Pesan Ning Khilma Anis: Jangan Tunjukkan Tulisanmu Kepada Orang yang Tidak Tepat
Pesan Ning Khilma Anis (2): “Jangan Tunjukkan Tulisanmu kepada Orang yang Tidak Tepat”
Ning Khilma Anis memberikan berbagai wejangan terhadap para peserta talkshow. Wejangan tersebut mengarah pada dunia literasi. Wejangan dari Ning Khilma Anis masih menancap dalam benak saya. Mungkin, wejangan tersebut berarti bagi saya. Atau sesuai dengan pengalaman saya. Pun diri ini mencoba mengaitkan antara wejangan beliau dengan pengalaman saya. Memang, saat saya mengenang masa lalu, wejangan beliau tidak salah. Mungkin, orang lain pun ada yang sependapat dengan saya dan Ning Khilma. Pasalnya, Ning Khilma memberikan wejangan berdasarkan pengalaman beliau juga. Jadi, wejangan ini bukan asal-asalan saja. Melainkan fakta berdasarkan data dari pengalaman orang lain. Termasuk saya sendiri yang merasakan hal yang sama.
Ning Khilma Anis mengatakan bahwa jangan tunjukkan tulisanmu kepada orang yang tidak tepat. Padahal, pada proses belajar menjadi seorang penulis, seyogianya tulisan kita perlu ditunjukkan kepada orang lain. Sekalipun orang tersebut memberikan suatu kritikan pedas. Hal itu menjadi sarana bagi seorang penulis untuk meningkatkan skill menulisnya. Selain itu, agar orang lain tahu tulisan kita. Tetapi, bagi Ning Khilma tidak demikian. Saat menunjukkan tulisan, harus tahu siapa orangnya. Kala itu, saya belum sepenuhnya yakin akan wejangan dari beliau. Tetapi, beliau pun kembali menjelaskan dengan mengenang pengalaman yang telah berlalu. Sebut saja teman yang menjadi objeknya.
Ning Khilma mengenang kembali pengalaman saat mondok. Kala itu, temannya yang suka menulis, menunjukkan tulisannya kepada seorang laki-laki. Tulisan yang bergenre puisi. Bagi beliau tulisannya sangat bagus. Sedang maksud dari tulisannya adalah mengungkapkan perasaan cintanya kepada seorang laki-laki. Kebetulan laki-laki tersebut adalah seseorang yang diberikan secarik kertas yang berisikan tulisan puisinya. Karena laki-laki tersebut tidak memahami dunia literasi, sontak memberikan pesan yang menohok baginya. Laki-laki itu mengatakan bahwa agar dia jangan menekuni dunia sastra. Melainkan fokus mengkaji ilmu agama. Karena ilmu agama lebih penting. Kebetulan dia juga anaknya seorang Kiai. Bagi beliau anak Kiai tidak pas menekuni dunia sastra. Kata-kata dari laki-laki tersebut mengguncangkan psikologisnya. Hingga pada akhirnya, dia tidak lagi menulis sastra sampai hari ini.
Ning Khilma mengatakan bahwa temannya berbakat menulis. Mungkin, jika dia terus belajar, karyanya lebih bagus dari “Hati Suhita”. Sayang, karyanya terhenti pada orang yang tidak tepat membacanya. Ini sangat ironis terjadi pada penulis pemula. Dia sudah terkena mental block. Yaitu suatu bentuk ketidakyakinan untuk menulis kembali yang berasal dari pikirannya. Selama masih mengalami mental block, dimungkinkan bagi seseorang untuk tidak bisa bangkit kembali. Karena pikirannya yang menyabotase akan segala upaya untuk bangkit kembali.
Berkaitan dengan orang yang tidak tepat, tentu kita tidak boleh asal dalam mendiagnosa seseorang. Pasalnya, tulisan yang mungkin kita share di media sosial akan dibaca oleh khlayak orang. Kita sendiri tidak tahu latar belakang orang tersebut. Semakin kita selektif, semakin kita akan dikerdilkan dengan ketakutan yang ada. Hal ini berdampak pada peningkatan kreatifitas seorang penulis.Menulis itu bebas. Dalam tanda petik tidak menerobos dinding tertentu, seperti hal-hal yang berkaitan dengan SARA. Bebas itu mengarah pada genre suatu karya. Baik fiksi atau non fiksi. Sehingga, berkaitan dengan pernyataan “orang tidak tepat” harus dispesifikasikan. Agar tidak timbul rasa ketakutan yang berlebih bagi para penulis, khususnya para pemula.
Saya mencoba merenung akan spesifikasi dari orang yang tidak tepat. Ini menurut pendapat saya pribadi. Orang yang tidak tepat adalah dia yang tidak memahami atau tidak senang dengan dunia literasi. Bisa juga orang yang tidak tepat adalah dia yang fanatik akan bidang tertentu. Misalnya, pengalaman dari Ning Khilma Anis akan teman yang menunjukkan tulisan kepada seseorang. Pada kasus ini, laki-laki tersebut menyarankan teman beliau untuk fokus di bidang agama. Dengan dalih dia adalah anak seorang Kiai. Artinya, laki-laki tersebut bersikap fanatik akan bidang tertentu, yaitu agama. Selain ilmu agama, maka dikatakan tidak penting untuk memperlajari hal lain. Termasuk menyelami dunia sastra yang cakupannya luas.
Saya sendiri pun memiliki pengalaman yang sama. Saat masih duduk di bangku Sekolah Dasar, saya yang hobi membaca, dilarang oleh Mbah Kakung dan Ibu untuk meminjam buku cerita di Perpustakaan Sekolah. Saya yang sedikit bandel, mencoba meminjam secara diam-diam. Namun, saat itu saya kecolongan. Mbah Kakung dan Ibu mengetahui bahwa saya masih meminjam buku cerita di Perpustakaan Sekolah. Sontak mereka memarahi saya hingga tak berani lagi meminjam buku di Perpustakaan Sekolah. Padahal buku yang saya pinjam itu menarik. Cerita tentang pengalaman petualangan. Kata Mbah Kakung bahwa ilmu agama itu lebih penting, jangan membaca aneh-aneh. Sedangkan kata Ibu bahwa seorang sisiwi itu bacaannya buku pelajaran bukan buku cerita.
Pengalaman saya itu menimbulkan mental block. Saya yang takut dengan teguran Mbah Kakung dan Ibu tak berani membaca buku cerita. Padahal jika saat itu saya diperbolehkan, mungkin menjadi modal saya sebagai seorang penulis buku cerita. Namun, pengalaman pahit itu tak berhenti begitu saja. Saat saya duduk di bangku Aliyah, saya memberanikan diri untuk menulis naskah drama. Saya yang senang dengan seni, mengikuti ekstrakurikuler teater. Kebetulan, ada momen pementasan drama dan belum ada naskahnya. Sontak saya memberanikan diri untuk membuat naskah tersebut. Akhirnya, naskah saya dipentaskan. Rasa senang sungguh tak terkira. Saya pun memberanikan diri untuk terus menulis teks drama. Namun, saya yang saat itu menunjukkan karya kepada orang yang tidak tepat, lagi-lagi penyakit mental block menghancurkan spirit literasiku. Saya sungguh takut untuk menulis lagi.
Pengalaman pahit tak terhenti di jenjang Aliyah saja. Tetapi, saat memasuki jenjang Perguruan Tinggi, pun saya mengalami mental block hingga sekian kalinya. Saya yang takut menunjukkan tulisan ke orang lain, sering menulis ide di buku. Baik buku tulis maupun buku referensi. Yang terpenting media tersebut bisa saya jadikan untuk menuangkan ide. Saat itu, buku saya yang berserakan disuatu tempat, tak sengaja dipegang oleh seseorang. Sayangnya, dia membuka lembaran yang ada ceceran tulisan saya. Dia pun membaca dan mengejek tulisan saya. Sungguh, saya harus kembali lagi diposisi mental block. Ejekan itu, seakan menjadi pintu yang menutup saya untuk bangkit. Dan keluar dari zona mental block. Sehingga, saya menjadi minder untuk menulis. Dimana, rasa takut ini menyelubungi psikologis saya yang masih ada niat untuk menulis.
Namun, saya bersyukur telah dipertumakan oleh Sang Khaliq dengan Prof Naim. Kala itu, saya yang melanjutkan studi Magister di UIN Tulungagung, mendapatkan mata kuliah Sejarah Pemikiran Islam. Dimana dosen pengajarnya adalah Prof Naim. Beliau yang menekuni dunia literasi, ditularkanlah virus tersebut kepada mahasiswanya. Hingga dibuatkan grub khusus. Awalnya grub itu hanya iseng-iseng saja. Sebagai wahana beliau membagikan buku dan catatan literasi. Lambat laun, grub itu penuh dengan nilai spirit literasi. Beliau memberikan support system bagi kami untuk menulis. Hingga akhirnya saya kembali memberanikan diri untuk menulis dan menulis. Muara dari proses saya di grub itu, mengantarkan saya menjadi anggota SPK. Syukur alkhamdulillah saya dipertumakan oleh Sang Khaliq terhadap orang yang tepat yaitu Prof. Naim.
Berdasarkan wejangan Ning Khilma dan pengalaman saya, tentu kita sebagai penulis juga memiliki hak untuk menunjukkan tulisan kepada siapa. Kita juga perlu selektif dalam menunjukkan tulisan kepada orang lain. Agar, tidak menimbulkan mental block dalam aktivitas literasi kita. Karena, untuk bangkit lagi membutuhkan usaha dan waktu yang lama. Ini sangat disayangkan, khususnya bagi saya sebagai penulis pemula. Tentu, penulis pemula membutuhkan support sistem oleh lingkungannya. Agar skill literasinya bisa berkembang. Kalaupun, tulisan kita terlanjur dibaca oleh orang yang tidak tepat, diusahakan untuk legowo. Yang terpenting orang tersebut adalah orang lain dan bukan seseorang yang dekat dengan kehidupan kita. Tetapi, jika seseorang itu dekat dengan kehidupan kita, khususnya keluarga, maka itu akan sulit untuk dihiraukan. Akan merasuk pada mental kita. Maka, kita harus selektif untuk menunjukkan tulisan kita kepada seseorang.
Saya teringat tuturan Prof Naim bahwa beliau tidak akan memberikan kritikan tulisan kepada seseorang yang memulai menekuni dunia literasi. Jika sudah memiliki 100 tulisan, beliau baru memberikan kritikan. Hal ini memiliki relevansi antara pesan Ning Khilma dan tuturan beliau. Ya, penulis itu yang dibutuhkan adalah support. Bukan ucapan pahit atau larangan untuk berhenti menulis. Mungkin, bagi seseorang yang sudah mengabadikan diri di dunia literasi, hingga sudah mendarah daging, dihantam berbagai kritikan maupun larangan, tidak menimbulkan goncangan psikologis yang mendalam. Yang pada akhirnya harus berada di zona mental block.
Pesan Ning Khilma dan pengalaman saya dapat dijadikan sarana pengetahuan saja. Ini tergantung pada kebutuhan masing-masing sebagai seorang penulis. Bila masih awam dengan dunia literasi, maka pilihlah relasi yang sepemahaman. Kalaupun sudah menjadi seorang senior, mungkin pesan Ning Khilma dan pengalaman saya tidak sepenuhnya dijadikan dasar pada aktivitas literasinya. Semua penulis bebas menunjukkan karyanya kepada siapa saja. Tetapi, perlu diimbangi sikap legowo dan tatak. Agar kita tidak terhenti dalam menulis hanya soal kritikan dari orang lain.
Komentar
Posting Komentar