Me Time 60 Menit
Me Time 60 Menit
Hari Senin sore, tepat pukul 14.00, saya bersama suami duduk di ruang tamu. Kebetulan anak saya sedang asyik bermain bersama keponakan. Ya, maklum saja, lama tak jumpa. Karena kami sudah menetap di Trenggalek. Sehingga, kalaupun ke Tulungagung ya cuma hitungan hari. Itupun jika pas libur agak panjang. Seperti hari itu, anak saya libur awal puasa. Sedangkan suami hari Senin juga libur. Jadi pas sekali, hari Minggu sore, kami melakukan perjalan ke Tulungagung. Rencana saya dan anak menginap hingga 6 hari. Dan suasana sore itu, nikmat sekali. Udara yang tak begitu panas dan dingin. Membuat suasana bisa me time bersama suami.
Suami membuka waktu bersantai kami dengan pengalaman beliau bekerja di pabrik. Pun, saya mencermati setiap perkataan beliau. Begitu berat tantangan beliau bekerja di sana. Secara tidak langsung, beliau curhat kepada istrinya. Pun, saya memahami bahasanya. Duduk saling berhadapan dengan minum secangkir kopi, membuat obrolan ini semakin serius saja. Tak jarang, saya memberikan masukan. Atau sesekali memberikan support. Agar beliau tetap semangat dalam bekerja.
Jujur saja, hati ini pilu saat beliau sudah menunjukkan keluhnya. Saya yang mendengar saja, ingin rasanya memberikan pengaruh kepada beliau untuk berhenti bekerja. Tetapi, bagaimana kedepannya? Potensi beliau ada di dunia permesinan. Pun, saya hanya memberikan saran untuk tetap semangat bekerja. Tak perlu memperhatikan lingkungan yang mengandung toxic. Dan bekerja sesuai dengan kesanggupannya. Saya tak menuntut beliau untuk memburu jabatan ataupun penghasilan yang banyak. Cukup bisa memenuhi kebutuhan sehari-hari, menurut saya sudah nikmat.
Di sela-sela beliau menceritakan keluhnya, beliau senantiasa mengajari saya. Agar senantiasa hidup sederhana. Ya, dari awal pernikahan hingga sekarang, gaya hidupnya konsisten. Padahal awal menikah, posisi beliau masih formen. Hingga kini menjadi suppervasior. Tentu, dengan naiknya pangkat. Ada penghasilan tambahan yang didapat. Namun, beliau selalu mengajari saya dan anak untuk hidup sederhana. Konsep sederhana dari beliau bukanlah pelit. Tetapi, bagaimana beliau dapat mengalokasikan penghasilan untuk sedekah. Tetapi, dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari tidak berkiblat pada keinginan. Melainkan, kebutuhan yang memiliki nilai kebermanfaatan.
Pun banyak kawan dari pabrik yang iri dengan kehidupan suami. Karena beliau tak terlilit hutang koperasi di pabrik. Selain itu, ada yang iri dengan posisi beliau. Bahkan iri dengan kesederhanaan beliau. Ya, saya hanya bisa tersenyum saat beliau bertutur kata. Namun, beliau tak merespon akan kritikan dari banyak orang. Cukup didengarkan saja tanpa melawan dengan perkataan. Ya, beliau adalah tipe pendiam. Namun, bijak dalam bertindak. Hingga ada beberapa kawan yang ingin mengambil tips hidup berumah tangga tanpa gali lubang tutup lubang. Suami hanya menyarankan untuk membiasakan sedekah. Agar mampu melatih mengelola hawa nafsu yang mengantarkan pada keinginan yang tak terkontrol.
Dari obrolan ini, tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 15.00. Beliau harus mempersiapkan diri untuk berangkat ke surabaya. Mulai dari mandi hingga prepare beberapa barang yang akan di bawa. Dari obrolan ini, saya semakin bangga. Beliau adalah tauladan bagi saya dan anak. Beliau adalah guru kehidupan kami. Hanya bisa doa yang saya sematkan setiap sholat. Semoga Allah senantiasa memberika rahmat akan kehidupan rumah tangga kami. Aamiin
Komentar
Posting Komentar