Buku Kecil dari Sang Adik


                   Buku Kecil dari Sang Adik

Sejak adik masuk pesantren, pertemuanku dengannya sangat singkat. Pasalnya, liburan pondok hanya ada dua waktu. Yaitu liburan akhir tahun dan lebaran. Pun diri ini juga nyaris tidak pernah menyambang. Hanya satu kali saat aku bermalam di rumah Tulungagung. Karena saat itu, adik masih awal mondok. Sehingga, aku sebagai kakak juga ingin melihat keadaannya secara langsung. Sedangkan ibu juga masih awal hidup berpisah dengan ketiga anaknya. Pun, aku sering bermalam di rumah Tulungagung untuk menghibur kesunyian Ibu. Pun, hanya malam minggu saja. Akhirnya, lambat laun beliau sudah terbiasa. Dan aku menjadi jarang sekali bermalam disana. Hal ini juga berimbas pada jarangnya pertemuanku dengan adik.

Liburan sekolah adalah momentum bersua dengan saudara-saudaraku. Kebetulan liburan pondok hampir sama dengan liburan sekolah. Sehingga, aku dapat melepas kerinduan dengannya. Berbulan-bulan lamanya harus berpisah dengan kehidupan masing-masing. Ya, liburan adalah waktu yang ideal untuk melepas kerinduan dari hubungan persaudaraan ini. Sedangkan, adikku yang nomor dua pun juga menyisihkan waktu untuk pulang di rumah Tulungagung saat liburan sekolah. Wajah sumringah dari kedua orang tuaku terpancar dari senyuman. Melihat ketiga anaknya berkumpul di rumah masa kecil. Kami, senantiasa bercerita akan kehidupan masing-masing. Kalaupun aku, tentang kehidupan rumah tangga dan pendidikan anak. Adik nomor dua, tentang pekerjaannya dan kepenatan dalam berbagai problem. Sedangkan adikku yang ketiga, tentang kehidupan pondoknya dan orientasi kedepan. Ya, begitulah ketika kami berkumpul.

Setiap pulang dari pondok, adik senantiasa membawa buku yang dibeli disana. Buku yang dibawa bermacam-macam. Mulai dari Fiqih, Tarikh, dan buku bergenre agama lainnya. Saat liburan akhir tahun, dia membawa buku tarikh. Buku yang begitu tebal, sangat sayang untuk ku lewatlkan. Di tengah kelonggaran waktu disana, ku gunakan untuk membaca buku. Cukup banyak halamannya. Ada 600 lebih halaman. Buku yang begitu tebal, tak mungkin akan aku bawa pulang ke Trenggalek. Pasalnya, barang bawaanku juga lumayan banyak. Cara mengatasinya adalah dengan meluangkan waktu membacanya. Sehingga, target liburan di rumah Tulungagung kala itu adalah mengkhatamkan buku dari Sang Adik.

Saat liburan pondok menjelang lebaran, adik membawa buku kecil. Judulnya adalah “Kyai Sepuh Pendiri NU”. Pun, aku membuka sekilas buku kecil itu. Ternyata banyak sekali tokoh pendiri NU. Aku yang orang awam hanya mengenal dua sosok akan tokoh pendiri NU. Yaitu Kyai Hasyim Asy’ari dan Gus Dur. Ternyata masih banyak lagi dibalik kekokohan NU yang bisa kita rasakan sampai sekarang ini. Kebetulan liburan kali ini momen nya adalah lebaran. Sehingga, buku kecil ini sulit aku tuntaskan. Pun, aku izin ke adik kalau buku kecil ini akan ku bawa ke rumah Trenggalek. Pasalnya, aku tertarik dengan buku kecil tersebut. Buku kecil itu, mudah ku bawa kemana-mana. Hanya menggunakan satu tangan saja, buku ini tak kan terjatuh. Walaupun, jumlah halamannya lumayan banyak. Yaitu 356 halaman. Walaupun begitu, buku kecil ini masih ringan dan bisa di bawa kemana-mana.

Dari buku kecil ini aku menjadi tahu tentang perjuangan para Kyai dalam menuntut ilmu agama. Para Kyai sangat gigih dalam menimba ilmu di pesantren-pesantren. Tidak cukup hanya sekedar nyantri di satu pesantren, tetapi berbagai pesantren lainnya. Bahkan harus menjalani pendidikan di tanah suci yaitu Mekkah. Tentu, terasa berat menuntut ilmu di tanah perantauan. Dimana, para Kyai harus bekerja sampingan untuk bisa bertahan hidup sekaligus belajar ilmu agaman disana. Ada sosok KH. Raden Asnawi yang sangat cinta kepada ilmu. Beliau memberikan dawuh kepada santri-santrinya bahwa “Bodoh itu dapat dihilangkan, pangkat juga mudah di copot, tapi ilmu akan ditemukan”. Pesan ini memberikan sentilan bagi pembaca untuk gigih dalam menimba ilmu. Agar dapat menemukan hakikat ilmu yang kita pelajari.

Selanjutnya, produktifitas hidup para Kyai sepuh patut ditauladani. Pasalnya, kehidupan para Kyai tidaklah berleha-leha. Tetapi, waktu ibarat perisai bagi beliau. Tidak ada waktu longgar yang sia-sia. Para Kyai senantiasa mengisi waktu untuk mengaji, dzikir, mengkaji kitab, mengajar para santri dan berbagai ibadah lainnya. Bahkan malam harinya juga tak luput dari aktivitas mengkaji kitab. Bahkan tidur bukan karena memang niat untuk tidur, melainkan karena tertidur dari aktivitas mengkaji kitab yang dipelajari. Karya tulis pun mewarnai para kehidupan para Kyai seperti KH. Raden Asnawi, KH. Shaleh dan KH. A.Dahlan Ahyad. Dimana karya-karya beliau menjadi rujukan para santri-santri.

Dari buku kecil ini juga memberikan khasanah akan suri tauladan bagi para Kyai sepuh pendiri NU. Dimana beliau-beliau memiliki pribadi yang luhur. Seperti, KH. Nawawie Noer Hasan akan keistiqomahan dalam menjalankan berbagai ajaran agama. Beliau pribadi yang tekun dan sabar dalam mendidik dan membimbing santri-santrinya. Selain itum kedalam keilmuan yang beliau miliki dan kedermawanan. Tarekat dan riyadlah senantiasa mewarnai para Kyai dalam proses mencari ilmu agama. Seperti, KH. M. Ma’roef yang hidup penuh tirakat dan riyadlah. Tak jarang beliau makan hanya seminggu sekali yaitu setiap hari jumat. Pun, makanannya hanya dari sisa-sisa nasi yang sudah hangus dan masih melekat di panci. Sehingga, dengan kebiasaan puasa dan ibadah kepada Allah lainnya selama nyantri, beliau dianugerahi ilmu laduni di bidang Fikih. 

Berdasarkan ulasan singkat tersebut, memberikan wawasan akan para Kyai sepuh pendiri NU. Hal ini memberikan kemantapan dalam meyakini bahwa NU adalah dibangun oleh para Kyai yang memiliki sanad keilmuan hingga sampai kepada Rasullallah. Bahkan ada dari beberapa Kyai sepuh yang bernasab hingga sampai kepada Baginda Nabi Muhammad. Selain itu, ketauladanan dalam menjalani rutinitas sehari-hari dan proses mencari ilmu sungguh luar biasa. Tentu, terkait ajaran-ajaran keNUan yang mungkin berseberangan dari para modernsasi, tak luput dari kritik negatif. Namun, argumentasi negative itu tak meruntuhkan kekokohan NU dalam ajaran-ajaran yang masih melekat pada diri masyarakat Muslim di Indonesia. Khusunya, di tanah jawa yang sangat erat dengan berbagai tradisi keagamaan. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bahagia dengan Menyibukkan Diri

Rindu

Rindu