Jika Rezeki Berupa Menyempitnya Hawa Nafsu
Jika Rizki Berupa Menyempitnya Hawa Nafsu
Oleh: Siti Rodi’ah
Setiap orang mempunyai impian bahwa kehidupannya senantiasa diliputi oleh kebahagiaan. Salah satu faktor yang memberikan kebahagiaan adalah tercukupinya rezeki bahkan ada kelebihan rezeki. Secara umum rezeki berupa materi. Dimana materi tersebut dijadikan media untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Tercukupinya kebutuhan sehari-hari menjadikan hati terasa damai. Sehingga, tak ayal jika setiap orang senantiasa menyematkan doa untuk diluaskan rezekinya setelah beribadah. Bahkan ada amalan-amalan untuk melapangkan rezeki. Karena rezeki sangat penting peranannya dalam kehidupan di dunia ini. Yaitu memberikan kebahagiaan hidup.
Berkaitan dengan rezeki memang secara umum dikaitkan dengan keberadaan materi yang didapat. Yaitu berupa penghasilan yang diperoleh. Ya, kita sendiri menyadari bahwa perolehan penghasilan dapat dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan. Baik kebutuhan primer, sekunder bahkan tersier. Dalam kehidupan sehari-hari kita dihimpit dengan aneka kebutuhan hidup. Melalui penghasilan tersebut, beban himpitan tuntutan hidup bisa terselesaikan. Sehingga, setiap orang berusaha mendapatkan penghasilan dengan bekerja. Bahkan, pekerjaan layak menjadi incaran bagi banyak orang. Karena pekerjaan yang layak cenderung memberikan penghasilan yang layak juga.
Tetapi, jika kita renungkan bahwa rezeki bukan hanya berbentuk materi. Melainkan, kesehatan, keimanan, kelapangan hati, dan lain sebagainya. Memang, materi sangat penting bagi kehidupan kita. Tetapi, itu rezeki yang terkecil dalam hidup ini. Ada hal besar lain yang luput dari penglihatan kita. Misalnya adalah kesehatan yang Allah berikan. Jika kesehatan dinominalkan dalam bentuk uang, sungguh kita tak akan bisa menghitungnya. Padahal rezeki berupa materi mudah untuk menghitungnya. Karena sistem penghitungannya sudah jelas dan terukur. Kita sendiri tahu bahwa kesehatan juga bagian yang terpenting dalam hidup. Agar aktivitas sehari-hari mampu dijalani, kita membutuhkan tubuh yang sehat. Dengan tubuh yang sehat, kita mampu bekerja untuk memperoleh penghasilan. Nah, sekali lagi rezeki tidak bisa dikonotasikan hanya berupa materi saja.
Andaikan wujud rezeki dalam bentuk lain, misalnya menyempitnya hawa nafsu, tentu kita akan ridha akan segala apa yang Allah berikan. Dimana, hawa nafsu adalah ruh dari berbagai keinginan, impian, atau energi untuk mewujudkan sesuatu. Dengan menyempitnya suatu keinginan, tentu seberapa besar materi atau berbagai pemberian yang Allah berikan, kita senantiasa akan merasa cukup. Karena keinginan kita disempitkan. Misalnya, kita diberikan pengahasilan A. Tetapi nafsu kita tidak mengarahkan untuk membeli berbagai barang yang tidak dibutuhkan pada saat itu. Ini dapat dipastikan penghasilan dengan kadar A, cukup untuk memenuhi kebutuhan. Bahkan bisa jadi ada kelebihan yang bisa ditabung. Pun, ini juga bagian dari rezeki.
Potret yang terjadi pada diri kita atau masyarakat, sering menarasikan keluhan akan penghasilan yang diperoleh. Saat kita memperoleh penghasilan 1 juta, ada bayangan ingin mendapatkan penghasilan 1,5 juta. Suatu waktu, impian tersebut terwujud dengan ridha dari Allah. Apakah kita akan berhenti untuk berangan? Jawabannya adalah tidak. Pasti, ada keinginan penghasilan bisa naik 2 juta. Dan itu, akan berlangsung secara terus menerus. Karena hawa nafsu kita juga semakin berkembang. Misal, gaji 1 juta sudah cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup. Saat gaji 1,5 juta, keinginan kita juga semakin bertambah. Misalnya keinginan untuk bisa makan di luar rumah atau membeli pakaian yang bagus. Dan ini akan berlanjut saat penghasilan yang masuk semakin besar. Artinya, seberapa besar penghasilan yang diperoleh, tidak menjadi patokan bahwa seseorang akan merasa cukup bahkan berlebih.
Hawa nafsu pada hakikatnya sangat diperlukan oleh setiap orang dalam menjalani kehidupan di dunia. Pasalnya, energi yang menggerakkan suatu keinginan atau impian adalah hawa nafsu itu sendiri. Misalnya, badan kita lemas karena butuh asupan nutrisi. Nafsu yang mengantarkan kita untuk makan. Bahkan, saat kita berada di titik nol kehidupan, nafsu yang mendorong kita untuk berjuang dalam meningkatkan taraf hidup menjadi lebih baik. Yaitu dengan belajar maupun berusaha menciptakan kreatifitas serta inovasi yang berdaya saing tinggi. Tentu, hawa nafsu yang diarahkan pada kebaikan akan memberikan dampak positif bagi kehidupan kita.
Tetapi, jika nafsu mengarah pada hal yang berlebihan dan menimbulkan dampak negatif, perlu dihindari. Misalnya, dalam konteks makan. Tubuh kita memiliki kadar dalam menampung makanan yang masuk dari mulut. Dengan kita makan yang berlebih, perut akan terasa nyeri. Dari konteks pemanfaatan rezeki berupa uang pun, jika tidak terkontrol akan menimbulkan krisis keuangan. Hal ini dapat ditandai dengan besarnya pengeluaran yang tidak berimbang pada pendapatan. Sehingga, hutang adalah jalan pintas yang dipilih. Ironisnya, jika kehidupan bak seperti gali lobang tutup lobang. Hal ini tidak akan ada titik akhirnya.
Tak heran, jika kita melihat kasus korupsi yang sedang menerpa di negeri ini. Jika kita melihat tersangkanya, tentu bukan orang biasa. Bahkan orang yang berkedudukan pun, sangat rentan dengan korupsi. Jika kita melihat dari sudut pandang penghasilannya, tentu nominal yang diperoleh cukup besar. Tetapi, masih saja melakukan korupsi. Ya, bisa jadi nafsu dalam menginginkan sesuatu tidak seimbang dengan ukuran kemampuannya. Yaitu penghasilan dan pengeluaran wajib yang harus dipenuhi. Dari potret ini, lagi-lagi penghasilan banyak pun bukan patokan dalam menghukumi akan kesejahteraan seseorang.
Dawuh Habib Sholeh Bin Muhsin Al-Hamid dalam akun instagram mengatakan bahwa “siapa yang ridha dengan rezeki yang Allah telah berikan, maka ia akan tenang dunia dan akhirat. Siapa yang dapat menundukkan nafsu syahwat, maka ia menjadi orang mulia dunia akhirat. Siapa merasa cukup, sehingga tidak mengharap pemberian orang lain dan dapat memelihara lisannya, maka ia selamat dunia akhirat”.
Berdasarkan dawuh Habib Sholeh, memberikan kesan bahwa dengan menundukkan nafsu akan memberikan kesejahteraan bagi setiap orang. Maka, ketika kita dapat menundukkan nafsu, atau dapat dikatakan bahwa hawa nafsu menyempit, pun ini bagian dari rezeki. Berapa pun kadar penghasilan yang diperoleh, kita senantiasa selalu bersyukur. Karena nafsu kita telah ditundukkan oleh Allah. Walaupun penghasilan kita meningkat, tetapi kita mampu mengontrol hawa nafsu, tentu tanpa disadari Allah telah meluaskan rezeki kita. Yaitu dalam bentuk menyempitnya hawa nafsu.
Hal ini perlu menjadi refleksi diri. Agar diri kita tidak menuruti hawa nafsu untuk menggapai di luar kadar kemampuan. Selain itu, janganlah mengeluh akan keadaan. Tetap berusaha yang terbaik. Mengeluh hanya menjauhkan diri dari rasa bersyukur. Jika rezeki berupa menyempitnya hawa nafsu, tentu Allah sudah mengabulkan doa yang sudah terpanjat setiap hari. Walaupun, penghasilan kita tidak bertambah. Tetapi, hawa nafasu kita telah disempitkan oleh Allah. Maka, janganlah berpikir doa kita sia-sia. Doa kita sudah dikabulkan oleh Allah melalui menyempitnya hawa nafsu kita.
Komentar
Posting Komentar