Artificial Intellegence (AI) dan Kelemahannya sebagai Media Belajar Matematika

     Artifical Intelligence (AI) dan Kelemahannya               sebagai Media Belajar Matematika
                          
                           Oleh: Siti Rodi’ah

Saat ini, penggunaan AI sangat banyak. Mulai dari siswa sekolah dasar hingga mahasiswa. Karena berbagai kelebihannya mampu memudahkan para pembelajar untuk mencari solusi. AI berpikir seperti manusia yang dilengkapi oleh sistem saraf. Dimana AI dilengkapi memori yang terisi berbagai data informasi yang dibutuhkan. Tak heran saat kita menuliskan pertanyaan, pun AI langsung memberikan jawaban dengan cepat. Bahkan jawaban yang diberikan terkesan seperti layaknya seorang guru yang menjelaskan sebuah materi. Runtut dari awal hingga akhir yang biasanya memberikan kesimpulan pada pembaca. Hal ini lah yang membuat ketagihan para pembelajar yang sedang mecari sebuah jawaban dari soal atau tugas yang diberikan oleh guru atau dosen. Sehingga, pengguna AI sangat banyak.

AI memiliki banyak keunggulan diantaranya adalah memberikan penjelasan materi dengan bahasa yang mudah dimengerti, membantu pembelajar mencari jawaban sesuai konteks, mempermudah pembelajar mengakses informasi yang dibutuhkan, serta mendorong pembelajar untuk berani bertanya pada materi yang kurang dimengerti. Keunggulan ini berdampak pada ambisi pembelajar untuk menjadi pengguna AI. Karena faktor kemudahan inilah AI sangat digandrungi oleh para pembelajar. Keunggulan AI menolong para pengguna dikala bingung mencari solusi. Imbasnya, mereka menjadi malas untuk belajar. Bahkan mengkerdilkan anugerah yang Allah berikan. Yaitu fungsi otak yang bekerja dengan luar biasa. Sehingga, keunggulan AI bukan dijadikan media untuk menambah wawasannya, melainkan alat untuk mencari sebuah jawaban. 

AI sebagai teknologi yang selayaknya manusia, dapat menemani siswa belajar. Ya, dapat disebut sebagai media belajar. Terlebih bagi siswa yang malu bertanya kepada guru. Mereka dapat bertanya kepada AI. Namun, kebanyak siswa saat ini, AI bukan dijadikan sebagai media belajar melainkan hanya sekedar sebagai mesin pencari jawaban saja. 

Salah satu pelajaran yang sulit dan ditakuti oleh banyak siswa adalah matematika. Karena banyak konsep yang harus dipahami. Selain itu, pelajaran matematika tak jauh dari yang namanya rumus. Alhasil setiap bersua dengan sub materi, pasti ada berbagai rumus yang harus dipahami. Selain itu, tampilan bilangan, simbol bahkan grafik membuat siswa seringkali mengerutkan kedua alisnya. Tampak wajah yang murung pada tatapan sebuah materi hingga soal matematika.Tetapi, dengan adanya AI, mereka sedikit bernafas lega. Segala beban berat dapat terobati dengan adanya AI. Mereka dapat mencari solusi dari kegundahannya dengan mengetik symbol maupun huruf di AI. Dengan waktu yang cepat, pun mereka dapat membaca penjelasan serta jawaban. 

Tetapi, ditinjau dari keunggulan AI, ada berbagai kriteria soal yang tidak mampu terjangkau. Artinya, tidak semua soal atau permasalah pada pelajaran matematika, mampu dijawab oleh AI. Seperti soal penalaran, berpikir kritis, berjenis bagan, diagram, tabel maupun grafik. Pun, jika kita memaksa AI untuk memberikan jawaban, tampilan yang disajikan tidak memuaskan bagi para pembaca. Tetapi, pada soal sederhana, AI mampu memberikan jawaban yang memuaskan. Lengkap dengan cara dan penjabaran yang detail. Dari sinilah sebagai pengguna perlu cermat saat menggunakan AI. Selain itu, harus cermat dengan jenis soal yang akan ditanyakan. Agar tidak menimbulkan perasaan ragu dalam menyerap informasi yang ditampilkan oleh AI.

Pun saya sebagai seorang guru les pernah menggunakan AI. Saat itu, saya lupa konsep peluang. Saya ditanya oleh murid saya tentang soal mencari peluang dua kejadian. Dimana kejadian pertama bola dimabil tanpa pengembalian. Dan kejadian kedua bola diambil dengan pengembalian. Saat saya mengetik soal sesuai yang ada di buku, jawaban yang ditampilkan tidak ada di opsion yang tersaji. Pun, saya tidak bisa percaya begitu saja. Saya mencoba mencari materi tentang peluang dua kejadian di google. Akhirnya, mulai memahami konsep peluang dua kejadian tersebut. Pun, saya dapat menyelesaikannya dan menerangkan kembali kepada siswa saya.

Pada soal matematika yang berjenis gambar, tabel dan grafik nyaris tidak bisa untuk diselesaikan. Pun, kalau memberikan jawaban, hasilnya tidak memuaskan. Hal ini lah yang menyebabkan siswa merasa kurang percaya diri saat menggunakan AI. Mereka tetap memilih bertanya kepada guru maupun mencoba sendiri. Daripada mencontoh jawaban AI secara mentah-mentah. Selain itu, soal berjenis penalaran seperti SNBT, AI tidak bisa memberikan solusi. Kalaupun memberikan jawaban, kita perlu membaca ulang dan mengecek pada teori dari matematika itu sendiri. Karena jawaban yang ditampilkan seringkali tidak sesuai dengan teori yang berlaku. 

Dari sini kita sebagai pendidik maupun pembelajar,  bahwa secanggih apapun teknologi, tentu ada sisi kekurangannya. Dan kekuarangan tersebut telah dimiliki oleh manusia. Tentu, untuk mendorong kemampuan yang tidak dimiliki oleh teknologi, harus dibarengi dengan semangat belajar. Janganlah  keunggulan teknologi mengekerdilkan fitrah kita sebagai manusia yaitu sebagai makhluk pembelajar. Dimana manusia diberikan otak untuk berfikir yang mampu menciptakan teknologi sekalipun. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bahagia dengan Menyibukkan Diri

Rindu

Rindu