Membersamai Anak Belajar
Membersamai Anak Belajar
Minggu ini anak sekolah dasar memasuki masa ujian akhir semester. Termasuk anak saya yang masih duduk di bangku kelas 3 SD. Ujian akhir semester berakhir di hari Sabtu. Tepat enam hari siswa SD melaksanakan ujian. Jadwal ujian telah dishare sebelum ujian. Bahkan anak-anak sudah dibawakan lembaran jadwal ujian. Sehingga, bagi wali murid yang tidak aktif di grub whatsapp, mereka dapat mengetahui melalui lembaran yang dibawa oleh anaknya. Zaman memang sudah digital, tetapi informasi berupa hard terkadang diperlukan. Agar informasi tersebut tidak hanya berlalu dalam ingatan melalui file yang dibaca di gawai.
Saya sebagai ibu harus meluangkan waktu untuk membersamai anak belajar. Saya juga memiliki aktivitas di luar rumah. Yaitu menjadi guru les. Tentu, ini juga terasa sulit untuk mencari waktu yang pas dalam membersamai anak belajar. Jadwal les pun juga padat merayap. Dari siang hingga malam. Namun, saya harus bisa meluangkan waktu untuk anak. Walaupun durasi yang saya luangkan tidak banyak. Yang terpenting saya bisa meluangkan waktu. Dari jadwal les saya, ada waktu longgar di malam hari. Yaitu sekitar jam 7 malam ke atas. Waktu inilah saya berikan untuk anak.
Musim ujian ini waktu begitu cepat. Pagi hingga siang begitu terasa cepat. Saya menghabiskan waktu untuk membersihkan rumah, masak dan berbagai aktivitas lainnya. Sebagaimana layaknya seorang ibu rumah tangga. Siang harinya saya menjemput anak. Saat pulang sekolah, anak saya langsung bermain. Dia tidak mau jika belajar sebentar saja. Karena sudah lelah dengan aktivitas berpikir di sekolah. Pun, saya membiarkannya bermain untuk menyeimbangkan antara waktu belajar dengan bermain. Saya sebagai orang tua tidak menuntut anak untuk terus belajar selama ujian. Saya memberikan kelonggaran akan kebutuhan bermainnya. Tetapi, saya menuntut dia untuk meluangkan waktunya belajar. Ntah dilakukan di waktu siang, sore atau malam. Yang penting belajar.
Mulai jam satu siang saya sudah disibukkan untuk mempersiapkan diri berangkat ngajar. Mulai mempersiapkan buku yang di bawa hingga pakaian yang akan digunakan. Bahkan saya juga harus memastikan gawai sudah full baterai. Saya akan menjumpai masalah jika batrei gawai habis saat ngajar. Terkadang ada siswa yang izin mendadak. Tentu, gawai adalah benda penting yang saya bawa saat ngajar. Pun anak saya sudah asyik bermain dengan keponakan. Sebelum dia bermain, saya harus memastikan anak sudah makan siang.
Saat saya pulang anak langsung ke luar rumah dari neneknya. Selama saya ngajar di luar rumah, anak saya berada di rumah neneknya. Kebetulan rumah saya berdekatan dengan kedua mertua. Sehingga anak saya tinggal besama mertua, saat saya ngajar di luar. Anak saya langsung mengajak masuk ke dalam rumah. Waktu ini adalah momen yang tepat dia belajar. Dia sudah selesai dengan kebutuhan bermainnya. Sehingga, ada rasa semangat dalam dirinya untuk belajar. Namun, saya perlu memenuhi kebutuhan akan nutrisi terlebuh dahulu. Sebelum, membersamai dia belajar.
Pun, saya butuh waktu untuk melepas penat sejenak. Sembari makan, pun saya melihat acara televise sebentar. Saya tidak ingin mengajari anak dalam keadaan capek serta perut kosong. Kedua kebutuhan tersebut harus saya tuntaskan terlebih dahulu. Saya mengantisipasi terjadinya emosi yang keluar saat mengajarinya. Itu sangat mengganggu. Anak saya tipe yang perasaannya kuat. Saya mulai bernada tinggi, dia tahu kalau saya sedang marah. Raut wajahnya serta perilakunya akan mulai menunjukkan penolakan terhadap saya. Tentu, itu harus saya hindarkan saat momen yang penting ini.
Tepat pukul 20.00, saya selesai dengan kebutuhan tubuh. Saya mulai membuka tiap lembar buku LKS anak. Sesekali saya menguap. Sungguh rasa kantuk tak tertahan. Namun, saya harus tetap bertahan demi Sang buah hati. Dia cermat dalam memperhatikan saya memberikannya pertanyaan. Saya lebih banyak memberikan pertanyaan daripada menerangkan materi. Namun, jika dia kurang mengerti atau memberikan jawaban yang salah, pun saya harus menerangkan materi yang mendukung. Agar dia tidak hanya ingat sebatas jawaban benar, melainkan alasan memilih jawaban tersebut.
Pukul 21.00, anak saya sudah mengajak belajar di dalam kamar. Sambil dia rebahan dan saya sendiri bersandar di tembok yang berlapis bantal, ini sungguh nikmat. Tubuh terasa rileks. Dia pun enjoy dengan posisi tubuhnya yang nyaman di atas kasur. Kami kembali belajar. sesekali dia juga harus duduk sembari mencari jawaban dengan menghitung di buku kecilnya. Dengan keadaan yang masih terjaga konsentrasinya, dia semangat mencari jawabannya. Namun, pukul 21.30 ini, kondisi saya tak bisa ditutupi lagi. Saya sering menguap saja. Namun, materi yang harus dipelajari belum kunjung usai. Saya harus tetap semangat.
Akhirnya, pukul 21.50 semua materi sudah saya sampaikan ke anak. Dia pun juga tampak lelah. Buku yang terserak di kasur, kami rapikan. Kami ambil satu per satu. Dan mulai menaruh di atas meja. Tak lupa seprei yang mulai meninggalkan tempatnya dari kasur, saya rapikan. Karena anak saya tidak suka tidur dalam kondisi berserakan. Termasuk hanya sebatas seprei yang berserakan. Setelah rapi, kami mulai tidur. Dan mulai memejamkan mata. Rasanya begitu nikmat dikala tidur dalam kondisi benar-benar ngantuk dan lelah. Saya bersyukur bahwa kewajiban mengajari anak dapat terselesaikan. Walaupun di jam akhir dari aktivitas keseharian ini.
Komentar
Posting Komentar