Nasihat Ibu: Yen Oleh Masalah Abot, Ndonga Marang Gusti Supaya Dikuatne.

        Nasihat Ibu: Yen Oleh Masalah Abot,             Ndonga Marang Gusti Supaya Dikuatne
    “Jika Mendapatkan Permasalahan Berat,          Berdoalah Kepada Allah Agar Dikuatkan”

Hidup ini begitu dinamis. Tidak selamanya manusia berada pada zona nyaman. Terkadang harus berhadapan dengan permasalahan. Begitulah Allah mendesign kehidupan manusia. Karena permasalahan itu seringkali membawa hikmah bagi manusia. Jika manusia selalu dalam kemudahan, apa yang akan terjadi? Mungkin dia tak akan memahami hakikatnya sebagai khalifah di bumi. Yaitu pembawa kebajikan antar sesama dan menjaga alam yang telah ditipkan-Nya. Kebajikan akan diperoleh melalui proses pembelajaran. Melalui problematika yang mungkin dihadapinya, ada pembelajaran yang dapat diambil hikmahnya. Begitulah Allah memberikan pendidikan kepada manusia. Agar menjadi insan yang bertakwa. Sehingga, peran sebagai khalifah di bumi dapat dilaksanakan dengan baik.

Dalam konteks kehidupan rumah tangga, tentu kita sering dihadapkan  pada berbagai masalah. Dua orang yang berada dalam satu atap. Masing-masing memiliki latar belakang, ideologi, harapan, dan egois yang berbeda. Tentu, menimbulkan masalah merupakan hal yang wajar. Bahkan, masalah bukan hanya datang dari pihak suami istri, melainkan dari pihak ketiga, keempat dan seterusnya. Adakalanya masalah tersebut menimbulkan guncangan psikologis bagi keduanya. Maka, sekali lagi Anda jangan heran akan kewajaran ini. Coba Anda perhatikan akan hubungan antar saudara kandung. Dimana, mereka dilahirkan pada rahim yang sama. Diasuh oleh orang tua yang sama. Serta, hidup bersama dalam kurun waktu yang relatif lama. Masing-masing pun sudah memahami akan sifat atau watak satu sama lain. Bukankah hubungan mereka juga diliputi berbagai masalah? Jadi sekali lagi jangan heran akan problematika dalam kehidupan rumah tangga.

Permasalahan dalam kehidupan rumah tangga memang bervariasi. Mulai dari ringan, sedang hingga permasalahan yang berat. Hal ini tergantung pada diri masing-masing untuk menyelesaikannya. Pada konteks seorang istri, tentu akan berjumpa pada permasalahan yang kompleks. Sebelum memiliki anak, ada rasa kecemasan akan tidak memiliki keturunan saat kurun waktu pernikahan mencapai angka 2 tahunan. Saat memiliki anak, ada rasa kecemasan akan karirnya yang terhambat. Bahkan saat penghasilan suami tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarga, ada rasa kecemasan akan masa depan anak dan keluarganya. Dan banyak lagi kecemasan yang menyelubungi pikiran seorang istri. Sehingga, istri mengharuskan diri untuk berperan ganda dalam satu waktu. Selain menjadi ibu untuk anak-anaknya, istri untuk suaminya, ia juga mencari penghasilan tambahan untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Kondisi mental dan fisik yang belum siap, memberikan tekanan psikologis pada dirinya. Hal ini menimbulkan permasalahan dalam dirinya.

Ahli psikolog menyebutkan bahwa seorang perempuan yang sudah berumah tangga rawan menderita depresi akibat permasalahan kompleks yang menerpanya. Padahal depresi merupakan salah satu penyebab dari tindakan bunuh diri (Meilanny dkk., 2017). Sedangkan jika menilik kasus bunuh diri di Indonesia cukup tinggi, sebanding dengan Negara Jepang yang dikutip oleh Meilanny dkk., dari majalah Tempo (Meilanny., 2017). Hal ini sangat disayangkan, khususnya bagi perempuan yang berumah tangga sebagai indikator yang rawan menderita depresi. Selain itu, kita juga masih ingat akan berita satu tahun yang lalu. Bahwa seorang ibu tega membunuh anaknya karena merasa berdosa telah membentak-bentak anak-anaknya. Ini bukan tanpa alasan seorang ibu bertindak demikian. Ada tekanan dalam diri yang tidak bisa diselesaikannya. Sehingga, mengganggu kesehatan mental dan psikisnya. Akhirnya timbul depresi dalam dirinya.

Selain kecemasan yang timbul dalam diri seorang istri dan beban gandanya, ia juga berjumpa dengan permasalahan yang rumit. Seperti, perselingkuhan dari suami, fitnah rumah tangganya dari pihak ketiga, ada anggota keluarga yang sakit parah, tekanan ekonomi yang tak kunjung reda, dan masih banyak lagi. Hiruk pikuk permasalahan ini seolah menguras tenaga dan pikiran. Kalaupun mengeluh, yang ada hanyalah disudutkan sebagai resiko menjadi seorang istri. Tak jarang, sosok istri sering kali dikambing hitamkan akan permasalahan yang mucul dalam rumah tangganya. Sehingga, seringkali dia hanya merenung dan menyelesaikannya sendiri. Hal ini menjadi pemicu baginya menimbun permasalahan besar dalam diri. Pada akhirnya, masalah besar itu menyebabkan stress hingga depresi. 

Berkaitan dengan permasalahan rumah tangga serta relevansi terhadap kejiwaan seorang istri, ada sosok yang senantiasa memberikan support. Sebut saja seorang ibu yang senantiasa menyayangi putrinya walaupun sudah menikah. Ini juga hal yang wajar. Karena fitrah dari seorang ibu adalah melindungi dan menjaga anaknya hingga tutup usia. Sosok ibu memberikan nasihat kepada penulis bahwa “yen oleh masalah abot, ndonga marang Gusti supaya dikuatne.” Artinya jika mendapatkan permasalahan berat, berdoalah kepada Allah agar dikuatkan. Nasihat beliau relevan akan beban ganda seorang perempuan dan hiruk pikuk kehidupan rumah tangga. Dimana, dalam situasi apapun, seorang perempuan harus mendekatkan diri kepada Allah agar dikuatkan dalam menjalaninya. Sehingga, tidak menimbulkan stress yang berkepanjangan hingga menyebabkan depresi.

Quraish Shihab (2011:435) menjelaskan bahwa pada hakikatnya, kehidupan di dunia adalah adanya keniscayaan cobaan yang beraneka ragam. Apalagi, kehidupan rumah tangga yang merupakan salah satu ibadah terpanjang. Tetapi, manusia atas potensinya juga memiliki kelemahan dalam dirinya. Salah satunya adalah mengelola hawa nafsunya untuk diarahkan pada sesuatu yang baik. Termasuk sikap rasa cemas yang pada akhirnya menimbulkan stress hingga depresi. Dimana pemicunya adalah permasalahan berat yang dihadapinya. Seolah dalam situasi ini, dia mendewakan pikiran dan gejolak jiwanya. Sehingga, ada rasa takut untuk mengahadapi cobaan yang sedang menrepanya. Padahal manusia tidak hidup sendiri di pentas kehidupan ini. Ada Allah yang senantiasa menjaganya serta menjadi tumpuan atas berbagai beban hidupnya. Allah yang memiliki sifat Maha Pengasih dan Penyayang senantiasa menyambut hangat atas hambaNya yang mendekatkan diri padaNya. Hal ini berdampak pada luruhnya kecemasan dalam dirinya akibat pertolongan dari Allah.

Quraish Shihab (2011:233) memaparkan bahwa sejatinya, cobaan seringkali berpotensi mengantar seseorang untuk mengingat Allah. Selanjutnya, ‘Aidh al-Qarni (2004:50) menerangkan bahwa tujuan Allah menurunkan musibah atau cobaan kepada manusia adalah untuk menguji manusia yaitu seberapa besar kesabarannya dalam melalui musibah tersebut. Artinya melalui cobaan, seseorang akan senantiasa mengingat Allah dan menjadi pribadi yang kuat serta bertakwa kepada Allah. Karena cobaan tersebut mengajarkan manusia untuk senantiasa bersabar dalam kedaan yang sulit. Walaupun situasi tersebut mengantarkan manusia pada kesedihan yang mendalam. Bahkan ada rasa ingin menyerah saja. Seakan hidup tidak lagi ada artinya. ‘Aidh al-Qarni (2004:49) mengatakan bahwa ketika seseorang ditimpa kesedihan hendaknya ia senantiasa melawannya dengan doa sebagai sarana untuk mengusir kesedihan. 

Seyogianya, sebagai seorang istri senantiasa berdoa kepada Allah dikala senang maupun susah. Dimana dalam proses perjalanan pernikahannya seringkali berjumpa dengan berbagai permasalahan. Tentu saat seorang istri tertimpa suatu permasalahan yang berat, seakan doa menunjukkan eksistensinya dalam kehidupannya. Hal ini menjadikan dirinya berada diposisi sangat butuh kepada Allah atas segala kelemahan dalam menghadapi permasalah yang berat tersebut. Harapannya adalah mendapatkan pertolongan dari Allah. Yaitu dengan keyakinan yang kuat akan kekuasaan dan kasih sayang Allah kepada makhluk-Nya. Doa menjadikan hati bagi yang memanjatkannya lebih tenang. Dan benar apa yang dikatakan oleh ‘Aidh al-Qarni bahwa doa dapat dijadikan sarana untuk mengusir kesedihan. Tentu, dalam situasi apapun, terlebih dikala sedang mengalami permasalahan yang berat, doa menjadi teman yang terbaik dalam menghadapi permasalahan tersebut.

Berkaitan dengan problematika seorang perempuan yang berumah tangga, tentu doa adalah sarana yang tepat dalam mengusir berbagai kecemasan hingga stress. Dalam konteks ujian atau cobaan, menurut Quraish Shihab (2011:417 ) bahwa Allah tidak menguji umat-Nya melebihi kemampuannya. Sedangkan kadar dari ujian yang diberikan oleh Allah adalah sedikit dibandingkan dengan potensi yang telah dianugerahkan oleh Allah kepada manusia. Artinya, seseorang sebenarnya mampu menghadapi berbagai problematika kehidupan rumah tangga dengan mengggunakan potensi yang Allah berikan. Yaitu melalui usaha, sabar, dan kepercayaan diri akan pertolongan dari Allah. Tentu, berdoa supaya dikuatkan adalah pilihan yang tepat sebagai makhluk yang memiliki potensi dan kelemahannya.

 Seorang istri sekaligus ibu memiliki peran yang tidak mudah. Terpaan permasalahan hidup menjadikannya pribadi yang kuat. Yaitu jika dia mampu menghadapi dan melalui berbagai rintangan yang menerjangnya. Walaupun, tidak dipungkiri saat kondisi mental dan psikis yang kurang siap, seringkali dia memilih untuk pasrah. Bahkan saat kepasrahan ini tidak kunjung ada titik temunya, timbul rasa cemas hingga depresi. Posisi ini memang dibutuhkan support dari orang terdekatnya. Khususnya suami dan anggota keluarga lain. Jika rasa tenang tidak didapatkannya, tentu ada luapan emosi yang membendung dalam hatinya. Hingga anak-anaknya yang mungkin menjadi objek luapan emosinya. Peran sebagai ibu tidak dapat dikerjakan dengan baik. Luapan emosi tersebut juga mengganggu kesehatan mental seorang anak. Selain itu, hubungan dengan suami tak lagi harmonis. Hal ini menjadikan keadaan rumah seperti di neraka baginya sekaligus anak dan suaminya. Tentu, menjadi pribadi yang kuat adalah pilihan bagi seorang istri demi kebaikan anak-anaknya dan keluarganya.

Penulis mengutip nasihat dari M. Husnaini (2023: 102) bahwa dalam keadaan yang tidak menguntungkan, dibutuhkan hati yang semeleh. Ini menarik untuk diteladani, khususnya bagi seorang perempuan yang berumah tangga. Mengingat akan peran ganda dan problematika kehidupan rumah tangga, dibutuhkan hati yang semeleh. Yaitu dikala menghadapi permasalahan yang berat. Dengan hati yang semeleh, dia akan mudah dalam meluapkan kerendahan hati kepada Allah saat berdoa. Memohon kepada Allah agar dikuatkan dalam menghadapi cobaan yang menerpanya. Rasa egois untuk memaksa Allah menyelesaikan persoalannya, seakan luntur. Rasa egois tersebut muncul akibat perasaan takut pada diri seseorang untuk menghadapi persoalannya. Ketakutan tersebut adalah hasil imajinasi terhadap masa depan yang belum jelas akan terjadi dan dialaminya. Ya, saat mengahadapi persoalan yang berat dibutuhkan hati yang semeleh dan dibarengi dengan doa.

Pesan Ibu terhadap penulis sangat tepat ditinjau dari peran penulis sebagai seorang ibu, istri sekaligus hamba Allah. Seorang hamba sangat patut untuk bermohon kepada-Nya akan segala kelemahan dalam menghadapi problematika kehidupan rumah tangga. Tetapi, seorang ibu sekaligus istri juga harus kuat dalam menghadapi berbagai persoalan rumah tangganya. Penulis mengutip ungkapan dari Quraish Shihab (2011: 437) bahwa takut dalam menghadapi ujian adalah pintu gerbang menuju kegagalan, maka biarkan ujian datang kapan saja, tetapi ketika itu kita telah siap menghadapinya. Rasa takut untuk menghadapi ujian adalah perasaan awal akibat respon seseorang saat diterpa ujian. Ini adalah hal yang wajar sebagai makhluk yang masih lemah akan imannya. Melalui hati yang semelah dan pendekatan diri kepada Allah yaitu doa, tentu rasa takut akan mereda.

Kehidupan rumah tangga memang diwarnai dengan berbagai hiruk pikuk berbagai permasalahan. Tentu, doa adalah benteng bagi kita dalam menghadapi permasalahan tersebut. Doa agar dikuatkan adalah pilihan yang tepat. Pasalanya, kita tidak hanya menghadapi satu atau dua permasalahan, melainkan beraneka ragam jenis dan kadarnya. Saat kita berhasil melewati satu anak tangga, akan muncul anak tangga berikutnya. Dimana, untuk melewati anak tangga berikutnya diperlukan kekuatan mental yang lebih besar dibandingkan sebelumnya. Dan ini akan terus berlangsung hingga akhir hayat. Jika kita menyerah, maka robohlah bangunan anak tangga yang sudah dilalui. Hal ini juga berpengaruh terhadap robohnya keutuhan rumah tangga. Maka, doa agar dikuatkan adalah jalan yang terbaik bagi kita dalam menapaki kehidupan rumah tangga yang diselimuti berbagai permasalahan.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bahagia dengan Menyibukkan Diri

Rindu

Rindu