Pesan Prof Chirzin: Menulislah

        Pesan Prof Chirzin: Menulislah!

Akhir talkshow ditutup oleh penyampaian beberapa wejangan dari Prof Chirzin. Salah satu wejangan dari beliau yang masih teringat adalah “menulislah”.Satu kata tetapi maknanya begitu mendalam. Khususnya saya yang sedang turun iman litterasi ini. Pun hati ini seakan tergugah untuk kembali menulis lagi. Dimana sebelumnya, saya menikmati fase silent reader di grub SPK. Wejangan Prof.Chirzin seakan menjadi obor bagi para peserta talkshow. Maknanya adalah jika ingin menjadi seorang penulis, ya harus menulis. Tidak ada jalan pintas lain selain menulis. Karena tugas seorang penulis adalah menulis. Jika tulisannya tak kunjung ditulis, akan menjadi angan-angan saja. 

Berkaitan dengan wejangan Prof. Chirzin, pun saya teringat pengalaman yang telah berlalu. Saya yang tergabung pada suatu grub. Yaitu grub kelas sebagai sarana belajar menulis. Dimana, grub tersebut merupakan inisiatif dari Prof Naim. Agar mahasiswanya berkenan menggeluti dunia literasi. Awalnya, grub tersebut tampak ramai. Ya, ramai dengan tulisan dan komentar para anggota grub. Artinya masing-masing anggota memiliki harapan bisa menjadi seorang penulis. Tetapi, seiring berjalannya waktu, grub kembali sepi. Seakan ada seleksi alam. Yang bertahan menulis, dialah pemenangnya. Hingga, akhirnya grub ini telah mati saja. Namun, dari grub tersebut, saya dimasukkan oleh Prof Naim di SPK Tulungagung. Saya bersyukur akan takdir ini.

Saya teringat oleh tuturan dari Prof Naim. Bahwa banyak orang yang ingin menjadi penulis, tetapi tak kunjung menulis. Pun, jika dihubungkan dengan wejangan Prof Chirzin memanglah tepat. Menulis adalah langkah utama yang harus dilalui untuk menjadi seorang penulis. Menulis juga salah satu dilemma bagi seseorang yang ingin menekuni dunia literasi. Dilemma itu berhubungan dengan kesiapan seseorang untuk memberanikan diri menulis. Merasa takut menulis atau minder tulisannya jelek adalah beban psikologis seseorang yang menyebabkan tidak berani menulis. Atau faktor internal dari seseorang. Yaitu kemalasan dan motivasi diri yang rendah. Hal ini juga menjadi penyebab seseorang tak kunjung menulis. Sehingga, berbagai dilemma tersebut menjerumuskan seseorang untuk tidak menulis. Pada akhirnya cita-cita menjadi penulis terkubur dalam angan-angan kosong saja.

Seseorang yang ingin menjadi penulis, ada berbagai upaya yang dilakukan. Mulai mengikuti kelas menulis, masuk komunitas literasi, hingga menjadi peserta talkshow maupun seminar bergenre literasi. Pertanyaannya adalah apakah dia telah bermetamorfosis menjadi seorang penulis? Tentu jawabannya bervariatif. Ada yang sudah mengahsilkan karya walaupun hanya satu saja dan mengalami kemandekan. Ada yang sudah menulis walaupun belum sampai tuntas karyanya. Bahkan ada yang belum bisa menulis sama sekali. Seolah ajang yang diikuti sebagai pencitraan belaka. Nah, apa definisi dari menulis itu sendiri? Apakah menghasilkan satu karya sudah dinamai seorang penulis? Tentu tidak demikan. 

Berkaitan dengan sosok penulis itu sendiri, saya mengadopsi pernyataan dari Prof Naim. Beliau mengatakan bahwa kita baru disebut sebagai penulis jika sudah terus menulis. Artinya, seseorang yang senantiasa menghasilkan karya tulisan tanpa jeda. Dikatakan jeda, itu juga variatif. Yang terpenting adalah berusaha untuk terus menulis tanpa dibatasi oleh kuantitas karya yang telah terbit ataupun berbagai probelmatika hidup yang menghadang. Seolah eksistensi dari sosok penulis itu adalah sepanjang umur seseorang. Selama dia masih diberikan waktu hidup di dunia, selama itu dia bisa menulis dan menghasilkan karya. Hal ini menandai bahwa hidup itu bagaikan pena yang berjalan. Dan berhenti ketika kita sudah tiada.

Berdasarkan wejangan Prof Chirzin, pengalaman saya serta tuturan dari Prof Naim, tentu menjadi pemantik bagi kita untuk terus menulis. Satu kata yang disampaikan oleh Prof Chirzin penuh makna. Ini pun juga tidak mudah dilakukan oleh setiap orang yang ingin menggeluti dunia literasi. Pasalnya, kata “Menulislah” mengindikasikan bagi seseorang untuk terus menulis. Dengan tekad yang kuat dan semangat akan menjadi boomerang bagi kita untuk terus menulis. Namun, saat rasa minder dan takut menghadang, pilihlah relasi yang tepat untuk Anda menulis. Agar perasaan itu mampu ditekan dan hilang dengan sendiri. Salah satunya adalah mengikuti komunitas literasi. Dimana, komunitas tersebut Anda akan mendaptkan support sistem untuk Anda berkembang. Hingga mampu menghasilkan karya dan produktif menulis.    


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bahagia dengan Menyibukkan Diri

Rindu

Rindu