Relevansi Kesederhanaan dalam Menggapai Kedamaian Hidup

Relevansi Kesederhanaan dalam Menggapai                           Ketenangan Hidup
                       Oleh: Siti Rodiah

Setiap orang memiliki cita-cita bahwa kehidupan yang dijalani akan baik-baik saja. Tanpa ada masalah yang menghadang. Seakan perjalanan hidup sesuai dengan ekspektasi. Sedangkan dalam menggapai keinginannya, diibartakan berjalan di jalan tol. Dimana jalan tersebut mulus tanpa ada guncangan. Ya, seperti itulah keinginan setiap orang. Tetapi, hidup tak seperti itu. Kita senantiasa dihadapkan masalah atau cobaan. Melalui masalah yang mendera, diharapkan kita bisa menjadi pribadi yang kuat. Tahan akan berbagai rintangan yang menghadang. Karena hakikatknya hidup itu penuh cobaan. Walaupun demikian, tak masalah jika ada cita-cita menggapai hidup yang baik-baik saja. Adanya cita-cita, tentu muncul usaha untuk menggapainya. Mulai dari mengantisipasi dari timbulnya permasalahan hingga mencari solusi dalam menuntaskan permasalahan tersebut.

Kehidupan yang baik-baik saja akan menimbulkan ketenangan hidup. Pun ini juga impian bagi semua orang. Hidup tenang menjadikan kita optimis dalam menghadapi kehidupan di masa mendatang. Dimana ketenangan hidup menjadikan perasaan kita damai. Hal ini memberikan efek positif bagi psikologis kita. Hidup terasa indah dengan ketenangan dalam pikiran dan kalbu. Seolah, itu adalah titik tertinggi pencapaian hidup ini. Walaupun, berbagai masalah yang menghadang, tetapi jika diberikan ketenangan hidup, ini menjadikan masalah hanya sebagai angin yang berlalu. Karena, tak mungkin orang hidup tak memiliki masalah. Ketenangan hidup adalah nikmat dunia yang tak bisa dinilai dengan materi. Karena berkaitan dengan kepuasan dalam diri. Yang timbul dari perasaan psikologis seseorang. 

Dalam menggapai ketenangan hidup, ada banyak hal yang dilakukan oleh seseorang. Hal yang nampak adalah gaya hidup seseorang. Karena gaya hidup merupakan totalitas perilaku seseorang terhadap kehidupannya. Gaya hidup juga menjadi tujuan seseorang dari berbagai hal yang diusahakannya. Misalnya, seseorang yang bekerja, maka penghasilan tersebut akan diarahkan pada pemenuhan gaya hidupnya. Tak ayal jika dalam pemilihan pekerjaan, ada pertimbangan tersendiri. Dimana pertimbangan tersebut juga didasarkan pada gaya hidupnya. Jika penghasilan tak sebanding dengan kebutuhan gaya hidupnya. Akan timbul kekecewaan dalam diri yang menimbulkan hidup tak tenang. Tentu, ia akan berusaha dalam berbagai cara untuk mendapatkan pemasukan tambahan. Agar gaya hidupnya terpenuhi. Begitulah gaya hidup yang menjadi faktor fundamental dalam menggapai ketenangan hidup.

Berkaitan dengan gaya hidup, seolah media sosial menjadi sarana baginya untuk menunjukkan eksistensi terhadap pencapaian dalam hidupnya. Tak ayal gaya hidup mewah menjadi daya pikat tersendiri bagi pelaku maupun penonoton. Gaya hidup mewah menunjukkan kehidupan yang berkelas bagi dirinya. Seperti jalan-jalan ke tempat hiburan, mempunyai kendaraan, perhiasan, dan tempat tinggal mewah, kumpul bersama teman-teman di sebuah restoran, dan lain sebagainya.Tentu, banyak orang yang berusaha mati-matian untuk mencapai gaya hidup mewah. Karena sebagai kasta tertinggi jika ditinjau dari segi pencapaian material. Jika seseorang memiliki gaya hidup, tentu akan berimbang dengan ketahanan keuangan. Sedangkan ketahanan keuangan seseorang juga berkorelasi terhadap kemapaman pekerjaannnya. Sehingga, tak ayal gaya hidup mewah menjadi primadona bagi banyak orang.

Tetapi, ambisi seseorang dalam mencapai gaya hidup mewah menjadi salah langkah. Adakalanya, dia harus terlilit banyak hutang di Lembaga Peminjaman Keuangan. Bahkan harus menggadaikan benda kepemilikan yang tak bergerak. Hal itu, demi pemenuhan gaya hidup mewahnya. Bahkan adakalanya tersandung kasus korupsi sebagai upaya pemenuhan gaya hidupnya. Tentu, ini dirasa miris melihat potret yang terjadi. Karena ambisi tersebut hanya sekedar eksistensi diri belaka saja. Namun, pada akhirnya bukan ketenangan hidup yang didadapat. Melainkan ambisi yang bertingkat dan tidak sebanding dengan kemampuannya. Sehingga, melihat orang lain diatasnya, akan timbul rasa iri dan ambisi untuk bisa menandinginya. 

Hidup sederhana adalah ruhnya kehidupan untuk mencapai ketenangan diri. Hidup sederhana tidak menuntut sesuatu hal di luar kemampuan. Bahkan hidup sederhana dapat mengkristalkan suatu keinginan menjadi lebih kecil. Karena keinginan yang besar, akan mengantarkan pada kehidupan mewah. Keinginan yang kecil dapat menyederhanakan suatu hawa nafsu kita tentang suatu hal. Artinya seseorang senantiasa dalam keadaan syukur akan nikmat yang diperoleh. Kehidupannya senantiasa diwarnai dengan kecukupan. Rasa cukup berasal dari hati yang merasa lapang. Baik merasa lapang akan rezeki, maupun merasa lapang akan beban hidup. Sehingga, hidup sederhana memberikan ketenangan dalam kehidupan.

Dhawuh Gus Iqdam yang mengatakan bahwa “Nek ndungo njaluk rezeki ojo lali njaluk ati sing ngeroso cukup, mergo tanpo cukup, rezeki akehe koyo ngopo bakal keroso kurang”. Artinya saat kita memohon kepada Allah akan diluaskan rezeki, perlu diimbangi dengan bermohon untuk diberikan hati yang mengantarkan pada rasa kecukupan. Karena seberapa besar rezeki yang Allah berikan kepada kita, jika kita tidak memiliki hati yang merasa cukup, maka kita akan senantiasa merasa kekurangan. Tentu, hati yang dihiasi dengan rasa cukup, akan mengantarkan kita pada hakikat hidup sederhana. Hal ini akan mendatangkan relevansi akan ketenangan hidup.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bahagia dengan Menyibukkan Diri

Rindu

Rindu