Nasihat Ibu: Wong Wadon iku Kudu Duwe Tabungan

Nasihat Ibu: Wong Wadon iku Kudu Duwe                                   Tabungan
     Wanita itu Harus Mempunyai Tabungan

Kebutuhan rumah tangga sangat banyak. Mulai dari kebutuhan pangan, papan, dan sandang. Pun, itu masih sebatas kebutuhan pokok. Belum kebutuhan pendidikan anak, tarnsportasi hingga kesehatan. Bahkan sering terbentur dengan kebutuhan yang tak terduga. Seperti tetangga hajatan, saudara sakit, kendaraan rusak, dan lain sebagainya. Mau tidak mau kita harus mengeluarkan uang untuk kebutuhan tersebut. Walaupun harus mengurangi jatah kebutuhan pokok. Pun, terpaksa dilakukan agar kehidupan rumah tangga ini terus berjalan. 

Peran perempuan menjadi bendahara keluarga tidak mudah. Ada tuntutan untuk dapat mengatur keuangan keluarga. Di samping itu, perempuan juga memiliki beban pekerjaan domestik yang tak ada tanggal merah. Terlebih, jika perempuan harus bekerja di luar rumah, tentu banyak hal yang harus dipikirkan dan diselesaikan. Tentu, timbul pertanyaan di benak kita sebagai perempuan. Mengapa harus perempuan yang mengatur keuangan keluarga? Padahal perempuan memiliki banyak peran pada kehidupan rumah tangga. Apakah lai-laki tidak bisa mengatur keuangan keluarga? Ntah, apakah laki-laki lebih piawai menghasilkan uang daripada mengelolanya? Tentu asumsi tersebut tidak seutuhnya benar atau salah. Tetapi, nyatanya pengatur keuangan harus dibebankan kepada perempuan. Walaupun, perempuan memiliki seabrek tanggung jawab yang harus dipikul.

Salah satu cara untuk mengelola keuangan dengan baik adalah melakukan perencanaan. Melalui perencanaan, kita tahu mana kebutuhan prioritas, kebutuhan jangka pendek maupun kebutuhan jangka panjang. Dari perencanaan tersebut kita juga tahu akan beban pegeluaran keluarga dalam waktu satu bulan atau tiap pekan. Sehingga, dengan pemasukan keuangan yang diperoleh, kita bisa berhati-hati dalam menggunakannya. Terlebih, penghasilan yang tak menentu. Sangat penting sekali melakukan perencanaan keuangan. Kita dapat meninjau rata-rata pendapatan perbulan. Sehingga dapat mensinkronkan antara pemasukan dan beban pengeluaran keluarga. Karena, seringkali perempuan terpedaya dengan kebutuhan pribadinya. Hal ini dapat menghindari dari inflasi. Bahkan bisa menyisihkan uang untuk disimpan.

Peran perempuan sebagai bendahara keluarga, banyak rintangan yang dihadapi. Salah satunya adalah gaya hidup yang dijalani. Di mana gaya hidup berpengaruh terhadap penggunaan keuangan keluarga. Karena orientasi penggunaan keuangan keluarga lebih diprioritaskan pada pemenuhan gaya hidup. Mulai dari kebutuhan sandang, dandan, hingga jalan-jalan ke luar rumah. Pun, kebutuhan tersebut menguras keuangan keluarga. Belum lagi, pengaruh media masa yang begitu masif. Lambat laun sebagai penikmat akan terpengaruh juga. Baik dari segi trend busana, makanan viral, hingga tempat healing yang menarik. Semua itu adalah godaan dari kaum hawa. Hal ini mempersulit perempuan dalam mengemban tugasnya sebagai bendahara keluarga.

Memang sulit mengatur keuangan keluarga di tengah bayang-bayang gaya hidup yang dijalani. Bagi mereka yang tidak ingin dilabeli ketinggalan zaman, tentu pemenuhan gaya hidup merupakan prioritas utama. Reputasi diri adalah segalanya. Walaupun harus terjerumus pada hutang piutang. Pun, kalau bisa mengatur keuangan keluarga. Hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari dan pemenuhan sebagian gaya hidupnya. Sehingga, tidak ada angan-angan untuk menyisihkan sebagaian uangnya. Karena tuntutan kebutuhan rumah tangga dan pemenuhan sebagian gaya hidup. Mungkin, asumsinya bahwa hal itu adalah sebuah prestasi. Karena tidak sampai terjerumus pada lembah hutang piutang. 

Nasihat ibu kepada penulis mengatakan bahwa “wong wadon iku kudu duwe tabungan”. Artinya seorang perempuan harus mempunyai tabungan. Di mana tabungan merupakan kelebihan uang yang dimiliki setelah menggunakannya untuk memenuhi kebutuhan konsumtifnya pada jangka waktu tertentu (Titien:2). Dari definisi tersebut mengartikan bahwa tabungan adalah sisa dari uang belanja yang disisihkan untuk keperluan jangka waktu tertentu. Nah, mengapa nasihat menabung ini dirahkan kepada perempuan yaitu penulis sendiri? Karena berdasarkan peran yang melekat pada sosok perempuan itu sendiri. Bahwa perempuan adalah bendahara keluarga. Tentu, sebagai perempuan sebisa mungkin dapat menyisihkan uang untuk di tabung.  

Manfaat menabung tidaklah sedikit. Terlebih, pada kehidupan rumah tangga. Seringkali dihadapkan pada situasi yang tak menentu. Atau berhadapan dengan kebutuhan yang tak terduga. Tentu, keberadaan tabungan dirasa dapat menolong kita disituasi yang sulit. Karena masa depan kehidupan rumah tangga tidak ada yang bisa memastikan akan selalu baik-baik saja. Seperti, suami terkena PHK, ini menimbulkan permasalahan keluarga. Walaupun, istri memiliki pekerjaan di luar rumah, masih dirasa ada yang kurang. Yaitu peran suami sebagai kepala rumah tangga. Tentu, dengan menganggur di rumah, pun menimbulkan permasalahan. Adanya tabungan, istri dapat membantu suami untuk merintis sebuah usaha. 

Salah satu tokoh yang memberikan teladan bagi kita sebagai perempuan adalah sosok almarhum Ibu Ainun. Dalam buku Habibie & Ainun beliau menceritakan bahwa kala itu, pengeluaran meningkat, pun disamping itu harus memenuhi keperluan sehari-hari. Tetapi, beliau tetap menyisihkan nafkah dari suami untuk di tabung. Gunanya sebagai keperluan di masa depan. Selain itu, beliau harus membayar asuransi kesehatan. Kala itu, beliau sedang hamil besar. Dan beban asuransi yang dibayarkan lumayan tinggi. Karena memperhitungkan segala kemungkinan yang terjadi selama persalinan. Sehingga, beliau harus berhemat sejauh mungkin.

Dari pengalaman almarhum Ibu Ainun, kita sebagai perempuan, sebisa mungkin memaksakan diri untuk bisa menabung. Kala itu, almarhum Ibu Ainun yang bergantung pada penghasilan Bapak Habibie, tentu perjuangannya tidak mudah. Hidup di perantauan, jauh dari keluarga serta penghasilan yang pas-pasan tidak menyulutkan beliau untuk mengatur keuangan keluarga. Mendahulukan prioritas utama adalah kuncinya. Dari buku tersebut diceritakan bahwa beliau mengatur menu murah, tetapi menyehatkan. Beliau mengerjakan pekerjaan rumah secara mandiri serta menjahit baju untuk calon anaknya. Itu beliau lakukan agar tetap bisa menabung di tengah tuntuan kebutuhan yang semakin meningkat.

Berdasarkan nasihat ibu kepada penulis, serta pengalaman almarhum Ibu Ainun dalam mengelola keuangan keluarga. Tentu, sebagai perempuan sebaiknya bukan hanya berpikir bagaimana keuangan keluarga cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari dalam jangka waktu tertentu. Tetapi, bagaimana uang tersebut bisa disisihkan untuk di tabung. Namun, kebutuhan sehari-hari tetap tercukupi. Ini perlu dijadikan mindset bahwa seberapa kecil uang yang diperoleh, dan sebesar apa tuntutan kebutuhan rumah tangga, sebisa mungkin kita bisa menyisihkannya untuk di tabung. Walaupun harus mengendalikan segudang keinginan sebagaimana pernak-pernik perempuan. 

Salah satu upaya agar kita bisa menabung adalah menjadikan hal itu sebagai kewajiban. Sebagaimana kita mengikuti asuransi. Kita dituntut tiap bulan untuk membayar asuransi tersebut. Pun, sebagaimana menabung. Jika menabung sebagai suatu kewajiban, berarti sebelum membuat perencanaan keuangan keluarga, terlebih dahulu kita menyisihkan uang tersebut untuk di tabung. Ntah berapa persen dari pemasukan yang diperoleh. Tetapi, jika menabung adalah suatu kesunahan. Kita hanya menabung saat ada sisa dari uang belanja. Padahal, seringkali perempuan terbentur dengan keinginan daripada logikanya. Lantas, apakah bisa memastikan bahwa tiap bulan bisa menabung? Tentu, tidak bisa dipastikan.

Membiasakan diri untuk menabung tidaklah mudah. Apalagi kita dihadapkan pada kebutuhan rumah tangga yang kian meingkat. Mulai dari kebutuhan pokok hingga pendidikan anak. Perlu adanya pemaksaan diri. Bukankah terbiasa itu harus melewati suatu paksaan diri? Memang, terkesan tidak humanis. Kenyataannya kehidupan ini juga begitu keras. Pun, sewaktu-waktu keadaan rumah tangga bisa berubah. Kita dipaksa untuk menerima perubahan tersebut yang seringkali terasa berat tuk dijalani. Tentu, adanya tabungan, dimungkinkan memberikan suatu solusi dari kedaan yang sulit. Sehingga, kehidupan rumah tangga tetap berjalan di tengah keadaan yang sulit sekalipun.

Referensi 
Titien Agustina. 2012. Perempuan dan Ivestasi: Smart Berinvestasi Bagi Perempuan Smart. Banjarmasin: Pustaka Banua

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bahagia dengan Menyibukkan Diri

Rindu

Rindu