Euforia Malam Tahun Baru

             Euforia Malam Tahun Baru

Setiap liburan sekolah, saya selalu memilih singgah di rumah Tulungagung. Pasalnya, disana kedua orang tua saya senantiasa menantikan berkumpul dengan anak dan cucunya. Saya anak pertama memiliki seorang putri. Sedangkan, kedua adik laki-laki saya masih belum menikah. Dimana adik yang pertama sudah bekerja, sedangkan adik yang kedua masih mondok. Tentu, diluar liburan sekolah, bisa dibayangkan bagaimana keadaan rumah kedua orang tua saya. Tampak sepi sunyi. Hanya kedua orang tua saya yang memberikan suasana kehidupa bagi rumah masa kecil ini. Ya, momen liburan sekolah adalah sebagai sarana kumpul dengan keluarga untuk meluapkan rasa kangen yang teramat.

Kali ini, liburan semester bertepatan pada momen pergantian tahun baru. Liburan semester ganjil ini hanya sekitar sepuluh hari. Ini cukup untuk menikmati momen berkumpul dengan keluarga dan menikmati suasana kota Tulungagung. Momen pergantian tahun baru selalu membuahkan beberapa acara. Khususnya acara ajang berkumpul bersama sanak dan saudara, maupun teman serta tetangga dekat. Sungguh, saya dan anak tak melewatkan momen tersebut untuk berdiam di rumah Watulimo. Berbagai perlengkapan sudah saya persiapkan. Hingga akhirnya saya, anak dan suami melakukan perjalanan ke Tulungagung. Walaupun, harus menempuh perjalanan yang macet kala itu. Tetapi, tekad ini melapangkan hati tuk bersabar dalam melalui kemacetan yang tak terkendali.

Mendekati malam pergantian baru, kedua orang tua saya tampak sumringah. Saya dan kedua adik dapat berkumpul. Termasuk anak saya yang senantiasa beliau impikan sejak lama tuk bertemu. Diamana adik saya yang kedua memperoleh liburan yang cukup panjang dari pondok. Serta adik saya yang pertama menyempatkan pulang menjelang malam tahun baru. Saya dan kedua orang tua tahu benar bahwa adik saya yang pertama sangat sibuk akan pekerjaannya. Kami, sempat berlapang dada jika dia tak pulang. Namun, tak disangka-sangka dia pun memberikan kabar pulang. Sungguh, bisa berkumpul dengan keluarga adalah momen langka. Sangat terasa ketika masing-masing memiliki kesibukan. 

Euforia malam tahun baru mulai tampak disepanjang jalan. Kebetulan rumah saya yang berada di tepi jalan, dapat melihat aktivitas orang yang berlalu lalang. Terlihat, dua orang dewasa yang mengendarai sepeda montor sedang membawa dua kantong kerupuk. Tampaknya akan dijadikan kudapan menjelang malam pergantian tahun baru. Tetangga saya tak kalah hebohnya. Sembari diantar suami, membawa dompet tuk membeli berbagai keperluan untuk acara makan bersama tetangga dan saudara. Saat beliau pulang, istrinya membawa dua kantong kerupuk berkuruan besar dan jagung manis yang masih berbalut dengan kulitnya. Pun, saya hanya melihat berbagai pengendara berlalu lalang sembari membawa berbagai keperluan untuk ajang menyambut malam tahun baru.

Kebetulan saya dan keluarga di rumah tak mempersiapkan akan malam pergantian tahun baru. Karena, kami akan berkumpul di rumah saudara untuk makan-makan. Kedua orang tua dan adik-adik saya tidak berkenan berkumpul di rumah saudara. Akhirnya, saya, anak dan suamilah yang mewakili keluarga. Saat melakukan perjalanan kesana, tampak beberapa rumah dipenuhi banyak orang. Saling bahu membahu untuk memeriahkan malam tahun baru. Mulai dari mempersiapkan tungku pembakaran, menyiapkan tempat untuk bersantai, hingga memasak sesuai menu yang diinginkan. Tak lupa, pernak-pernik hiburan pun tak luput dari bagian kemeriahan malam tahun baru. Ya, sound sistem ditata rapi oleh kaum laki-laki.

Sesampainya di rumah saudara, pun saya membantu mempersiapkan berbagai kudapan untuk dinikmati bersama. Anak saya asyik bermain dengan keponakan dan teman sebayanya. Sedangkan suami, asyik berdialog dengan saudara saya yang lain. Sungguh, momen berkumpul ini tak dapat saya lewatkan begitu saja. Melalui momen ini, saya yang jarang bersua dengan saudara jauh, dapat bertegur sapa. Tentu, tak hanya bertegur sapa saja. Melainkan, saling menceritakan pengalaman dan rutinitas yang bisa menghangatkan suasana yang hening. Memang, jarang bertemu menjadikan canggung tuk mengobrol bersama. Apalagi bergurau bersama, tentu nyaris tak terlintas dalam benak kami. Melalui obrolan sederhana itulah yang meluruhkan keheningan dalam keramaian.

Akhirnya, kami menikmati kudapan yang tersedia. Makan bersama tampak begitu nikmat. Menu sompil ini terasa nikmat. Biasanya saya menjumpai makan sompil bersama saat momen syawal. Namun, momen pergantian malam tahun baru ini, menu ini tampak spesial juga tuk dinikmati. Anak saya yang kurang suka masakan pedas, memilih sate sebagai menu untuk mengisi perutnya. Obrolan demi obrolan seakan menghangatkan suasana saja. Tak sadar, sompil yang ada di piring sudah habis. Namun, obrolan ini tampaknya tak tega tuk dimandekkan begitu saja. Hingga akhirnya, adzan maghrib berkumandang. Suami izin untuk melaksanakan sholat di rumah kedua orang tua saya. Karena beliau lebih nyaman sholat disana. Akhirnya, saya dan anak menunggu beliau di rumah saudara sambil menikmati kebersamaan berkumpul bersama mereka.

Pukul 19.20 suami tiba di rumah saudara sambil memakai helm. Terlintas dalam benak saya, beliau akan mengajak dimana. Anak saya yang suka jalan-jalan menyambut dengan wajah yang sumringah. Kami pun berpisah dengan saudara di tengah momen berkumpul-kumpul. Ternyata suami sudah membawakan saya helm. Kami pun menikmati euforia malam pergantian tahun baru. Disepanjang jalan tampak kumpulan orang yang asyik menikmati kudapan dan berdendang bersama. Acara bakar-bakar tak pernah luput dari momen malam pergantian tahun. Asap yang mengepul menambah kekhasan akan malam tahun baru. 

Kami mencoba mengunjungi GOR yang berada di Lembu peteng. Tampak café yang padat akan kerumunan kaum muda dan mudi. Tetapi, café yang jauh dari pusat kota, tampak sepi. Nyaris tak ada pelanggan yang menikmati kudapan atau secangkir kopi yang terjual disana. Disepanjang perjalanan banyak pasangan muda mudi yang saling berboncengan. Ya, jalan begitu ramai. Kami yang sampai di depan GOR, hanya bisa memberhentikan motor sejenak. Melihat padatnya motor yang diparkir di depan GOR, seolah menciutkan hati kami tuk memasuki area GOR. Akhirnya, kami memilih membelokkan arah. Dan perjalanan ini kami niatkan untuk melihat keramaian kota saja.

Saya tak melihat kumpulan penjual terompet. Pun, saya teringat akan masa lalu. Dimana, momen ini selalu identik dengan terompet. Mulai dari bentuk sederhana, hingga bentuk rumit. Namun, sekarang pemandangan itu terhempas dengan perubahan zaman. Saat, melewati toko petasan, tampak kerumunan orang memadati toko tersebut. Kami hanya bisa melihat saja. Mau berhenti secara mendadak, motor dan mobil di belakang dan depan seakan tak bisa dikompromi. Mereka melaju dengan cepatnya. Bahaya bagi kami jika mendadak berhenti atau membelokkan arah. 

Saat melewati kawasan alun-alun Tulungagung, tampak sepeda motor berjejer dengan rapi. Sangat banyak barisan sepeda motor menutupi area alun-alun. Ternyata ada panggung hiburan dan barisan polisi keamanan yang sedang menjaga. Kami pun mengalihkan niat untuk singgah sejenak di alun-alun. Kami melanjutkan perjalanan pulang ke rumah saja. Ya, perjalanan ini hanya sekedar menikmati suasana keramaian di kota saja. Tidak sempat kami bersinggah di suatu tempat. Karena khawatir perjalanan pulangnya akan sulit dilalui.

Dari perjalanan ini saya berpikir bahwa penduduk yang jauh dari pusat kota, mungkin lebih memilih berkumpul bersama keluarga dan saudara di rumah. Dengan menikmati acara bakar jagung, sate atau makanan lainnya. Pun sudah menjadi simbol akan ikut serta meramaikan malam tahun baru. Namun, bagi penduduk yang dekat dengan pusat kota, mungkin lebih memilih berkumpul di pusat keramaian, seperti café, angkringan, GOR atau alun-alun kota. Namun, banyak juga penduduk yang cuek akan malam tahun baru ini. Memilih tidur di rumah dan menutup pintu. 

Puncak dari momen malam tahun baru adalah menyalakan kembang api. Saat pukul 00.00 terdengar suara letusan kembang api. Pun, saya yang awalnya tertidur, tiba-tiba bangun. Membuka mata dan berjalan ke luar rumah. Mayoritas semua orang juga berada di luar rumah. Melihat percikan kembang api yang tampak indah di langit. Tak hanya satu atau dua kembang api yang dinyalakan, melainkan ada banyak. Hingga langit yang gelap berubah menjadi terang akan pancaran bintang-bintang dari percikan kembang api. Tangan manusai sedang melukis langit dengan percikan kembang api tersebut. Ya, tampak indah. Hingga, kepala saya tak terdasar sudah mengahadap langit terlalu lama.     
  

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bahagia dengan Menyibukkan Diri

Rindu

Rindu