Tapi, jika motivasi diri kita masih rendah, tentu sulit bagi kita untuk menghasilkan tulisan.
Berkaitan dengan apa yang disampaikan oleh Pak Tirto, kita sebagai anggota SPK perlu merenungkan. Apakah kita sudah memenuhi kewajiban sebagai anggota SPK? Bukankah tujuan kita masuk ke komunitas ini adalah belajar menulis? Bukankah ada bayangan suatu saat nanti kita menghasilkan karya berupa buku solo? Untuk menjawab pertanyaan tersebut, yang perlu dilakukan adalah menyegerakan diri untuk menulis. Walaupun, motivasi masih rendah, perlu dipaksa. Jalan paksaan inilah yang membuka pintu semangat lagi untuk menulis.
Untuk menjaga eksistensi SPK, tentu tergantung pada anggotanya. Bagaimana kita sebagai anggota merawat motivasi diri untuk menulis. Karena ruhnya SPK adalah tulisan dari anggotanya. Bolehlah kita sebagai anggota yang bercita-cita menjadi penulis, sesekali jemu akan aktivitas menulis. Tetapi, janganlah rasa jemu itu mengantarkan diri untuk stagnan tidak menulis. Perlu merenungkan kembali akan tujuan awal masuk ke komunitas SPK. Dari sinilah, mungkin motivasi mulai bangkit kembali. Saat muncul keinginan menulis, janganlah disia-siakan. Ambil laptop, dan mengetiklah. Akan muncul tulisan pada layar laptop.
Komentar
Posting Komentar