Relevansi Pasangan Hidup terhadap Lahirnya Suatu Karya
Relevansi Pasangan Hidup terhadap Masa Depan Suatu Karya
Oleh: Siti Rodiah
Suasana talkshow saat itu terasa hening. Para peserta disibukkan dengan mencatat setiap materi yang disampaikan oleh pemateri. Namun, ada juga yang sibuk dengan gawainya. Tapi, jangan kira dia tak memperhatikan materi talkshow. Dia juga aktif mencatat dengan media elektronik. Ada juga yang diam tanpa suara, namun tanpa aktivitas menulis. Mungkin lagi konsentrasi dengan materinya. Dan memahaminya secara kritis. Ya, keheningan ini seakan terasa sunyi. Tiba-tiba kesunyian ini menjadi ramai. Mayoritas para peserta talkshow tertawa hingga merekah suasana auditorium yang semula hening. Ya, ini akibat pesan yang disampaikan oleh Ning Khilma Anis kepada para penulis pemula atau yang akan menyalami dunia literasi. Khusunya bagi para jomblo. Tentu, banyak mahasiswa yang bersorak seakan mendukung wejangan dari Ning Khilma. Saya sendiri pun tersenyum merekah dan menganggukkan kepala. Walaupun saya sudah menikah, tetapi ada benarnya wejangan Ning Khilma.
Ning Khilma Anis memberikan pesan bahwa carilah pasangan hidup yang tepat jika ingin menjadi penulis. Ya, ini dikhususkan bagi para yang masih lajang. Tetapi, bagi yang sudah terlanjur menikah, ya dilajalani saja dulu. Kalaupun pasangan kita tidak suka dengan dunia literasi, minimal beliau tidak otoriter terhadap pemenuhan kewajiban kita sebagai pasangan hidupnya. Karena dalam hidup berumah tangga, masing-masing memiliki kewajiban. Tetapi, jika saling toleransi, maka akan terjalin hubungan yang harmonis. Memang, masing-masing memiliki hak terhadap kehidupannya. Namun, harus tahu porsi dan waktunya. Begitu juga dengan menulis yang membutuhkan proses untuk menyelesaikannya.
Berkaitan dengan pasangan hidup dan relevansi dengan aktivitas menulis. Saya juga setuju dengan wejangan dari Ning Khilma. Pasalnya, menulis itu membutuhkan waktu dan suasana hati yang mendukung. Menulis adalah aktivitas pengungkapan idea tau gagasan berupa aksara yang berasal dari memori jangka panjang maupun jangka pendek. Seseorang yang hendak menulis membutuhkan informasi yang memadai. Informasi dapat diperoleh dari aktivitas membaca maupun pengalaman nyata bagi penulis. Nah, dari rentetan peristiwa itu, tentu tak heran bahwa menulis adalah proses. Maka, butuh toleransi dari pasangan hidup dikala kita ingin menekuni dunia literasi ini. Khususnya menulis yang mengarahkan pada lahirnya suatu karya.
Ungkapan setuju akan wejangan dari Ning Khilma bukan tanpa alasan. Saya berumah tangga dari masih menjadi mahasiswi di semester 7 awal. Saat itu, saya yang baru menikah harus menjalani KKN. Ya, saya dan suami harus menahan rasa kangen. Berhubung suami bekerja di Surabaya, mungkin rasa kangen teralihkan dengan pekerjaannya di Surabaya. Dan akhir semester saya harus menjalani seminar proposal hingga memulai mengerjakan skripsi. Ya, skripsi juga aktivitas menulis dan menghasilkan karya berupa laporan hasil penelitian yang dibukukan. Jika, suami tidak mendukung, mungkin saya tidak akan memperoleh gelar S1. Tak hanya menyelesaikan tulisan, dalam prosesnya pun butuh waktu dan tenaga yang relatif banyak untuk mencari data maupun sumber referensi.
Karya saya tak cukup pada skripsi, tetapi juga tesis. Saya pun diberikan izin oleh suami untuk menempuh pendidikan S2. Tugas akhirnya berupa tesis. Saat itu, anak saya sudah masuk jenjang Taman Kanak-Kanak. Saya pun harus fokus untuk menyelesaikannya. Pada proses kepenulisan tugas akhir, saya tidak bisa melayani suami saya secara penuh. Mulai dari memasak kesukaannya, waktu intens bersama anak dan suami, dan kewajiban yang lain. Saya pun sering tidur larut malam. Beliau yang pengertian tidur duluan bersama putri kecil kami. Beliau tidak mengeluh, namun lebih memotivasi saya untuk bisa menyelesaikannya. Dan akhirnya saya lulus tepat waktu berkat support dari suami.
Perjalanan literasi saya mulai terasa saat mengikuti SPK. Dimana ada kewajiban bagi para anggota untuk setor tulisan di grub. Dari SPK ini saya mulai tertantang untuk menulis. Ya, menulis bukan hanya berkutat pada bidang akademik saja, melainkan banyak hal yang bisa ditulis. Sehingga, kita tidak boleh mandek dengan gelar yang sudah diraih. Melainkan melebarkan sayap untuk terus belajar dan mendokumentasikan melalui tulisan. Dan manfaat menulis pun sangat terasa setelah mengikuti SPK. Terutama bisa berbagi ilmu dan bertambahnya teman.
Saya diizinkan oleh suami untuk mengikuti SPK. Setiap saya izin mengikuti KOPDAR, beliau tak pernah melarang. Bahkan memberikan fasilitas kepada saya. Sungguh, saya beruntung memperoleh pasangan hidup seperti beliau. Jika saya sedang konsentrasi di depan layar laptop, beliau toleransi. Bahkan saat anak saya sedang membutuhkan bantuan, beliau menggiringnya dan menggantikan peran saya sementara. Saya pun sering ditawari untuk dibelikan buku. Ya, beliau tahu akan kebutuhan saya.
Berdasarkan pengalaman saya dan wejangan dari Ning Khilma memang benar bahwa pasangan hidup memiliki relevansi terhadap masa depan suatu karya. Karena pasangan hidup merupakan seseorang yang sangat dekat dengan kehidupan kita. Dimana, masing-masing memiliki pandangan hidup maupun keinginan yang ada kalanya berbeda. Seperti keinginan untuk menekuni dunia literasi. Tentu, sosok yang sangat dekat dengan kita yaitu pasangan hidup harus memberikan support. Jika, pasangan hidup kita tidak memberikan support maka karya tak akan selesai. Walaupun tuntasnya suatu karya sangat dominan pengaruhnya terhadap semangat kita menulis. Tetapi, pasangan hidup juga berelenvasi terhadap proses penyelesaian suatu karya. Bahkan pengalaman dari Ning Khilma juga memberikan gambaran akan kelangsungan suatu karya dengan ridho dari suami.
Saya pernah membaca artikel yang dishare oleh Prof. Naim. Artikel tersebut berisikan tentang spirit seseorang dalam menekuni literasi. Dimana, penulis mengatakan bahwa umur kita harus berbanding senilai dengan jumlah buku yang dibuat. Ini sulit bagi saya sebegai pemula untuk mewujudkannya. Dalam artikel tersebut menerangkan bahwa adakalanya pasangannya mulai tak nyaman dengan aktivitas menulisnya. Pasalnya, banyak waktu yang terbuang untuk menulis. Waktu intens pun nyaris tak ditemukan titik temunya. Tetapi, saat penulis mengambil jeda, pasangannya pun kembali memberikan support agar beliau produktif lagi. Ya, memang kondisi hati seseorang adakalanya berubah. Kadang merasa tidak senang jika pasangannya sibuk. Adakalanya rindu melihat pasangannya sibuk dengan dunianya.
Dari wejangan Ning Khilma maupun pengalaman saya dan artikel dari Prof Naim, memang karya sangat dekat dengan kehidupan penulis. Bagi yang sudah menikah, lahirnya suatu karya dipengaruhi oleh sosok yang dekat dengan kita. Yaitu pasangan hidup yang setiap hari kita berinteraksi dengannya. Dan hidup dalam satu rumah yang sama. Kuncinya adalah saling toleransi. Pasalnya, sebagai penulis tak puas jika hanya menghsilkan satu karya selama hidup. Ada keinginan untuk melahirkan karya berikutnya dan berikutnya. Hingga raga tak lagi mampu untuk menulis. Nah, toleransilah yang melunturkan ketegangan hubungan berumah tangga ini. Dikala kita berangsur-angsur terus menulis dan menghasilkan karya.
Bagi para jomblo yang senang dengan dunia literasi. Pengalaman ini serta wejangan dari Ning Khilma patut untuk diperhitungkan. Agar tidak salah dalam memulai menjalani rumah tangga. Tentu, yang namanya penulis tak ingin pensiun dini karena sudah menikah. Selama kita masih diberikan kesempatan oleh Allah untuk hidup, kita masih punya hak untuk belajar dan berkarya. Tetapi, perlu disupport oleh seseorang yang sangat dekat dengan kehidupan kita. Yaitu pasangan hidup kita.
Komentar
Posting Komentar