Hiruk Pikuk di Musim Cengkeh
Hiruk Pikuk di Musim Cengkeh
Sejak empat minggu yang lalu terdengar bisikan ibu-ibu yang bergerumbul dalam suatu pembicaraan. Ternyata yang dibicarakan adalah perkembangan pohon cengkeh masing-masing. Ada yang sudah panen, ada yang masih menunggu beberapa minggu lagi. Ada yang harus bersabar sedikit. Karena tahun ini tanamannya masih muda. Pun, kuncup bunga cengkeh yang muncul hanya sedikit. Gerombolan ini saya perhatikan saat menjemput anak sekolah. Ya, kala itu sekolah berada pada minggu terakhir masuk. Jadi, ibu-ibu saling berbincang untuk membuat rencana dalam mengisi waktu liburan Sang Anak. Apesnya, ini mulai musim cengkeh. Pun, masing-masing memutuskan berdiam diri di rumah.
Saat itu, sudah mulai terlihat jemuran cengkeh di depan rumah warga. Namun, masih beberapa. Saya lihat jemurannya juga tak terlalu banyak. Ya, ini masih panen awal. Jadi, hanya beberapa pohon yang sudah mengasilkan kuncup bunga cengkeh. Tak hanya bunganya saja yang memiliki harga jual. Namun, mulai dari daun hingga tangkai bunga, pun tak luput dari incaran para petani cengkeh. Daun dimanfaatkan sebagai minyak. Sedangkan tangkai bunga cengkeh digunakan sebagai campuran. Pun, masing-masing memiliki harga jual yang bervariasi. Walaupun demikian, petani tak menyiakan segala yang dihasilkan dari cengkeh tersebut.
Sekarang ini, sudah tampak musim cengkeh. Status dari kolega maupun teman, yang ditampilkan adalah hasil panenan yang diperoleh. Saya senang melihatnya. Bahkan panenan yang dihasilkan lumayan banyak. Beberapa karung tersisi penuh. Tergantung seberapa banyak pohon cengkeh dan kebun yang dimiliki. Pun, ini berpengaruh terhadap perolehan panenan. Dimungkinkan juga, masa panen tidak bebarengan antar pohon maupun kebun yang lain. Tergantung tingkat kesuburan tanah, pencahayaan, serta masa suatu pohon tersebut. Bahkan dalam satu lokasi pun, panennya juga tak bisa dilakukan dalam satu waktu. Pun, ini juga merepotkan petani saat mengunduh kuncup bunga cengkeh.
Saat hari pertama anak sekolah, saya mengantar tepat pukul 06.30. Hiruk pikuk para petani cengkeh begitu kentara. Sepanjang jalan tampak hamparan terpal yang memenuhi halam rumah. Saat itu, mereka belum menjemur cengkeh. Ya, mungkin matahari belum terasa hangat. Namun, persiapan sudah dilakukan. Bahkan karung yang berisi cengkeh dan masih basah, atau hasil perolehan kemarin atau jemuran yang belum kering, sudah disiapkan. Tinggal dijemur di atas hamparan terpal tersebut. Ada juga yang sudah dijemur. Namun, di atasnya masih ditutupi dengan plastik. Pun, saya tak tahu apa tujuannya.
Sepanjang jalan juga ramai dengan para pemburu cengkeh. Pemburu tersebut bisa dikategorikan sebagai petani maupun orang yang bekerja sebagai jasa pemanjat pohon. Jalan seolah seperti berada di tol saja. Masing-masing pengendara saling beradu kecepatan. Mereka yang berlabuh di kebun, begitu piawai memainkan irama kelokan jalan pegunungan ini. Bahkan begitu paham memainkan kendaraan dalam situasi yang padat akan pengendara. Mereka mencari celah kecil untuk menyalip. Dan diiringi kecepatan tinggi serta ketepatan dalam melintas suatu kendaraan yang disalipnya. Pun, diri ini yang tak terobsesi akan ketepatan waktu di lokasi, seakan hanya menjadi penikmat akan hiruk pikuk para pemburu cengkeh.
Mungkin dalam benak kita, para pemburu cengkeh identik dengan laki-laki saja. Namun tidak demikian. Bahkan perempuan pun ikut andil dalam hal ini. Bagi anaknya yang masih kecil, pun diajak memanen cengkeh. Dengan dikenakan jaket tebal dan kaos kaki. Pun, kaum ibu ada yang tinggal di rumah saja. Menunggu hasil panen yang didapat oleh suami atau jasa pemanjat pohon. Bagi mereka yang tak andil dalam pemanenan cengkeh di kebun, tentu ada berbagai faktor. Mungkin karena tenaga sudah tak prima lagi atau di rumah banyak pekerjaan yang menghadang. Seperti memiliki tanggungan jemuran cengkeh yang belum kering. Artinya warna cengkeh masih tampak hijau belum berwarna coklat pekat.
Hari ini adalah momen pertama masuk sekolah. Setelah tiga pekan berada di zona liburan. Tentu, saat menjemput anak, saya ikut bergerombol dalam suatu komunitas ibu-ibu. Kami saling bertegur sapa. Dan menanyakan kabar. Obrolan demi obrolan kian terurai. Hingga akhirnya, obrolan ini mengarah pada hasil panenan. Ada yang sudah mendapatkan hasil yang lumayan banyak. Ada yang akan memanen, dan lain sebagainya. Namun, mereka tetap bersyukur dengan apa yang didapat. Walaupun harga cengkeh mulai anjlok. Yaitu harga cengkeh basah berkisar dua puluh tujuh ribu. Padahal tiga minggu yang lalu masih laku tiga puluh lima ribu. Sekarang anjloknya begitu tajam. Pun, ini juga menjadi keresahan para petani khususnya. Begitulah gumaman para ibu-ibu.
Di tengah harga jual yang anjlok, para petani memilih untuk menjemur sendiri. Mereka lebih memilih menyimpan cengkehnya. Dan di jual saat harga sudah normal. Cengkeh yang kering mampu bertahan hingga berbulan-bulan lamanya. Tentu, harus dimasukkan ke dalam karung dan disimpul dengan rapat. Dan diletakkan di tempat yang kering. Cara inilah yang menyelamatkan mereka dari anjloknya harga cengkeh yang mendera. Tentu, tak jarang para petani meluangkan waktu untuk menjemur sendiri di halaman rumah. Dalam hal ini, keluarga harus saling bekerja sama. Ada yang bertugas memanen dan ada yang menjemur di rumah.
Gumaman ibu-ibu tak berhenti pada problem anjloknya harga cengkeh. Pun, mereka juga mengeluhkan akan kesulitan mencari jasa pemanjat pohon cengkeh. Kalaupun ada, masih menunggu kloter. Pun, tak pasti kapan bisanya membantu memanen cengkeh. Ada suaminya yang tidak bisa memanjat pohon cengkeh. Sehingga, butuh jasa pemanjat cengkeh. Kalaupun bisa, paling hanya sebatas pohon yang masih kecil. Itu juga tak dipanjat, hanya memetik bunga cengkeh menggunakan batang bambu yang diselipkan pisau tajam. Kesulitan ini membuat petani juga dirugikan. Pasalnya, jika cengkeh tak kunjung di panen. Maka kuncup bunga akan mekar. Dan ini tak bisa dijual. Bahkan bunga tersebut akan berguguran di atas tanah.
Hiruk pikuk di musim cengkeh membuahkan berbagai persoalan. Mulai dari harga cengkeh yang anjlok hingga kesulitan mencari jasa pemanjat pohon. Pun, para petani harus menerima apa yang diperoleh dan situasi yang tengah dialami. Namun demikian, alam begitu bersahabat. Saat harga cengkeh basah mencapai tiga puluh lima ribu, langit tak kunjung menunjukkan sinar mentari. Hujan selalu mengguyur Watulimo hingga berhari-hari, bahkan dua pekan tak pernah jeda dari yang namanya hujan. Namun, saat harga mulai anjlok, pun alam menampakkan sinar yang terasa menyengat. Ya, sekali lagi harus menerima apa yang diperoleh dan situasi yang terjadi.
Komentar
Posting Komentar