Menyemai Kata di Sepanjang Pejalanan ke Selecta

Menyemai Kata di Sepanjang Perjalanan ke                                 Selecta

Sebuah perjalanan senantiasa mendatangkan beragam cerita. Baik cerita menarik, biasa-biasa saja, atau bahkan cerita yang membuat hati jengkel. Ya, seringkali kejengkelan dalam perjalanan datang dengan sendirinya. Walaupun, kita tak mengundangnya hadir dalam cerita perjalanan ini. Tentu, mayoritas orang ingin perjalanan terasa menarik. Jika, hanya biasa-biasa saja mungkin tidak terlalu terkesan bagi diri pribadi. Tetapi, yang biasa-biasa saja jika dihayati dan dinikmati akan setiap nikmat yang Allah berikan, tentu menjadi pengalaman yang menarik juga. Tergantung bagaimana setiap orang memaknai perjalanan yang sedang dinikmati. 

Kali ini, saya dan anak sedang melakukan perjalanan ke Selecta. Tempatnya di desa Tulungrejo, kecamatan Bumiaji, Kota Wisata Batu Malang. Perjalanan ini bukan agenda pribadi. Tetapi, kegiatan study tour yang diadakan oleh Lembaga tempat anak saya sekolah. Sebenarnya, agenda tersebut khusus anak kelas 6 dan TK B saja bersama wali murid yang ingin ikut. Tetapi, karena masih ada kursi yang kosong, Kepala Sekolah memberikan informasi tersebut di grub. Sontak, anak saya yang suka dengan traveling, pun mendaftarkannya sebagai peserta study tour. Saya yang awalnya tidak tertarik ikut, lambat laun hati ini tergugah juga untuk ikut. Akhirnya, saya dan anak ikut study tour ke Selecta bersama rombongan TK dan SDIT Nuurul Fikri .

Perjalanan ini bermula dari saya yang bangun diawal waktu. Pun, berbagai perlengkapan harus diteliti dengan cermat. Walaupun, malam hari saya dan anak sudah menyiapkan berbagai keperluan yang harus dibawa. Tetapi, cek ulang adalah langkah yang tepat. Agar tidak terlupa dengan apa yang akan dibawa. Selanjutnya, saya memasak nasi dan lauk. Ini untuk bekal perjalanan saya dan anak. Saya memilih membawa bekal guna keefektifan dan efisiensi saja. Selain itu, ini juga bagian dari intruksi sekolah untuk membawa bekal sendiri dari rumah. Menggoreng ayam dan tahu yang sudah dibumbui berbagai rempah serta telur, adalah menu simpel. Ditambah sambal geprek akan membangkitkan cita rasa lambung saya dan anak. Bekal tersebut saya bungkus di kertas nasi. Ini juga pilihan kepraktisan. Agar waktu pulangnya, ada pengurangan beban barang bawaan. 

Adzan subuh berkumandang, saya segera sholat dan memasak air. Selanjutnya, saya membangunkan anak untuk bangun. Biasanya, dia sulit dibangunkan. Tetapi, kali ini berbeda. Hanya dipanggil satu kali saja, kedua bola matanya langsung terbuka. Ah, dasar anak kalau ada momen yang ditunggu-tunggu selalu terbayang dalam benaknya. Hal ini membuat dia semangat untuk bangun subuh. Pun, dia segera mandi dengan air hangat yang sudah saya persiapkan sebelumnya. Saya harus mengularkan kucing peliharaan keluarga untuk dibersihkan kadangnya. Agar saat saya dan anak keluar rumah dengan durasi yang lama, kandangnya tidak terlalu kotor. Karena kucing kami agak rewel saat kandangnya terlalu kotor. Kandang yang bersih serta makan dan minum sudah saya siapkan didalamnya. Saya menaruh kandangnya di luar rumah. Pun kucing kami dimasukkan kembali ke kandang. Pun, saya menitipkannya ke ibu mertua. Selanjtnya saya mandi dan merias diri.

Sesuai jadwal yang sudah ditetapkan, perjalanan dimulai pukul 04.30. Saya yang sering melakukan perjalanan dengan rombongan, merasa tidak percaya akan ketepatan waktu pemberangkatan. Saya diintruksikan oleh Bu Anys untuk menunggu di depan Surya Mart. Karena, lokasi tersebut dekat dengan rumah saya. Selain itu, lokasi tersebut berada di pinggir jalan Raya Prigi sebagai rute perjalanan ke Selecta. Saya lihat digawai tidak ada perkembangan akan pemberangkatan rombongan di titik kumpul. Yaitu di depan toko Dunia Plastik. Pun, saya japri Bu Anys. Tetapi, belum di balas. Saya juga japri guru lain, pun sama saja belum dibalas. Akhirnya, saya telfon Ibunya Eyza. Yaitu ibu dari teman satu kelas anak saya. Beliau fast respon ternyata. Beliau mengatakan belum berangkat di titik kumpul. Pun diri ini yakin bahwa belum ada indikasi pemberangkatan. Saya minta ke beliau untuk senantiasa memberikan kabar akan pemberangkatan rombongan. Karena beliau berangkat di lokasi titik kumpul.

Akhirnya, pukul 05.05, Bu Anik memberikan perkembangan pemberangkatan. Bahwa bis sudah on the way. Ibunya Eyza juga menjapri saya dengan kabar yang sama. Akhirnya, saya dan anak berjalan kea rah Surya Mart. Kami tak lupa berpamitan kepada kedua mertua. Anak saya terlihat semangat mengikuti study tour ini. Tak lupa kami bertegur sapa dengan orang-orang yang sedang melakukan aktivitas pagi di luar, seperti menyapu halaman, olahraga pagi atau sekedar berada di luar rumah. Dimana, pertanyaan yang ditujukan ke saya adalah sama. Tentu, jawaban yang saya berikan juga sama. Di Surya Mart ada Ustad Lukman yang sedang menunggu rombongan. Ternyata beliau juga ikut ke Selecta. Akhirnya, beberapa menit kemudian, bus sudah tiba di depan Surya Mart. Dengan ucapan bismillah, saya dan anak menginjakkan kaki di bus. 

Saya duduk di barisan depan. Tepatnya di belakang Pak kernet. Saya ditempatkan di barisan ini bukan tanpa alasan. Bu Anys yang mengetahui bahwa saya dan Alifa rawan mabuk, menempatkan kami di kursi tersebut. Saya bersyukur akan perhatian beliau kepada kami. Posisi tempat duduk yang nyaman, membuat suasana hati menjadi tenang. Saya bisa melihat jalan yang kami lintasi. Jalan pegunungan yang berliku-liku, membuat saya sedikit mual saja. Pun, mencoba menikmati buah melon yang sudah siap disantap. Iringan lagu happy asmara melunturkan mindset saya untuk tidak mabuk. Saya ragu untuk minum obat dramamin. Karena setelah makan melon, dan mencoba rebahan sebentar, seakan rasa mual pun sembuh. Saya terbangun saat melintasi jalan yang awalnya rusak parah. Tapi, sekarang jalan Raya Prigi ini sudah mulus saja. Ya, saya sudah lama tidak melakukan perjalanan ke Tulungagung. 

Perjalanan harus berhenti di pom Campur Darat. Karena memberikan waktu bagi penumpang yang ingin ke toilet. Kebetulan saya dan anak belum ingin ke toilet. Kami pun makan buah melon dan beberapa snack yang sudah di bawa dari rumah. Tampak anak-anak  TK dari bis 1 keluar dari bus. Mereka berlari-lari untuk melenggangkan kaki dan tubuh yang terkungkung dalam himpitan kursi bus. Ya,anak-anak diusia TK memang sangat aktif.  Pukul 06.43 bis melanjutkan perjalanan ke Selecta. Saat memasuki Boyolangu, saya sempatkan fokus pada Lembaga yang berjejer di pinggir jalan. Saya menunjukkan ke anak bahwa pernah sekolah di MAN 1 Tulungagung. Pun saya menunjukkan sekolah Ayahnya dulu di SMKN 3 Boyolangu. Agar anak saya paham akan jejak pendidikan orang tuanya.

Saat bus berada di pemberhentian lampu lalu lintas, tampak ada sepeda motor yang membawa bendera dengan bergambarkan Ganjar Pranowo. Motor yang ditumpanginya cukup unik. Vespa adalah kendaraan yang dapat dimodifikasi berbagai ornamen. Hal ini juga menjadi pusat perhatian dari Pak Supir, Kernet dan saya yang berada dibarisan kursi paling depan. Polisi yang berada diarea lampu lalu lintas juga terhipnotis akan keunikan pengendara sepeda montor tersebut. Pun, saya berfikir dimana sumber dari kampanye tersebut. Menurut saya itu juga bagian dari suatu kampanye dari pasangan calon presiden dan wakilnya. Ternyata, saat melewati Hotel Crown, ada khalayak ramai dengan pakaian Ganjar dan Mahfud. Oh, ternyata sumbernya ada disitu.

Kali ini harus berhenti lagi di lampu lalu lintas untuk kesekian kalinya. Hingga Pak Supir mengeluh akan rute ini. Pasalnya, bisa yang saya tumpangi adalah bus yang kedua dari rombongan. Tak heran, jika bis 2 ini mengikuti rute yang ditempuh oleh bis yang pertama. Mungkin, jika melewati rute Durenan, akan memakan waktu yang relative singkat. Disela kegundahan Pak Supir, saya melihat ada penjual Koran. Dimana beliau sudah tua renta. Teapi masih semangat bekerja mencari penghasilan. Saya melihat Koran yang dibawa masih banyak. Berjalan kesana kemari guna menjajakan dagangannya. Tapi sayang, sopir-sopir yang dulu menjadi langganan Koran, sekarang tampak acuh dengan berita terkini. Apakah budaya membaca Koran mulai surut? Atau karena adanya kecanggihan media informasi. Sehingga, berita sejenis Koran tak jadi pusat perhatian bagi penikmat berita terkini.

Pukul 07.07 perjalanan sampai di area tikungan rumah saya. Tepatnya di Polsek Kedungwaru. Ingin rasanya pulang ke rumah. Sudah lama saya tak bersua Ibu dan Bapak. Saya harus menahan rasa kangen ini untuk beberapa hari. Ya, karena hari Minggu saya akan liburan ke Tulungagung berasama anak dan suami. Perjalanan pun sampai di Jembatan Ngujang. Saya kaget dengan renovasi jembatan ini. Pasalnya, sudah 1 tahunan saya tidak melewati jembatan ini. Pukul 07.19 bis dudah sampai di Kediri. Banyak baliho berlabel partai telah berjejer disepanjang jalan. Ya, ini tahun politik. Pemandangan seperti ini sudah menjadi hal yang lumrah. 

Ketika ada mobil merah yang berada di depan bus, sontak Pak Supir membunyikan kalkson. Sontak mobil tersebut minggir dikiri jalan. Dan bus melaju mendahului mobil tersebut. Seakan, bus menjadi Raja jalan saja. Saat tiba di Kras, banyak jejeran angkringan soto. Saya pernah makan soto di kawasan ini. Rasanya benar-benar nikmat. Tapi, saat ini masih tutup. Pukul 08.06 bus sudah sampai di Simpang Lima Gumul. Baru kali ini saya tahu yang namanya jalan Simpang Lima Gumul. Mungkin, kalau sore pasti ramai dan pemandangan diarea bangunan nampak megah. Bus kembali melanjutkan perjalanan.

Saat lokasi bus menjauhi jalan Simpang Lima Gumul, tiba-tiba Pak Sopir mendapatkan telefon. Ternyata telefon tersebut dari bus pertama. Beliau disuruh untuk membelokkan ke arah jalan Simpang Lima Gumul. Karena rombongan harus istirahat sebentar dan sarapan. Terjadi miskomunikasi antara bis satu dan dua. Sehingga, bus dua membelokkan arah ke lokasi tempat sarapan. Pak Supir agak kecewa, karena pemberitahuannya secara mendadak. Dan membelokkan arah juga butuh kesabaran di tengah padatnya kendaraan yang berlalu lalang.

Akhirnya, bus sampai di area parkir Simpang Lima Gumul. Area yang begitu luas dan tempat yang asri. Memang pas jika area ini dijadikan tempat istirahat sebentar dan sarapan. Saya dan anak sarapan disana. Sembari membuka toples berisikan buah. Sesudah sarapan, saya dan anak ke toilet. Agar di tengah perjalanan tidak terganggu dengan masalah buang air kecil. Pukul 08.42 rombongan masuk ke dalam bus. Karena perjalanan akan dilanjutkan lagi. Bus keluar area parkiran Gumul pukul 08.59. Selanjutnya, bus mencari bahan bakar berupa solar di pom bensin. Kebetulan di pom bensin juga tidak mengalami antrian yang panjang. Sehingga, Pak Supir memilih mengisi bahan bakar daripada kehabisan di tengah jalan. 

Saat melewati lampu lalu lintas, ada dua boneka yang mencari pundi-pundi rupiah. Sesekali harus membuka kepala boneka, agar orang yang didalamnya tidak mengalami sesak. Dua kepala boneka dibawa oleh masing-masing orang sembari berjalan mencari sumber rupiah. Padahal, saat itu cuaca sedang panas-panasnya. Begitulah perjuangan pencari rupiah. Harus tahan akan sengatan matahari dan guyuran keringat. 

Pun, perjalanan telah sampai di kawasan Kampung Inggris. Area kursus bahasa inggris tampak sepi dari kerumunan pelajar. Mungkin, akan ramai saat memasuki musim liburan. Saat itu, sekolah masih aktif belum libur. Mungkin, beberapa hari area kampong Inggris akan kembali dipadati oleh para pelajar. Namun, saat berada di English Centre, terlihat gerombolan pelajar yang berduyun-duyun sembari membawa buku. Ternyata, masih ada dipadati kerumunan para pelajar. Tidak semua lembaga kursus sepi dari kerumunan pelajar. 

Pukul 09.58 sampailah bis di lokasi Kabupaten Malang. Saya bersyukur sejauh perjalanan ini, belum ada indikasi mabuk perjalanan. Padahal, saya belum minum obat anti mabuk. Saya melihat anak saya juga tampak baik-baik saja. Nikmat yang luar biasa ketika perjalanan panjang diberikan kesehatan oleh Allah. Akhirnya, bis memasuki kawasan Songgoriti. Dimana, kawasan tersebut adalah daerah pegunungan. Seperti didaerah tempat tinggal saya, yaitu Watulimo. Saya terpaku dengan pohon bambu yang menjulang tinggi. Jika di tempat saya, belum terlalu tinggi saja sudah dipangkas. Ya, karena digunakan sebagai bahan baku pembuatan reyeng. Dimana, mayoritas warga Watulimo memiliki mata pencahariaan pembuat reyeng untuk menaruh ikan pindang. 

Saya berfikir, apa mata pencahariaan warga Songgoriti? Padahal lokasi ini tidak dekat dengan kawasan pantai. Dimana, melalui sumber daya salam berupa perairan, akan terbantu dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari. Perjalanan demi perjalanan memberikan saya pemahaman bahwa area pegunungan kaya akan hasil bumi. Seperti durian yang berjejer disepanjang jalan, hasil perkebunan berupa sayuran dan sektor pariwisata yang tak sepi dari sebuan para pelancong. Keindahan alam yang luar biasa, menjadikan sektor pariwitas sebagai sumber pereokonomian bagi masyarakat setempat. 

Saya melihat banyak warga yang membudiyakan sayuran. Ada yang hanya pembibitan saja dan sudah dijual. Ada yang membudidayakan hingga sudah siap konsumsi. Di sepanjang warung makanan, saya melihat tulisan “Sikat Pop Mie”. Dari kalimat tersebut saya berfikir bahwa warung tersebut menjual sikat yang berlebel pop mie. Atau itu adalah sebuah promosi belaka ada yang namanya sikat berlebih pop mie yang dijual bebas di pasaran. Tapi, saya kok curiga. Apakah betul tafsiran saya. Ternyata, setelah berfikir panjang. Artinya adalah  Ayo makan pop mie!. Saya pun tertawa geli dalam hati. Akhirnya, perjalanan sampai di tempat tujuan pukul 11.50. Saya dan anak segera turun dari bus menuju lokasi Selecta.
    

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bahagia dengan Menyibukkan Diri

Rindu

Rindu