Ibu dan Keluhnya pada Tiap Masanya
Ibu dan Keluhnya pada Tiap Masanya
Oleh: Siti Rodi’ah
Ibu adalah sosok perempuan yang memiliki peran ganda. Dalam satu waktu dia harus bisa menjalankan berbagai peran. Mulai dari peran sebagai istri yang harus melayani berbagai keperluan suami. Peran sebagai ibu rumah tangga yang harus menyelesaikan berbagai keriwehan pekerjaan rumah yang tak kunjung usai. Bahkan jika salah satu ditinggalkan, akan berujung pada penambahan pekerjaan lainnya. Selanjutnya, sosok ibu juga harus merawat dan mendidik anak-anaknya. Pun, ini juga bukan hal yang sederhana bagi seorang ibu. Karena ibu harus menyediakan berbagai keperluan yang dibutuhkan oleh anak. Mulai dari nutrisi, kasih sayang serta pendidikan anak di rumah. Bagi ibu yang bekerja, dia harus menjalankan perannya sebagai pekerja yang professional. Tentu, dalam menyelesaikan berbagai perannya dalam satu waktu tidak mudah untuk dilakukan.
Sosok ibu adalah manusia biasa. Pada saat tertentu, mungkin akan mengeluhkan momen berat yang harus dijalani. Mengeluh adalah hal yang lumrah bagi setiap orang. Artinya, dia merasa memiliki kapasitas dalam menjalankan perannya. Jika, seseorang merasa serba bisa, tentu dia akan merasa hebat. Padahal merasa dirinya hebat dan lebih baik dari lainnya adalah hal yang harus dihindari. Karena mengantarkan pada sikap kesombongan. Bukankah kita tidak diperkenankan bersikap sombong oleh agama?. Tentu, mengeluh pada momen-momen tertentu tidaklah hal yang negatif. Tetapi, jika sedikit-sedikit mengeluh itu yang perlu dihindari. Allah menurunkan permasalahan bagi umatNya, tentu disesuaikan dengan kemampuannya dalam menyelesaikan. Sehingga, sosok ibu yang mengeluh pada momen-momen tertentu adalah hal yang lumrah.
Saat memiliki anak yang masih balita, seorang ibu dihadapkan berbagai tantangan. Mulai dari menyediakan nutrisi yang disesuaikan kadar gizi bagi anaknya. Agar anaknya bisa tumbuh sehat. Selanjutnya, ibu harus menyedikitkan tidur. Tujuannya adalah bisa menyelesaikan pekerjaan rumah tanpa menyita waktu bersama anak. Biasanya, saat anak sedang tidur, ibu mulai mengerjakan pekerjaan rumah. Seperti masak, mencuci baju dan piring, hingga membersihkan rumah. Sehingga, ibu harus merelakan waktu tidur siang maupun menyedikitkan tidur malamnya. Selain itu, ibu harus mengajak anak bermain agar perkembangan motoriknya bagus. Waktu sehari, seakan totalitas dituangkan kepada anak dan pekerjaan rumahnya. Mungkin, jika satu anak balita, tidak terlalu berat. Jika memiliki dua anak balita, sungguh betapa beratnya melewatinya. Sesekali dia mengeluh akan perannya. Seringkali hanya terucap dalam hati saja. Sesekali dia mengutarakan keluhnya dikala harus bersua dengan keadaan yang dirasa berat.
Saat anak sudah beranjak usia sekolah, keluhan ibu adalah kenakalan anak pada usianya. Seperti bermain hingga lupa waktu, membangkang, tidak mau merapikan mainannya, dan berbagai kenakalan lainnya. Sosok ibu dihadapkan dengan perkembangan psikologis anak yang sudah memiliki pendirian dan membangkang. Ya, adakalanya seorang ibu meluapkan kemarahannya. Karena peran gandanya, sehingga dia letih dan harus melihat sikap anak diluar ekspektasinya. Hal ini memunculkan keluhan bagi seorang ibu. Memang, saat seperti ini sulit untuk membendung rasa amarah seorang ibu. Butuh waktu untuk menyendiri dan merileksasikan pikiran. Agar bisa menerima sikap anak yang masih butuh bimbingan.
Saat anak sudah remaja, seorang ibu sudah dihadapkan berbagai rasa kekhawatiran yang tak dapat terbendung. Pasalnya, anak usia remaja sudah memiliki teman yang banyak. Berbagai latar belakang keluarga serta lingkungan rumah yang dapat mempengaruhi perilaku anak remaja. Sehingga, secara tidak langsung teman akan memberikan dampak postif maupun negatif baginya. Hal inilah yang membuat rasa kekhawatiran bagi seorang ibu. Sedangkan ditinjau dari kedekatan anak dengan ibu pada usia remaja, tentu jauh berbeda saat usia balita. Ibu akan rindu untuk memeluk dan mencium anaknya. Karena anak di usia remaja sudah merasa malu jika dipeluk atau dicium oleh ibu. Apalagi dihadapan orang lain. Terlebih teman-temannya, ini membuat anak merasa malu.
Saat anak sudah mencapai jenjang perguruan tinggi, ibu dikeluhkan oleh tuntutan ekonomi yang semakin meningkat. Adakalanya seorang ibu harus bekerja lebih giat. Agar kebutuhan anak dan keluarga dapat tercukupi. Masa ini, ibu harus berpuasa dari berbagai keinginan selayaknya seorang perempuan. Dimana seorang perempuan suka keindahan. Mulai dari perhiasan, busana, hingga berbagai jenis kosmetik yang memperindah wajahnya. Selin itu, ibu harus bisa menghemat pengeluaran lainnya. Seperti menu makan, listrik, dan kebutuhan lainnya. Adakalanya ibu rela tidak makan lauk seperti biasa. Seringkali ibu memasak sayur yang dapat dijadikan blendrang. Agar lebih hemat akan pengeluaran untuk makan setiap harinya. Ya, masa ini perjuangan ibu luar biasa. Baik dari segi ekonomi maupun rasa khawatir akan pengaruh buruk dari lingkungan anak.
Saat anak sudah memasuki dunia kerja, waktu bersama seakan tidak ada. Anak sudah disibukkan oleh pekerjaannya. Bahkan dikala libur, anak menghabiskan waktu bersama temannya. Ataupun istirahat di rumah dengan berdiam di kamar dan asyik dengan dunia digitalnya. Adakalanya hubungan antar keduanya seperti orang asing. Anak hanya berkomunikasi kepada ibunya dikala membutuhkan saja. Namun, tidak semua anak sama. Tentu, ibu juga mengeluhkan akan intensitas dan hubungan yang berjarak dengan anak. Karena anak diusia dewasa sudah memiliki pendirian dan potensi untuk mewujudkan impiannya. Anak sudah memiliki penghasilan yang bisa memenuhi keinginannya. Pada masa ini, ibu sulit untuk memberikan arahan kepada anak. Terlebih arahan tersebut tidak sesuai ekspektasi anak. Hal ini akan menimbulkan konflik antar keduanya.
Saat anak sudah memasuki pernikahan, ibu harus merelakannya untuk menjalani kehidupan dengan pasangannya. Adakalanya pasangannya mengajak berumah tangga jauh dari rumah ibunya. Karena faktor pekerjaan atau hal lainnya. Sehingga, ibu harus benar-benar merelakan momen bersama anak. Adakalanya pasangannya berkenan untuk tinggal bersama ibunya. Tetapi, momen kebersamaan anak dan ibu pun tidak seperti dulu. Anak sudah disibukkan dengan kehidupan ruma tangganya. Tetapi, hal yang sangat terasa adalah ketika anak sudah berpencar-pencar. Tidak serumah lagi dengan ibu dan saudara lainnya. Seakan, rumah tampak sepi. Hanya terdengar detikan jam yang bergerak begitu lambat. Padahal saat anak-anak masih kecil, begitu cepat masa yang dilalui. Kerinduan akan bercengkerama dengan anak-anak sangat terasa. Pun, keluhan yang terasa adalah sepinya rumah dari hiruk pikuk anak-anak.
Dari runtutan peristiwa diatas, kita sebagai seorang ibu harus siap akan peralihan masa anak. Dimana, tiap masa memberikan keluhan yang berbeda. Mumpung anak masih kecil atau usia sekolah, kita sebagai ibu sebisa mungkin memberikan kasih sayang yang lebih. Agar hubungan anak dan ibu tidak renggang karena faktor masa. Walaupun sudah menikah sekalipun, anak tetap menyayangi ibunya. Ya, mengeluh tidak dilarang. Tetapi, akan tiba masanya keluhan itu hanya sebatas kenangan. Dan kenangan itu akan dirindukan. Seakan kita ingin kembali ke masa yang kita keluhkan dulu.
Komentar
Posting Komentar